Belajar Makna Kehidupan dari Suku Baduy Dalam di Banten (Bagian 2)


Stasiun Rangkasbitung, pukul 12.05 WIB

Akhirnya setelah menempuh perjalanan berjam-jam, berada di gerbong kereta yang panas dan sumpek, kami pun tiba di stasiun Rangkasbitung, Banten. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di stasiun ini. Sekilas saya perhatikan desain bangunan dari stasiun Rangkasbitung tidak jauh berbeda dengan desain bangun stasiun-stasiun di Indonesia: bergaya Belanda. Namun sepertinya keberadaan stasiun Rangkasbitung tidak seberuntung stasiun-stasiun yang pernah saya singgahi. Terlihat cat dinding berwarna putih sudah mengelupas. Sungguh sangat disayangkan. Andai stasiun klasik ini dirawat tentu akan terlihat indah dan nyaman.

Saat turun dari kereta, peron-peron sudah dipenuhi oleh orang-orang yang hendak pergi ke berbagai tujuan. Mungkin mereka ada yang pergi ke Jakarta atau mungkin juga mereka sedang menunggu orang-orang yang mereka cintai. Ah ya, menunggu kadang menjadi hal yang membosankan. Tapi menunggu untuk mereka yang kita cintai tentu tidak akan menjadi persoalan yang terlalu besar. Waktu berjam-jam mungkin bisa dikonversi menjadi menit atau bahkan mungkin menjadi detik. Saya tidak terlalu suka menunggu. Namun kadang terpaksa juga harus menunggu. Menunggu dan ditunggu. Itulah siklus hidup manusia yang tidak dapat dihindari.

Ternyata kehadiran kami sudah ditunggu oleh guide yang akan mengantarkan kami ke Cibolger, pintu gerbang menuju kampung-kampung Suku Baduy Dalam. Untuk menuju Cibolger, panitia (SIE BOLANGERS) menyediakan mobil elf sebanyak tiga unit. Tanpa banyak bicara, kami pun satu persatu langsung masuk elf. Tidak sabar rasanya ingin tidur di dalam mobil karena selama di kereta tidak bisa tidur dengan damai. Namun hasrat untuk bisa tidur lelap di elf hanya sebatas angan-angan kosong.

Platak-plotok!

Kumpulan manusia di mobil elf terguncang: ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang. Jalan menuju Cibolger nyatanya tidak semulus yang saya bayangkan. Kita harus melalui ruas jalan yang tidak terlalu lebar, masih berbatu-batu, dan bahkan kita harus melewati jembatan yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Maka untuk melewati jembatan tersebut, mobil-mobil harus antri. Sang supir pun harus ekstra hati-hati karena jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk nyemplung ke sungai. Perjalanan yang sedikit menegangkan. Bosan? Iya. Namun saya berusaha untuk menikmati perjalanan tersebut. Saya mencoba menepis rasa bosan dengan memikirkan hal-hal imajinatif selama trekking ke Baduy Dalam.

“Mengunjungi kampung suku Badu Dalam. Ah rasanya tidak pernah terlintas dalam benak saya. Dan hari ini saya akan mengunjungi suku sub-etnis Sunda yang memiliki populasi lebih dari 8.000 jiwa. Mungkin inilah yang disebut takdir yang misteri. Takdir yang bekerja dengan cara yang tidak disangka,” gumam saya dalam hati.

Menurut informasi yang saya dapatkan dari berbagai artikel yang berseliweran di internet, suku Baduy Dalam adalah cikal bakal dari suku Sunda yang mendiami wilayah Wetan (Timur, Ind). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng, di desa Kenekes, Kecamatan Leuwidimar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten.

Suku Baduy Dalam, Banten
Suku Baduy Dalam, Banten

 

Jarak yang ditempuh untuk mencapai perkampungan suku Baduy Dalam sekitar 40 kilometer dari kota Rangkasbitung. Bahasa yang digunakan oleh suku Baduy Dalam adalah bahasa Sunda dengan dialek Sunda-Banten. Kendati mereka terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam kesehariannya, namun mereka dapat menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, suku Baduy Dalam memiliki pengetahuan yang luas tentang aneka tetumbuhan yang baik untuk dikonsumsi, dijadikan obat-obatan, dan mengetahui tetumbuhan yang mengandung racun. Mereka tidak mengeyam bangku pendidikan secara formal di sekolah, namun alam mengajarkan mereka banyak hal.

Cibolger, pukul 12.05 WIB

Suasana di desa Cibolger yang merupakan pintu gerbang menuju perkampungan Suku Baduy Dalam tampak ramai. Bahkan sangat ramai. Banyak orang yang berkumpul di sana. Ada yang baru selesai berkunjung dari Suku Baduy Dalam, ada yang belanja souvenir khas Suku Baduy Dalam, dan ada juga yang baru datang seperti kami.

Kami pun sudah disambut hangat oleh beberapa perwakilan Suku Baduy Dalam yang selanjutnya bertugas sebagai porter sekaligus guide. Namun saya memilih tidak menggunakan jasa porter karena beban yang saya bawa dalam tas tidak terlalu berat. Lagian saya sudah terbiasa berjalan kaki dan membawa tas ketika hiking. Cukup filosofis alasannya. Saya ingin merasakan bahwa perjalanan panjang yang akan saya lewati tidak akan mudah. Apalagi ditambah dengan beban yang berat dipundak. Namun pada kondisi demikian saya berjuang, saya berusaha, dan saya berkeyakinan bahwa saya bisa melalui setapak demi setapak jalan yang lewati.

