Diah Indrajati: Bekerja dengan Hati


Ir. Diah Indrajati, M.Sc., Plt Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah*

Profil beliau dimuat pada majalah “Jendela Bina Pembangunan Daerah” Edisi 5 Februari – 5 Maret 2016.

 

IMG_7744
Ir. Diah Indrajati, M.Sc. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

 

Ada sebuah kutipan yang cukup populer di telinga kita, “People come and go. Everyone thats been in your life has been there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you.” Rasanya kutipan tersebut cukup related dengan kondisi Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) saat ini. Betapa tidak, pada tahun 2015 lalu, Dr. Drs. Muhammad Marwan M.Si., Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Periode 2009-2015 resmi purnabakti.

Tentunya banyak hal hebat yang telah beliau persembahkan untuk Indonesia secara umum dan Ditjen Bina Bangda secara khusus. Kepemimpinan beliau mengajarkan kita bahwa usia sosial manusia sejatinya tanpa batas. Kendati beliau sudah tidak lagi berkarya di Ditjen Bina Bangda, namun keteladanan beliau akan terus mengabadi dan akan terus dikenang.

Kini, Ditjen Bina Bangda memiliki sosok pemimpin yang baru. Seorang wanita hebat yang telah mendedikasikan hidupnya bertahun-tahun untuk mengubah wajah republik ini menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Seorang wanita yang juga ibu dari Wenny Indriyarti Putri dan Randita Indrayanto. Perkenalkan, beliau adalah Diah Indrajati.

Sejak awal tahun 2016, istri dari Ir. Dadang Sudiyarto ini resmi dilantik menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Bina Bangda. Pada hari Jumat, (26/02/2016) tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berkesempatan mewawancarai beliau di ruang kerjanya di Ditjen Bina Bangda, Jalan Makam Pahlawan, No. 20, Jakarta Selatan.

Saat itu, beliau tengah mengenakan busana batik yang menjadi identitas bangsa Indonesia dan telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (World Herigate). Topik pembuka obrolan dimulai dengan kisah awal karir beliau di Kementerian Dalam Negeri.

Diah, begitu beliau akrab disapa, mengatakan bahwa ia bergabung di Kementerian Dalam Negeri sejak tahun 1987. “Jadi pada tahun 1987, saya memang sudah ditempatkan di Ditjen Bina Bangda. Tadinya saya sempat satu tahun sebagai pegawai proyek. Saya penganten baru, saya bekerja untuk proyek “Upland Agriculture” kalau gak salah. Nah, kemudian di perjalanan saya mendapatkan kabar bahwa Depdagri menerima pegawai. Saya diberi tahu waktu itu oleh salah satu Kasubdit di Ditjen Bangda. Saya pun mengikuti tes dan Alhamdulillah diterima. Saya mengikuti Diklat di Jogja,” kenang Diah.

Lebih lanjut, beliau menceritakan bahwa awal-awal ia memulai karir di Kemendagri tidaklah mudah. Namun dengan tekad yang kuat, takbutuh waktu lama bagi Diah untuk belajar banyak hal tentang seluk beluk dunia birokrasi. “Kebetulan waktu itu, Kepala Bagian Perencanaan, almarhum Bapak Butarbutar seringkali meminta kita bedah buku, membaca peraturan, kemudian menulis summary tentang berbagai aturan. Setiap hari kita kumpul di ruangan untuk diskusi. Jadi memang terarah gitu,” ungkap Diah.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia merasa bekal sarjana yang ia miliki tidak cukup untuk menjawab berbagai tantangan yang ia hadapi di dunia kerja. Ia pun merasa terpanggil untuk melanjutkan jenjang pendidikan magister di Amerika Serikat. Ia sempat ragu untuk kuliah di luar negeri lantaran ia sudah berkeluarga dan sudah memiliki buah hati. Namun berkat dukungan penuh dari suami dan keluarga besar, ia pun akhirnya memantapkan diri untuk melanjutkan studi di California State University Fullerton.

“Dari sekian ratus yang melamar OTO Bappenas, akhirnya yang lolos kalau gak salah 2 waktu itu tahun 90-an. Prosesnya dari tahun 1987 hingga tahun 1988. Tapi pengumuman bahwa saya diterima itu tahun 1992. Selanjutnya pada tahun 1993, saya harus ikut kursus hingga lulus. Kemudian masuk lagi hingga tahap terakhir. Akhirnya, saya pun berangkat pada tahun 1994 sekolah ke Amerika. Dua tahun bersekolah, saya kembali. Kantornya waktu saya berangkat masih di Keramat Raya. Tapi waktu saya kembali sudah pindah ke sini (Kalibata, red),” jelas Diah.

