Dialog Penutup

Di sini, tubuhku menggigil.
Bukan karena hujan yang setiap sore mengguyurku.
Juga bukan karena kulit ari-ku kian semakin tipis. Tidak, tidak karena itu.

Sementara…

Di atas sana, langit miris menatapku. Tatapan sinis.
“Ada isakan di sudut sebelah sana,” kata langit padaku dengan nada meninggi.
Aku pun bertanya kembali pada langit yang tiba-tiba sendu. “Di mana, di mana kau lihat itu, hai langit? Katakan padaku. Biar kuseka tangis itu.”

Tanya pada hatimu hai bumi! Mengapa kau taktumpahkan saja segala rupa isi perutmu agar mereka berhenti menangis.

“Untuk apa? Justru itu akan membuat tangis mereka kian menjadi-jadi. Aku, masih sayang pada mereka. Walau kutahu, takada isyarat cintaku yang berbalas. Untuk kondisi sekarang, aku tidak ingin menerka maksudmu, langit. Biarkan aku seperti ini, sampai waktu itu menghampiri kita semua. Kau tahu kapan waktu itu tiba?” tanyaku penuh selidik.

“Oh, kau jangan melankolis seperti itu bumi. Dari dulu sudah kubilang padamu. Tapi tetap saja kau tidak hiraukan omonganku. Kau selalu bilang bahwa aku tukang bual, omong kosong, dan terlalu mengada-ada. Kau masih saja keras kepala seperti sejak pertama kali kita berkenalan. Sudahlah, aku tidak akan menasehatimu lagi. Urus saja masalahmu sendiri!”

“Baiklah, jika itu maumu. Terima kasih langit atas perhatian dan juga nasehatmu. Doakan saja, semoga aku baik-baik saja di sini. Pun juga dirimu. Semoga kau kian indah setiap harinya. Itu saja pintaku.”

Jakarta,

15 September 2017

Bingkai Romantis dalam Film “A Walk In The Clouds” & “Jalan Tiada Ujung”

A Walk in The Clouds

a-walk-in-the-clouds
A Walk in the Clouds (1995). Image source: https://www.justwatch.com/nl/movie/a-walk-in-the-clouds

Sebuah film yang bercerita tentang seorang tentara bernama Paul. Setelah perang duna ke-2, dia pergi ke rumah teman perempuannya, bernama Betty. Setelah itu, ia pergi ke sebuah desa yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ketika dalam perjalanan, di kereta, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Victoria Sutto. Merekapun berbincang, dan seakan mereka telah mengenal satu sama lainnya. Film ini mengangkat kisah percintaan antara Paul dan Vicotria. Disamping itu, tokoh utama Paul, mengalami halusinasi ketika ia memejamkan matanya. Ia selalu mimpi seram tentang perang. Dimana saat itu, ia melihat banyak tentara-tentara yang tewas. Dan kondisi perang sungguh membuat ia ketakutan.

Setelah bertemu dengan Victoria, inilah awal kisah drama romantis film A walk in the clouds. Entah kenapa, nasib mempertemukan Paul dan Victoria kembali. Setelah perjumpaan mereka di atas bis, mereka saling bercerita antara satu dan lainnya. Paul merupakan penjual coklat. Awal kisah romantis dan penuh liku, ini dimulai ketika Victoria menyatakan bahwa ia hamil. Padahal, ia belum menikah. Victoria merasa kebingungan dengan masalah yang tengah ia hadapi. Apalagi jika ia harus membayangkan bahwa Ayahnya, Mr. Aragon adalah seorang pria sangat keras kepala dan otoriter. Kemudian, Paul pun berinsiatif dan menyatakan, bagaimana kalau mereka pura-pura menikah saja.

Victoria mengajak Paul ke rumahnya, ia menyebutnya-Clouds, yaitu awan. Keluarga Victoria memiliki kebin anggur yang sangat luas. Dan biasanya, ketika mereka panen anggur, maka akan ada upacara dan pesta panen anggur.
Ketika Victoria memperkenalkan Paul kepada keluarganya, keluarganya menyambut gembira karena Victoria sudah menikah. Saat itu, mama, kakek dan neneknya bahagia karena ada anggota baru dikeluarganya. Tapi sayangnya, Mr. Aragon tampak tidak suka dengan kehadiran Paul. Victoria dan Paul harus berakting semanis mungkin gara-gara keluarga Victoria tidak mengetahui kebohongan mereka. Mereka berpura-pura tidur seranjang.
Kakek Victoria sangat antusias dengan kehadiran Paul. Bahkan ia mengajal Paul untuk keliling kebun anggurnya, dan memperlihatkan akar anggur menjadi cikal bakal tumbuhnya pohon anggur.
Ketika perayaan panen anggur, masyarakat di sana tampak bersuka cita. Tarian, musik dan tawa menghiasi pesta kala itu. Victoria dan Paul pun hanyut dalam buaiyan kasih sayang. tapi, kebahagiaan mereka bukan kebahagiaan yang mutlak. Karena memang, mereka bukan sepasang suami-istri. Paul sering sekali bermimpi sama. Mimpi perang. Agaknya ia mengalami traumatis akabita perang.
Mereka (Victoria dan Paul) tidak mampu lagi menutupi kebohongan mereka. Akhirnya, Victoria memutuskan untuk menceritakan perihal kebohongannya kepada keluarganya. Keluarganya, terutama ayahnya sangat kecewa. Ia merasa dibohongi. Paul memutuskan untuk kembali ke San Fransisco, menemui Betty.

Ketika itu ia melihat Betty selingkuh dengan pria lain. Paul melanjutkan perjalanan (walking) ke rumah Victoria. Ketika ia sampai di sana, ia menemui Mr. Aragon yang tampak kelelahan dan tertidu. Ketika berusaha menyapanya, Mr. Aragon sentak bangun dan marah, kemudian mencaci Paul. Ia tidak mengizinkan Paul menjalin cinta dengannya. Pertengkaran pun takdapat dielakkan. Yang pada akhirnya, Mr. Aragon melempar sebuah lampu minyak, dan lampu tersebut membakar seluruh perkebunan anggur milik keluarga Victoria. Semua orang berusaha mematikan api. Tapi sayangnya, usaha mereka gagal. Api begitu cepat menjalar dan menghabisi seluruh kebun anggur. Keluaga itu sedih karena kebun mereka hangus terbakar.
Akhir cerita, Paul yang teringat bahwa kakek Victoria pernah menunjukkan akan anggur, kemudia membokar akar tersebut, dan menunjukkan akar tersebut kepada Mr.Argon. Mr. Argon terkesima. Semua orang tersenyum bahagia. Itu artinya, haparan itu masih ada. Akar anggur, akan menjadi kebun yang sangat luas. End.