Salah satu guide yang menemani kami adalah seorang bocah berusia sekitar 10 tahun. Namanya saya lupa. Padahal saya sudah pernah sangat mengingatnya. Dia mengenakan pakaian khas Suku Baduy Dalam yang berwarna hitam. Ia pun memakai tas sederhana yang terbuat dari kain bertekstur kasar berwana putih untuk menyimpan barang-barang yang menurutnya perlu dimasukkan. Selain itu, seperti kebanyakan warga Suku Baduy Dalam, ia juga mengenakan pengikat kepala berbahan katun. Mereka berjalan berkilo-kilo tanpa menggunakan alas kaki seperti sandal atau sepatu. Pun demikian mereka tidak merasa kesekatin. Barangkali karena sudah terbiasa berjalan tanpa alas kaki, kerikil runcing yang menusuk pun mungkin tidak akan dirasa. Ya, kurang lebih begitulah style asli Suku Baduy Dalam yang membedakan mereka dengan Suku Baduy Luar.

 

Lantas apa perbedaan lain antara Suku Baduy Dalam dengan Suku Baduy Luar? Sebetulnya perbedaan antara dua entitas ini cukup mencolok. Suku Baduy Luar secara kasat mata sudah memiliki kebiasaan hidup sama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya: memiliki rumah yang sudah dibeton, memiliki kendaraan seperti motor, memiliki perhiasaan, dan secara umum sudah tersentuh dengan teknologi informasi. Sementara Suku Baduy Dalam masih menjagi nilai-nilai luhur seperti tidak boleh membangun rumah dengan semen atau paku, tidak boleh menggunakan kendaraan apabila berpergian, tidak boleh hidup berlebihan, dan sebagainya. Nilai-nilai luhur tersebut dipertahankan semata-mata karena mereka sangat menghargai amanah dari leluhur mereka. Banyak hal yang membuat mereka tetap bertahan dengan tradisi mereka yang mungkin sebagian orang menganggapnya agak sedikit primitif.

Perjalanan menuju salah satu desa Suku Baduy Dalam yaitu desa Cibeo membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam. Kami berangkat sekitar pukul 13.00 WIB setelah selesai sholat dan makan siang. Sore menjelang maghrib, sekitar pukul 17.30 kami pun tiba di desa Cibeo. Ada 7 desa yang menjadi tempat tinggal Suku Baduy Dalam yaitu desa Cibolger, desa Kaduketuk, desa Gajeboh, desa Cibeo, desa Cikawartana, desa Cisagu, dan terakhir desa Cikeusik. Perjalanan dari satu desa ke desa lainnya tidaklah mudah. Kita harus menyusuri hutan hujan tropis Banten yang masih asri dan alami. Suku Baduy Dalam sangat menjaga keseimbangan alam. Selain itu, kami juga harus mendaki bukit-bukit yang terjalan, menyeberangi jembatan bambu yang di bawah sungai mengalir deras, meloncati jurang-jurang kecil, dan berjalan dengan hati-hati.

Perjalanan yang cukup melelahkan. Maka takheran jika kaus biru dongker yang saya kenakan basah, bermandikan keringat. Namun saya menikmati perjalanan yang panjang menuju desa Cibeo. Sebab rasa lelah dibayar lunas dengan pemandangan yang jarang saya temui. Semua yang terlihat dari sepasang mata saya sangat luar biasa hebat. Ada jembatan yang terbuat dari akar. Indah sekali dan begitu kokoh. Selain itu, kita juga akan takjub dengan bangunan unik seperti rumah panggung yang cukup tinggi yang bernama Leuit sebagai lumbung padi bagi masyarakat Baduy.

Rumah Suku Baduy Dalam Banten
Rumah Suku Baduy Dalam Banten

Sesampai di desa Cibeo, saya bersama teman-teman mandi di sungai yang segar dan jernih. Apakah yang dinamakan back to nature? Bisa jadi!

Kami menginap satu malam di rumah-rumah warga desa Cibeo yang sangat sederhana. Rumah bambu yang diterangi lampu obor, tanpa ruang tamu, tanpa kursi, dan tanpa perabotan yang berlebihan. Semuanya dibuat sesederhana mungkin. Saya beruntung bisa merasakan pengalaman semacam ini. Hidup sederhana, tidak berlebihan, tidak mengeluh, dan tidak gusar dengan hari esok. Sebab kita yakin, Tuhan sudah mempersiapkan rezeki dari langit dan bumi. Kita hanya perlu mengambil secukupnya dan bersyukur atas apa yang sudah kita dapatkan.

Setelah makan malam dengan menu nasi, mie goreng, dan ikan asin kami diundang oleh Kepala Suku untuk memperkenalkan diri, mendengarkan wejangan dari Kepala Suku, dan bertanya banyak hal kepada Kepala Suku tentang asal muasal Suku Baduy Dalam, falsafah hidup, dan sebagainya. Malam itu adalah diskusi yang sangat menarik. Saya mendapatkan banyak sekali informasi tentang Suku Baduy Dalam. Lebih dari itu, saya mendapatkan banyak pembelajaran tentang hidup dan kehidupan.

Malam dan gelap.

Kami pun tertidur pulas. Letih seharian berjalan kaki menjadi tidak terasa. Di luar sana, bintang-bintang berkerlap-kerlip memenuhi langit malam. Selamat malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s