Andi Sudirman: Menjadi Petugas Bendung Katulampa Adalah Panggilan Jiwa


Oleh: Mahfud Achyar

Pernah mendengar istilah Invisible Hand? Istilah tersebut dipopulerkan oleh pakar ekonomi, Adam Smith dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nation. Ia mengungkapkan bahwa ekonomi pasar dikendalikan oleh tangan-tangan takterlihat. Kini, penggunaan ungkapan Invisible Hand semakin meluas, tidak hanya digunakan di bidang ekonomi, namun juga relevan di bidang sosial, politik, dan budaya.

Saya pribadi lebih senang jika predikat invisible hand disematkan kepada mereka yang memiliki jasa yang luar biasa. Namun tidak banyak orang yang menyadari arti penting dari jasa-jasa yang sudah mereka persembahkan untuk bangsa. Maklum, saat ini kita hidup di era meritocracy (meritokrasi, Ind) yaitu era dimana seseorang dihargai karena kecerdasan dan kemampuan yang ia miliki. Maka takheran jika banyak orang-orang berjuang mendapatkan gelar pendidikan setinggi mungkin, mendapatkan pekerjaan yang prestisius, dan hidup dengan menyandang status sosial sebagai orang yang kaya.

Sekali lagi, takada yang salah dengan itu semua. Kadang kita memang perlu melihat ke atas agar senantiasa bersemangat dalam meraih mimpi-mimpi yang spektakuler. Namun ada kalanya kita perlu menengok ke bawah, mengamati orang-orang di sekitar kita, dan meluangkan waktu untuk bercengkrama sejenak dengan mereka, para invisible hand. Mereka menyimpan sejuta inspirasi yang perlu disimak.

***

Adalah Andi Sudirman (46 tahun), warga kelurahan Katulampa, kota Bogor, Jawa Barat yang merupakan salah satu invisible hand yang ada di Indonesia. Barangkali tidak banyak orang yang mengenal sosok pria paruh baya yang murah senyum ini. Wajar, popularitas Andi, begitu nama panggilan beliau, tidak semoncer tokoh-tokoh perubahan yang kerap muncul di televisi, koran, ataupun media online.

Akan tetapi, bagi masyarakat sekitar Katulampa, sosok bapak tiga anak ini memiliki jasa yang sangat mengabadi. Ia bukanlah seperti Robin Hood yang menjadi hero bagi masyarakat marginal. Namun profesi yang ia lakoni sejak tahun 1987 ini telah mengantarkan ia menjadi pribadi dicintai masyarakat dan menerima berbagai penghargaan dari pemerintah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

***

“Saat itu, setelah lulus SMA Taman Siswa kota Bogor pada tahun 1987, saya langsung bekerja di pengairan—khususnya di Bendung Katulampa. Kebetulan saya diberi kepercayaan sebagai pengawas saluran, kemudian menjadi staf bendung.” Andi pun mengenang memori pertama kali ia menjadi petugas Bendung Katulampa.

Menurutnya, menjadi petugas Bendung Katulampa tidaklah mudah. Sebab, ia bersama ketujuh rekannya harus bekerja selama 24 jam untuk memonitor debit air yang masuk ke bendung. “Kita ada pembagian shift. Namun ketika banjir, semua personil harus siaga,” ungkap Andi.

Fungsi dari Bendung Katulampa sendiri adalah sebagai early warning system untuk banjir dan juga  sebagai sarana irigasi yang ada di kawasan Bogor, Depok, dan Jakarta. Bendung Katulampa dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1911, akan tetapi pembangunannya sudah dimulai sejak 1889, sejak banjir besar yang melanda Jakarta pada tahun 1872.

Mendengar nama Bendung Katulampa, orang-orang berpikir bahwa bendung tersebut menjadi penentu banjir Jakarta. Padahal anggapan tersebut tidaklah tepat. Bendung Katulampa bukanlah pengendali banjir seperti apa yang selama ini dipahami oleh masyarakat luas. Lebih parah lagi ada yang wacana yang berkembang seperti ini, “Banjir Jakarta Adalah Banjir Kiriman Dari Bogor.” Bendung Katulampa merupakan posko untuk memonitor dan mengawasi permukaan air yang ada di hulu. Dari tiga belas anak sungai yang masuk di kawasan Puncak ke Katulampa, mengalir ke kawasan kota Depok dan juga Jakarta.

“Kami betugas menjaga Bendung Katulampa untuk memberi peringatan banjir di Jakarta. Jika debit air di atas normal berarti sudah memasuki kondisi siaga,” jelas Andi yang saat itu mengenakan pakaian dinas berwarna biru.

