Apaidemu.com: 1 Bulan, 1 Karya Sastra

A-Love-For-Literature

Bagi sebagian orang, sastra mungkin adalah sebuah minat atau passion yang kurang menarik. Parahnya, banyak generasi muda Indonesia yang tidak mencintai sastra. Mereka lebih tertarik dengan teknologi, kesehatan, lingkungan, politik, dan sebagainya. Sebetulnya sah-sah saja bahwa setiap orang berhak dengan pilihan minatnya. Namun yang menjadi permasalahan adalah, mengapa sastra seakan dikucilkan atau bahkan tidak menjadi kebanggaan dari anak muda Indonesia?

Hal tersebut barangkali dilatarbelakangi kurangnya informasi berkaitan dengan dunia kesusastraan. Banyak anak muda Indonesia yang menilai bahwa sastra itu adalah sesuatu yang klasik, hanya fiksi, dan tidak memberikan peran yang berarti bagi mereka. Bahkan di dunia pendidikan sendiri, sastra semakin dianaktirikan. Hal tersebut terbukti dari kurangnya antusias siswa ketika membahas sastra dan karya-karya sastra seperti cerpen (cerita pendek), puisi, novel, roman, dan juga film.

Sastra seakan tidak menjadi sebuah hal yang mahal di Indonesia. Padahal di negara-negara maju seperti Inggris sastrawan dan karya-karyanya sangat dihargai. Sebut saja salah seorang sastrawan Inggris yang sangat tersohor di seantero dunia William Shakespeare. Banyak karya monumental yang lahir dari jemari Shakespeare, sebut saja kisah cinta abadi “Romeo and Juliet”. Tidak hanya itu, di Inggris sendiri studi “Liberal Art” sangat diminati oleh anak-anak muda di sana. Tidak hanya itu, manuskrip sastra terjaga baik dan senantiasa dipelajari oleh generasi muda di sana. Sementara bagaimana dengan di Indonesia? Miris.

Andai semua anak muda Indonesia mau meluangkan sejenak waktunya mengenal sastra, saya yakin akan sangat banyak anak muda Indonesia yang tertarik untuk sekadar mengenal atau bahkan lebih jauh mempelajari lebih dalam tentang sastra.

Sastra bukan sebatas karya imajinatif seseorang. Lebih dari itu, sastra itu memanusiakan manusia. Hal tersebut tertuang dalam sebuah pesan singkat yang saya terima dari teman saya. Isi pesannya adalah, “Filsuf memahami dunia. Ilmuwan kemudian mengartikannya. Cendekiawan mengubah dunia. Tetapi apa yang didapat dari sastrawan dan seniman sejati? Mereka akan setia bersamamu kawan. Dengan sastra, kau akan mampu merasa dan memberi arti pada makna.”

Bicara sastra, kita akan diajak untuk lebih mengenal arti kehidupan yang sesungguhnya. Percayalah kawan!

*Ini gagasan saya ketika mengikuti lomba apaidemu.com yang diadakan oleh Pertamax 😉 Tapi sayang, ga menang. Ha2x ;D

Belum Saatnya

source: google
source: google

 

Pagi masih berkabut memeluk erat Bandung. Padahal, sekarang sudah menunjukkan pukul 6.13 pagi. Tetapi, udara pegunungan masih saja menusuk-nusuk kulit Riga. Sedari subuh tadi, Riga sudah rapih. Karena hari ini, ia bersama teman-temannya akan menghabiskan liburan week-end ke sebuah pantai di Garut.

Riga pamit pada mama dan papanya yang duduk di ruang keluarga. Mamanya mengenakan kerudung putih dan baju muslimah. Sedangkan papanya, mengenakan kaos santai. Dari tadi, kedua orang tuanya berbincang-bincang sambil disuguhi teh manis yang hangat.

“Mama, papa, Riga berangkat dulu ya!”
“Ya nak, hati-hati di jalan ya!. Salam buat teman-temanmu. Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi papa,” pesan papanya kepada Riga.
Riga pun mengucapkan salam kepada papa dan mamanya. Riga mengenakan jaket abu-abu yang dibelinya di Gedebage beberapa waktu yang lalu. Riga telah siap berangkat ke Jatinangor. Ia menyalakan mesin mobil Avanzanya dan menginjak gas mobil. Perjalanan dari Bandung ke Jatinangor tidak terlalu lama. Hanya berjarak 18 kilo meter. Itu artinya, Riga hanya membutuhkan waktu setengah jam saja ke Jatinangor. Mobil Avanza kremnya melaju cukup cepat.
Riga pun sampai di kampusnya, Unpad. Di sana, teman-temannya sudah berkumpul menunggu pemberangkatan ke Garut. Wajah-wajah mereka tampak senang karena akan menghabiskan waktu liburan di pantai yang paling memesona di Garut yaitu pantai Pameungpeuk.

