Global Warming, Ancaman Buruk untuk Bumi


Dewasa ini, Badan Angkasa Nasional Amerika atau yang lebih dikenal dengan nama NASA, tengah sibuk melakukan eksperimen monumental. Eksperimennya adalah proyek pesawat ulang alik ke bulan dan penelitian tentang planet mars yang katanya diindikasi terdapat kehidupan di sana. Tentunya, itu adalah proyek yang besar dan luar biasa. Proyek penelitian ini dimaksudkan untuk mencari tempat tinggal alternatif, mengingat keadaan tempat kita hidup sekarang (baca: bumi) sangat memprihatinkan. Eksperimen yang dilakukan oleh NASA sangat menarik perhatian masyarakat dunia. Pasalnya, daratan bumi dipredisikan akan tenggelam pada tahun 2050.

https://i2.wp.com/lunar.thegamez.net/greentechnology/green-earth-technologies/green-earth-1898x1979.jpg

Penelitian menyebutkan bahwa 125 danau es di daerah kutub telah mencair. Di samping itu, seorang ilmuwan menemukan terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di sejumlah tanah sekitar kutub dibandingkan tanah di era purba. Logikanya adalah, jika es mencair dan fotosintesis semakin meningkat maka bisa dipastikan bumi akan tenggelam. Daerah kutub merupakan penyangga agar terjadinya keseimbangan iklim di bumi. Jika fenomena ini terus berlanjut, dampak terburuknya adalah musnahnya peradaban manusia. Lalu, apa sebenarnya akar masalah degredasi bumi ini?
Menurut ilmu geografi, fenomena mencairnya es di daerah kutub karena adanya perubahan iklim. Baik perubahan dengan sendirinya, maupun berubah secara radikal. Pada abad ke-19, ilmuwan yang konsen terhadap masalah ini mengemukakan bahwa perubahan iklim bumi (saat ini) karena adanya kelebihan gas berbahaya di lapisan atmosfer bumi. Gas yang berbahaya itu adalah CO2 (karbon dioksida), CO (karbon monoksida) dan lainnya.

Gas tersebut menimbulkan efek rumah kaca dan berimbas pada pemanasan global. Fenomena lain yang ikut berperan dalam pemanasan global adalah berkurangnya lapisan ozon. Lapisan ozon merupakan filter terhadap sinar ultra violet dari radiasi matahari. Tanpa dan/atau semakin menipisnya lapisan ini, sinar ultra violet akan lebih leluasa sampai ke muka bumi sehingga akan menambah panas permukaan bumi. Seiring dengan meningkatnya jumlah pemakaian gas chlorofluorocarbon (CFC) menyebabkan lapizan ozon semakin menipis karena terjadinya reaksi antara CFC dan lapisan ozon. Pelepasan karbon ini berpengaruh pada peningkatan kandungan karbon di atmosfir yang berdampak pada peningkatan suhu atmosfir di permukaan bumi.

Secara umum, pemanasan global berdampak terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia (Wikipedia). Hal tersebut berdasarkan prediksi yang dibuat para ilmuwan dengan memanipulasi/mengolah data-data iklim dan cuaca yang ada dan dimasukkan ke dalam model komputer. Selain itu, pemanasan global juga berdampak pada naiknya permukaan air laut. Hal tersebut disebabkan karena jumlah volume air yang tercurah melebihi daya serap tanah dan kecepatan pengaliran serta penguapan juga disebabkan oleh topografi daerah yang bersangkutan. Muara sungai-sungai yang permukaannya sejajar dengan permukan air laut, ketika air laut naik arus aliran air berbalik ke arah hulu, hal ini dapat mempertinggi penetrasi air laut ke arah darat, akibatnya air tanah/sumur di daerah pantai menjadi payau, banjir dan tenggelamnya pulau-pulau kecil karena permukaan air laut sama dengan ketinggian pulau-pulau.

