Aku Jatuh Cinta Padamu, Prau!


Aku semakin yakin bahwa semua doa-doaku yang pernah aku minta pada Tuhan selalu dikabulkan. Mungkin besok, lusa, tahun depan, atau mungkin beberapa tahun lagi. Dan tahun ini, aku menjadi saksi atas kuasa Tuhan. Salah satu mimpiku saat di kampus terkabul sudah. Masih lekat dibenakku, pada tahun 2008, aku dan teman-temanku berencana liburan ke Dieng Plateu, Jawa Tengah. Saat itu, aku dan teman-temanku sesama pengurus BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) begitu antusias untuk bertualang ke Dieng.

Menurut pandangan kami, Dieng adalah salah satu tempat terbaik di Indonesia yang harus dikunjungi. Kami pun mencari informasi tentang Dieng dengan berselancar di internet. Memandangi foto-foto keindahan alam Dieng yang diabadikan oleh para travelers. Kami berdecak kagum. Sejak saat itu juga harus aku akui bahwa kami jatuh cinta pada Dieng. Namun rasa cintaku terhadap Dieng tidak tersampaikan. Seperti seorang pujangga yang hanya bisa memuja sang terkasih tanpa yakin akan memilikinya. Saat itu kami hanya bisa membuat rencana. Sebatas rencana. Pada akhirnya kami harus mengulum senyum hambar karena rencana kami ke Dieng batal! Maklum, sebagai aktivis BEM kami lumayan disibukkan dengan program-program yang harus dijalankan hingga akhir kepengurusan.

Kendati rencana kami gagal total. Aku pribadi tidak lantas membuang mimpiku untuk pergi ke Dieng. Dalam hati penuh takzim, aku berdoa dan berharap, semoga suatu saat aku bisa ke sana. Ya Dieng! Sebuah negeri yang konon kata orang merupakan negeri tempat istirahatnya para dewa.

Enam tahun berlalu begitu cepat. Sejak tahun 2008 hingga tahun 2014, sebetulnya aku masih terobsesi untuk pergi ke Dieng. Kadang aku memikirkan Dieng pada beberapa kesempatan, kadang aku sama sekali tidak peduli. Namun siapa sangka penantianku tidak berakhir sia-sia. Tuhan memberikanku kesempatan untuk pergi ke Dieng pada waktu yang tepat dan yang paling penting bersama sahabat-sahabat yang menyenangkan.

Jatinangor, 21 Juni 2014

Gongratulations, bro! Tepat hari Jumat, 21 Juni 2014 sahabat kami bernama Dwi Cahyo Akbar secara resmi menyandang gelar sarjana. Kami bangga dengan perjuangan hebatmu, bro! Oke, untuk merayakan kelulusan teman kami, akhirnya kami pun bersepakat untuk merayakannya di salah satu puncak gunung terindah di jawa yaitu Gunung Prau! Gunung yang terkenal dengan puncak-puncaknya indah, golden sunrise, hamparan padang rumput savana yang luas, dan melihat lebih dekat si kembar Sumbing dan Sindoro. Lebih mengagumkan lagi, Gunung Prau terletak di Dieng Pleteu yang masuk wilayah Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Achievement unlocked! Artinya mimpiku pada tahun 2008 terkabulkan. Dan ini di luar dugaanku. Siapa sangka saat aku tidak terlalu memikirkan Dieng, justru takdir membawaku dan sahabat-sahabat baikku untuk mengenal lebih dekat Dieng.

Bandung, 22 Juni 2014

Di terminal bus Cicaheum Bandung, aku dan lima sahabatku yaitu Cahyo, Abah, Ella, Ai, dan Nurida sudah sangat siap untuk berangkat ke Wonosobo. Masing-masing kami membawa tas carrier dan day pack yang berisi bekal dan persiapan untuk mendaki Gunung Prau.

