Resep Sukses Ala Chef ‘Abuba’


Photo Taken By: Luddy Prasetyo
Photo Taken By: Luddy Prasetyo

Belakangan ini, profesi chef atau juru masak kian digandrungi oleh banyak masyarakat Indonesia. Apalagi, banyak stasiun televisi swasta yang juga turut mempromosikan profesi chef melalui program pencarian bakat untuk mencari master chef yang handal dan profesional. Biasanya, ketika anak-anak Indonesia ditanya mengenai cita-cita, banyak di antara mereka yang berkeinginan menjadi seorang guru, pilot, polisi, astronom, dan sebagainya. Namun kini, cita-cita menjadi seorang chef menjadi salah satu pilihan utama. Betapa tidak, seorang chef dinilai piawai dalam meracik bumbu makanan, mengolah makanan, dan menyajikan makanan yang mengundang selera. Apalagi bisnis food and beverage terus berkembang dan dicari oleh banyak orang guna memanjakan lidah dalam berburu rasa.

Menjadi seorang chef sekaligus entrepreneur secara bersamaan tentu tidaklah mudah. Barangkali, itulah yang dialami oleh Abu Bakar saat pertama kali memiliki ide untuk mengembangkan bisnis kuliner khususnya makanan steak di Jakarta. Sebagaimana kita tahu, steak merupakan jenis makanan western berupa potongan daging yang dipanggang atau digoreng. Biasanya steak dapat nikmati di hotel-hotel berbintang atau restoran-restoran mewah. Namun Abu, begitu ia akrap disapa, berpikir bahwa steak seharusnya dapat dinikmati oleh banyak orang dengan harga yang terjangkau tanpa mengabaikan kualitas dari steak itu sendiri.

Bagi Anda penikmat steak di Jakarta tentu sudah tidak asing lagi mendengar nama restoran Abuba Steak. Restoran ini pertama kali dibuka di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kini, Abuba Steak semakin berkembang sehingga berhasil membuka 14 cabang outlet di berbagai kota khususnya di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Bogor. Menjadi sukses seperti sekarang tentu tidaklah mudah. Butuh proses yang panjang, kesabaran, dan pembelajaran yang takpernah henti-hentinya.

Lantas bagaimana resep sukses Abuba Steak sehingga bisa seperti sekarang? Tim redaksi HI News berkesempatan untuk mewawancarai putra tunggal pemilik Abuba Steak, yaitu Muhammad Ali Ariansyah di bilangan Cipete, Jakarta Selatan pada hari Rabu, (15/04/2015).

Ali mengatakan untuk menjadi sekarang memang butuh proses yang takmudah. Ia menceritakan bahwa ayahnya merupakan seorang anak yang lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bahkan tidak memiliki bekal pendidikan formal yang mumpuni. Ia putus sekolah sejak duduk di bangku SD kelas 5 lantaran ayahnya menderita sakit dan akhirnya meninggal. Pada usia 13 tahun, Abu merantau ke Jakarta dengan harapan dapat memperbaiki kondisi perekonomian keluarganya. Awal-awal hidup di Jakarta merupakan kondisi yang sulit bagi Abu. Ia bekerja serabutan seperti menjadi kuli batu dan buruh.

Menjelang dewasa, tepatnya saat usianya ke-17 tahun, pria kelahiran Cirebon tersebut mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sebuah restoran di Kemang, Jakarta Selatan sebagai tukang cuci piring. Selanjutnya, ia pun dipercaya menjadi juru masak di berbagai restoran dan hotel terkemuka di Jakarta. Selama bergulat di dapur, Abu belajar banyak hal tentang berbagai menu masakan, baik lokal maupun western. Bekal ilmu yang ia dapat akhirnya memantapkan Abu untuk membuka restoran sendiri.

Menurut penuturan Ali, Abuba Steak yang berdiri sejak tahun 1992 bermula dari warung tenda di daerah Cipete, Jakarta Selatan. “Jika boleh cerita, Abuba Steak sendiri berawal dari ketidaksengajaan. Mengapa? Sebab saat itu ayah saya sedang menganggur cukup lama sekitar enam bulan. Kesulitan ekonomi terus menghimpit keluarga kami. Akhirnya ayah saya memutuskan untuk membuka usaha kuliner. Kami menjual beberapa macam menu makanan. Namun dari sekian banyak menu, steak menjadi menu favorit pelanggan kami. Dengan background dan experience sebagai chef yang dimilih ayah saya selama 25 tahun, ayah saya kemudian memutuskan untuk menjual steak,” jelas Ali.

Doa, kerja keras, dan semangat pantang menyerah merupakan kunci keberhasilan Abuba Steak. “Saya masih ingat dulu kita jualan di depan toko orang pada malam hari. Modal kami saat itu hanya 3 juta. Itu pun hasil tabungan sendiri dan pinjaman dari sahabat dan sanak saudara. Kemudian kami pun pindah ke salah satu gang di Kemang. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah akhirnya kami memiliki modal yang cukup sehingga bisa menyewa tempat di Jalan Raya Cipete, No. 6 Jakarta Selatan. Tahun 2008, kami pindah lagi ke daerah yang cukup strategis dan memiliki tempat parkir yang memadai di Jalan Raya Cipete No. 14-A hingga sekarang,” kenang Ali.

Pada tahun 2004, Ali diberi kepercayaan oleh ayahnya untuk mengelola Abuba Steak. Saat itu ia baru selesai mengenyam pendidikan di Switzerland, mengambil program studi Hospitality (Perhotelan). “Kebetulan saya adalah anak satu-satunya. Saya ingin perusahaan ini dapat berkembang, semakin memberikan manfaat untuk orang banyak, dan lebih baik lagi,” ungkap Ali.

Dengan kepemimpinannya, Ali berharap stake holder dari Abuba Steak mendapatkan manfaat; customer yang mendapatkan produk yang lebih baik, tempat yang lebih nyaman dan representatif; dan karyawan Abuba Steak yang sudah mencapai 600 orang juga harus menerima hak mereka dengan baik dan layak.

Menghadapi persaingan, Abuba Steak optimis untuk terus berkembang. “Saya terus berusaha agar usaha ini bisa terus bertumbuh dan berkembang. Saya juga berharap Abuba Steak mampu bersaing dengan usaha-usaha lain, baik kompetitor yang baru bermunculan atau pun brand-brand yang datang dari luar,” jelas Ali dengan penuh keyakinan.

Ditanya mengenai makna berbagi, Ali menyatakan bahwa dengan berbagi usaha kita akan berkah. Hal itulah yang diajarkan oleh kedua orang tua saya. Sebab rezeki yang diterima dari Allah harus dibagi. Insya Allah lebih berkah. [Destie Mulyaningsih/Mahfud Achyar]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s