 

“Ga, kamu telat beberapa menit!” Seorang teman Riga bernama Arya menghampirinya.
“Ya Ar. Tadi saya harus mengecek mobil. Jadi butuh waktu yang agak lama. Maaf ya!”
“Gak kenapa-kenapa kok. Saya hanya bercanda. Lagian, ada beberapa teman-teman kita yang belum datang.”
“Oh ya?! Dinda udah dateng? Tanya Riga kepada Arya.
“Belum Ga. Kata Marsha, Dinda tiba-tiba gak jadi ikut. Katanya sih dia rada gak enak badan. Ga, mending kamu bujuk Dinda. Siapa tahu kalau kamu yang merayu Dinda, dia mau ikut. Kamu kan dekat dengan dia.”
“Mmm, oke! Saya akan coba menelpon dia. Mudah-mudahan dia berubah pikiran.”
Riga pertama kali kenal dengan Dinda di kampus. Sejak saat itu, Riga menaruh perhatian yang lebih kepada Dinda. Walaupun berbeda fakultas, tetapi karena seringnya rutinitas rapat di organisasi kemahasiswaan, getaran-getaran cinta itu mulai menyentuh hati Riga. Apalagi, belakangan ini mereka sering bertemu karena sama-sama menjadi panitia perpisahan organisasinya.

Setiap malam, Dinda, Riga beserta teman-teman yang lain rapat untuk mempersiapkan acara hari ini. Rasa cinta Riga kepada Dinda semakin kuat karena mereka sama-sama memiliki hobi yang sama yaitu travelling. Obrolan ringan di antara mereka adalah seputar objek wisata, kuliner, dan saling berbagi pengalaman.
“Assalamualaikum. Din, kamu dimana? Kamu jadi ikut acara perpisahan kan? Ayolah! Kamu mesti ikut Din. Ini acara terakhir kita. Jika kamu gak ikut, pastinya acara ini gak rame. Din, kita jauh-jauh hari mempersiapkan hari ini. Plis. Aku berharap banget kamu bisa ikut.”
“Wa’alaykumsalam. Mmh, ya Ga. Aku ikut kok. Tadi, badanku rada gak enak. Sekarang udah baikkan kok. Mana mungkin aku melewati saat-saat seperti ini. Aku sekarang masih di kostan. Sepuluh menit lagi aku nyampe di kampus. Aku siap-siap dulu ya. Selamat ketemu di kampus!”
Riga tampak berbahagia karena pujaan hatinya akhirnya bisa ikut acara perpisahan. Sebenarnya, rasa cinta Riga kepada Dinda tidak hanya kerena kesamaan hobi diantara mereka. Lebih dari itu, Riga kagum dengan sikap Dinda yang lembut, sopan, dan tentunya karena Dinda memiliki wajah yang cantik. Kulitnya putih bersih. Selain itu, yang paling membedakan Dinda dengan gadis kebanyakan adalah karena ia mengenakan kerudung sebagai identitasnya sebagai seorang muslimah yang baik.

Sebenarnya, Dinda tidak tahu bahwa Riga menyukainya. Akan tetapi, ia sering mendengar guyonon dari temen-temannya bahwa Riga menyukainya.

***
Jam sudah menunjukkan pukul 8.00 pagi. Dinda sudah tiba di kampus. Teman-teman Riga pun juga sudah siap berangkat ke Pameungpeuk, Garut. Ada empat kendaraan yang mengantarkan mereka ke sana. Ada tiga buah mobil pribadi dan satu bus yang dipinjam dari kampus. Riga selaku panitia acara menyeru kepada teman-teman untuk berkumpul di lapangan.
Semuanya telah masuk ke dalam bus dan mobil. Perjalanan dari Jatinangor ke Pameungpeuk cukup lama. Butuh waktu empat jam ke sana. Akses jalan cukup berbahaya karena hanya ada satu jalur saja. Apalagi jalannya ada tanjakan, turunan, tebing, dan jurang-jurang. Tapi itu semua bukanlah hal yang buruk. Karena di sepanjang jalan, kebun teh nan hijau membentang laksana hamparan hijau surgawi yang sungguh sejuk dan indah untuk dipandang.

“Dinda di mobil mana?” tanya Riga kepada Remi.

“Dinda di mobil APV, Ga. Emang kenapa?”

