Yuswandi A. Temenggung: Kepemimpinan Itu Datang dari Diri Sendiri


 

Oleh: Mahfud Achyar

*Tulisan ini dimuat pada Majalah Buletin “Jendela Pembangunan Daerah” Edisi 5 Januari – 5 Februari 2016.

Kepemimpinan, barangkali akan selalu menjadi topik yang seru untuk dibahas. Obrolan mengenai kepemimpinan barangkali terkesan langitan, namun sebetulnya cukup membumi.

Banyak orang di republik ini membahas tema kepemimpinan. Mulai dari orang-orang berdasi hingga para petani yang bersantai di warung kopi. Betapa tidak, kepemimpinan menjadi faktor kunci keberhasilan suatu negara, organisasi, lembaga, perusahaan, bahkan kehidupan rumah tangga. Selalu saja ada hal baru yang bisa digali mengenai kepemimpinan. Maka taksalah, buku-buku mengenai kepemimpinan banyak menjadi best seller di berbagai toko buku di dunia dan di Indonesia.

John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan, pernah menulis ungkapan tentang kepemimpinan dalam salah satu bukunya. Ia menulis, “Leaders must be close enough to relate to others, but far enough ahead to motivate them.” Secara tegas, Maxwell mengatakan bahwa seorang pemimpin harus cukup dekat dengan orang yang dipimpinnya, namun cukup jauh ke depan untuk memotivasi mereka. Tidak hanya Maxwell yang bersuara lantang menyampaikan gagasan mengenai kepemimpinan, tokoh-tokoh penting di dunia juga turut menyampaikan gagasan mereka mengenai konsep kepemimpinan.

Yuswandi A. Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, juga memiliki sudut pandang yang berbeda tentang kepemimpinan. Pada Kamis, (28/1/2016) lalu, tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berhasil berdiskusi hangat dengan beliau di kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara, No. 7, Jakarta Pusat.

DSC_0017
Yuswandi A Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri

Sekjen Kemendagri yang lahir di Palembang pada 22 Juni 1957 ini berkata, “Kepemimpinan itu datang dari diri sendiri.” Menurutnya, seseorang tidak bisa dipaksa menjadi pemimpin jika tidak ada kemauan kuat dari dalam dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui, banyak hal yang harus dipersiapkan, dan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Akan tetapi, bila seorang pemimpin berhasil, maka ia dapat mengubah kondisi yang tidak baik menjadi lebih baik. Oleh karena itu, menurut Yuswandi hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yaitu mengubah dirinya sendiri sembari mengubah lingkungan di sekitarnya. “Karena tidak bisa dibohongi, kalau kepemimpinan itu kita paksakan, ya susah juga. Kita paksakan seseorang menempati suatu tempat, ya kondisi organisasinya terseok-seok, dia juga tertekan. Gak optimal. Yang seharusnya dia dicarikan kondisi yang optimal ya,” jelasnya.

Efek kepemimpinan pertama kali dirasakan oleh pemimpin itu sendiri. Selanjutnya nomor dua dirasakan oleh lingkungannya. Secara pribadi, lulusan program doktor dari Cornell University, Amerika Serikat, ini menilai sukses atau tidaknya kepemimpinan seseorang juga ditentukan oleh faktor lingkungan. “Idealnya, gerakan itu bersama. Mana kala ada signal akan sesuatu kebaikan, kebaikan itu bisa dilakukan bersama. Tingkat kepemimpinan itu berbeda-beda. Kalau dia struktural eselon empat dengan scoope-nya, semakin tinggi saya kira semakin besar tanggung jawabnya. Kebersamaan itu penting. Tahu ada sesuatu sesuatu kebutuhan bersama. Kalau saya mau me-reform, melakukan perubahan, perubahan itu bisa diterima oleh semua,” imbuhnya.

Lantas, apa upaya yang harus dilakukan seorang pemimpin agar bisa diterima oleh follower-nya? “Nah, untuk diterima oleh semua, itu harus dijelaskan kepada semua. Kalau ada dari semua itu tidak ikut, ya itu salah. Jadi dalam manajemen itu, sebetulnya kalau kita lihat bisa jadi diprediksi 10 persen yang mau positif, sedikit kan? Mungkin 30 persen yang bandel, yang 60 persen swing. Mau dibawa ke mana itu? Kalau 30 persen itu menarik teman yang 60 persen hancur menjadi 90 persen. Tapi kalau yang 10 persen itu bisa menarik yang swing, dia jadi majority. Mayoritas 70 persen. Style ya harus dibuka, dibuktikan bahwa yang dipikirkan dalam kepemimpinan itu sesuatu yang memperbaiki dari kondisi yang sekarang. Tapi kalau orang diajak untuk lebih baik dia gak mau seperti yang 30 persen tadi, ya ini mesti juga ada terapi yang lain lagi,” tegas suami dari Ervina Murniati ini.

Lebih lanjut, bapak tiga anak ini juga menyarankan agar mengamankan para swing voters karena mereka dinilai potensial diajak ke arah yang positif. “Itu sudah lumayan dengan derajat yang berbeda. Kemudian, waktu akan menentukan yang 30 persen itu akan ikut. Itu teori matematikanya. Kita harus cek,” jelas beliau.

Kendati sudah mendapatkan dukungan dari banyak orang, seorang pemimpin tidak boleh berpuas diri. Ia harus mampu menguji konsep yang ia tawarkan dan harus mampu bekerja dengan profesionalitas yang baik. Jika hal tersebut tidak dilakukan, lambat laun para follower‑nya tidak akan menggubris apa yang ia katakan. “Kalau tidak profesional, tidak mempunyai kemampuan, orang bisa ikut namun ikut dengan terpaksa,” ujar Yuswandi.