Jalan Tiada Ujung, Mochtar Lubis


Novel ini berlatar belakang pasca penjajahan Belanda. Dimana saat itu, rakyat Indonesia harus mengalami nasib buruk, seperti: penembakan, penghinaan hak asasi manusia, pelecehan, dan lain sebagainya. Tentara-tentara sering sekali mengubel-ubel rakyat Indonesia. Setiap jam, setiap hari, bunyi letupan senjata api menghiasi hari-hari rakyat Indonesia. Mereka takmampu berbuat banyak. Hanya bermodal senjata tradisional yaitu bambu runcing. Sedangkan serdadu-serdadu itu mereka menggunakan peralatan senjata yang modern. Mulai dari tank baja, truk, dan senjata api. Biasanya, tiap hari serdadu itu akan memeriksa tiap rumah, tiap orang, jika dicurugai memiliki senjata untuk melawan Belanda.

Cerita ini berlatar di Jakarta, tepatnya di Tanah Abang. Tokoh sentral dalam cerita ini adalah guru Isa dan Hazil. Guru Isa, yang berusia tiga puluh lima tahun. Ia merupakan berprofesi menjadi seorang guru bertahun-tahun lamanya. Ia memiliki seorang istri bernama Fatimah. Tapi sayangnya, hubungan mereka tidak berjalan harmonis. Hal ini disebabkan oleh belum adanya keturunan yang mereka hasilkan. Sesungguhnya ini bukanlah salah Fatimah. Melainkan, Guru Isa, yang mengalami traumatik, sehinga tak bisa berbuat apa-apa.

Guru Isa merupakan lelaki yang cinta damai, tidak menyukai kekerasan, dan sangat penyayang. Ia paling benci dengan perang. Karena bagi ia, perang merupakan kekerasan dan tidak berperikemanusiaan. Maka tak heran, ketika ia melhat terjadinya penembakan oleh tentara Belanda ke penduduk sipil, maka kejadian tersebut selalu terulang dalam benaknya. Ia selalu behalusinasi. Membayangkan seandainya, dirinya, anak istrinya mati ditembak oleh serdadu yang kasar-kasar itu. Perasaan kecut dan takut guru Isa begitu kuat.

Bahkan terkadang, ia menolak ketika diminta istrinya turut membantu pemuda lain yang sedang ronda untuk mengamankan kondisi.
Berbeda dengan guru Isa, tokoh sentral lain dalam novel ?Jalan Tiada Ujung? ini adalah Hazil. Ia merupakan pemuda yang pemberani. Tekadnya sangatlah kuat. Yaitu berjuang merebut kemerdekaan. Ia hanya bermodal sepucuk pistol. Dengan tekad bulat yang ia miliki, ia berkeyakinan bisa menjadi bagian dari perjuangan rakyat Indonesia. Hazil sangat gemar memainkan alunan musik biola. Bahkan kemampun bermain biolanya lebih mahir dibandingkan guru Isa. Alunan nada yang digesek oleh biolanya, merupakan pendamping perjalanan perjuangan Hazil.
Guru Isa, lama-kelamaan rasa beranipun muncul dari dalam dirinya. Ia dimanita ikut organisasi pertukaran senjata. Tentunya, ia sangat ketakutan menjalankan pekerjaan ini. Tapi untungnya, ia berteman dengan Hazil. Rasa takut bisa dikalahkan dengan semangat dan pengorbanan.

Jika kita analisis, kenapa novel ini berjudul “Jalan tiada ujung?” jawabannya terdaoat dalam kutipan berikut: “?Dalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada tempat pikiran kacau dan ragu-ragu,” ?kata Hazil. ?Saya sudah tahu semenjak mula bahwa jalan yang kutempuh ini adalah jalan tiada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya.

Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ada ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.

Selanjutnya, kisah ini bercerita tentang perjuangan guru Isa dan Hazil. Ketakutan guru Isa bertambah ketika ia membaca surat kabar, bahwa dua orang pelempar granat tangan, ditangkap polisi. Ia sangat ketakutan. Ia selalu membayangkan, bagaimana jika seandainya polisi datang ke rumahnya, memeriksa ia, dan mengangkapnya. Ketakutan yang teramat sangat mengusik hari-hari guru Isa. Bahkan ia sampai demam membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya. Akhirnya, ia dtangkap polisi, tapi bersyukur, rasa takutnya lama-kelamaan membuahkan keberanian. Apalagi ketika ia teringat perkataan-perkataan Hazil, dan yang lebih menggembirakan adalah bahwa ia kembali menjadi lelaki sejati.

Analogi/kemiripan antara film, A walk in the Clouds? dengan novel Jalan Tiada Ujung

Dari segi latar waktu cerita, dua buah karya di atas berlatar waktu yang hamper sama yaitu pasca perang. Jika dalam film Awalk in the clouds berlatar waktu ketika setelah perang dunia dua, pada novel Jalan Tiada Ujung? berkisah waktu penjajahan/agresi Belanda ke Indonesia.
Pada dua buah karya tersebut digambrakan kepada kita, pembaca bahwa perperangan adalah kondis yang sangat memprihatinkan. Dimana-mana, banyak manusia mati terbunuh. Bunyi deru pistol dan ketakutan senantiasa menyelimuti setiap oarang yang berada dalam kondisi perang.

Selain itu, kemiripan dua buah karya tersebut terletak pada kesamaan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama. Jika pada film A walk in the clouds?, Paula si tokoh utama, sering kali mimpi buruk karena kondisi perang, dalam novel Jalan Tiada Ujung tokoh utama “Guru Isa mengalami kondisi yang sama hebatnya dengan Paul. Yaitu ketakutan, ketakutan, dan ketakutan. Ia selalu dibayang-bayangi perasaan jika ia dtembak serdadu, dipenjara dan anak-istrinya akan kehilangan dia.”

