Dialog Penutup

Di sini, tubuhku menggigil.
Bukan karena hujan yang setiap sore mengguyurku.
Juga bukan karena kulit ari-ku kian semakin tipis. Tidak, tidak karena itu.

Sementara…

Di atas sana, langit miris menatapku. Tatapan sinis.
“Ada isakan di sudut sebelah sana,” kata langit padaku dengan nada meninggi.
Aku pun bertanya kembali pada langit yang tiba-tiba sendu. “Di mana, di mana kau lihat itu, hai langit? Katakan padaku. Biar kuseka tangis itu.”

Tanya pada hatimu hai bumi! Mengapa kau taktumpahkan saja segala rupa isi perutmu agar mereka berhenti menangis.

“Untuk apa? Justru itu akan membuat tangis mereka kian menjadi-jadi. Aku, masih sayang pada mereka. Walau kutahu, takada isyarat cintaku yang berbalas. Untuk kondisi sekarang, aku tidak ingin menerka maksudmu, langit. Biarkan aku seperti ini, sampai waktu itu menghampiri kita semua. Kau tahu kapan waktu itu tiba?” tanyaku penuh selidik.

“Oh, kau jangan melankolis seperti itu bumi. Dari dulu sudah kubilang padamu. Tapi tetap saja kau tidak hiraukan omonganku. Kau selalu bilang bahwa aku tukang bual, omong kosong, dan terlalu mengada-ada. Kau masih saja keras kepala seperti sejak pertama kali kita berkenalan. Sudahlah, aku tidak akan menasehatimu lagi. Urus saja masalahmu sendiri!”

“Baiklah, jika itu maumu. Terima kasih langit atas perhatian dan juga nasehatmu. Doakan saja, semoga aku baik-baik saja di sini. Pun juga dirimu. Semoga kau kian indah setiap harinya. Itu saja pintaku.”

Jakarta,

15 September 2017

Bingkai Romantis dalam Film “A Walk In The Clouds” & “Jalan Tiada Ujung”

A Walk in The Clouds

https://i0.wp.com/ia.media-imdb.com/images/M/MV5BNjg3OTQzOTM5MF5BMl5BanBnXkFtZTYwNTY5NzY5._V1_SY317_CR4,0,214,317_.jpg

 

Sebuah film yang bercerita tentang seorang tentara bernama Paul. Setelah perang duna ke-2, dia pergi ke rumah teman perempuannya, bernama Betty. Setelah itu, ia pergi ke sebuah desa yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ketika dalam perjalanan, di kereta, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Victoria Sutto. Merekapun berbincang, dan seakan mereka telah mengenal satu sama lainnya. Film ini mengangkat kisah percintaan antara Paul dan Vicotria. Disamping itu, tokoh utama Paul, mengalami halusinasi ketika ia memejamkan matanya. Ia selalu mimpi seram tentang perang. Dimana saat itu, ia melihat banyak tentara-tentara yang tewas. Dan kondisi perang sungguh membuat ia ketakutan.

Setelah bertemu dengan Victoria, inilah awal kisah drama romantis film A walk in the clouds. Entah kenapa, nasib mempertemukan Paul dan Victoria kembali. Setelah perjumpaan mereka di atas bis, mereka saling bercerita antara satu dan lainnya. Paul merupakan penjual coklat. Awal kisah romantis dan penuh liku, ini dimulai ketika Victoria menyatakan bahwa ia hamil. Padahal, ia belum menikah. Victoria merasa kebingungan dengan masalah yang tengah ia hadapi. Apalagi jika ia harus membayangkan bahwa Ayahnya, Mr. Aragon adalah seorang pria sangat keras kepala dan otoriter. Kemudian, Paul pun berinsiatif dan menyatakan, bagaimana kalau mereka pura-pura menikah saja.

