Percayalah, Takmudah Menjadi Seorang Guru

(Catatan Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Depok 2)

Oleh: Mahfud Achyar[i]

 

“What is a teacher? I’ll tell you: it isn’t someone who teaches something, but someone who inspires the student to give of her best in order to discover what she already knows.” – Paulo Coelho, The Witch of Portabello

After class, let us grufie! (Kelas 4b)
After class, let us grufie! (Kelas 4b)

Percayalah, takmudah menjadi seorang guru. Begitulah yang saya rasakan selepas menjadi relawan pengajar program Kelas Inspirasi Depok 2 di SDN Depok 5.

Keterlibatan saya dalam program Kelas Inspirasi bermula ketika saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi relawan pengajar pada tanggal 8 September 2014. Saya mendapatkan informasi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi dari salah seorang teman saya di komunitas yang juga concern pada dunia pendidikan.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga.

Minggu, 05 Oktober 2014, pukul 14.51 WIB, saya menerima surat eletronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan, “Atas berbagai pertimbangan, dengan senang hati kami sampaikan bahwa Mahfud Achyar telah TERPILIH menjadi relawan pengajar untuk menyelenggarakan Kelas Inspirasi Depok pada tanggal 20 Oktober 2014.” Apa yang saya rasakan saat itu? Saya merasa cukup kaget, senang, agak degdegan, dan sangat bersemangat. Sebab menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi adalah hal yang baru dalam hidup saya, kendati pengalaman mengajar bukanlah aktifitas yang baru bagi saya. Dulu ketika program KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), saya pernah mengajar siswa-siswi di desa Tanjungjaya, Ciamis dan sekarang pun saya masih terlibat menjadi relawan pengajar di komunitas yang sebutkan tadi. Fixed! Achievement unlocked for me!

Sebelum hari-H mengajar, terlebih dahulu para relawan yang berjumlah sekitar 300 dikumpulkan di gedung Bank BJB, Depok untuk mendapatkan brief seputar program Kelas Inspirasi, metode mengajar yang efektif dan menyenangkan, berbagi pengalaman dari relawan yang sudah pernah mengajar, pembagian kelompok, pembagian sekolah tempat mengajar, dan yang paling penting adalah kami saling mentransfer energi positif.

Oya, saya menjadi bagian dari kelompok 12 yang terdiri dari para profesional dari berbagai profesi. Dengan kerendahan hati, izinkan saya memperkenalkan rekan-rekan relawan kelompok 12 yang penuh semangat dan selalu ceria! Perkenalkanlah (teteret!): Felix Nola (Equipment Management), Vini Charloth (Sps Lingkungan), Windrya Amartiwi (Finance Analyst), Saulina Laura Margaretha (Head of Operation Perusahaan Pelayaran), Nanang Hernanto (Trainer), Ratih Dwi Rahmadanti (Data Analyst), Yustiani Wardhani S (Business Analyst), Amantine Al Febyana (Nurse), Endang Pulungsari (Biro Perencanaan Kemenlu), Frick (Photographer), Rizka Kharisma Putri (Photographer), dan saya sendiri Mahfud Achyar (Marketing Communication). Komposisi relawan pengajar 10 dan relawan fotografer 2 (Frick dan Rizka a.k.a Kare). Di samping itu, kami juga didampingi oleh seorang fasilitator dari KI. Please welcome, Mega!

Sekilas tentang SDN Depok 5

Akses menuju SDN Depok 5 tidaklah susah. Sebab, SD ini berlokasi di jalan yang cukup strategis di kota Depok yaitu Jalan Pemuda No. 31 Pancoran Mas. Jika dari Stasiun Depok Baru barangkali hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit (menggunakan kendaraan).

Kondisi bangunan sekolah pun cukup baik. Terdiri dari dua lantai: lantai pertama untuk kelas 1 hingga kelas 4a (termasuk ruang majelis guru) dan lantai dua untuk kelas 4b hingga kelas 6. Para siswa masuk pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 12.00 siang. Jumlah siswa di SD ini berjumlah 271 siswa dengan rincian: kelas 1 (45 siswa), kelas 2 (45 siswa), kelas 3 (42 siswa), kelas 4a (27 siswa), kelas 4b (27 siswa), kelas 5 (45 siswa), dan kelas 6 (40 siswa).

Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5
Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5

Lesson and Learn

Satu pekan waktu yang kami punya untuk mempersiapkan lesson plan. Kendati kami memiliki kesibukan masing-masing dan terpisah dalam radius jarak yang cukup jauh, namun koordinasi kelompok tetap berjalan dengan baik. Teknologi memudahkan kami berkomunikasi satu sama lainn. Secara suka rela, ada di antar kami yang menyempatkan diri untuk survey lokasi mengajar, ada yang mempersiapkan logistik penunjang kegiatan mengajar, ada yang memberi semangat dan keceriaan, dan ada juga yang hanya bisa menjadi silent reader. Dan saya sepertinya masuk pada kategori terakhir. Hehe.

Dalam membuat lesson plan, setidaknya ada 6 pertanyaan kunci yang perlu disampaikan pada saat Proses Belajar Mengajar (PBM) yaitu: 1. Siapakah aku?; 2. Apa profesiku?; 3. Apa yang dilakukan profesiku setiap hari saat bekerja?; 4. Dimana aku bekerja?; 5. Apa peran dan manfaat dari profesiku di masyarakat?; dan 6. Bagaimana cara menjadi aku?

Tantangan terberat bagi saya adalah menyederhanakan bahasa agar mudah dimengerti dan dipahami siswa-siswi SD. Apalagi materi yang saya ajarkan adalah sesuatu yang kurang familiar didengar telinga anak-anak. Yap, materi tentang Materi Communication! Lebih dari itu, istilah-istilah dalam Marketing Communication banyak menggunakan bahasa Inggris seperti promotion, market, target audience, advertising, dan masih banyak lagi. Susah? Iya susah sekali! Namun beruntung karena memiliki pengalaman mengajar, jadi sedikit banyaknya saya sudah mengerti bagaimana menyampaikan pesan secara efektif kepada para peserta didik.

Lesson Plan, done!

Senin, 20 Oktober 2014 adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya diberikan kesempatan untuk berbagi dan berbuat baik. Just being a good person. Saya teringat pepatah lama, “Budi baik terkenang jua.” Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Andrea Hirata dalam salah satu bukunya, “Memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.” Saya percaya, hidup itu laiknya suara gema. Suara yang kita dengar adalah suara yang kita teriakkan. Secara sederhana, kita akan menuai apa yang sudah kita tanam. Dalam kerendahan hati, saya berharap apa yang kami lakukan semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk kami. Semoga.

Tepat pukul 07.00 pagi, pintu pagar sekolah ditutup! Bagi yang telat, silakan tunggu di luar hingga upacara bendera selesai. Sigh! Saya telat 5 menit dan upacara bendera sudah berlangsung. Padahal saya berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi. Naik taksi ke Stasiun Cikini. Berharap kereta ke Bogor segera tiba. Hampir 1 jam lebih saya menunggu di stasiun. Namun Si Ular Besi Berlistrik takkunjung menyapa. Padahal mentari Senin pagi sudah menyapa. Memancarkan cahaya berwarna jingga dan menghangatkan tubuh anak-anak manusia. Telat bagi seorang guru adalah hal yang mengkhawatirkan. Sebab ia menjadi contoh keteladanan bagi para generasi bangsa. Dan keteladanan itu dimulai ketika Sang Guru dapat menghargai waktu dengan baik. Yep, menjadi guru tidaklah mudah.