Jika disimpulkan, kondisi perang merupakan kondisi yang buruk. Tidak ada kedamaian seperti di awan, atau jalan tiada ujung. Sampai pada akhirnya, setiap orang harus merasakan kebahagiaan, kedamaian dan jauh dari bayang-bayang ketakutan.

Dua buah karya tersebut memiliki sisi romantisme masing-masing. Romantisme antara Paul dan Victoria, dan romantisme antara Guru Isa dan Fatimah.

Kisah Dari Calcutta dalam Novel Epilog – Balada Si Roy

aku-rel

Novel yang dibahas pada kesempatan ini adalah novel karya Gola Gong yang berjudul Balada Si Roy, Epilog. Novel Epilog adalah ending dari kisah novel Balada Si Royyang ditulis oleh Gola Gong. Novel ini menceritakan seorang pemuda yang bernama Roy. Ia adalah seorang pemuda yang senang melakukan petulanagan. Ini terlihat dari kebiasaannya yang gemar menjelajah dari suatu tempat ke tempat lain. Pada novel Epilog, Si Roy menjelajahi negeri India. Pada awal cerita, latar tempat yang digunakan adalah Calcuta.

Calcuta adalah sebuah daerah yang terletak di perbatasan India dan Bangladesh. Lalu, apa sebenarnya tujuan Roy berpetualang hingga ke negeri India? Menurut hemat saya, Roy merupakan wujud nyata dari penulis sendiri, yaitu Gola Gong. Secara tekstual dapat kita pahami bahwa alasan yang mendasar kenapa Roy senang bepetualang adalah karena ia jemu dengan kondisi negaranya sendiri, Indonesia. banyak hal yang ia sesalkan. Pertama, ia tidak suka dengan kondisi politik di Indonesia, dan sebenarnya ia ingin melupakan sejenak pikirannya tentang kampung halamannya.

Berbeda dengan novel popular kebanyakan, yang menarik dalam novel ini adalah pembubuhan kata-kata motivasi pada setiap babnya. Menurut saya, tentunya menarik sekali jika kita (sebagai pembaca) dapat memahami pesan yang ingin disampaikan penulis terangkum dalam sebuah tulisan motivasi yang ditulis oleh penyair-penyair hebat di dunia. Ketika saya membaca novel ini, saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan novel kebanyakan yang pernah saya baca. Novel cukup memberikan inspirasi bagi saya.

Betapa pentingnya sebuah kejujuran untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Roy adalah seorang traveler yang sedang mencari identitas dirinya. Berangkat dari Indonesia ke India dengan harapan agar ia menemukan kebahagiaan dan makna hidup yang sesungguhnya.
Di awal cerita, novel ini bercerita tentang perjalanannya bersama seorang sahabatnya yang bernama Osahi di Calcuta. Osahi merupakan sahabat yang baik bagi Roy. Walaupun beebeda Negara, tetapi Osahi mampu menunjukkan kesetiakawanannya.

Selanjutnya, secara deskriptif novel ini menyajikan sebuah potret kehidupan masyrakat India dengan kekompleksan budayanya. Bagi orang India, kejujuran adalah barang yang sangat mahal bagi mereka. karena, banyak orang yang berdusta hanya untuk mendapatkan kesenangan saja. Strata kehidupan sosial adalah suatu kenyataan yang sampai detik ini masih menjadi socio-realty. Ini terlihat ketika ras Paria (berkulit hitam, dan torgolong miskin) yang sangat memprihatinkan. Terbukti dari kesejahteraan yang masih rendah, dan apabila salah seorang anggota keluarga ras Paria meninggal dunia, maka sulit sekali untuk membakar jenazahnya. Hal ini dikarenakan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan. Kondisi ini terjadi pada tokoh Kay. Ia adalah anak kecil yang hitam, tengil, dan pekerja keras. Ketika ibunya meninggal, prosesi pembakaran dilakukan dengan sangat sederhana.
Selain itu, potret budaya yang dibingkai penulis tergambar dari kondisi sungai Ganga. Sungai tersebut merupakan sungai yang suci untuk kaum Hindu India. Sungai Ganga dianggap sebagai air mata Dewa Shiva. Kegitaan masyarakat India mampu terdeskripsikan dengan baik oleh Roy, selaku tokoh central. Mulai dari mandi, perdagangan, peribadatan, dan sebagainya. Maka tak heran jika sungai ini menjadi salah satu icon dari Negara India.


Hal yang menarik lagi adalah, dalam novel Epilog ini penulis mampu memberikan sebuah informasi yang penting bagi pembaca. Informasi tersebut adalah komunikasi lintas budaya antara orang Indonesia, Korea, Jepang, Jerman, dan juga Yahudi. Roy secara gamblang menggambarkan bagaimana karakter/kebudayaan masing-masing Negara. Apakah itu lewat dialog antar tokoh, maupun lewat pencitraan tokoh utama sendiri. Dalam novel ini, percintaan tak luput untuk dibahas. Roy tiba-tiba merasakan getaran cinta dengan seorang gadis bernama Ina. Ia adalah gadis Jerman yang dekat dengan Roy saat berliburan di India. Benih cinta itu kian tumbuh. Akan tetapi, Roy tidak menerima cinta Ina karena ia masaih mencintai pacarnya Suci yang ada di Indonesia.

Setelah melakukan perjalanan di India, Roy balik ke Indonesia. tapi sayangnya, ia tak memiliki pacar lagi. Suci telah pergi, dan sekarang ia hanya bisa menyesal.

Novel ini sangat menarik karena penulis sangat mahir dalam memaparkan sebuah kejadian yang ia tangkap. Selain itu, penulis mampu memilah diksi yang tepat dalam penarasiannya. Sehingga, saya sebagai pembaca merasa nyaman membaca novel ini.