Victoria mengajak Paul ke rumahnya, ia menyebutnya-Clouds, yaitu awan. Keluarga Victoria memiliki kebin anggur yang sangat luas. Dan biasanya, ketika mereka panen anggur, maka akan ada upacara dan pesta panen anggur.
Ketika Victoria memperkenalkan Paul kepada keluarganya, keluarganya menyambut gembira karena Victoria sudah menikah. Saat itu, mama, kakek dan neneknya bahagia karena ada anggota baru dikeluarganya. Tapi sayangnya, Mr. Aragon tampak tidak suka dengan kehadiran Paul. Victoria dan Paul harus berakting semanis mungkin gara-gara keluarga Victoria tidak mengetahui kebohongan mereka. Mereka berpura-pura tidur seranjang.
Kakek Victoria sangat antusias dengan kehadiran Paul. Bahkan ia mengajal Paul untuk keliling kebun anggurnya, dan memperlihatkan akar anggur menjadi cikal bakal tumbuhnya pohon anggur.
Ketika perayaan panen anggur, masyarakat di sana tampak bersuka cita. Tarian, musik dan tawa menghiasi pesta kala itu. Victoria dan Paul pun hanyut dalam buaiyan kasih sayang. tapi, kebahagiaan mereka bukan kebahagiaan yang mutlak. Karena memang, mereka bukan sepasang suami-istri. Paul sering sekali bermimpi sama. Mimpi perang. Agaknya ia mengalami traumatis akabita perang.
Mereka (Victoria dan Paul) tidak mampu lagi menutupi kebohongan mereka. Akhirnya, Victoria memutuskan untuk menceritakan perihal kebohongannya kepada keluarganya. Keluarganya, terutama ayahnya sangat kecewa. Ia merasa dibohongi. Paul memutuskan untuk kembali ke San Fransisco, menemui Betty.

Ketika itu ia melihat Betty selingkuh dengan pria lain. Paul melanjutkan perjalanan (walking) ke rumah Victoria. Ketika ia sampai di sana, ia menemui Mr. Aragon yang tampak kelelahan dan tertidu. Ketika berusaha menyapanya, Mr. Aragon sentak bangun dan marah, kemudian mencaci Paul. Ia tidak mengizinkan Paul menjalin cinta dengannya. Pertengkaran pun takdapat dielakkan. Yang pada akhirnya, Mr. Aragon melempar sebuah lampu minyak, dan lampu tersebut membakar seluruh perkebunan anggur milik keluarga Victoria. Semua orang berusaha mematikan api. Tapi sayangnya, usaha mereka gagal. Api begitu cepat menjalar dan menghabisi seluruh kebun anggur. Keluaga itu sedih karena kebun mereka hangus terbakar.
Akhir cerita, Paul yang teringat bahwa kakek Victoria pernah menunjukkan akan anggur, kemudia membokar akar tersebut, dan menunjukkan akar tersebut kepada Mr.Argon. Mr. Argon terkesima. Semua orang tersenyum bahagia. Itu artinya, haparan itu masih ada. Akar anggur, akan menjadi kebun yang sangat luas. End.

Jalan Tiada Ujung | Mochtar Lubis


Novel ini berlatar belakang pasca penjajahan Belanda. Dimana saat itu, rakyat Indonesia harus mengalami nasib buruk, seperti: penembakan, penghinaan hak asasi manusia, pelecehan, dan lain sebagainya. Tentara-tentara sering sekali mengubel-ubel rakyat Indonesia. Setiap jam, setiap hari, bunyi letupan senjata api menghiasi hari-hari rakyat Indonesia. Mereka takmampu berbuat banyak. Hanya bermodal senjata tradisional yaitu bambu runcing. Sedangkan serdadu-serdadu itu mereka menggunakan peralatan senjata yang modern. Mulai dari tank baja, truk, dan senjata api. Biasanya, tiap hari serdadu itu akan memeriksa tiap rumah, tiap orang, jika dicurugai memiliki senjata untuk melawan Belanda.
Cerita ini berlatar di Jakarta, tepatnya di Tanah Abang. Tokoh sentral dalam cerita ini adalah guru Isa dan Hazil. Guru Isa, yang berusia tiga puluh lima tahun. Ia merupakan berprofesi menjadi seorang guru bertahun-tahun lamanya. Ia memiliki seorang istri bernama Fatimah. Tapi sayangnya, hubungan mereka tidak berjalan harmonis. Hal ini disebabkan oleh belum adanya keturunan yang mereka hasilkan. Sesungguhnya ini bukanlah salah Fatimah. Melainkan, Guru Isa, yang mengalami traumatik, sehinga tak bisa berbuat apa-apa.

