Secangkir Kopi Bersama Sahabat


“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq

 

2016-04-02 05.49.39 1.jpg
Sabtu Bersama Sahabat (Lokasi Rumah Makan Ponyo)

Ada saja alasan yang membuat saya untuk kembali ke Bandung, kota sejuta kenangan. Saya selalu rindu dengan suasana di kota kembang ini. Bagi saya, terlalu banyak kenangan baik tercipta di sini. Hampir semua sudut di kota ini menyimpan cerita-cerita, yang bila diceritakan ulang membuat saya tersenyum, lantas kemudian hanya terpaku diam. Maka biarkanlah kenangan itu terus mengabadi. Di sini, tepat di hati saya. Bila saya merasa merindu, saya akan menghadirkannya kembali. Kapan pun itu!

Pagi ini, saya bertemu lagi dengan salah satu sahabat terbaik saya sewaktu di Unpad. Kita pernah satu tim dua tahun di BEM Kema Unpad (Departemen Komunikasi dan Informatika). Selanjutnya, pada tahun ketiga kami berbeda divisi. Namun kita masih sering berdiskusi banyak hal, terutama tentang dunia fotografi. Saya belajar banyak dari sahabat saya ini, misalnya, bagaimana cara mengambil foto dengan angle yang bagus, dsb. Saya dari dulu sangat menyukai dunia fotografi. Namun, saya tidak begitu menguasai teknik fotografi lantaran sewaktu kuliah tidak memiliki kamera. Namun dari karya-karya fotografi Rijal Asy’ari (bisa dilihat di Instagram https://www.instagram.com/titikterang/) sedikit banyaknya saya mulai paham tentang seluk-beluk fotografi.

Obrolan pagi tadi ditemani secangkir kopi late. Kami kembali berdiskusi di sebuah tempat yang historis yaitu Rumah Makan Ponyo di bilangin Cinunuk, Bandung. Di sebuah saung khas Sunda kami bernostalgia tentang masa sewaktu kuliah. Oh ya, mengapa Rumah Makan Ponyo tersebut saya sebut historis? Sebab di tempat tersebutlah kami pernah membahas impian, harapan, serta asa untuk menjadikan BEM Kema Unpad menjadi lembaga kemahasiswaan yang down to earth dan memiliki program-program high impact. Tidak hanya membahas hal-hal yang serius, kami juga beberapa kali pernah bersenda gurau sembari menunggu waktu berbuka puasa dengan menu favorit khas Sunda seperti ayam penyet, lalapan, dsb.

Oya, kami tidak membahas dunia fotografi lagi. Saya lebih tertarik menanyakan konsep bisnis dan value dari Rumah Makan Ponyo yang sudah digarap Rijal sejak beberapa tahun belakang. Sangat menarik. Ia menceritakan bagaimana strategi bisnis Rumah Makan Ponyo sehingga tetap menjadi rumah makan yang memiliki tempat spesial di hati pelanggan. Bisnis keluarga @makanponyo (IG) sudah digarap sejak tahun 1972. Tentu banyak pelanggan yang sudah jatuh hati dengan rumah makan ini. Oleh sebab itu, Rijal pun bercerita bahwa ia ingin meningkatkan segmentasi pelanggan, khususnya generasi Y (lahir tahun 80-an hingga 90-an).

Jujur, bagi saya dunia bisnis itu menarik. Kadang saya berpikir untuk mencoba terjun dan mengerahkan kemampuan saya dalam membangun, mengelola, dan mengembangkan bisnis. Namun entahlah, saya masih ragu. Saya berpikir tidak memiliki gift dan bakat di sektor tersebut. Tapi saya masih penasaran untuk mengaplikasikan ilmu Marketing Communication yang sudah saya dapatkan di bangku kuliah. Barangkali suatu saat ya!

Well, hari ini saya belajar silaturahim tidak hanya sebatas bertemu. Lebih jauh dari itu, saya belajar banyak hal. Hatur nuhun pisan Lur atas ilmuna. Sukses pokokna mah!

Xoxo,
Hari kedua pada bulan April.

Ditulis di Jatinangor,
2 April 2016.

Mahfud Achyar

Ps: Bila tertarik dengan menu Rumah Makan Ponyo, silakan buka websitenya: makanponyo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s