Tidak Ada, Ada, dan Tiada

Aku ada karena ketidakadaan
Aku lahir karena sebuah komitmen pada Tuhan
Aku besar karena pengorbanan
Aku berpikir karena keingintahuan
Aku bicara karena kegelisahan
Aku diam karena kemarahan
Aku merenung karena kepiluan
Aku marah karena keterhinaan
Aku pergi karena ketidakberdayaan
Aku menangis karena kesendirian
Aku mencintai karena dicintai
Aku merasa bahagia karena pernah meluka
Aku merasa tidak ada karena aku ada
Aku harus pergi, hanya itu yang kubisa.

Sudah berjuta kali aku melihat
Alam yang sama
Sudah berjuta kali aku berbicara
Pada orang yang sama
Sudah berjuta kali aku melewati
Jalan yang sama
Sudah berjuta kali aku merindukan cinta
Kepada Maha Cinta
Sudah berjuta kali aku bermimpi
pada hari yang lebih indah
sudah berjuta kali aku mengeluh
untuk suatu kebodohan
sudah berjuta kali aku terpaksa diam
pada ketidakberdayaan
sudah berjuta kali aku melakukan hal yang sama.
Dan ini seperti mimpi buruk saja.

Aku ada, hidup, dan tiada
Mereka datang, pergi, dan tiada
Mereka cinta, sayang, dan kasih
Mereka hilang dalam ingatakanku tanpa bekas.

Pada akhirnya aku hanya bisa berterima kasih pada waktu
Atas sedikit empatinya
Pada akhirnya aku hanya bisa tertunduk pada kesendirian
Telah mengajarkan makna kesempurnaan.

Dunia ini terlalu menjemukanku,
Bukan karena aku yang lelah dan bermental pecundang.
Bukan, bukan karena itu.

Ah, andai saja kau tahu apa yang kurasa.
Aku takut pada diriku.
Yang membawa pada kegelapan dan menakutkan.
Kurasa aku hanya yang paham.

Terima kasih untuk kenangan yang masih melekat di benakku.
Terima kasih untuk kalian yang pernah menawarkan kebaikan padaku.
Terima kasih untuk kalian yang membuatku paham tentang
Kebaikan, kekecewaan, persahabatan, kasih sayang, dan kebahagian
Terima kasih untuk semesta, kalian teman terbaikku.

Dan pada akhirnya, aku tidak bisa meninggalkan apa-apa.
Kecuali sedikit cerita yang bisa kutulis pada catatan kebanggaan kalian.
Biarkan, aku tidak ingin dikenang.
Anggap saja aku ada, tidak ada, dan kemudian hilang.

Yang bisa kusisakan hanya mimpi.
Hingga aku sadar, aku sudah terlalu larut dalam mimpi panjangku.

Jatinangor, 10 Juni 2011
15: 08 WIB
(setelah menonton film Harry Potter and The Prisoner of Azkaban)

Angsa

Ada sepasang angsa bercengkram di air danau yang keruh. Mereka menyibakkan air, tubuh mereka pun kuyup. Lepas bercanda, angsa pun menyibakkan sayapnya. Menyibakkan air dengan kepakkan terkuat.

“Kami ingin sayap kami kembali kering,” lenguh mereka pada mentari. Lantas mereka pun menyelam lagi. Tubuh mereka jadi kuyup kembali.

Di selatan sana, ada angsa bertubuh tegap menyahut-nyahut. Entahlah, siapa yang ia panggil. Oh, rupanya ia menyapaku.Selamat pagi dunia, silakan terbang bersama sayap kalian masing-masing.

(Rumah Badui, 10 Feb 2011)

Konser Sore di Jejalanan Kota

sumber:  google

Sore ini jejalanan kota ditetesi hujan; sspal dan tanah pun, tempat kendaraan bertapak jadi tidak kering lagi seperti siang tadi.Kini yang ada hanya paduan suara nan penuh harmonisasi. Langit bertugas meniup terompet bernada tinggi. Sementara air, dari tadi tampak asyik memetik gitar, dan manusia-karena takbisa memainkan alat musik hanya bisa mengambil peran sebagai paduan suara.

Konser sore ini diterangi lelampu pijar dari si katak berkaki empat. Pertunjukan ini digelar di kaki keserasian. Ada dedaunan hanya bisa menonton. Sekali mereka menari tanpa sadar tubuh hijau, kering, kuning, layu, dan hitam mereka pun basah.

Ada yang menari jaipongan, ada juga yang menari balet. Di depan panggung sana, kulihat ada satu wajah yang tampak heran. Menengadah ke muka langit, menyaksikan konser agung.

Ah sial, langit sepertinya sudah kecapaian. Dia pun memutuskan untuk tidak memainkan terompet lagi, air pun meninggalkan alat musik petik itu, dan manusia kembali kepada kebisuan seperti siang tadi.

Hanya dedaun yang setia, menjadi penonton hingga benar-benar konser sore ini telah usai. Dan wajah tadi, tampak sumringah. Tidak lagi menengadah; yang ada hanya guratan senyuman kepuasan.

Jejelan kota, konser sore ini sangat singkat. Tapi begitu semarak.

Bandung, 17 Oktober 2010
11 Zulhijjah, 1431 H (Idul Adha)

Sepotong Malam di Jakarta

Sayang, malam ini sendiri kulihat wajah Jakarta dihiasi lelampu kota yang menyimpan kemegahan asa. Sesekali redup, tapi cahaya kerlap-kerlip mendominasi, sayang. Aku ingin berkata, itu bukan penerangan sayang. Bagiku, agak ilusi yang dibungkus hawa imajinasi.

Sayang, Jakarta ini sudah kelam. Kulihat wajah ibu kota dipoles kemahsyuran tapi penuh keanggkuhan. Di sana-sini, wajah-wajah lelah menyandarkan kepala tanpa sadar, sayang.
Aku ingin menceritakan itu sedikit saja. Di antara embun malam yang melepaskan kepergian malam. Di antara musik sendu pengantar istirahat malam. Di antara deru mesin bis malam yang dipaksa berteriak. Di antara mimpi dan harapan kita, sayang.

Jakartamu sudah tua.
Tapi aku tidak peduli sayang. Biarkan kutemani kau sejenak melepas rindumu pada kampung halaman. Sayang, aku ingin katakan padamu. Di kota ini, aku tulis sedikit ceritaku malam ini padamu.

Biarkan malam ini abadi. 
Atas cinta dan kebaikan nurani.