Guru Isa merupakan lelaki yang cinta damai, tidak menyukai kekerasan, dan sangat penyayang. Ia paling benci dengan perang. Karena bagi ia, perang merupakan kekerasan dan tidak berperikemanusiaan. Maka tak heran, ketika ia melhat terjadinya penembakan oleh tentara Belanda ke penduduk sipil, maka kejadian tersebut selalu terulang dalam benaknya. Ia selalu behalusinasi. Membayangkan seandainya, dirinya, anak istrinya mati ditembak oleh serdadu yang kasar-kasar itu. Perasaan kecut dan takut guru Isa begitu kuat.

Bahkan terkadang, ia menolak ketika diminta istrinya turut membantu pemuda lain yang sedang ronda untuk mengamankan kondisi.
Berbeda dengan guru Isa, tokoh sentral lain dalam novel ĚJalan Tiada UjungĚ ini adalah Hazil. Ia merupakan pemuda yang pemberani. Tekadnya sangatlah kuat. Yaitu berjuang merebut kemerdekaan. Ia hanya bermodal sepucuk pistol. Dengan tekad bulat yang ia miliki, ia berkeyakinan bisa menjadi bagian dari perjuangan rakyat Indonesia. Hazil sangat gemar memainkan alunan musik biola. Bahkan kemampun bermain biolanya lebih mahir dibandingkan guru Isa. Alunan nada yang digesek oleh biolanya, merupakan pendamping perjalanan perjuangan Hazil.
Guru Isa, lama-kelamaan rasa beranipun muncul dari dalam dirinya. Ia dimanita ikut organisasi pertukaran senjata. Tentunya, ia sangat ketakutan menjalankan pekerjaan ini. Tapi untungnya, ia berteman dengan Hazil. Rasa takut bisa dikalahkan dengan semangat dan pengorbanan.
Jika kita analisis, kenapa novel ini berjudul “Jalan tiada ujung?” jawabannya terdaoat dalam kutipan berikut: “ĚDalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada tempat pikiran kacau dan ragu-ragu,” Ěkata Hazil. ĚSaya sudah tahu semenjak mula bahwa jalan yang kutempuh ini adalah jalan tiada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya.

Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ada ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.
Selanjutnya, kisah ini bercerita tentang perjuangan guru Isa dan Hazil. Ketakutan guru Isa bertambah ketika ia membaca surat kabar, bahwa dua orang pelempar granat tangan, ditangkap polisi. Ia sangat ketakutan. Ia selalu membayangkan, bagaimana jika seandainya polisi datang ke rumahnya, memeriksa ia, dan mengangkapnya. Ketakutan yang teramat sangat mengusik hari-hari guru Isa. Bahkan ia sampai demam membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya. Akhirnya, ia dtangkap polisi, tapi bersyukur, rasa takutnya lama-kelamaan membuahkan keberanian. Apalagi ketika ia teringat perkataan-perkataan Hazil, dan yang lebih menggembirakan adalah bahwa ia kembali menjadi lelaki sejati.

Analogi/kemiripan antara film, A walk in the CloudsĚ dengan novel Jalan Tiada Ujung
Dari segi latar waktu cerita, dua buah karya di atas berlatar waktu yang hamper sama yaitu pasca perang. Jika dalam film Awalk in the clouds berlatar waktu ketika setelah perang dunia dua, pada novel Jalan Tiada UjungĚ berkisah waktu penjajahan/agresi Belanda ke Indonesia.
Pada dua buah karya tersebut digambrakan kepada kita, pembaca bahwa perperangan adalah kondis yang sangat memprihatinkan. Dimana-mana, banyak manusia mati terbunuh. Bunyi deru pistol dan ketakutan senantiasa menyelimuti setiap oarang yang berada dalam kondisi perang.
Selain itu, kemiripan dua buah karya tersebut terletak pada kesamaan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama. Jika pada film A walk in the cloudsĚ, Paula si tokoh utama, sering kali mimpi buruk karena kondisi perang, dalam novel Jalan Tiada Ujung tokoh utama “Guru Isa mengalami kondisi yang sama hebatnya dengan Paul. Yaitu ketakutan, ketakutan, dan ketakutan. Ia selalu dibayang-bayangi perasaan jika ia dtembak serdadu, dipenjara dan anak-istrinya akan kehilangan dia.”
Jika disimpulkan, kondisi perang merupakan kondisi yang buruk. Tidak ada kedamaian seperti di awan, atau jalan tiada ujung. Sampai pada akhirnya, setiap orang harus merasakan kebahagiaan, kedamaian dan jauh dari bayang-bayang ketakutan.
Dua buah karya tersebut memiliki sisi romantisme masing-masing. Romantisme antara Paul dan Victoria, dan romantisme antara Guru Isa dan Fatimah.