Sore merangkak senja, senja pun merangkak malam. Langit kota Bandung terlihat mulai gelap. Aku pun menengok jam tangan untuk memastikan bahwa kami masih punya kesempatan untuk makan malam. Sebab perjalanan menuju Wonosobo tidaklah sebentar. Kami akan Kami akan menghabiskan malam yang panjang di bis sekitar 10 jam. Abah pun segera membeli karcis di loket khusus bus Po. Sinar Jaya dengan merogoh kocek sebesar 75ribu. Untungnya Abah sudah reservasi karcis terlebih dahulu. Jika tidak, kami tidak akan kebagian kursi. Paling parah kami tidak bisa berangkat pada malam itu.

Oya, jumlah tim kami totalnya adalah 7 orang. Namun dua orang sahabat kami tidak berangkat bersama dari Bandung. Kang Hassan berangkat dari terminal Rawamangun Jakarta dan Riyan berangkat dari Yogyakarta. Namun kami sudah janjian untuk bertemu pada hari Minggu pagi tanggal 23 Juni 2014 di terminal Mendolo, Wonosobo.

Perjalanan malam yang cukup panjang pun dimulai. Aku pernah dengar bahwa waktu yang terbaik untuk berpergian adalah malam hari. Sebab pada malam hari, jarak perjalanan seolah semakin pendek. Barangkali karena kita bisa tidur dan ketika kita bangun kita sudah sampai pada tujuan kita. Namun bagiku, perjalanan malam sayang sekali jika dihabiskan hanya untuk tidur. Aku dan sahabat-sahabatku sudah tidak sesering dulu bertemu di kampus. Sejak kami lulus kuliah, kami sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sebetulnya lumayan sering berkomunikasi melalui media sosial, namun jarang bertemu langsung untuk sekadar berbincang-bincang dan bergurau.

Malam itu, kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu kami bersama. Kami pun bermain tebak-tebakkan konyol yang katanya games anak psikologi, bernyanyi saling bersaut-sautan, tertawa, saling meledek, dan bertepuk tangan. Jika mengingat momen itu, saya jadi tertawa sendiri. Seolah kita sebagai anak-anak manusia yang enggan menjadi dewasa.

Mata mulai terasa berat. Rasa kantuk tidak tertahankan. Kami pun tidur. Menjelajah dimensi lain yang tidak kami ketahui satu sama lainnya.

Wonosobo, 23 Juni 2014

Sekitar pukul 05.00 WIB, kami tiba di terminal Mendolo, Wonosobo. Menurutku, terminal Mendolo cukup rapi dan bersih. Jauh berbeda dibandingkan terminal di Jakarta atau pun Bandung. Selain Itu, udara pagi di Wonosobo juga menyegarkan paru-paru. Maklum, di Jakarta setiap hari aku terbiasa menghirup udara yang sudah terkontaminasi polusi. Angin dingin pun berhembus dan berlari-larian kecil di atas kulit sehingga membuat tubuhku sesekali menggigil. Yep, sekilas Itulah first impression-ku ketika menginjakkan Wonosobo untuk pertama kalinya.

Selanjutnya kami pun bergegas mencari masjid untuk sholat Subuh. Tidak jauh kami melangkah, kami pun menemukan sebuah masjid. Kami pun bergegas untuk sholat Subuh, personal hygine, dan menunggu dua sahabat kami yaitu Kang Hassan dan Riyan. Selang beberapa menit, Kang Hassan pun datang. Sementara Riyan baru tiba di Wonosobo sekitar pukul 09.00 WIB.

Sembari menunggu Riyan, kami pun repacking yang dibantu oleh Cahyo. Maklum, jam terbang Cahyo dalam hal per-packing-an sudah tidak diragukan lagi. Menurutnya, prinsip utama dalam packing adalah, jangan membiarkan ada ruang tersisa sehingga menjadi celah untuk udara masuk. Sebab jika masih ada ruang sisa, beban terasa lebih berat. Dia menambahkan, barang yang kita bawa sebetulnya bisa menjadi ringan asalkan kita telaten ketika packing. Kami pun hanya bisa angguk-angguk kepala, kendati kami tidak mengerti sepenuhnya apa yang disampaikan Cahyo. Hehe.