Jakarta, 4 Agustus 2010

Sejarah Perkembangan Novel Indonesia

Ketika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angakatn 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.
Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya; angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa) dan Amir Hamzah (bidang puisi). Angjatan 1945 dengan tokoh sentralnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku. Angkatan 1966 dengan tokoh centralnya Dr. Taufik Ismail dengan kumpulan puisinya berjudul Tirani dan Benteng.
Pembagian angkatan seperti itu dikemukakan oleh Hans Bague Jassin (H.B. Jassin), seorang ahli sastra Indonesia yang sering disebut-sebut sebagai Paus Sastra Indonesia. Tentu boleh-boleh saja kita setuju dengan pembagian seperti itu, apalagi memang kepakaran H.B. Jassin dalam mengapresiasi sastra Indonesia cukup mumpuni. Tetapi yang lebih penting kita ketahui adalah bahwa sastra Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan.
Menarik untuk diperhatikan bahwa perkembangan sastra Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal, dimulai tahun 1900-an, yaitu ketika penjajah Belanda membolehkan bangsa boemi poetra (sebutan untuk orang Indonesia oleh Belanda) memasuki pendidikan formal. Tentu saja pendidikan formal saat itu adalah milik penjajah Belanda.
Karena genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama), maka ada baiknya kita menganalisis perkembangan genre sastra ini dari tiga bentuk itu. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini Anda akan menganalisis perkembangan puisi, prosa, dan drama dalam lingkup sastra Indonesia.
Seiring dengan perkembangan puisi, prosa Indonesia pun berkembang pula. Seperti puisi, prosa pun mengenal prosa lama dan prosa baru atau prosa modern. Prosa lama bersifat anonim; dengan penjenisannya meliputi dongeng, hikayat, fabel, sage. Sedangkan prosa baru, dengan diukur dari panjang pendeknya, meliputi cerpen, novelet, dan novel/roman.
Prosa Indonesia baru pun mulai muncul tahun 1920-an, dengan ditandai munculnya novel monumental berjudul Siti Nurbaya, buah karya Marah Rusli. Lalu zaman Pujangga Baru muncul pula Sutan Takdir Alisjahbana dengan roman berjdul Layar Terkembang. Lalu, menjelang kemerdekaan muncul Armiyn Pane yang menulis novel Belenggu yang dianggap novel modern pada zamannya.
Tahun 1945 perlu dicatat nama Idrus sebagai prosaic cerpen. Buku kumpulan cerpennya Dari Ave Maria ke Jalan Lain Ke Roma menjadi buku yang cukup terkenal. Selain itu juga novel singkat yang digarap dengan nada humor berjudul Aki.
Tahun 1949 muncul novel karya Achdiat Karta Miharja berjudul Atheis. Atheis termasuk novel yang cukup berhasil karena hamir semua unsurnya menonjol dan menarik unuk dibaca. Dengan mengambil latar Pasundan berhasil mengangkat sebuah tema terkikisnya sebuah kepercayaan keagamaan. Hasan, tokoh utama dalam novel ini, adalah orang yang 180 derajat berbalik dari taat beragama tiba-tiba menjadi seorang yang atheis karena pengaruh pergaulannya dengan Rusli dan Anwar yang memang berpaham komunis.
Tahun 1955 muncul cerpen yang sangat terkenal, berjudul Robohnya Surau Kami, buah karya Ali Akbar Navis (lebih dikenal dengan A.A. Navis). Cerpen ini sarat dengan kritik sosial menyangkut kesalahan orang dalam menganut agama. Navis nambapknya ingin mendobrak paham keagamaan masyarakat Indonesia yang mengira beribadah hanyalah sekedar melaksanakan shalat, puasa, atau mengaji Quran; sedangkan kegiatan lain di luar ibdah formal, sepertimencari nafkah, peduli pada sesama dan alam dibaikan. Lewat tokoh Haji Shaleh yang tiba-tiba masuk neraka karena ulahnya di dunia yang mengabaikan kepentingan keluarga.
Tahun 1968 muncul novel berjudul Merahnya Merah, garapan Iwan Simatupang, sebuah novel yang cukup absurd, terutama dalam hal gaya bercerita. Namun demikian, novel ini banyak memperoleh pujian dan sorotan para kritikus sastra, baik dalam maupun luar negeri.
Tahun 1975 nuncul novel Harimau! Harimau!, buah karya Mochtar Lubis, menceritakan tentang tujuh orang pencari damar yang berada di tengah sutan selama seminggu. Mereka adalah Pak Haji, Wak Katok, Sutan, Talib, Buyung, Sanip dan Pak Balam. Di tengah hutan itu mereka berhadapan dengan seekor harimau yang tengah mencari mangsa. Empat orang di antara tujuh orang itu (Pak Balam, Sutan, Talib, dan Pak Haji). Kecuali Pak Haji yang meinggal karena tertembak senapan Wak Katok, tiga yang lalinnya meninggal karena diterkam Harimau.
Haimau! Harimau! Sarat dengan pesan moral, yaitu bahwa setiap manusia harus mengakui dosanya agar terbebas dari bayang-bayang ketakutan. Pak Balam, orang yang pertama terluka karena diterkam harimau, mengakkui dosa-dosanya di masa muda, dan menyuruh para pendamar yang lain juga mengakui dosa-dosanya. Semua memang mengakui, hanya Wak Katok yang enggan mengakuinya.
Tahun 1982, muncul novel Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari, sebuah novel yang berhasil mendeskripsikan adat orang Jawa, khususnya Cilacap.
Tahun 1990, Ramadhan K.H. menulis novel berjudul Ladang Perminus, sebuah novel yang mengisahkan tentang korupsi di tubuh Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus). Novel ini seolah-olah menelanjangi tindakan korupsi di tubuh Pertamina, sebagai perusahaan pertambanyak minyak nasional.
Dan novel paling mutakhir adalah Saman, 1998, karya Ayu Utami. Ayu Utami termasuk novelis yang membawa pembaharuan dalam perkembangan novel Indonesia. Dalam Saman, Ayu Utami tidak sungkan-sungkan membahas masalah seks, sesuatu yang di Indonesia dianggap kurang sopan untuk diungkap. Tapi mungkin zamannya sudah berubah, kini masalah sesks sudah bukan merupakan hal yang tabu untuk diungkapkan. Ironis, bahwa yang mengungkap secara detail dan sedikit jorok dalam nobvel ini adalah justru seorang wanita, Ayu Utami.
Dan untuk tahun 2000-an ini, tepatnya tahun 2003 yang baru silam, telah terbit novel termuda, dari penulis termuda pula yang menulis novel berjudul Area X, sebuah novel futurisktik tentang Indonesia tahun 2048, mengenai deribonucleic acid dan makhlluk ruang angkasa. Novel ini ditulis oleh Eliza Vitri Handayani, seorang siswi kelas 2 SMA Nusantara Magelang, sebuah SMA favorit di Indonesia.