Perjalanan karir Diah bisa dikatakan terbilang cukup panjang. Beliau baru mendapatkan eselon 2 pada tahun 2012. Menurutnya, persaingan di Kemendagri cukup ketat. Kendati demikian, ia tidak terlalu fokus untuk mendapatkan jabatan-jabatan tertentu. Ia hanya fokus untuk bekerja dengan baik. Ia yakin hasil tidak akan mengkhianati proses. Hal yang terpenting menurutnya yaitu bila mendapatkan tugas, maka harus amanah menjalankan tugas tersebut.

Sejak sebagai staf hingga menduduki posisi saat ini, wanita kelahiran Demak, 7 November 1958, ini membiasakan bekerja dengan hati. “Saya mencoba menekuni apa yang ditugaskan. Tidak usil kiri kanan. Fokus mengerjakan apa yang ditugaskan kepada saya ya itulah yang saya kerjakan. Saya tidak pantang bertanya. Sekarangpun jika saya tidak tahu, saya akan bertanya kepada teman-teman yang saya anggap lebih tahu,” tegas Diah.

Ia menilai bahwa posisi ia saat ini tidak banyak mengubah dirinya secara personal. Hanya ia dituntut lebih bijak, tidak mudah emosional. Ia menuturkan bahwa dulu ia kadang merasa gregetan bila ada stafnya yang bekerja tidak cekat. Namun sekarang, ia harus mampu memberikan contoh mana aturan yang tidak boleh dilanggar.

Ketika ditanya tentang pemimpin ideal, beliau menekankan bahwa seorang pemimpin harus paham substansi yang ia kerjakan dan harus mampu menjadi contoh. Dalam memimpin, ia tidak memiliki role model secara khusus. Hal ini dikarenakan ia ‘dibesarkan’ oleh banyak gaya kepemimpinan. “Yang jelas kalau dari amanah agama, kita harus mencontoh nabi besar kita, nabi Muhammad shalallahu’alai wassalam. Kita mencontoh cara kerja beliau; membedakan mana yang dinas, mana yang pribadi. Saya berusaha seperti itu walaupun tidak sempurna. Tapi saya mencoba mengambil contoh-contoh dari beliau,” ungkap Diah.

Berkaitan dengan harapan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, yang menginginkan semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan strategis di lingkup Kemendagri, Diah mengapresiasi hal tersebut. Namun bagi Diah sendiri, seseorang diangkat menjadi pemimpin haruslah berdasarkan kemampuannya. “Jadi, walaupun perempuan, dia harus mampu. Jangan karena perempuan kemudian minta diangkat menjadi pejabat. Saya juga gak setuju. Jabatan boleh siapa saja duduk di situ. Tapi kalau ilmu hanya kita yang punya. Jadi saya modalnya itu. Karena Pak Menteri kebijakannya seperti itu, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan beliau. Saya akan berbuat semampu saya untuk melaksanakan amanah itu. Saya juga menghimbau teman-teman juga bekerja dengan baik mudah-mudahan nanti pimpinan bisa melihat potensi teman-teman,” papar Diah.

Di sela-sela kesibukan, Diah masih menyempatkan diri untuk memperbaharui informasi-informasi yang bermanfaat khususnya informasi mengenai lingkungan. “Karena dulu saya mengambil S2 Lingkungan, saya paling aware untuk hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Isu suistainbale development cukup menarik perhatian saya,” kata Diah.

Selain membaca, waktu senggang juga dimanfaatkan Diah untuk memasak menu rumahan. Walaupun tidak memasak yang ‘aneh-aneh’ setidaknya masakan yang ia sajikan untuk keluarga dapat mengobati rasa rindu terhadap cita rasa masakan rumahan.

Sejak menjabat menjadi Plt Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Diah mengaku harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Beruntungnya dukungan yang besar dari keluarga membuat beliau menikmati pekerjaannya saat ini. Ia pun berpesan kepada stakeholder Ditjen Bina Pembangunan Daerah untuk bekerja dengan baik. “Tunjukkan bahwa kita mampu. Sebab, kita sudah komitmen untuk bekerja. Ya, usahakan semaksimal mungkin dan profesional,” tutup Diah. [Mahfud Achyar]

 

 

 

 

 

One thought on “Diah Indrajati: Bekerja dengan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s