Apa yang dikemukan Yuswandi tentang kepemimpinan tentunya berdasarkan pengalaman beliau yang sudah bertahun-tahun berkarir di pemerintahan. Tercatat pada tahun 1999 hingga 2001, beliau pernah menjadi Asisten Deputi Urusan Moneter Deputi I, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (EKUIN). Tahun berikutnya hingga tahun 2002, beliau menjabat sebagai Direktur Bina Investasi Daerah Ditjen Otonomi Daerah, Departemen Dalam Negeri. Selanjutnya, pada 2002 hingga 2004, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Administrasi Kerjasama, Departemen Dalam Negeri. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Yuswandi menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran, Kementerian Dalam Negeri. Sebelum menjadi menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, beliau juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri.

Ketika ditanya tentang kepemimpinan dalam perspektif gender, Yuswandi berpendapat bahwa ukuran kepemimpinan tidak dilihat dari gender saja melainkan kapasitasnya. “Perempuan itu beruntung. Kenapa saya katakan beruntung? Mencarinya susah. Jadi, kalau ada yang menonjol, kita tidak usah berbicara perspektif gender. Ada yang menonjol saja, gak ngawur, itu pasti ‘ditangkap’. Sekali lagi, tuntutan manajemen harus intelek terlepas dari gender. Kita tidak bisa lepaskan perempuan dan laki-laki,” tegas Yuswandi.

Menurutnya hal yang paling penting kembali kepada perempuan itu sendiri walaupun pertimbangan affirmative perlu dikedepankan. Ia menambahkan bahwa seorang karakter pemimpin itu berbeda-beda. “Ada orang yang bicara dengan konsep, ada orang yang bicara dengan koordinasi-bergantung orang dan penempatannya. Jadi seharusnya gender itu tidak menjadikan sesuatu penghalang bagi proses rekruitmen kepemimpinan,” jelasnya.

Menjadi salah satu pemimpin di Kementerian Dalam Negeri tentu tidaklah mudah. Apalagi Kementerian Dalam Negeri memiliki peran sangat strategis dan menjadi poros pemerintahan. Oleh karena itu, Yuswandi menilai bahwa setiap direktorat yang ada di Kementerian Dalam Negeri harus menjalankan perannya masing-masing dengan baik. “Saya tipe orangnya terbuka. Saya ingin keterbukaan itu bisa mendapatkan kebaikan. Caranya mungkin harus kita diskusikan. Bisa saja yang saya pikirkan tidak benar. Saya harus menerima kebenaran itu. Jadi, mencari suatu kebenaran itu suatu keharusan. Apabila kebenaran itu sudah kita peroleh, biasanya di alam pekerjaan dirumuskan di dalam norma-norma pengaturan. Mari kita ikuti norma itu. Bahasa sederhananya, jadilankanlah itu menjadi teman,” jelas Yuswandi.

Berkaitan dengan pembangunan daerah, Yuswandi memiliki harapan yang tinggi kepada Direktoral Jenderal Bina Pembangunan Daerah. “Pembangunan daerah dengan struktur yang baru itu dikonotasikan dalam bentuk urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Kalau urusan pendidikan sukses, maka pembangunan di bidang pendidikan sukses. Urusan pertanian sukses, syukur urusan irigasi dan pengairannya sukses,” jelas Yuswandi.

Kesuksesan kepemimpinan tidak lepas dari dukungan keluarga. Hal tersebut begitu dirasakan oleh Yuswandi. Menurutnya, salah satu dukungan terpentingan dari keluarga yaitu berupa doa. “Kita tidak tahu bahwa kita berdoa tidak dikasih atau tidak. Ternyata dikasih tuh. Buktinya kita sehat. Pada ukuran tertentu kita bahagia, ukuran tertentu kita dikasih kedudukan. Ukurannya ya, ukurannya dikasih,” ungkapnya.

Seorang pemimpin harus dekat dengan Tuhan. Begitulah Yuswandi berpesan. “Doa itu manjur. Jangankan doa, Tuhan akan berikan. Yang kita pikirkan saja itu bisa saja bahwa menjadi permintaan di mata Tuhan. Siapa yang yang memperkirakan bahwa besok ini, sekarang ini tidak bisa kita gambarkan adalah permintaan kita,” imbuh Yuswandi.

Salah satu hal yang dilakukan Yuswandi untuk mendapatkan mendapatkan inspirasi yaitu mencari suasana pedesaan. “Kalau senggang, jika dikasih opsi, saya cari kehijauan. Lebih mendukung inspirasi saya,” ungkap Yuswandi. Selain itu, menurutnya inspirasi juga bisa diperoleh ketika membaca otobiografi orang lain, berinteraksi dengan teman-teman, atau mungkin bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal.

Keberhasilan sebuah organisasi atau lembaga tidak hanya ditentukan oleh seorang pemimpin. Melainkan juga ditentukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu Yuswandi berpesan, “Kembalikan kepada orangnya, pekerjaanya sudah menunggu, laksanakan pekerjaannya, tingkatkan kapasitasnya, sesuai dengan mandat yang dikerjakan, dan ini akan snow bowlling. Terus perbaiki. Semakin baik, kita semakin ditengok orang. Semakin baik lagi tapi jangan lupa bahwa setiap orang ada kelebihan dan kekurangan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s