Novel merupakan salah satu karya sastra yang tidak asing lagi bagi kita. Sejarahnya, novel hadir sebagai alat untuk merepresentatifkan kehidupan manusia yang tertuang dalam karya fiksi. Lalu yang jadi pertanyaan adalah bagaimana perkembangan novel dari masa ke masa, terutama novel Indonesia.
Ketika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angakatn 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.
Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya; angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa) dan Amir Hamzah (bidang puisi). Angjatan 1945 dengan tokoh sentralnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku. Angkatan 1966 dengan tokoh centralnya Dr. Taufik Ismail dengan kumpulan puisinya berjudul Tirani dan Benteng.
Pembagian angkatan seperti itu dikemukakan oleh Hans Bague Jassin (H.B. Jassin), seorang ahli sastra Indonesia yang sering disebut-sebut sebagai Paus Sastra Indonesia. Tentu boleh-boleh saja kita setuju dengan pembagian seperti itu, apalagi memang kepakaran H.B. Jassin dalam mengapresiasi sastra Indonesia cukup mumpuni. Tetapi yang lebih penting kita ketahui adalah bahwa sastra Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan.
Menarik untuk diperhatikan bahwa perkembangan sastra Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal, dimulai tahun 1900-an, yaitu ketika penjajah Belanda membolehkan bangsa boemi poetra (sebutan untuk orang Indonesia oleh Belanda) memasuki pendidikan formal. Tentu saja pendidikan formal saat itu adalah milik penjajah Belanda.
Karena genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama), maka ada baiknya kita menganalisis perkembangan genre sastra ini dari tiga bentuk itu. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini Anda akan menganalisis perkembangan puisi, prosa, dan drama dalam lingkup sastra Indonesia.
Dari masa ke masa
Pada pertengahan abad ke-19, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi telah meletakkan dasar-dasar penulisan prosa dengan teknik bercerita yang disandarkan pada pengumpulan data historis yang bertumpu pada lawatan-lawatan biografls. Akan tetapi, karya prosa yang diakui menjadi karya pertama yang memenuhi unsur-unusr struktur sebuah novel modern baru benar-benar muncul di awal abad ke-20. Novel yang dimaksud adalah novel karya Mas Marco Kartodikromo dan Merari Siregar. Sementara itu, tahun 1920 dianggap sebagai tahun lahirnya kesusastraan Nasional dengan ditandai lahirnya novel Azab dan Sengsara. Pada masa awal abad ke-20, begitu banyak novel yang memiliki unsur wama lokal. Novel-novel tersebut, antara lain Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Kalau Tak Untung, Harimau! Harimau!, Pergolakan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sementara itu, novel Belenggu karya Armjn Pane, hingga saat ini lazim dikatakan sebagai tonggak munculnya novel modern di Indonesia.

Dari waktu ke waktu, novel terus mengalami perkembangan. Masing-masing novel tersebut mewakili semangat dari setiap zaman di mana novel itu muncul. Di awal tahun 2000 muncul jenis novel yang dikatakan sebagai chicklit, teenlit,dan metropop. Ketiga jenis tersebut sempat dianggap sebagai karya yang tidak layak disejajarkan dengan karya sastra pendahulu mereka oleh kelompok-kelompok tertentu. Di antara karya-karya tersebut yang tergolong ke dalam jajaran best seller, antara lain Cintapuccino karya Icha Rahmanti, Eiffel I’m In Love karya Rahma Arunita, Jomblo karya Aditya Mulya, dan lain sebagainya. Akan tetapi, walau bagaimana pun juga, seperti yang telah dikemukakan di awal, setiap karya sastra mewakili zaman tertentu. Begitu juga dengan karya-karya tersebut yang kini berdampingan kemunculannya bersama Supernova karya Dee, Dadaisme karya Dewi Sartika, Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, 5 cm karya Donny Dhirgantoro, dan novel-novel terbaru lainnya yang memiliki kekuatan serta pembaca sasaran masing-masing.
Sebelum Balai Pustaka
Lalu, bagaimana perkembangan novel Indonesia Sebelum Balai Pustaka? sebelum berdirinya Balai Pustaka, tahun 1917. Sejauh kepustakaan yang dapat dirunut, terbukti belum pernah ada ahli atau -pengamat kesusastraan Indonesia yang berusaha mengungkap khazanah kesusastraan sebelum Balai Pustaka tersebut, secara menyeluruh dan khusus. Seandainya pun pernah ada yang melakukan, rata-rata terbatas pada topik-topik yang sangat spesifik. Dalam hubungan ini pantas disebut, misalnya, penelitian yang lebih dari memadai yang pernah dilakukan oleh Claudine Salmon, berjudul Literature in Malay bz the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography (1981), atau yang dilakukan oleh no Joe Lan dengan bukunya SasteraIndonesia-Tionghoa, atau seperti juga yang dilakukan oleh John B. Kwee dengan disertasinya berjudul Chinese Maley Literature of the Peranakan Chinese in Indonesia 1880-1942 (1977). Ketiga peneliti tersebut jelas sekali hanya mengkhususkan pembicaraannya pada khazanah kesusastrann yang ditulis oleh pengarang Peranakan Cina.