Waktu untuk mengajar dijatah. Masing-masing pengajar diberi waktu sekitar 45 menit. Kami harus pintar mengelola waktu yang sempit tersebut. Saya kebagian mengajar kelas 2, kelas 4b, dan kelas 5. Sementara itu, relawan fotografer yaitu Frick dan Kare pun harus mengatur strategi untuk tidak kehilangan momen pada saat proses belajar mengajar. Mari kita mengajar dan belajar!

Kelas 2, Kelas 4b, dan Kelas 5

“Selamat pagi anak-anak! Hari ini Bu Feby dan Pa Achyar akan mengajar kalian. Siap?”

“Siap!”

Saya dan Feby (Perawat) mendapatkan giliran mengajar siswa-siswi kelas 2. Sesi pertama diambil alih oleh Feby. Sementara saya mengajar di sesi kedua. Tampak terlihat para siswa duduk rapi di bangku masing-masing. Formasi tempat duduk di kelas 2 dibentuk perkelompok. Ada 5 kelompok. Satu kelompok diisi sekitar 5-6 orang.

Menit-menit awal berjalan dengan baik. Namun pada menit kemudian mulai terdengar ada yang berteriak (entahlah karena semangat atau merasa bebas), ada juga yang berjalan kian ke mari, ada yang hanya diam (rata-rata siswi), ada yang menimpali temannya ketika bicara, dan beberapa menit kemudian apa yang terjadi? Suasana kelas mulai tidak terkendali.

Feby pun berusaha menenangkan para siswa. Kemudian ia melanjutkan mengajar seputar profesi perawat. Beberapa menit mengajar, ada seorang siswi yang menangis karena diledekin temannya. Lalu ada yang tiba-tiba ngamuk dengan melempar tas temannya. “Pak, penghapus saya diambil!” Ia menghampiri temannya untuk menantang duel. Saya pun bergegas memisahkan mereka, memberikan pengertian bahwa sesama sahabat tidak boleh berkelahi. Bocah laki-laki itu sedikit tenang, namun tiba-tiba ia menangis. Membuang buku-buku di atas meja. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Saya mendekatinya dan mengusap-usap bahunya.

“Jangan nangis ya, kita bantuin nyari penghapusnya bersama-sama.”

Salah seorang temannya yang bernama Salomon menghampirinya dan berkata, “Aku bantuin nyari ya.” Ia pun mengangguk pertanda setuju. Perlahan tangis bocak yang mengenakan seragam putih itu berhenti. Ia berusaha menarik napas dalam. Tampaknya ia berusaha mengendalikan emosi agar tidak meluapkan amarahnya kepada teman-teman di sekitarnya.

Saya dan Feby berbagi peran. Feby pun sepertinya punya PR yang sama yaitu membuat nyaman suasana kelas sehingga para siswa dapat menyerap dengan baik pelajaran. Feby meminta anak-anak yang “vokal” di kelas untuk menjadi ketua-ketua kelompok. Mereka tampak senang dan begitu antusias. Ya, walaupun suasana kelas tidak begitu kondusif, namun para siswa masih bisa diajak kerja sama untuk belajar.

Feby selesai, sekarang giliran saya mengajar. Saya meminta semua siswa duduk lesehan di depan. Secara spontan saya mengubah metode mengajar dengan bercerita. Saya memanfaatkan media berupa mading untuk menjelaskan materi ajar kepada mereka. Beberapa di antara mereka masih saja terlihat rusuh, tapi banyak juga di antara mereka yang mau mendengarkan. Wow! Mengajar di kelas 2 sungguh menantang, gumam saya dalam hati.

Di akhir sesi, kami meminta mereka menuliskan cita-cita mereka di atas kertas label. Selanjutnya mereka satu persatu menempelkan kertas tersebut pada sebuah pohon berwarna hitam berbahan infraboard yang kami beri nama Pohon Cita-Cita. Mereka terlihat senang. Kelas pun usai. Kami pun pamitan dan meninggalkan kelas. Betulkan, menjadi guru tidaklah mudah!

Selanjutnya saya mengajar di kelas 5. Kondisi kelas sangat bertolakbelakang dibandingkan kelas 2. Cukup kondusif. Barangkali karena sudah kelas 5, para siswa lebih mudah diajak bicara agak serius. Saya pun menyampaikan materi tentang Marketing Communication lebih lancar. Mereka pun mudah memahami materi yang saya sampaikan. Beberapa siswa saya minta untuk kembali menjelaskan apa yang sudah saya sampaikan, dan mereka dapat menjelaskannya dengan baik.

Menjelang waktu pulang sekolah, saya mengajar di kelas 4b. Tidak jauh berbeda dibandingkan kelas 5, suasana kelas juga sangat kondusif. Apalagi jumlah siswa relatif lebih sedikit dibandingkan kelas 2 dan kelas 5. Di kelas 4b, saya lebih banyak menyampaikan pesan-pesan semangat agar mereka tidak takut untuk bermimpi. Agar mereka selalu optimis. Semoga transfer energi yang saya sampaikan dapat mereka terima baik.

Kelas Inspirasi ditutup dengan seremoni pelepasan balon gas di lapangan. Balon berwarna-warni ditempeli cita-cita para siswa. Mereka taksabar ingin melihat balon-balon tersebut terbang mengangkasa ke langit luas. Saya pun merekam momen spesial tersebut. Tiba-tiba seorang siswa kelas 5 menghampir saya.

“Kak, kok kakak pulang?”

“Iya soalnya sudah selesai.”

Sepertinya ia masih ingin kami di sini. Berbagi keceriaan dan bermain bersama. Namun apa daya waktu yang kami punya hanya satu hari. Namun kami berharap kami terus bisa mengajar dan belajar bersama mereka.

Apa hikmah yang saya dapatkan setelah mengajar? Saya tersadarkan bahwa PR dunia pendidikan di Indonesia sangatlah banyak. Mulai dari sistem pendidikan, pengembangan guru, hingga persoalan yang barangkali tidak terlalu menjadi concern pemerintah yaitu BULLYING. Dari yang saya amati, banyak para siswa yang senang sekali membully. Seringkali saya mendengar kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang siswa sekolah dasar. Persoalan bullying harus menjadi fokus pemerintah. Sebab banyak akibat dari bullying yang sudah memakan banyak korban, mematikan karakter, membunuh mimpi-mimpi, dan membuat siswa-siswi merasa terpenjara di sekolahnya sendiri.

Well, saya perlu angkat topi untuk pengabdian para guru di seluruh Indonesia. Mengajar bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak semua orang memiliki kesabaran yang berlapis-lapis seperti seorang guru. Saya berharap semoga dunia pendidikan Indonesia semakin membaik. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kelompok 12 Kelas Inspirasi Depok 2. Semoga langkah kita menjadi panutan, ujar kita menjadi pengetahuan, dan pengalaman kita bisa menjadi inspirasi untuk para penentu Indonesia di masa depan.

Kelompok 12 #KelasInspirasi
Kelompok 12 #KelasInspirasi

“When someone loves you, the way they talk about you is different. You feel safe and comfortable.”
– Jess C. Scott

[i] Mahfud Achyar adalah seorang praktisi Marketing Communication di salah satu NGO di Jakarta dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta, program studi Corporate Communication.