Lebih lanjut, pria yang sesekali menyunggingkan senyuman ini, memaparkan tentang kondisi debit air di Bendung Katulampa. Normal debit air di Bendung Katulampa hanya 4000 liter. Namun jika hujan  air yang masuk kurang lebih 150.000 liter per detik. Pada tahun 2007 dan 2010, air bahkan bisa mencapai maksimal 600.000 liter. Ketinggian air di atas 50-80 cm berarti sudah masuk siaga empat, 150 cm siaga tiga, 200 cm siaga 2, dan di atas 200 mencapai siaga 1. Untuk itu kita harus berkoordinasi dengan berbagai wilayah Puncak dan Cisarua untuk memonitor permukaan air yang dilalui oleh Kali Ciliwung. Dari tiga belas anak sungai yang masuk semuanya ke Bendung Katulampa dibarengi hujan yang merata di Depok, Bogor, dan Jakarta maka besar kemungkinan akan terjadi banjir di Jakarta. Kami bertugas memberikan peringatan dini, “Awas air di atas normal. Warga Jakarta harus siap siaga,” tandas Andi.

Ketika ditanya apa perbedaan kondisi Bendung Katulampa dulu dengan sekarang, ia menceritakan bahwa dari tahun 1987 hingga sekarang setiap banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di kawasan Puncak. Ia menilai daerah resapan di kawasan hulu sudah semakin berkurang. Banyak lahan yang sudah beralih fungsi menjadi tempat komersial. Selain itu juga disebabkan terjadinya erosi dan pendangkalan sungai akibat sampah. “Kami sudah tulis plang jangan buang sampah ke sungai!”

Pengalaman adalah guru terbaik. Nampaknya itulah yang membuat Andi semakin mengerti betapa penting tugas yang ia jalani. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Andi adalah saat banjir yang terjadi pada tahun 2007.

Ia pun menarik napas pelan-pelan dan kemudian melanjutkan cerita. “Banjir 2007 terjadi cukup mendadak. Namun untungnya kita berkoordinasi dengan teman-teman  di Puncak. Hujan lebih dari 3 sampai 5 jam, insting kita sudah biasa pasti ada banjir,” kenang pria asal Sukabami ini.

Andi mengatakan banjir tahun 2007 datangnya saat sholat Maghrib. Para petugas bendung pun dibuat panik karena air tiba-tiba datang disertai dengan hujan dan petir menggeeglar. “Kita bertugas selama 24 jam. Kondisi saat itu mati listrik. Tapi kita sudah upayakan pakai jenset. Jangan sampai peloporan early warning jadi terhambat. Tapi beruntung kita punya AWL (Automatic Water Level) untuk memonitor air. Kita memberikan peringatan, memonitor cuaca di hulu, melaporkan kondisi debit air, dan standby di Bendung Katulampa,” pungkas Andi.

Kendati tanggung jawab sebagai petugas Bendung Katulampa sangatlah berat, namun dukungan dari keluarga membuat Andi semakin mencintai pekerjaan yang sudah menerbangkan ia ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh pada tahun 2008. “Alhamdulillah keluarga mendukung profesi saya. Bagi saya, tugas ini adalah amanah dari yang Maha Kuasa. Saya dapat membantu orang banyak dan melaksanakan tugas dari pemerintah,” ujar Andi.

Tahun awal bekerja sebagai petugas Bendung Katulampa adalah masa-masa yang cukup sulit bagi Andi. Dulu, honor yang ia terima sebesar 23ribu rupiah. “Saya masih ingat betapa susah payahnya menghidupi keluarga. Sementara tanggung jawab di bendung juga cukup berat. Namun saya jalani tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab dan disertai dengan keikhlasan. Tanpa keikhlasan, takakan bermanfaat tugas yang sudah kita jalankan,” ungkap Andi dengan mata tampak mulai berkaca-kaca.

Ia juga bercerita bahwa pernah mendapatkan tawaran dinas untuk bekerja di kantor. Namun ia menolak secara halus tawaran tersebut. Ia lebih sedang bekerja di lapangan. Menurutnya bekerja dikantor itu menjenuhkan. Anda mengaku lebih enjoy menjadi orang lapangan karena dapat berinteraksi langsung dengan alam dan masyarakat di sekitar. Selain itu, ia juga senang terlibat dalam berbagai komunitas seperti Komunitas Peduli Ciliwung yang memiliki komitmen untuk menjaga lingkungan di kawasan Ciliwung. Ia pun berharap semoga seluruh warga Bogor, Depok, Jakarta, dan sekitarnya untuk mencintai Ciliwung demi masa depan generasi berikutnya.

“Kita pasti akan memanen apa yang sudah kita tanam.” 

Begitu cara Andi memaknai hidup ini. Ia percaya bahwa doa, ikhtiar, dan sabar adalah upaya terbaik yang dilakukan manusia untuk mendapatkan hasil terbaik dari Tuhan. Ia merasa beruntung telah diberi amanah menjadi penjaga Bendung Katulampa. Begitu banyak nikmat yang sudah ia terima. Salah satu hal yang ia syukuri adalah, ia mampu melanjutkan kuliah dan lulus dengan menyandang sarjana di STAI STISIP Syamsul Ulum. Bagi saya pribadi, menjadi petugas Bendung Katulampa adalah panggilan jiwa. “In Shaa Allah dengan ikhlas saya sampai titik akhir saya ingin di Bendung Katulampa untuk masyarakat,” tutup Andi mengakhiri cerita siang itu. Bogor, 22 Oktober 2013.

 

 

Dokumentasi pribadi: Andi, Penjaga Bendung Katulampa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s