Peneliti lain yang pernah mencoba menunjukkan khazanah kesusastraan Indonesia dari sisi yang lain hampir-hampir belum pernah ada, dan masih sangat sedikit, Dari yang sedikit ini, tampak hanya Pramoedya Ananta Toer yang cukup mempunyai perhatian, khususnya dalam mengungkap khazanah novel sebelum Balai Pustaka yang ditulis oleh pribumi atau peranakan Eropa. Dua buah buku Pramoedya yang masing-masing berjudul Tempo Doeloe (19E2) dan Sang Pemu1a (19P5), menunjukkan perhatiannya itu.

Dalam hubungan ini perlu di jelaskan sedikit bahwa sebenarnya ada beberapa ahli yang mempunyai cukup perhatian mengenai khazanah kesusastraan Indonesia sebelum Balai Pustaka yang melihat tidak hanya sesisi saja. Hanya sayang sekali, para ahli tersebut agaknya belum melakukan penelitian yang mendalam, sehingga mereka pada umumnya hanya dapat menuliskannya dalam bentuk artikel kecil di sebuah majalah. Di antara para ahli yang sedemikian itu, dapat disebutkan disini misalnya C.W. Watson dalam “Some PreliminaryRemarks on the Antecedents of Modern Indonesian Literature” (dalam Bra, 1971), W.Q. Sykorsky dalam “Some Additional Remarks on the Antecedents of Modern Indonesian literature” 1980), dan beberapa tulisan Jakob Sumardjo yang tersebar di berbagai penerbitan.

Penelitian ini setidaknya ingin melengkapi atau ingin mengungkap khazanah kesusastraan Indonesia sebelum Balai Pustaka itu, secara menyeluruh dan 1engkap, yang tentu saja bertolak dari data-data yang berhasil diperoleh dan di temukan selama dilangsungkannya penelitian yang enam bulan ini.

Novel Modern
Ada perkembangan menarik dalam penulisan novel di negeri ini. Bukan saja masalah berapa ratus judul per bulan jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lampau, melainkan juga apa yang novel-novel tersebut kisahkan. Ada berbagai tema mulai perempuan, seks, sains, sejarah, agama, spiritual, sosial, etnis, hingga politik. Perkembangan pilihan tema itu tentu tidak lepas dari hal-hal di luar masalah penulisan novel itu sendiri. Perkembangan itu tak lain dari risiko perkembangan pemikiran manusia saat ini yang semakin hari semakin spesifik.
Keinginan untuk memasukkan berbagai hal dalam novel ini dengan melihat perkembangan masalah dalam masyarakat mulai menarik perhatian dan penting untuk diperhatikan. Kecenderungan kontemporer ini antara lain direspons dalam novel d.I.a., Cinta dan Presiden karya Noorca M Massardi. Seorang budayawan, penulis, dan jurnalis kawakan.

Resensi Novel: Maryamah Kapov

Judul Buku: Maryamah Karpov | Penulis: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang | Harga: Rp. 79.000,00 | Tebal: 504 Halaman

Cinta itu gila! Begitulah peryataan yang sering kita dengar. Banyak orang melakukan apa saja untuk cinta. Bahkan takjarang orang melakukan pengorbanan yang tidak masuk akal hanya untuk cinta. Cinta itu membutakan! Setidaknya itulah yang menjadi ulasan pada buku keempat dari tetralogi laskar pelangi Maryamah Karpov. Lalu, apa hal gila yang dilakukan Ikal (Andrea Hirata) untuk cintanya, A Ling?

maryamah-karpov

Setelah menyelesaikan S2 di Sorbone University Prancis, Ikal (Andrea Hirata) kembali ke tanah kelahirannya di pulau Belitong. Kerinduan! Itulah alasan yang mendasar kenapa Ikal kembali ke Belitong. Ia rindu kepada orang tuanya, rindu kepada Arai (sepupu jauh Ikal), rindu kepada masyarakat Belitong, rindu dengan alam Belitong dan lebih dari itu, ia rindu pada gadis impiannya yaitu A Ling.

Perjalanan dari Jakarta ke rumahnya di Belitong, dilalui Ikal dengan penuh perjuangan dan rasa letih. Tapi semua itu pudar karena ia begitu merindukan ayahnya. Lelaki pendiam itu sangat istemewa bagi Ikal. Bahkan, Ikal mempersiapkan penampilan terbaiknya untuk bertemu dengan ayahnya. Ikal mengenakan pakaian pelayan resotoran ketika bekerja di Perancis dulu. Ketika bertemu dengan ayah, ibunya dan Arai, rasa haru tak dapat terbendung lagi. Betapa Ikal sangat merindukan saat ini. Saat bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.

Pulau Belitong takseperti dulu lagi, masyarakat Belitong terpuruk setelah pabrik timah gulung tikar. Walaupun demikian, suasana Belitong tak jauh berbeda dibandingkan saat Ikal melanjutkan studinya ke Perancis. Masyarakat Belitong masih gemar membual, minum kopi ke warung, dan sangat menyukai taruhan.

Cerita dibuka dengan kehadiran seorang dokter gigi dari Jakarta yang bernama dokter Budi Ardiaz. Ia adalah wanita kaya dan sebenarnya bisa hidup nyaman di Jakarta. Akan tetapi, karena idealismenya, ia mengabdikan dirinya sebagai dokter di tanah Melayu, Belitong. Namun sayangnya, setelah berbulan-bulan membuka praktek, tak ada satupun masyarakat yang mau berobat padanya. Masyarakat lebih senang berobat ke dukun gigi dengan alasan bahwa mulut adalah sesuatu yang sensitif seperti kelamin. Jadi, tak boleh sembarangan memasukkan tangan ke dalam mulut kecuali muhrim. Kenyataan ini, membuat kepala kampung Karmun geram dan memaksa masyarakat untuk berobat pada dokter Diaz. Tapi sayang, masyarakat tetap kekeh dengan prinsip yang telah mereka pegang.

Selanjutnya, diceritakan bahwa masyarakat Belitong menemukan dua jenazah yang terapung di air. Kejadian itu mengagetkan masyarakat khususnya Ikal. Terlebih, jenazah itu memiliki tato kupu-kupu mirip tato A Ling. Konon kabarnya, dua jenazah tersebut tewas karena mencoba melarikan diri dari kawanan perampok yang bengis di pulau Betuan. Hal ini membuat Ikal meyakini bahwa A Ling merupakan salah satu penumpang kapal ke pulau Betuan. Ikal berniat ke pulau Betuan untuk menemukan A Ling. Tapi tidak ada yang mau membantunya. Malah, masyarakat melarang Ikal untuk berlayar ke pulau Betuan. Pulau itu sangat berbahaya, jika mau ke sana jangan harap untuk bisa balik lagi. Ikal tidak menyerah.