 

Kredibilitas MUI di Ujung Tanduk?

Aspek penting dalam persuasi adalah kredibiltas sumber (komunikator). Berkaitan dengan kredibilitas ini, baru-baru ini media mengangkat masalah transparansi fatwa halal MUI (Majalis Ulama Indonesia). Sejumlah ulama diindikasikan menerima uang dari perusahaan agar produknya mendapat sertifikat halal. Analisis kredibilitas MUI dan upaya yang dilakukan MUI agar persuasi mengenai produk halal tidak terganggu dengan isu ini.

Source: http://winwinhr.com/
Source: http://winwinhr.com/

Kasus yang menimpa MUI ramai diperbincangkan di berbagai media adalah. MUI dituding mematok harga terlalu mahal dalam memasang tarif penerbitan sertifikat halal. Kondisi demikian dikeluhkan oleh tempat-tempat pemotongan hewan di Australia. Satu tempat pemotongan hewan mengaku harus membayar $27.000 perbulan  (sekitar Rp. 320 juta) kepada MUI untuk mendapatkan sertifikat halal. Sekitar 4 kali lebih mahal dari biaya sertifikat halal oleh lembaga sertifikasi halal setempat.

Seperti yang dilansir Majalah Tempo, selain mahalnya harga sertifikat halal yang dikeluarkan MUI, para petinggi MUI pun diduga kerap menerima pemberian uang ribuan dolar sebagai pelicin proses pengurusan sertifikat. Menanggapi isu yang tidak enak tersebut, MUI pun membantahnya melalui siara pers yang dimuat pada laman website resmi MUI www.halalmui.org.

Menurut MUI, laporan utama Tempo yang memuat tentang “Astaga! Label Halal” dinilai tidak berimbang karena banyak menggunakan sumber yang anonim. MUI juga menegaskan jika memang MUI menerima suap itu, kejanggalannya adalah adanya fakta bahwa sampai sekarang perusahaan pemohon tidak diloloskan proses sertifikasinya, dengan alasan tidak memenuhi syariah.

Kendati demikian, MUI merasa patut menindaklanjuti laporan utama yang ditulis oleh Tempo dengan membentuk tim penyelidik internal, semacam komisi etik. Hal ini penting dilakukan untuk mengantisipasi jika memang terjadi praktek yang tidak sehat dalam tubuh MUI.

Dampak pemberitaan:

Meskipun MUI sudah mengeluarkan siaran pers untuk membantah pemberitaan-pemberitaan yang menyudutkan MUI secara institusional, namun reputasi MUI sebagai lembaga yang dipercaya oleh masyarakat dalam mengeluarkan sertifikasi halal menjadi tercoreng. Hal ini lantaran viral tentang kasus MUI sudah tersebar begitu luas. Sementara pemberitaan mengenai klarifikasi MUI tidak tersebar secara masif. Dampaknya akan muncul persepsi bahwa MUI sebagai lembaga sertifikat halal sudah tidak kredibel lagi. Padahal, MUI merupakan tumpuan masyarakat Indonesia, khususnya Muslim dalam mengidentifikasi mana produk yang halal dan mana produk yang haram.

Carl Hovland (1953), mengemukakan bahwa teori kredibilitas menjelaskan bahwa seseorang dimungkinkan lebih mudah dipersuasi jika sumber-sumber persuasinya (komunikator) memiliki kredibilitas yang cukup. Setidaknya, terdapat tiga model guna mempersempit ruang lingkup teori kredibiltas.

  1. Factor Model (suatu pendekatan covering laws), membantu menetapkan sejauh mana pihak penerima menilai kredibiltas suatu sumber.
  2. Function Model (masih dalam suatu pendekatan covering laws) memandang kredibilitas sebagai tingkat dimana suatu sumber mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan individu penerima.
  3. Constructivist Model (suatu pendekatan human action) menganalisis apa yang dilakukan penerima dengan adanya usulan-usulan sumber.

Menurut teori persuasi, kredibilitas muncul karena konstruk perspepsi kita atas kemampuan atau kompetensi komunikator. Kredibilitas lahir dari perasaan atau keyakinan atas komunikator. Kredibilitas merupakan faktor penting dalam persuasi. Dalam kasus MUI, kredibilitas MUI tinggi apabila MUI dapat secara transparan dan akuntabel dalam melalukan audit dan mengeluarkan sertifikat halal suatu produk. Jika MUI tidak melakukan hal demikian, maka kredibiltas MUI dinilai rendah.

Lantas bagaimana upaya yang dilakukan oleh MUI agar persuasi mengenai produk halal tidak terganggu dengan pasca pemberitaan negatif tentang MUI?

MUI berusaha meyakinkan masyarakat Indonesia khususnya ummat Islam bahwa pemberitaan miring tentang MUI tidak benar. Namun MUI tidak ingin merasa “suci” sepenuhnya. MUI melakukan introspeksi secara internal agar dapat lebih transparan dan akuntabel dalam melakukan audit dan menerbitkan sertifikat halal. MUI siap untuk diaudit secara eksternal. “Kalau memang dianggap dana sertifikasi halal yang didapat LPPOM MUI butuh diaudit semua proses transaksinya. Audit saja kita,” ujar Lukman kepada Republika, Senin (10/3).

Langkah yang dilakukan oleh MUI tersebut adalah upaya untuk mengembalikan kredibiltas MUI sebagai lembaga sertifikasi halal. Berbagai ormas Islam mendukung MUI agar tetap menjalankan aktifitas penetapan standar halal, pemeriksaan produk, penetapan fatwa, dan menerbitkan sertifikat halal sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Posisi MUI untuk menjalankan sertifikasi halal menurut banyak pendapat semestinya dapat terakomodasi dalam RUU JPH (Jaminan Produk Halal).

Simpulan dari analisis ini adalah, pemberitaan miring tentang MUI jelas menurunkan kredibilitas MUI sebagai lembaga sertifikasi halal yang dipercaya oleh masyarakat (Muslim) di Indonesia. Namun, MUI berupaya keras memberikan bukti bahwa apa yang dituduhkan oleh berbagai media itu tidak benar. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, akan tetap menjadikan MUI sebagai referensi untuk mengidentifikasi produk-produk halal di Indonesia.

 

Mahfud Achyar

Paramadina Graduate

School of Communication

School of Leader II Unpad, Demi Indonesia yang Lebih Baik

[Unpad.ac.id, 8/12] Mahasiswa diidentik sebagai kalangan yang memiliki idealisme tinggi. Namun, pada kenyataannya, ketika mahasiswa telah bergulat di tataran praktis dunia kerja, idealisme seakan menjadi barang yang sangat mahal. Ada yang mengatakan idealisme hanya berlaku di bangku kuliah saja.

Pernyatan tersebut disampaikan Dwi Nur Afandi, Direktur School of Leader II (SOL II), saat penyelenggaraan SOL II. Program yang digagas oleh BEM Kema Unpad kali ini mengusung tema Youth, a Golden for Nation¯ dan mendapat antusias yang tinggi dari mahasiswa Unpad. Terbukti, peserta yang mendaftar SOL II ini berjumlah sekira 90 orang mahasiswa dari berbagai fakultas. Namun, yang lolos untuk mengikuti masa karantina yang diadakan di Rindam III Siliwangi, Lembang, pada 3-6 Desember 2009 lalu, hanya 40 orang.