Urusan packing kami serahkan seutuhnya kepada Cahyo. Beberapa orang di antara kami yaitu Kang Hassan, Nurida, Ella, Ai, dan aku pun mendapat mandat mulia untuk ke pasar tradisional guna membeli perbekalan selama di gunung. Horray! Markipas, mari kita ke pasar.

Well, all my bags are paked!

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Riyan melempar senyum kepada kami. Kita pun saling berkenalan, berbincang-bincang ringan, dan tanpa mengulur waktu kami pun siap menjelajah alam Dieng yang indah dan permai.

Our long journey start here.

Untuk sampai ke Dieng, kita bisa menumpang elf dengan membayar ongkos sekitar 15ribu per orang. Pada hari itu, nampaknya hanya kami yang berstatus pelancong di dalam elf. Sisanya adalah warga lokal asli Wonosobo. Di antara mereka ada yang membawa sayur-sayuran dan membawa bahan pangan. Sepanjang perjalanan menuju Dieng, tolong jangan tidur. Tolong sekali! Sebab pemandangan di sisi kiri dan kanan sungguh indah.

Aneka sayuran berwarna hijau seperti daun bawang, kangkung, dan sawi terhampar luas berbentuk persegi empat yang teratur. Sementara itu, pada tanah yang lereng dibuat sengkedan berjenjang-jenjang yang ditumbuhi tanaman tumpang sari. Tanah di negeri Dieng sangatlah subur. Aduhai, asyik sekali sepertinya menjadi masyarakat Dieng. Rumah-rumah mereka berjejer rapi. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hijau, hijau, dan hijau. Betapa tergila-gilanya aku pada warna itu. Mungkin benar kata orang, Indonesia ini tanahnya syurga. Untuk itu, sudah semestinya kita menjaga anugrah Tuhan yang takternilai harganya.

Elf melaju dengan kecepatan yang stabil, melewati jalan-jalan yang berkelok, dan menanjak semakin tinggi. Setengah jam berlalu, kami pun tiba di Dieng. Oya, sebagai informasi, jalur menuju puncak Gunung Prau ada dua, yaitu dari Patak Banteng dan Dieng. Dan kami memilih jalur Dieng. Menurut Cahyo, hiking melalui Dieng lebih santai dan pemandangannya pun lebih bagus. Aku sendiri kurang tahu persis sebab belum pernah hiking melalui Patak Banteng. Namun, Ella yang sebulan lalu kembali ke Prau via jalur Patak Banteng mengakui bahwa pemandangan via Dieng jauh lebih keren.

 

Jalur pendakian menuju Gunung Prau via Dieng
Jalur pendakian menuju Gunung Prau via Dieng

Kami mulai pendakian sekitar pukul 13.00 WIB. Jujur kuakui bahwa pemandangan sepanjang jalan menuju puncak Prau: PERFECT! Bayangkan, kami berjalan perlahan di atas jalan bebatuan yang tersusun rapi, menghirup oksigen yang segar, menikmati pemandangan desa yang damai, dan bibir kita takhenti-hentinya takjub dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Berlebihankah aku memujinya? Tentu tidak. Aku rasa itu deskripsi yang tepat menggambarkan keelokkan alam Dieng.

Rasa lelah sepanjang pendakian seolah takada artinya. Sebab kami selalu disuguhi hal-hal yang mengesankan: kanopi dari jejeran pohon pinus serta kabut tipis yang tiba-tiba datang dan pergi karena tiupan angin. Selain itu, sahabat kami Ai juga menjelaskan beberapa jenis tanaman yang tidak kami ketahui nama dan jenisnya. Sebagai seorang mahasiswa magister Biologi, jelas Ai menguasai hal-hal tersebut dibandingkan kami. Jadi bisa dikatakan perjalanan kami tidak hanya sebatas yang indah-indah saja, tapi ada pengetahuan baru yang kami dapatkan. Oh ya! Taksonomi nama ilmunya. Dalam Biologi, taksonomi ilmu yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup (termasuk tumbuhan). Sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan yang dikenal sebagai tata nama binomial atau binomial nomenclature.