Kisah Dari Calcutta dalam Novel Epilog – Balada Si Roy

aku-rel

Novel yang dibahas pada kesempatan ini adalah novel karya Gola Gong yang berjudul Balada Si Roy, Epilog. Novel Epilog adalah ending dari kisah novel Balada Si Royyang ditulis oleh Gola Gong. Novel ini menceritakan seorang pemuda yang bernama Roy. Ia adalah seorang pemuda yang senang melakukan petulanagan. Ini terlihat dari kebiasaannya yang gemar menjelajah dari suatu tempat ke tempat lain. Pada novel Epilog, Si Roy menjelajahi negeri India. Pada awal cerita, latar tempat yang digunakan adalah Calcuta.

Calcuta adalah sebuah daerah yang terletak di perbatasan India dan Bangladesh. Lalu, apa sebenarnya tujuan Roy berpetualang hingga ke negeri India? Menurut hemat saya, Roy merupakan wujud nyata dari penulis sendiri, yaitu Gola Gong. Secara tekstual dapat kita pahami bahwa alasan yang mendasar kenapa Roy senang bepetualang adalah karena ia jemu dengan kondisi negaranya sendiri, Indonesia. banyak hal yang ia sesalkan. Pertama, ia tidak suka dengan kondisi politik di Indonesia, dan sebenarnya ia ingin melupakan sejenak pikirannya tentang kampung halamannya.

Berbeda dengan novel popular kebanyakan, yang menarik dalam novel ini adalah pembubuhan kata-kata motivasi pada setiap babnya. Menurut saya, tentunya menarik sekali jika kita (sebagai pembaca) dapat memahami pesan yang ingin disampaikan penulis terangkum dalam sebuah tulisan motivasi yang ditulis oleh penyair-penyair hebat di dunia. Ketika saya membaca novel ini, saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan novel kebanyakan yang pernah saya baca. Novel cukup memberikan inspirasi bagi saya.

Betapa pentingnya sebuah kejujuran untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Roy adalah seorang traveler yang sedang mencari identitas dirinya. Berangkat dari Indonesia ke India dengan harapan agar ia menemukan kebahagiaan dan makna hidup yang sesungguhnya.
Di awal cerita, novel ini bercerita tentang perjalanannya bersama seorang sahabatnya yang bernama Osahi di Calcuta. Osahi merupakan sahabat yang baik bagi Roy. Walaupun beebeda Negara, tetapi Osahi mampu menunjukkan kesetiakawanannya.

Selanjutnya, secara deskriptif novel ini menyajikan sebuah potret kehidupan masyrakat India dengan kekompleksan budayanya. Bagi orang India, kejujuran adalah barang yang sangat mahal bagi mereka. karena, banyak orang yang berdusta hanya untuk mendapatkan kesenangan saja. Strata kehidupan sosial adalah suatu kenyataan yang sampai detik ini masih menjadi socio-realty. Ini terlihat ketika ras Paria (berkulit hitam, dan torgolong miskin) yang sangat memprihatinkan. Terbukti dari kesejahteraan yang masih rendah, dan apabila salah seorang anggota keluarga ras Paria meninggal dunia, maka sulit sekali untuk membakar jenazahnya. Hal ini dikarenakan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan. Kondisi ini terjadi pada tokoh Kay. Ia adalah anak kecil yang hitam, tengil, dan pekerja keras. Ketika ibunya meninggal, prosesi pembakaran dilakukan dengan sangat sederhana.
Selain itu, potret budaya yang dibingkai penulis tergambar dari kondisi sungai Ganga. Sungai tersebut merupakan sungai yang suci untuk kaum Hindu India. Sungai Ganga dianggap sebagai air mata Dewa Shiva. Kegitaan masyarakat India mampu terdeskripsikan dengan baik oleh Roy, selaku tokoh central. Mulai dari mandi, perdagangan, peribadatan, dan sebagainya. Maka tak heran jika sungai ini menjadi salah satu icon dari Negara India.