Ketika ditanya tujuan acara SOL II ini, Dwi yang lulusan FMIPA Unpad angkatan 2005 ini menuturkan bahwa SOL II dirancang khusus untuk mencetak pemimpin masa depan yang mampu berkontribusi untuk negara dan almamater. Output dari kegiatan SOL II ini adalah, mahasiswa Unpad paham akan jati diri dan perannya sebagai mahasiswa. “Saya berharap lulusan SOL II mampu memberikan manfaat secara mikro, untuk Unpad dan makro, untuk bangsa dan negara,” kata Dwi.

Sementara itu, Dita Juwitasari, mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan angkatan 2007 yang bertugas sebagai kordinator acara menjelaskan bahwa SOL II ini berbeda dengan SOL tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya, siswa SOL wajib hadir tiap pekan selama 10 minggu, namun pada SOL II ini panitia memadatkan kegiatannya menjadi empat hari. Mereka dikarantina dan diberi materi tentang leadership, ke-Unpad-an, nasionalisme, entreperneurship, pergerakan mahasiswa, advokasi, lobbying, dan sebagainya. Selain materi, siswa SOL II juga diberi simulasi berdasarkan materi yang mereka peroleh.

Para peserta sendiri mengaku cukup puas mengikuti kegiatan ini. Saya sangat senang dan bangga bisa mengikuti SOL II ini. Saya bisa belajar banyak hal, misalnya advokasi. Dulu, yang saya pahami tentang advokasi adalah bagaimana tujuan agar advokasi itu tercapai. Namun ternyata, advokasi itu hanya pendampingan. Sedangkan tujuannya hanya outcome saja,ā€¯ tutur salah seorang peserta, M. Ridwan Randika, dari Fakultas Ekonomi angkatan 2007.

Selain itu, ia mengaku lebih mengerti apa itu nasionalisme dan kontribusi yang sesungguhnya. Ia ingin mengubah paradigma mahasiswa yang selama ini berpikir pragmatis. Mereka menilai bahwa hidup itu bicara untung dan rugi. “Nah, di SOL ini saya didik untuk rela berkorban dan menjadi pemimpin yang sesungguhnya,¯” ujar Randika.

Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia yang hadir pada kegiatan tersebut, menyambut baik kegiatan SOL II ini. Beliau berharap BEM Kema Unpad dan rektorat berkoordinasi dengan baik agar SOL menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Pada hari terakhir (6/12) seluruh siswa SOL II tersebut dilantik langsung Direktur School of Leader II dan disaksikan oleh beberapa perwakilan BEM Kema Unpad. (mar) *

Participant Print and Goals on DigiMarketing

The first phase of planning starts with a focus on the consumers or customers with whom you will interact through Digital Marketing. This differs from traditional planning in requiring much more emphasis on how customers interact with you as participant. From the start, you should also establish goals for your Digital Marketing. By the end of the first phase, you should be able to answer the key questions, “What are the key insights about my participant?” and “What are my main goals?”

https://i0.wp.com/blog.bounche.com/wp-content/uploads/2013/08/Strategi-Digital-Marketing.jpg

 

Participant Print

Good marketing always begins with consumer or customer, and that’s where Digital Marketing planning begins too. We call it a Participant Print. Whether your Digital Marketing is intended to appeal to millions of consumers or a select business – to – business audience, you will need a clear understanding of the people at the other end.

Most marketers do some form of planning to define their target audience. You might fell this sufficient and wonder why a Participant Print is required. This isn’t a shallow semantic issue. There are deep implications inherent in the shift from targeting to the broader exercise of participant planning. You will need to anticipate how consumers will act as respondents, participants, and even initiators. Recognizing this from the start is a key mind shift required for successful Digital Marketing.

Participant Print 1: General Profile

The first section of the print includes basic information about your customers. This might include demographics, transactional behavior information (for example, purchasing patterns), and response rates to previous promotions and marketing activities. This will certainly be useful when it comes time to decide your Digital Marketing content, messaging, and activation strategies.

You should also have “lifestyle” data to help you understand the deeper psychographic aspects of your participant base. This vital since consumer attitudes and tendencies today do not follow lock-step with demographic data.

Participant own words are important too. How do participants talk about your product category and about your brand? What are actual words they use? This information will be vital later when you define your search marketing strategies (SEO and SEM).

While you will already know a fair amount about your consumers, writing your Participant Print affords you the opportunity to update and reassess your assumptions. You might collect data from prospective consumers or your competitors consumers, as well as from your existing consumers.

Participant Print 2: Digital Profile

Digital Usage Habits

The next position of your print will focus on your customers / prospects as users of digital media.

What digital channels do your customers currently use and in what proportion? What sites do they surf? What kind of digital devices do they own? Which do they use most often? Are there any digital trends among your participant group (for example, an increase in their desire to receive podcasts) that are particularly worthy of note? Any insights you can gain about your customer’s attitudes towards digital channels and content decisions. Digital usage habits can change rapidly so current data is critical.

Content Consumption Preference

As content becomes liberated from channels, understanding participants’ content preferences becomes essential. Participants loyalty will be to the content not to the delivery mechanism. If you haven’t done the important spade work to really know what content is likely to interest your participants, you run the risk of being ignored and overlooked when you go live with your digital marketing.

Consumer Content Creation Profile

The final area in the digital section of your Participant Print covers what your customers (or prospective customers) are creating at the moment. This should yield some important insights about participants as active creators. What type of contests do they participate in? What type of contests do they participate in? What photo sites do they upload pictures to? What kind of blogs do they create? Are they already engaged in blogs about your products category or your competitors brands – or your brands? In the planning process, you might consider contracting handful of top bloggers to see if you can gain any insights from them.

Participant Print 3: Individual Profiles

You will need to know all you can about individual customers. You may find this data in your existing customer database or through tracking customers current web activity. Of course, your profiling should include some segmentation. How you segment will depend upon the type of data you have on hand. Ideally, you will have consumer purchase data and share of wallet data, so you can identify high lifetime value customers.

The following are a number of broad areas that you might consider as you set goals. Of course, the specific metrics of the goals will need to reflect your particular situation and ambitions.

How to develop a Participant Print

A Participant Print, which is modeled upon Ogilvy & Mather’s Customer Print, is intended to capture the essence of the group of people who comprise your customers. The Participant Print should build upon any existing Customer Print or target audience definitions you have by adding information and insights about your customers in relation to digital channels. Your Participant Print should straddle both existing and new customers.

 

Karen Amstrong Kampanyekan Gerakan Compassion ke Seluruh Dunia

Charter for Compassion (dokumentasi pribadi)
Charter for Compassion (dokumentasi pribadi)
JAKARTA – Dalam rangka ulang tahun Mizan yang ke-30 tahun, Mizan bekerjasama dengan HFI (Humanitarian Forum Indonesia) yang difasilitasi PP Muhammadiyah menyelenggarakan Talkshow dan Deklarasi Semangat Compassion dengan mengundang penulis kenamaan asal Inggris, Karen Amstrong. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB digelar di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di bilangan Menteng Raya No. 62, Jakarta Pusat. Peserta yang hadir pada talkshow ini berasal dari NGO (Non-Government Organization) yang tergabung sebagai anggota HFI seperti PKPU, Dompet Dhuafa, MDMC, PPKM, YAKKUM, YTB, World Vision, dan Karina Caritas Indonesia. Selain itu juga hadir undangan dan peserta umum yang turut menghadiri kegiatan ini.