Jika fenomena ini masih berlanjut, dan tidak segera dicarikan jalan keluarnya, maka kondisi terburuk adalah musnahnya ekosistem di bumi. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Kita semua ikut bertanggung jawab menyelamatkan bumi. Lalu, apa solusinya? Terapkan pola hidup efektifitas dan efesiensi. Beberapa waktu yang lalu, di sebuah surat kabar dikatakan bahwa Universitas Indonesia menemukan solusi untuk mengurangi gejala pemanasan global. Solusinya adalah penggunaan kertas dengan hemat ketika ujian dan kegiatan lainnya. Untuk kertas ujian, Universitas Indonesia tidak memakai kertas yang baru, tetapi memanfaatkan kertas yang sudah dipakai halaman depannya. Ini semua bertujuan supaya penebangan pohon untuk membuat kertas bisa dikurangi dan bisa membentuk pola hidup yang efesiensi.

Manusia sangat memerlukan kertas untuk penunjang aktifitasnya. Seperti untuk bikin surat, tugas sekolah dan lainnya. Itu artinya, perlu memproduksi kertas dengan jumlah yang lebih banyak. Logikanya, untuk memproduksi kertas pasti memerlukan bahan seperti pohon. Jika pohon-pohon banyak ditebang, maka itu akan berpengaruh terhadap cuaca dan iklim yang berimbas pada pemanasan global. Dengan menghemat penggunaan kertas, setidaknya kita telah mengurangi penebangan pohon di dunia.
Cara lain untuk mengurangi pemanasan global adalah dengan menanam pohon kembali atau mereboisasi hutan. Sebenarnya, teori tersebut adalah teori yang sering kita pelajari di bangku sekolah dasar. Tapi cara tersebutlah yang paling ampuh untuk mengurangi pemanasan global yang sudah mulai mencapai ubun-ubun.

Jika kita lihat, di mana-mana banyak orang melakukan pembangunan. Baik itu pembangunan jalan, gedung dan sarana lainnya. Jika seperti ini, pohon-pohon yang berfungsi sebagai paru-paru dunia pasti akan dibabat habis. Memang, pembangunan adalah suatu hal yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan saat ini. Seiring majunya teknologi, bertambahnya penduduk, dan semakin kecilnya lapangan kerja maka mau takmau harus ada upaya yang selaras untuk mengatasi problematika tersebut.

Pembangunan dianggap sebagai salah satu solusinya. Tapi sayangnya, pembangunan sering kali tidak memikirkan aspek lingkungan. Padahal, lingkungan merupakan pondasi dasar kelangsungan makhluk hidup. Lalu bagaimana cara kita menyisiati agar adanya keselarasan antara pembangunan dan lingkungan? Caranya adalah dengan menyeimbangkan dua komponen tersebut.

Menurut Walhi (Wahana Laingkungan Hidup), perlunya aturan/undang-undang yang mengatur terkait masalah pembangunan. Jika tidak, manusia akan seenak perutnya menebang pohon tanpa memelihara nilai-nilai normatif. Misalnya, jika ingin membangun sebuah gedung, maka harus menanam pohon. Jika tidak, air tanah akan habis, penguapan semakin cepat dan suhu udara akan meningkat. (Apa Kabar Indonesia, TVOne)
Di samping itu, organisasi lingkungan hidup dunia (WWF), menyerukan kepada masyarakat dunia akan bergerak bersama untuk menghijaukan kembali hutan di dunia. Pasalnya, sebagian hutan-hutan di dunia telah gundul dan kondisi ini semakin diperparah dengan kasus ilegal logging setiap harinya. Jika tidak ada kesadaran dari kita (baca:manusia) maka lingkungan kita semakin rusak.

Sebenarnya, perlu kesadaran kita semua (manusia-pen) untuk menjaga bersama lingkungan. Bagaimanapun, semua kerusakan yang terjadi di darat dan di laut adalah karena ulah perbutan manusia. Jika tidak ada itikad baik dan tanggung jawab untuk menyelamatkan bumi ini, pastilah degradasi lingkungan semakin parah. Dimana-mana akan terjadi bencana. Seperti banjir, longsor, penyakit kulit (seperti kanker), musnahnya flora dan fauna dan sebagainya. Miris sekali untuk membayangkan musibah-musibah lainnya. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk menyelamatkan bumi tercinta. Supaya keseimbangan terus terjaga demi kelangsungan hidup anak cucu kita kedepannya.

Save Our Nations!!! Save Our Nations!! Begitulah orasi yang dilontarkan sejumlah aktifis lingkungan dunia untuk mengampanyekan gerakan cinta lingkungan pada peringatan hari lingkungan se-dunia beberapa waktu yang lalu. (Dari berbagai Sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s