Hal yang menarik lagi adalah, dalam novel Epilog ini penulis mampu memberikan sebuah informasi yang penting bagi pembaca. Informasi tersebut adalah komunikasi lintas budaya antara orang Indonesia, Korea, Jepang, Jerman, dan juga Yahudi. Roy secara gamblang menggambarkan bagaimana karakter/kebudayaan masing-masing Negara. Apakah itu lewat dialog antar tokoh, maupun lewat pencitraan tokoh utama sendiri. Dalam novel ini, percintaan tak luput untuk dibahas. Roy tiba-tiba merasakan getaran cinta dengan seorang gadis bernama Ina. Ia adalah gadis Jerman yang dekat dengan Roy saat berliburan di India. Benih cinta itu kian tumbuh. Akan tetapi, Roy tidak menerima cinta Ina karena ia masaih mencintai pacarnya Suci yang ada di Indonesia.

Setelah melakukan perjalanan di India, Roy balik ke Indonesia. tapi sayangnya, ia tak memiliki pacar lagi. Suci telah pergi, dan sekarang ia hanya bisa menyesal.

Novel ini sangat menarik karena penulis sangat mahir dalam memaparkan sebuah kejadian yang ia tangkap. Selain itu, penulis mampu memilah diksi yang tepat dalam penarasiannya. Sehingga, saya sebagai pembaca merasa nyaman membaca novel ini.

Tidak Ada, Ada, dan Tiada

Aku ada karena ketidakadaan
Aku lahir karena sebuah komitmen pada Tuhan
Aku besar karena pengorbanan
Aku berpikir karena keingintahuan
Aku bicara karena kegelisahan
Aku diam karena kemarahan
Aku merenung karena kepiluan
Aku marah karena keterhinaan
Aku pergi karena ketidakberdayaan
Aku menangis karena kesendirian
Aku mencintai karena dicintai
Aku merasa bahagia karena pernah meluka
Aku merasa tidak ada karena aku ada
Aku harus pergi, hanya itu yang kubisa.

Sudah berjuta kali aku melihat
Alam yang sama
Sudah berjuta kali aku berbicara
Pada orang yang sama
Sudah berjuta kali aku melewati
Jalan yang sama
Sudah berjuta kali aku merindukan cinta
Kepada Maha Cinta
Sudah berjuta kali aku bermimpi
pada hari yang lebih indah
sudah berjuta kali aku mengeluh
untuk suatu kebodohan
sudah berjuta kali aku terpaksa diam
pada ketidakberdayaan
sudah berjuta kali aku melakukan hal yang sama.
Dan ini seperti mimpi buruk saja.

Aku ada, hidup, dan tiada
Mereka datang, pergi, dan tiada
Mereka cinta, sayang, dan kasih
Mereka hilang dalam ingatakanku tanpa bekas.

Pada akhirnya aku hanya bisa berterima kasih pada waktu
Atas sedikit empatinya
Pada akhirnya aku hanya bisa tertunduk pada kesendirian
Telah mengajarkan makna kesempurnaan.

Dunia ini terlalu menjemukanku,
Bukan karena aku yang lelah dan bermental pecundang.
Bukan, bukan karena itu.

Ah, andai saja kau tahu apa yang kurasa.
Aku takut pada diriku.
Yang membawa pada kegelapan dan menakutkan.
Kurasa aku hanya yang paham.

Terima kasih untuk kenangan yang masih melekat di benakku.
Terima kasih untuk kalian yang pernah menawarkan kebaikan padaku.
Terima kasih untuk kalian yang membuatku paham tentang
Kebaikan, kekecewaan, persahabatan, kasih sayang, dan kebahagian
Terima kasih untuk semesta, kalian teman terbaikku.