Karen Amstron (dokumentasi pribadi)
Karen Amstron (dokumentasi pribadi)

Karen Amstrong seperti yang dilansir pada laman Wikipedia.com merupakan penulis yang lahir 14 November 1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris. Beliau adalah seorang pengarang, feminis, dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham.

Karen menerbitkan “Through the Narrow Gate” pada 1982, yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara (dan menyebabkan ia banyak dimusuhi oleh orang-orang Katolik Britania). Pada 1984 ia diminta menulis dan menyajikan sebuah dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Penelitian untuk dokumenter ini membuat Karen kembali menyelidiki agama, meskipun sebelumnya ia telah meninggalkan ibadah keagamaan setelah ia keluar dari biara. Sejak itu ia menjadi penulis yang produktif, banyak dipuji dan dikritik dalam topik-topik yang menyangkut ketiga agama monoteistik. Pada 1999, Pusat Islam California Selatan menghormati Karen atas usahanya “mempromosikan saling pengertian antara agama-agama.”

Salah satu buku Karen yang terkenal di Indonesia adalah “The History of God” (Sejarah Tuhan) yang hingga kini masih sering dicetak ulang oleh penerbit Mizan sejak kemunculannya pertama kali tahun 1993. Selain itu, Karen juga melahirkan buku-buku monumental seperti biografi “Muhammad” (2006) dan buku terbarunya yang berjudul “Compassion” (Welas Asih).

Kehadiran Karen sebagai pembicara dalam talkshow di Indonesia khusus untuk mendiskusikan buku Compassion yang juga menjadi semangat masyarakat dunia dalam mengampanyekan gerakan Welas Asih. Selain Karen sebagai pembicara utama, hadir juga tokoh-tokoh utama seperti Dr. Zainul Kamal (UIN Syarif Hidayatulloh), Romo Heru Prakosa (Rohaniawan Katholik), dan Pdt. Martin Sinaga (PGI) yang dimoderatori oleh Pdt. Jonathan Victor Rembeth.

Lahirnya buku Compassion dilatarbelakangi atas kegelisahan Karen terhadap konflik-konflik yang memasung rasa kemanusiaan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menggambarkan dunia hari ini seperti Hukum Rimba; siapa kuat dialah yang menang. Hal itu bisa dilihat dari konflik Palestina-Israel, isu terorisme, seksualisme, praktik koruptif, dan sebagainya yang tidak hanya menjadi masalah lokal tapi sampai international. Meski semua negara terus berusaha mencari solusinya dengan cara masing-masing, namun masalah yang ada malah semakin subur, takteratasi.

Panggung diskusi (dokumentasi pribadi)
Panggung diskusi (dokumentasi pribadi)

Compassion (Welas Asih, Ind) adalah sikap welas asih pada sesama tanpa memandang perbedaan. Karen menawarkan ada 12 langkah untuk memahami secara lengkap konsep Compassion. Sekilas, teori Welas Asih tersebut terkesan enteng dan tidak menarik, tapi kalau kita melihat pada realita yang ada, di mana masyarakat kita sedang kehilangan nurani belas kasihnya, maka kita sangat membutuhkan kaidah itu. Karenanya, teori welas asih itu perlu dikembalikan sebagai inti dari kehidupan religius dan moral agama-agama. Sebagai langkah konkritnya, Karen menggagas sebuah komunitas global yang di dalamnya semua orang bisa hidup bersama saling menghormati, yang kemudian ia realisasikan ke dalam bentuk Piagam Welas Asih (Chrakter of Compassion), yang kemudian ditulis oleh para pemikir terkemuka dari berbagai agama. Isi dari piagam itu berisikan butir-butir yang melawan suara-suara ekstrimisme, intoleransi, dan kebencian.

Ada lima butir dalam piagam tersebut di antaranya; a) untuk mengembalikan welas asih ke pusat moralitas dan agama; b) untuk kembali pada prinsip kuno bahwa setiap interpretasi atas kitab suci yang menyuburkan kekerasan, kebencian, atau kebejatan adalah tidak sah; c) untuk memastikan bahwa kaum muda diberi informasi akurat dan penuh rasa hormat mengenai tradisi, agama, dan budaya lain; d) untuk mendukung apresiasi positif atas keragaman budaya dan agama; dan e) untuk menumbuhkan empati yang cerdas atas penderitaan seluruh manusia-bahkan mereka yang dianggap sebagai musuh (hal. 13). (Lingkaran-koma.blogspot.com)

Karen memaparkan konsep Compassion (dokumentasi pribadi)
Karen memaparkan konsep Compassion (dokumentasi pribadi)

Secara sederhana, Karen ingin mengajak kepada setiap pemeluk agama agar mengikuti isi dari inti ajaran agama yang dianut. Untuk itu, Armstrong “mewanti-wanti” akan perlunya mengembalikan welas asih sebagai inti kehidupan religius dan moral. Karen menilai banyak kasus pemeluk agama yang kurang tepat dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip ajaran agama. Barangkali karena banyak yang kurang memahami secara benar ajaran agama yang mereka anut. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat (49:13) “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Secara implisit, Karen menyampaikan bahwa umat Islam-lah yang sebetulnya menjadi garda terdepan dalam mengawal semangat Compassion ini kepada seluruh dunia. Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw dikenal sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin, rahmat bagi semesta alam.

Dr. Zainul Kamal, perwakilan UIN Syarif Hidayatulloh mengatakan bahwa Rasulullah saw ketika berdakwah kepada suku Thaif mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Beliau dilempar pakai batu oleh anak-anak suku Thaif, diusir, dan dihina. Namun Rasulullah tidak membalas perlakuan buruk suku Thaif. Beliau justru mendoakan suku Thaif dengan sangat khusyuk. Doa Rasulullah, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Namun, penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah ketika aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku mengangkat kepala dan pandanganku. Tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Rasulullah Saw. melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Ia berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah, “Aku menginginkan Allah berkenan menjadikan anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR Bukhari Muslim)

Begitulah Rasulullah yang memiliki akhlak terpuji. Maka sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam mencontoh nilai-nilai kebaikan yang telah Rasulullah terapkan dalam kesehariaannya.

Zainul mengatakan bahwa sesungguhnya mereka yang menolak kebaikan dan dakwah Islam, lantaran hati-hati mereka yang tertutup sehingga belum bisa menerima kebenaran. Zainul juga berpesan supaya setiap individu menghilangkan sifat egosentris yang menjadi batas interaksi dengan orang-orang yang dipandang memiliki status sosial di level bawah. Jika sudah begitu dengan sendirinya sifat welas asih akan mudah untuk dijalankan dan kita pun dapat menyampaikan pesan-pesan kebaikan tanpa ada sekat yang memisahkan.

Dr. Zainul Kamal (dokumentasi pribadi)

Sementara itu, Romo Heru Prakosa, Rohaniawan Katholik menyampaikan kendati Indonesia berada dalam keberagaman majemuk, sejatinya kita dapat bekerjasama dengan baik dalam berbagai hal. Ia mencontohkan seperti mahasiswa-mahasiswa tempat ia mengajar, kerap melakukan kegiatan sosial bersama dengan berbagai elemen masyarakat yang berbeda agama dan budaya.