Beberapa meter melangkah, kemudian berhenti. Bukan hanya karena kami lelah, tapi kami tidak ingin menyia-nyiakan momen yang kami lihat dengan mengabadikannya dengan kamera yang kami bawa. Semakin kami jauh berjalan, semakin kami lebih mengenal satu sama lainnya. Kendati sering berpergian bersama, ada saja hal-hal baru yang kami pahami dari karakter masing-masing. Berbeda, ya kami berbeda. Tapi bukankah perbedaan itu anugrah yang membuat kita semestinya lebih mengerti satu sama lainnya.

Cukup jauh berjalan, kaki mulai terasa berat untuk melangkah. Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Menikmati keindahan penaroma Dieng dari ketinggian.

“Hai teman-teman! Lihat di bawah sana ada telaga warna,” Ella bersorak.

Kami pun bergegas menuju tempat Ella. Penasaran ingin melihat apa yang Ella lihat. Yep, mengangumkan! Telaga warna terlihat sangat jelas kendati pada jarak yang terbentang sangat jauh. Kami dengan leluasa berputar 180 derajat untuk melihat pemandangan yang kami suka tanpa ada satu pun yang menghalangi bola mata kami. Burung-burung terbang di atas cakrawala. Mereka bergerombol menuju suatu tempat yang tidak kami ketahui. Mereka adalah sang petualang. Begitu juga dengan kami.

 

Telaga Warna dari Gunung Prau
Telaga Warna dari Gunung Prau

 

Setelah cukup puas istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Puncak Prau sudah terlihat. Aku agak sedikit de javu, merasa sudah pernah ke sini sebelumnya. Aku bingung dengan kerja otak.

“Ini kaya dimana ya?”

“Mirip kaya di Puntang, Ach!” balas Nurida.

“Oya bener mirip.”

Sore itu adalah salah sore terbaik dalam hidupku. Merasakan hidup sebagai manusia petualang seperti yang aku impikan sedari kecil. Padang savana yang terhampar luas. Sangat luas. Savana tersebut dipercantik karena tumbuh bunga kecil berwarna kuning, putih, dan ungu. Seperti bunga matahari tapi dalam ukuran yang lebih kecil. Kata Cahyo, nama bunga itu adalah bunga Daisy yang merupakan keluarga asteraceae sama seperti bunga aster. Belakangan aku mencari informasi lebih detil mengenai bunga Daisy. Aku baru tahu bahwa bunga Daisy memiliki filosofi yang melambangkan kerendahan hati, kestabilan, suci, simpati, dan keceriaan. Beruntungnya kami bisa melihat bunga Daisy bermekaran yang menjadi pengiring kami menuju puncak. Ya, puncak Prau dengan ketinggian 2.565 meter dari permukaan laut adalah tujuan kami.

 

Bunga Daisy
Bunga Daisy

 

Sang mentari yang dari tadi menjadi lentera perjalanan kami perlahan mulai beranjak pergi menuju peraduannya. Kami pun semakin mempercepat langkah agar tiba di puncak sebelum matahari benar-benar hilang. Gunung Prau memang unik. Aku kira kita sudah tiba di puncak. Namun kata kang Hassan, itu belum puncaknya. Tiba di puncak lainnya namun tetap itu bukan puncak aslinya. Takheran jika puncak Gunung Prau dijuluki dengan puncak seribu bukit.

Sekitar pukul 17.15 WIB, akhirnya kami pun tiba di puncak asli Gunung Prau. Alhamdulillah. Rasa syukur membuncah dari hati. Abah dan Cahyo bertugas mendirikan tenda; aku, Kang Hassan, Riyan bertugas mencari kayu bakar untuk acara api unggun; Nurida, Ai, dan Ella menyiapkan air panas. Oya, kami belum sholat Dzuhur. Kami pun bergantian untuk sholat jamak qashar Dzuhur dan Ashar.