Dan pada akhirnya, aku tidak bisa meninggalkan apa-apa.
Kecuali sedikit cerita yang bisa kutulis pada catatan kebanggaan kalian.
Biarkan, aku tidak ingin dikenang.
Anggap saja aku ada, tidak ada, dan kemudian hilang.

Yang bisa kusisakan hanya mimpi.
Hingga aku sadar, aku sudah terlalu larut dalam mimpi panjangku.

Jatinangor, 10 Juni 2011
15: 08 WIB
(setelah menonton film Harry Potter and The Prisoner of Azkaban)

Angsa

Ada sepasang angsa bercengkram di air danau yang keruh. Mereka menyibakkan air, tubuh mereka pun kuyup. Lepas bercanda, angsa pun menyibakkan sayapnya. Menyibakkan air dengan kepakkan terkuat.

“Kami ingin sayap kami kembali kering,” lenguh mereka pada mentari.¬†Lantas mereka pun menyelam lagi.¬†Tubuh mereka jadi kuyup kembali.

Di selatan sana, ada angsa bertubuh tegap menyahut-nyahut. Entahlah, siapa yang ia panggil. Oh, rupanya ia menyapaku.Selamat pagi dunia, silakan terbang bersama sayap kalian masing-masing.

(Rumah Badui, 10 Feb 2011)

Konser Sore di Jejalanan Kota

sumber:  google

Sore ini jejalanan kota ditetesi hujan; sspal dan tanah pun, tempat kendaraan bertapak jadi tidak kering lagi seperti siang tadi.Kini yang ada hanya paduan suara nan penuh harmonisasi. Langit bertugas meniup terompet bernada tinggi. Sementara air, dari tadi tampak asyik memetik gitar, dan manusia-karena takbisa memainkan alat musik hanya bisa mengambil peran sebagai paduan suara.

Konser sore ini diterangi lelampu pijar dari si katak berkaki empat. Pertunjukan ini digelar di kaki keserasian. Ada dedaunan hanya bisa menonton. Sekali mereka menari tanpa sadar tubuh hijau, kering, kuning, layu, dan hitam mereka pun basah.

Ada yang menari jaipongan, ada juga yang menari balet. Di depan panggung sana, kulihat ada satu wajah yang tampak heran. Menengadah ke muka langit, menyaksikan konser agung.

Ah sial, langit sepertinya sudah kecapaian. Dia pun memutuskan untuk tidak memainkan terompet lagi, air pun meninggalkan alat musik petik itu, dan manusia kembali kepada kebisuan seperti siang tadi.

Hanya dedaun yang setia, menjadi penonton hingga benar-benar konser sore ini telah usai. Dan wajah tadi, tampak sumringah. Tidak lagi menengadah; yang ada hanya guratan senyuman kepuasan.

Jejelan kota, konser sore ini sangat singkat. Tapi begitu semarak.

Bandung, 17 Oktober 2010
11 Zulhijjah, 1431 H (Idul Adha)

Sepotong Malam di Jakarta

Sayang, malam ini sendiri kulihat wajah Jakarta dihiasi lelampu kota yang menyimpan kemegahan asa. Sesekali redup, tapi cahaya kerlap-kerlip mendominasi, sayang. Aku ingin berkata, itu bukan penerangan sayang. Bagiku, agak ilusi yang dibungkus hawa imajinasi.

Sayang, Jakarta ini sudah kelam. Kulihat wajah ibu kota dipoles kemahsyuran tapi penuh keanggkuhan. Di sana-sini, wajah-wajah lelah menyandarkan kepala tanpa sadar, sayang.
Aku ingin menceritakan itu sedikit saja. Di antara embun malam yang melepaskan kepergian malam. Di antara musik sendu pengantar istirahat malam. Di antara deru mesin bis malam yang dipaksa berteriak. Di antara mimpi dan harapan kita, sayang.

Jakartamu sudah tua.
Tapi aku tidak peduli sayang. Biarkan kutemani kau sejenak melepas rindumu pada kampung halaman. Sayang, aku ingin katakan padamu. Di kota ini, aku tulis sedikit ceritaku malam ini padamu.

Biarkan malam ini abadi. 
Atas cinta dan kebaikan nurani.

Jakarta, 4 Agustus 2010