Romo Heru Prakosa (dokumentasi pribadi)
Romo Heru Prakosa (dokumentasi pribadi)

Setali tiga uang dengan yang disampaikan Romo Heru Prakosa, Pdt. Martin L. Sinaga juga menyetujui konsep Compassion yang ditawarkan oleh Karen. Ia berpendapat siapa pun bisa memiliki sikap welas asih dengan sesama. Ia optimis bangsa Indonesia akan lahir menjadi bangsa yang menjunjung tinggi toleransi keberagaman.

Prinsip welas asih tersemat dalam jiwa semua tradisi agama, etika atau kerohanian, dan menyeru kepada kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Welas asih mendorong kita bekerja tanpa kenal lelah untuk menghapuskan penderitaan sesama manusia. Untuk melepaskan kepentingan kedudukan kita demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain, serta untuk menghormati kesucian fitrah setiap manusia, memperlakukan setiap orang dengan keadilan, kesamaan dan rasa hormat yang mutlak, tanpa pengecualian.

Adalah juga penting dalam kehidupan masyarakat dan perorangan untuk terus-menerus menahan diri secara konsisten dan empatik dari tindakan menyakiti orang lain. Bertindak dan berkata-kata kasar karena rasa dendam, kesombongan bangsa, atau kepentingan diri, menindas, mengeksploitasi atau menyangkal hak asasi siapa pun dan menghasut kebencian melalui fitnah adalah penyangkalan terhadap kemanusiaan bersama.

Karen menandatangani buku (dokumentasi pribadi)
Karen menandatangani buku (dokumentasi pribadi)

Pesan dari talkshow yang mengangkat tema “The Message of Compassion” adalah mengajak dan menyeru kepada semua orang, laki-laki dan perempuan supaya menghidupkan kembali perasaan welas asih sebagai asas etika dan agama. Kita sangat perlu menjadi welas asih sebagai suatu kekuatan nyata, bercahaya, dan dinamik dalam dunia kita yang terpolarisasi. Berakar dalam tekad mendasar untuk mengatasi keakuan, welas asih dapat meruntuhkan batas-batas politik, dogmatik, ideologis dan keagamaan. Lahir dari ketergantungan kita yang mendalam antara satu dan yang lain, welas asih adalah esensi bagi hubungan antara manusia dan untuk menggenapi kemanusiaan.

Welas asih adalah jalan menuju pencerahan, dan takdapat diabaikan dalam menciptakan ekonomi yang adil dan kehidupan bersama yang damai. Di akhir diskusi, Karen Amstrong dan perwakilan anggota HFI menandatangani Piagam Welas Asih (Charter for Compassion). Dengan menandatangani piagam tersebut, diharapkan semoga dapat berkomitmen untuk menerapkan prinsip welas asih.

Menurut pandangan penulis, gagasan Karen Amstrong tentang gerakan Compassion (Welas Asih) sebetulnya baik. Tapi perlu diingat bahwa sejatinya setiap agama tidaklah sama. Kita pun memiliki kesempatan untuk memberikan kritikan yang bersifat konstruktif atas gagasan-gagasan Karen dalam bukunya yang berjudul Compassion. Setiap pemeluk agama dapat berperan sesuai dengan peran masing-masing. Kita pun dapat bersinergis dalam konteks muamalah sehingga terciptanya harmonisasi dalam hidup dan kehidupan. Semoga kita dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip universal yang sebetulnya dimiliki oleh setiap manusia. Solusinya mari kita aplikasikan sifat welas asih mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulai saat ini. Bismillah. Manjadda wa jadda!

Mahfud Achyar and Karen Amstrong
Mahfud Achyar and Karen Amstrong

NB: Mohon maaf jika ada kesalahan opini. Silakan sampaikan masukan dan saran ke @mahfudACHYAR

Gaza Kembali Membara, Apa Peduli Kita?

Gaza, Palestina kembali membara

Israel memborbardir wilayah Gaza. Sumber: google

Rabu, (14/11/2012) Israel kembali menyerang Gaza dan menewaskan Komandan Hamas Ahmed Al-Jaabari bersama seorang penumpang lain setelah mobil yang mereka tumpangi menjadi sasaran serangan misil Israel di kota Gaza. Media berita Israel melaporkan, anak laki-lakinya juga tewas. Serangan itu bagian dari gelombang serangan udara terhadap militan Islamis di Gaza, yang menurut Palestina, menewaskan tujuh lainnya, termasuk dua anak.

Luka teramat pedih semakin dirasakan oleh semua umat Muslim dunia. Pasalnya, pada hari Kamis (15/11/2012) yang bertepatan dengan tahun baru Islam 1434 Hijriah, pesawat tempur Israel kembali menyerang Gaza dan melakukan pengeboman udara yang menggetarkan bumi dan membuat langit Gaza menjadi warna merah menyala.

Serangan membabi buta yang dilakukan oleh Israel ke wilayah Gaza hingga saat ini belum berakhir. Seperti yang dilansir oleh MediaIndonesia.com jumlah korban yang tewas dari pihak Palestina sudah mencapai 110 orang dan lebih dari 800 orang lagi cedera. 110 orang yang menjadi korban akibat kebiadaban Israel kebanyakan di antaranya adalah anak-anak dan balita. Nampaknya Israel memang sengaja menyasar anak-anak dan balita sebagai sasaran rudalnya ke wilayah Gaza. Hal ini barangkali untuk menunaikan janji yang pernah dikatakan oleh Perdana Menteri Israel Ariel Sharon tahun 1956:

“Saya bersumpah, akan saya bakar setiap anak yang dilahirkan di daerah (Palestina) ini. Perempuan dan anak-anak Palestina lebih berbahaya dibandingkan para pria dewasa, sebab keberadaan anak-anak Palestina menunjukkan bahwa generasi itu akan berlanjut…”

Bagi Israel, anak-anak adalah ancaman yang lebih berbahaya dibandingkan pemuda dewasa. Betapa tidak, di usia yang masih sangat muda, anak-anak Palestina sudah banyak yang mampu menghapal Al-Qur’an. Hal tersebut menjadi momok yang luar biasa menakutkan bagi Israel. Mereka menilai bahwa anak-anak Palestina adalah generasi penerus perjuangan Palestina yang akan terus menentang berdirinya negara zionis Israel.

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa wilayah Gaza yang menjadi sasaran agresi Israel? Hal ini dikarenakan wilayah Gaza merupakan basis wilayah yang dikuasai oleh Hamas yang memenangkan pemilu atas Fatah. Sikap Hamas yang gamblang menyatakan perlawanan terhadap pendudukan Israel lebih mendapat simpati oleh masyarakat Gaza. Namun, ideologi Hamas yang keras dan menolak berkompromi dengan Israel tidak disukai dunia Internasional. Amerika Serikat (sekutu dekat Israel) adalah salah satu negara yang menolak mengakui Hamas meski kelompok tersebut memenangi pemilu secara sah dan demokratis.

Media online Republika.co.id melansir bahwa pada 14 Juni 2006, Hamas, sebagai pemenang pemilu, mengambil alih kendali Jalur Gaza dari Fatah. Dalam waktu 11 hari kemudian (25 Juni 2006), Hamas menculik tentara Israel, Gilad Shalit dan menewaskan dua orang lainnya. Situasi tersebut kian memicu babak baru permusuhan Palestina dengan Israel.

Pada tahun 2007, sejak kemenangan Hamas terhadap Fatah, Israel semakin naik pitam kepada Hamas dengan melakukan pemblokadean kepada Palestina dan terus menyerang masyarakat sipil di wilayah Gaza.