Udara dingin pegunungan mulai menusuk hingga ke tulang. Apalagi bagi kami yang memiliki tubuh kurus yang hanya memiliki sedikit bantalan lemak. Jaket, syal, dan kupluk pun dipasang. Tenda berdiri kokoh dan menghadap langsung ke arah si kembar, Sumbing dan Sindoro. Sayang saat itu, si kembar ditutupi awan yang tebal. Kami tidak bisa leluasa memandangi mereka. Namun beberapa menit kemudian, kami tiba-tiba angin berhembus. Awan tebal yang menyelimuti si kembar pun perlahan mulai hilang. Menjelang senja saat cakrawala berwarna merah jingga, Gunung Sumbing dan Sindoro seolah menyapa kami. Membuat hati kami riang gembira. Taklupa kami mengabadikan momen indah dengan berbagai pose yang penuh keceriaan.

Malam pun menyapa. Angin gunung pada malam memang kurang bersahabat. Berhembus cukup kencang. Udara terasa semakin dingin. Kami berharap tidak ada satu pun dari kami yang terkena hyporthermia. Kami mengusik dingin malam dengan memasak bersama. Agar tubuh terus bergerak. Lagian perut dari tadi sudah keroncongan. Tidak sabar rasanya untuk makan malam yang diracik secara khusus oleh koki handal Nurida, Ella, dan Ai.

Alhamdulillah kenyang. Makan malam yang sangat nikmat.

Makan malam sudah, sholat Maghrib dan Isya sudah, acaranya selanjutnya adalah menghangatkan diri dengan duduk melingkari api unggun. Riyan, mahasiswa magister Sejarah, berkisah banyak hal kepada kami. Tentu saja tentang sejarah. Dari dulu, aku sangat suka sejarah. Kami pun antusias bertanya mengenai ini dan itu kepada Riyan. Obrolan kami malam itu diakhiri dengan padamnya api unggun. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 10 malam. Kami pun memutuskan untuk masuk ke tenda. Barangkali obrolan tentang sejarah bisa dilanjutkan di tenda.

Sementara itu, masih ada saja pendaki yang baru datang kendati sudah malam. Besok subuh adalah waktu yang paling aku tunggu. Sebab, aku ingin sekali menjadi saksi betapa cantiknya golden sunrise di puncak Gunung Prau.

Dieng Plateu, 24 Juni 2014

“Teman-teman, ayo bangun! Sebentar lagi sunrise. Ayo sholat!” Ella berteriak dari tenda sebelah.

Kami pun sholat Subuh berjamah. Usai sholat, kami pun menanti secercah cahaya yang menyeruak di balik awan kelabu yang masih terlihat gelap. Perlahan fajar mulai menyingsing. Cahaya mentari terpancar di antara sela-sela awan. Semakin lama semakin memancarkan cahaya dengan spektrum yang lebih luas. Menyinari cakrawala dengan cahaya berwarna keemasan. Benar sekali, sunrise di puncak Gunung Prau sungguh cantik. Laiknya seorang putri istana yang ditunggu-tunggu jutaan rakyatnya. Begitulah kami menunggu sang mentari. Menghangatkan tubuh kami yang dari tadi malam terasa menggigil. Memberi kami harapan baru dan semangat baru.

Golden Sunrise
Golden Sunrise

 

Wahai sang mentari pagi. Biarkan kami bersamamu lebih lama. Mendendangkan lagu terbaik yang kami bisa untukmu. “There’s always a story. It’s all stories, really. The sun coming up every day is a story. Everything’s got a story in it. Change the story, change the world.” – Terry Pratchett.

Aku membentangkan tangan menghadap matahari. Membiarkan angin pagi yang masih sama dinginnya saat malam hari yang dari tadi menampar-nampar wajahku. Ah, angin dingin pagi itu hanya ingin bercanda denganku. Sementara hangatnya sang mentari mulai merasuk hingga pembuluh vena dan arteri. Mengusir rasa dingin yang seolah enggan pergi.

Aku dan sahabat-sahabatku merasakan sesuatu yang sangat personal. Hubungan kita dengan alam memang sangatlah dekat. Alam bagi kami adalah rumah. Saat hati merasa jengah dan lelah, kami ingin kembali padanya. Bukankah setelah meninggal, kita akan kembali pada alam. Tentunya alam yang berbeda.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Dieng. Sekali lagi aku katakan padamu, aku jatuh cinta padamu. end!

Anak Kaki Langit
Anak Kaki Langit

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s