Demi cinta!

Itulah motivasi terbesar kenapa ia berusaha keras untuk bisa berlayar ke pulau Betuan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Niat Ikal untuk berlayar akhirnya dibantu oleh sahabat-sahabatnya (Laskar Pelangi) yang kini telah tumbuh dewasa dengan profesi beragam. Lintang dan Mahar memiliki peran yang besar dalam masalah ini. Dengan modal semangat, bantuan dari sahabat-sahabatnya, dan sedikit ilmu, Ikal mampu membuat sebuah kapal yang hebat.

Kapal itu diberi nama Mimpi-mimpi Lintang. Walaupun Ikal telah berhasil membuat kapal, masih saja orang-orang mencemoohkannya dan tak ayal Ikal menjadi objek taruhan masyarakat Belitong. Tapi itu semua tidak menjadi penghambat untuk Ikal. Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada Ikal. Bahkan, Ikal membuat orang terkagum-kagum dengan perjuangan hebatnya.

Setelah berhasil membuat sebuah kapal yang hebat, Ikal berangkat ke pulau Betuan bersama Mahar, Chung Fa dan Kalimut. Mereka memiliki misi-misi yang berbeda untuk berlayar ke pulau Betuan. Selama perjalanan menuju pulau Betuan, banyak sekali rintangan yang harus mereka tempuh. Mulai dari angin laut, pembajak sadis, dan dunia mistik. Tapi semua rintangan itu dapat ia lewati. Akhirnya, Ikal dapat menemukan cinta sejatinya yang telah ia cari bertahun-tahun lamanya. Bahkan separuh benua telah ia tempuh untuk menemukan A Ling.

Singkat cerita, Ikal membawa A Ling pulau Belitong. Mereka berdua berniat untuk menikah. Ikalpun meminta izin kepada keluarga Al Ling agar diizinkan meminang A Ling. Keluarga A Ling pun menyetujuinya. Tapi sayangnya, ayah Ikal tidak menyetujui anak bujangnya meminang A Ling.

Novel Maryamah Karpov memberikan pesan kepada kita (pembaca), agar kita jangan takut untuk bermimpi. Semua yang kita impikan pasti akan terwujud asal kita berusaha untuk mewujudkannya.

“Aku kasih tahu rahasia padamu, Kawan, buah yang paling manis dari berani bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.” (Hal, 343).

Seperti novel-novel sebelumnya, Andrea Hirata mencoba kembali menyuntikkan semangat dan motivasi kepada pembaca agar jangan pernah mengalah dengan nasib. Selain itu, novel ini memiliki banyak kelebihan. Kelebihan pada novel ini terletak untaian kata-katanya yang puitis dan deskripsi narasi yang jelas pada alur ceritanya.

Membaca novel ini, seakan kita (pembaca) dapat mengetahui budaya masyarakat Belitong. Di antaranya adalah kebiasaan membual dan melebih-lebihkan cerita. Juga kebiasaan menyematkan nama baru di belakang nama asli, semata-mata untuk mengolok-olok, bahkan merendahkan martabat yang mempunyai nama. Seperti Berahim Harap Tenang, Tancap Seliman, Marhaban Hormat Grak dan lain sebagainya.

Kejujuran Andrea Hirata dalam menulis novel ini membuat novel ini berbeda dengan novel kebanyakan. Lelucon dan humor juga menjadi bumbu dalam novel ini. Tak jarang kita (pembaca), tertawa membaca kisah masyarakat Belitong yang lucu dan penuh guyonan. Andrea Hirata sepertinya cermat sekali memahami kebudayaan Belitong secara keseluruhan. Sehingga, kita seolah bisa melihat jelas bagaimana realitas masyarakat Belitong sesungguhnya.

Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Begitu juga pada novel Maryamah Karpov ini. Ada beberapa yang mengganjal setelah kita membaca novel ini. Jika kita cermati, judul novel Maryamah Karpov tidak ada kaitan langsung dengan keseluruhan ceritanya. Maryamah Karpov hanya diulas sedikit saja. Maryamah Karpov digambarkan sebagai seorang perempuan yang biasa dipanggil Mak Cik, mendapat tambahan nama belakang karena sering terlihat di perkumpulan jago-jago catur di warung kopi Usah Kau Kenang Lagi dan mengajari orang langkah-langkah ala Karpov.

Selanjutnya, secara keseluruhan novel ini menceritakan tentang perjuangan Ikal untuk menemukan tambatan hatinya, A Ling. Ada juga hal yang ganjil pada cerita Maryamah Karpov yaitu terkait peran ibu Ikal yang tak berarti apa-apa ketika pelayaran ke pulau Betuan. Lebih dari itu, pengalaman fantasis Ikal selama berlayar terkesan terlalu hiperbola dan kurang masuk akal.

Pada akhir cerita, pembaca merasa bingung karena tidak adanya penjelasan tentang kelanjutan hubungan Ikal dengan A Ling. Mungkinkah karena tidak disetujui oleh ayah Ikal, maka rencana meraka untuk menikah batal?

“Sebagaimana kawan tahu. Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orang tua, sejak dulu. Rupanya, begitu pula ayahku yang sederhana itu. Katanya, ia selalu menempatkan setiap kata ayah-ibundanya di atas nampan pualam, membungkusnya dengan tilam.” (Hal, 1)

Mungkinkah itu jawaban atas kelanjutan hubungann Ikal dengan A Ling? Kita hanya bisa meraba dan menemukan kebenarannya menurut analisis kita masing-masing. Terlepas dari adanya beberapa kekurangan di atas, novel ini mempunyai banyak keistemewaan dan pembelajaran yang berharga untuk kita. Novel ini takhanya sekadar kisah kehidupan anak manusia. Lebih dari itu, novel ini mengajarkan kita untuk berani bermimpi. Novel ini cocok dibaca untuk semua kalangan.

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita.

Mahfud Achyar

Universitas Padjadjaran