Sejarah Negara Zionis Yahudi

Ide mendirikan negara Yahudi dalam perkembangan gerakan Zionis, sebenarnya banyak dipengaruhi oleh Theodore Herzl. Dalam tulisannya, Der Jadenstaat (Negara Yahudi), dia mendorong organisasi Yahudi dunia untuk meminta persetujuan Turki Usmani sebagai penguasa di Palestina agar diizinkan membeli tanah di sana. Kaum Yahudi hanya diizinkan memasuki Palestina untuk melaksanakan ibadah, bukan sebagai komunitas yang punya ambisi politik (lihat: Palestine and The Arab-Israeli Conflict, 2000: 95).

Keputusan ini memicu gerakan Zionis radikal. Bersamaan dengan semakin melemahnya pengaruh Turki Usmani, para imigran Zionis berdatangan setelah berhasil membeli tanah di Palestina utara. Imigrasi besar-besaran ini pun berubah menjadi penjajahan tatkala mereka berhasil menguasai ekonomi, sosial dan politik di Palestina dengan dukungan Inggris (Israel, Land of Tradition and Conflict, 1993:27).

Palestine land loss. Sumber: Google

Berakhirnya Perang Dunia I, Inggris berhasil menguasai Palestina dengan mudah. Sherif Husein di Mekah yang dilobi untuk memberontak kekuasaan Turki juga meraih kesuksesan. (1948 and After: Israel and Palestine, 1990:149). Rakyat Palestina semakin terdesak dan menjadi sasaran pembantaian. (2000:173). Agresi Zionis terus berlanjut, 360 desa dan 14 kota yang didiami rakyat Palestina dihancurkan dan lebih 726.000 jiwa terpaksa mengungsi.

Akhirnya pada Jumat, 14 Mei 1948, negara baru Israel dideklarasikan oleh Ben Gurion, bertepatan dengan 8 jam sebelum Inggris dijadwal meninggalkan Palestina. Untuk strategi mempertahankan keamanannya di masa berikutnya, Israel terus menempel AS hingga berhasil mendapat pinjaman 100 juta U$D untuk mengembangkan senjata nuklir.

Elisabeth Diana Dewi dalam karya ilmiahnya, The Creation of The State of Israel menguraikan bahwa secara filosofi, negara Israel dibentuk berdasarkan tiga keyakinan yang tidak boleh dipertanyakan:

(a) tanah Israel hanya diberikan untuk bangsa pilihan Tuhan sebagai bagian dari Janji-Nya kepada mereka. (b) pembentukan negara Israel modern adalah proses terbesar dari penyelamatan tanah bangsa Yahudi. (c) pembentukan negara bagi mereka adalah solusi atas sejarah penderitaan Yahudi yang berjuang dalam kondisi tercerai berai (diaspora).

Maka, merebut kembali seluruh tanah yang dijanjikan dalam Bibel adalah setara dengan penderitaan mereka selama 3000 tahun. Oleh sebab itu, semua bangsa non-Yahudi yang hidup di tanah itu adalah perampas dan layak untuk dibinasakan.

Yahudi dalam Al-Qur’an

Fakta fenomenal saat ini yang menggambarkan arogansi, kecongkakan dan penindasan Yahudi terhadap kaum muslimin adalah hikmah yang harus diambil dari Firman-Nya: Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu:

“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS.17:4).

Dalam tafsir Jalalayn dijelaskan bahwa maksud fil ardhi dalam ayat itu adalah bumi Syam yang meliputi Suriah, Palestina, Libanon, Yordan dan sekitarnya.

Pembunuhan bukan hal asing dalam sejarah Yahudi. Bahkan nabi-nabi mereka, seperti Nabi Zakariya dan Nabi Yahya pun dibunuh. Mereka juga mengira telah berhasil membunuh Nabi Isa dan bangga atas usahanya. Tapi Al-Quran membantahnya (QS.4:157). Inilah di antara makna bahwa yang paling keras permusuhannya terhadap kaum beriman ialah orang Yahudi dan musyrik (QS. 5:82).

Penolakan janji Allah (QS. 5:21-22) yang memastikan kemenangan jika mau berperang bersama Nabi Musa, membuktikan sebenarnya Yahudi adalah bangsa penakut, pesimis, tamak terhadap dunia dan lebih memilih hidup hina daripada mati mulia. Bahkan (QS. 5:24) menggambarkan bahwa mereka tidak butuh tanah yang dijanjikan dan tidak ingin merdeka selama masih ada sekelompok orang kuat yang tinggal di sana. Lalu mereka meminta Nabi Musa dan Tuhannya berperang sendiri.

Oleh karena itu Al-Quran menggambarkan bahwa kerasnya batu tidak bisa mengimbangi kerasnya hati kaum Yahudi. Sebab masih ada batu yang terbelah lalu keluar mata air darinya dan ada juga yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah (QS. 2:74). Keras hati kaum Yahudi ini di antaranya disebabkan hobi mereka mendengarkan berita dusta dan makan dari usaha yang diharamkan (QS. 5:24).

Apa yang harus kita lakukan?

#IndonesiaPrafForGaza #LovePalestine

Hadits Arba’in ke-13 karangan Imam An-Nawawi, Abu Hamzah, Anas bin Malik ra. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Muslim satu dengan Muslim yang lain itu ibarat satu tubuh. Jika satu disakiti, maka yang lain juga akan menderita. Tapi ukhuwah yang benar hanya atas nama Allah SWT. Itulah ukhuwah atau persaudaraan yang merupakan sendi pokok untuk membangun tatanan masyarakat Muslim yang kokoh. Tatanan masyarakat Islam yang kokoh merupakan cita-cita kita semua dimana Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin akan benar-benar terwujud.

Rasulullah mengajarkan kepada kita ummatnya untuk saling mengasihi dan mencintai sesama muslim. Konteks persaudaraan dalam Islam tidak hanya lantaran kita memiliki hubungan darah, namun persaudaraan sesama akidah jauh lebih utama. Itu artinya, negara yang di sana ada yang mengucapkan kalimat syahadat, maka di sanalah saudara-saudara kita. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah dan bencana seperti yang saat ini dialami oleh muslim Palestina.

Bantuan bisa kita berikan berupa doa yang khusyu’ kepada Allah, meminta kepada-Nya agar saudara-saudara kita diberikan ketegaran hati dan senantiasa dalam lindungan-Nya; memberikan donasi berupa materi dan dukungan moril; serta langsung membantu mereka berupa pelayanan medis dan sebagainya.

Maka oleh sebab itu, mari kita kikis sifat acuh kita agar kita peduli kepada saudara-saudara kita di Palestina. Saat ini kita mungkin asyik duduk di ruang ber-AC, menonton channel televisi kesayangan, dan berbincang dengan keluarga kita. Sementara di sana, di Gaza Palestina mereka tengah meradang berjuang mempertahankan tanah air mereka.

Wallahu’alam.