Riga hanya tersenyum. Dalam benaknya, ia berharap agar bisa satu mobil dengan Dinda. Jika satu mobil, pasti dia akan bisa berbincang lama dengan Dinda. Tentang apa pun itu. Tapi, Dinda tidak ada. Walaupun sedikit kecewa, Riga masih tetap senang. Khayalnya berharap bahwa nanti, sesampai di pantai, ia cukup banyak waktu menghabiskan waktu bersama Dinda.

***
Akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Riga dan teman-temanya tiba juga di pantai Pameungpeuk. Suhu udara di sini cukup panas. Tapi rasa panas telah terbayar oleh keeksotikan pantai Pameunpeuk. Awan cumulus yang tebal berarak melapisi langit biru yang cerah. Ombak berlari-larian mengejar ke bibir pantai. Pasir putih menjadi permadani. Desiran angin pantai membuat lukisan alam ini begitu sempurna.
Riga menantap jauh ke laut lepas yang entah di mana ujungnya. Nanar tak hentinya ia melihat sang ombak pecah di batu karang. Riga merasakan hawa pantai yang mendamaikan. Tiba-tiba, Riga memejamkan matanya. Pikirnya menerawang menelusuri dimensi masa lampau ketika SMA dulu. Ia bersama teman-temannya sering sekali menghabiskan waktu di pantai. Baginya, pantai adalah sahabat. Pantai paham betul bagaimana mengolah perasaannya yang tengah kacau menjadi lebih tentram. Tapi sekarang, sejak ia kuliah di Bandung, jarang sekali Riga ke pantai. Bandung itu daerah pegunungan. Bukan pantai.
Assalamualaikum. Din, maaf mengganggu. Kamu sedang apa?”

Dindaa pun membuka matanya. Ia kaget karena Riga sudah berdiri di depannya. Spontan ia menghapus air matanya dengan kerudung putih miliknya.
Wa’alaykumsalam. Hai Riga. Kamu sudah dari tadi di sini? Gak. Kamu gak mengganguku kok. Aku hanya sedikit merenung dan memuhasabah diri kepada Rabbku, Ga. Aku begitu takjub melihat karya sang Mahakarya ini. Aku merasa begitu kecil, Ga. Aku menyadari bahwa sering sekali aku tidak bersyukur atas nikmat yang telah kuperoleh. Entahlah, tiba-tiba hati ini bergetar ketika kuingat surat qauliyah dalam surat Al-Imran ayat 190. Aku takut, aku bukan termasuk orang yang berfikir bahwasanya hidup ini perlu kita syukuri. Aku takut menjadi ahli neraka, Ga.”
“Riga terdiam dengan penuturan kata-kata puitis yang keluar dai bibir Dinda. Ia tak menyangka, gadis yang dicintainya adalah seorang muslimah yang paham betul bagaimana memaknai kehidupan ini. Hatinya sangat lembut. Ayat-ayat yang disampaikannya kepada Riga mampu mengubah pandangan hidupnya selama ini tentang alam. Selama ini, Riga hanya bisa mencintai alam tanpa paham bagaimana mensyukurinya. Rasa cintanya semakin dalam kepada Dinda. Entah kenapa, saat itu juga ingin sekali Riga mengungkapkan perasaannya kepada Dinda.”

 

“Din, aku kagum dengan cara pandangmu memaknai lukisan alam ini. Aku kagum dengan sifat visionermu yang berpikir jauh ke depan. Din, aku ingin menyatakan bahwa aku tak sekadar kagum kepadamu. Lebih dari itu, aku ingin mengutarakan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Din, aku mencintaimu. Aku takminta kau membalas cintaku. Aku hanya ingin mengungkapkan saja. Bagaimana menurutmu?”
“Menurutku tak ada yang salah dengan rasa cinta. Itu fitrah, Ga. Setiap manusia diberi rasa itu dari Alloh. Tinggal sekarang bagaimana kita sebagaimana mengelola itu semua menjadi cinta yang diberkahi oleh Alloh. Jujur kuakui, aku juga mengagumi kamu. Tapi hanya sebatas itu. Aku tak ingin terjerat fitnah syaitan, Ga. Aku berkeyakinan suatu saat aku pasti akan menemukan cintaku. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Cinta tak berbekas yang kebanyakan orang merasakannya. Aku ingin menemukan imamku, Ga. Aku tak menginginkan seorang laki-laki sebagai pacar. Aku hanya butuh imam yang mampu membimbingku menuju Rabbku. Aku ingin cinta di dunia dan di akhirat. Jika kau mencintaiku, tunggulah sampai di batas waktu. Jika kita berjodoh, aku yakin hati-hati kita akan ditautkan oleh Allah dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Aku yakin, Ga. Kalau memang, kau pilih aku. Tunggu sampai aku datang. Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi. Kini belumlah saatnya. Aku membalas cintamu.
***
Jatinangor, 27 April 2009
20:43