Semangkok Cerita dari Transjakarta


1459794_10202341397686583_536675174_n

Ini adalah kisah hari ini. Tepatnya sebuah kisah yang terjadi pada tanggal 19 Maret 2015, sekitar pukul 07.52 WIB di salah satu moda transportasi publik di Jakarta. Banyak orang menyebutnya busway, kendati itu bukanlah sebutan yang tepat. Sebab busway merujuk pada jalurnya, sementara nama bus itu sendiri adalah Transjakarta. Saya pikir banyak orang yang sudah mengetahui hal tersebut, namun masih sungkan menyebutnya dengan benar. Barangkali sudah menjadi kebiasaan warga urban Jakarta.

Sejak menonton sebuah video yang berjudul “Turn off social media, phone, and live your life” di social media Youtube, saya kemudian mulai menyadari bahwa sepertinya saya mulai memiliki kebiasaan yang buruk. Yaitu menghabiskan perjalanan selama 57 menit dengan bermain ponsel. Mungkin untuk sekadar mengecek pesan di kotak masuk, mengecek WhatsApp, membaca update tweet di Twitter, melihat postingan di Facebook, atau menonton video di Youtube. Dulu bahkan saya sering menyumpal telinga saya dengan headset untuk mendengarkan lagu-lagu favorit sembari membaca buku.

Saya ingin katakan bahwa saya sangat jarang mengamati orang-orang di sekitar saya. Lebih asyik menenggelamkan diri dalam sebuah dunia artificial, dunia yang saya buat sendiri. Berharap takbanyak orang yang mengusik tameng penuh mantra tersebut. Namun saya tidak ingin terjebak menjadi orang yang anti-sosial seperti kebanyakan orang-orang yang ada di kota yang keras ini. Menjadi berbeda untuk konteksi seperti ini, apa salahnya? Saya pikir tidak begitu buruk.

Pun demikian, saya tidak betul-betul meninggalkan kebiasaan saya untuk bermain dengan ponsel saat berperjalanan. Saya masih sering membuka notifikasi yang penting sekali. Untuk pesan-pesan di WhatsApp, sejujurnya saya jarang sekali membukanya. Malas. Saya pikir itulah alasan yang paling kuat. Namun saya sudah beberapa bulan ini tidak pernah lagi mendengarkan musik menggunakan headset. Selain karena saya menghapus lagu-lagu, saya juga merasa tidak nyaman menggunakan headset berlama-lama. Saya khawatir akan merusak indra pendengaran. Ya, begitulah saran dari artikel kesehatan yang pernah saya baca.

Oya, cerita pagi ini tentang seorang bapak paruh baya dengan seorang remaja perempuan yang duduk di sebelah saya. Kami sama-sama menjadi penumpang Transjarkata koridor 11 (Tanjung Priok – PGC). Menurut penilaian saya, bapak itu sudah berumur 40 tahun lebih. Ia mengenakan kaca mata minus, memakai setelan kantor (kemeja dan celana bahan), dan mulutnya ditutup masker. Barangkali ia sedang terkena flu seperti saya sekarang. Tepat di sebelah kirinya, ada seorang remaja perempuan mengenakan kaos kasual dan celana jeans tengah asyik belajar “Tata Bahasa Inggris” dengan mulut komat-kamit. Kadang ia menutup matanya untuk mencerna dan mengingat teori-teori yang sudah ia baca pada sebuah buku berwarna putih hasil foto copy. Ia tampak begitu begitu keras menghafal kata perkata aturan-aturan dalam bahasa Inggris. Bahkan takjarang ia berbicara sendiri guna memastikan apa yang sudah ia baca dapat ia ingat dengan baik. Semacam metode yang efektif dalam menghafal ala gadis remaja tersebut.

Bapak paruh baya yang dari tadi diam dan sempat tertidur kemudian membuka pembicaraan dengan remaja perempuan tersebut. Ia menanyakan apa yang sedang dipelajari oleh gadis tersebut, apa kendala yang ia hadapi, dan ia pun taksungkan untuk memberikan beberapa tips untuk mempelajari bahasa Inggris dengan mudah. Remaja perempuan terlihat senang dan antuasias mendapatkan bantuan dari bapak tersebut. Seolah ia baru saja mendapatkan seorang guru bahasa Inggris di tempat yang takterduga: Transjarkarta. Gadis itu berkata, “Apakah bapak seorang guru?” Bapak itu menjawab, “Bukan, saya bukan seorang guru. Saya bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Namun saya mengetahui beberapa gramatika bahasa Inggris.” Demikian sepotong dialog dua manusia yang tidak saling mengenal.

Halte UKI. Bapak itu pamit dan menyerahkan kartu nama kepada remaja perempuan tersebut.

***

PS: Bagi saya obrolan antara bapak dan remaja di Transjakarta itu menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s