Sumber:
http://www.atjehcyber.net
http://aa-ukhuwah.blogspot.com/2009/09/muslim-satu-dengan-muslim-yang-lain-itu.html
http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/serangan-israel-di-palestina-saat-tahun.html
http://www.mediaindonesia.com/read/2012/11/20/364182/39/6/Korban-Tewas-Serbuan-Israel-jadi-110-Orang
http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/11/20/mdrude-antara-israel-gaza-dan-hamas-2

Arigatou Minakata Jin

Cover of Jin by google.com

DESCRIPTION:

Episode: 22 episode
Broadcast Date: 2009.10.11-2009.12.20 until 2011.04.17-2011.06.26
Cast: Takao Osawa / Haruka Ayase / Miki Nakatani / Masaaki Uchino
Category: Family / Medical / Mystery/Thriller / Romance / Tearjerker /

PROLOG

Pada kesempatan ini, saya ingin bercerita tentang sebuah dorama (drama Jepang) yang menurut saya sangat bagus dan memiliki pesan kehidupan yang sangat dalam. Sebelum itu, saya ingin menyampaikan sebuah pesan singkat dari teman saya tentang sastra. Saya akan kutipkan kata mutiara itu untuk kita semua.

“Filsuf memahami dunia. Ilmuwan kemudian mengartikannya. Cendekiawan mengubah dunia. Tetapi apa yang didapat dari sastrawan dan seniman sejati? Mereka akan setia bersamamu kawan. Sastra memanusiakan manusia. Dengan sastra, kita bisa memberi arti pada sebuah makna.”

Film atau drama merupakan produk sastra dalam bentuk audio dan visual. Jelas, kisah yang diangkat dalam drama merupakan kisah rekaan yang mungkin saja terjadi di dunia nyata. Namun, cerita pada sebuah fiksi bukan berarti sebuah kisah yang hambar dan tidak memiliki nilai apa pun untuk kemudian kita ambil sebagai pembelajaran hidup.

Saya beruntung, dari kecil saya sudah mengenal sastra. Saya sudah akrab dengan bacaan seperti cerpen dan novel. Bahkan dulu, ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya memiliki sebuah buku yang berisi kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis oleh seorang anak yang tidak mengetahui teori sastra, seorang anak yang hanya berusaha menuangkan makna yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Namun sayang, buku kumpulan puisi itu hilang dan entah dimana. Saya menyesal karena tidak dapat menjaganya dengan baik.

Baik, kita kembali ke topik utama kita tentang dorama Jepang yang berjudul Jin. Jujur saya katakan, ini adalah dorama terbaik yang pernah saya tonton. Kendati menggunakan subtitle bahasa Inggris, bagi saya tidak masalah. Saya bisa menikmati fiksi dan sekaligus belajar bahasa Inggris. Beberapa kosa kata yang belum pernah saya dengar, kemudian saya catat dan saya hapal.

Entahlah, saya sebetulnya bingung sendiri ketika saya larut menikmati dunia fiksi seperti novel dan film/dorama. Ada semacam perasaan yang mendorong saya turut ambil bagian dalam kisah tersebut. Ah, mungkin karena memang saya sudah terlalu lama berinteraksi dengan sastra.

Dorama Jin mengisahkan tentang seorang dokter bernama Minakata Jin yang terjatuh dari gedung rumah sakit hingga kemudian ia koma. Masa koma tersebut memaksa Minakata Jin memasuki alam bawah sadar menuju pada sebuah dimensi yang berbeda. Sebuah dimensi yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, yaitu ia kembali ke zaman Edo (sebutan nama Tokyo zaman itu) pada tahun 1862.

Minakata Jin di zaman Edo

Kisah Minakata Jin dimulai ketika ia harus penyaksikan pertarungan samurai di sebuah semak belukar di malam hari. Ia melihat dengan kedua matanya bahwa di depannya, ada seorang samurai yang kepalanya ditebas oleh pedang hingga membuat samurai tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Menyaksikan tragedi tersebut, secara naluriah sisi humanisme Minakata Jin pun terpanggil untuk menyelamatkan samurai yang bernama Tachibana Kyotaro. Minakata Jin pun membawa Kyotaro-san ke rumahnya dan menyelamatkan nyawanya dengan operasi yang menggunakan peralatan sederhana.

Tentu menjadi tantangan bagi Minakata Jin sebagai seorang dokter yang hidup di era teknologi canggih, namun harus dihadapkan dengan tantangan untuk menyelematkan nyawan di zaman Edo yang minim fasilitas dan teknologi kedokteran.

Masyarakat Edo pun masih asing ilmu kedokteran sehingga masyarakat Edo merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Minakata Jin. Orang yang pertama kali mendukung cara pengobatan Minakata Jin adalah adik perempuan dari Kyotaro-san yaitu Saki-sama. (Aha, Saki-sama yang diperankan oleh Haruka Ayase sangat baik. Saya masih terkesima dengan aktingnya dalam film Cyborg-she)

Arigatou sensei! -Saki

Keberhasilan operasi yang dilakukan Minata Jin dan dibantu oleh Saki-sama terhadap Kyotaro-san didengar oleh banyak orang. Sejak peristiwa itu, berbagai tantangan berkaitan dengan pengobatan memaksa Minakata Jin untuk menyelesaikannya dengan baik. Mulai dari mengoperasi ibu dari Kicchi-san, mengobati penyakit kolera, mengoperasi tumor Nokaze-san, sivilis, mengatasi penyakit beri-beri yang menyerang banyak masyarakat Edo, dan bahkan sampai mengobati orang yang nyaris merenggut nyawanya. Tapi beruntung Minakata Jin tidak berjuang sendirian. Ia dibantu oleh sahabat-sahabatnya untuk mengatasi setiap tantangan yang terjadi.

“God only gives us challenges. So we can overcome them.” – Minakata Jin

Minakata Jin yakin bahwa setiap tantangan yang ia hadapi, pasti dapat ia atasi dengan baik. Apalagi ia memiliki sahabat dan orang-orang yang di sekitarnya yang mendukung dan mencintainya dengan sepenuh hati. Kendati, kerap kali ia dihantui perasaan gusar, sebetulnya apa alasan ia dikirim ke zaman Edo? Mungkinkah kehadiran ia di zaman tersebut menjadi syarat agar kekasihnya Miki bisa sadar dari komanya? Namun, ia akhirnya sadar bahwa ia kembali ke zaman Edo untuk mengubah masa depan dan hari esok yang lebih baik lagi. Walaupun kadang ia sendiri ragu dengan apa yang telah ia kerjakan. Namun, karena melihat semangat dan senyum tulus dari sahabat-sahabatnya, ia pun memiliki keyakinan penuh untuk mengubah sejarah Jepang menjadi lebih baik lagi.

Kondisi pelik di zaman Edo tidak hanya lantaran masalah kesahatan. Saat itu suasana Jepang berada dalam kondisi pada masa kekuasaan Keshogunan Tokugawa yang diambang kehancuran yang ditandai dengan Restorasi Meiji.

Menonton dorama ini, kita seakan diajak untuk kembali ke masa silam yaitu di zaman Edo. Apalagi diiringan dengan instrument musik Jepang yang sangat indah sehingga kita begitu menikmati setiap peristiwa yang terjadi di zaman tersebut.

Saki: “Sensei… Look at sunset.. Very beautiful right?”

Kadang, tulang saya terasa ngilu ketika menyaksikan operasi yang dilakukan Minakata Jin dan sahabatnya dengan hanya mengandalkan peralatan operasi seadanya. Terlebih ketika scene Nokaze-san yang harus dicaesarr tanpa mengggunakan anesthesia. Bagi saya itu sangat dramatis dan membuat saya tertarik dengan dunia kedokteran. Kadang saya berpikir, apakah di dunia ini masih banyak dokter yang memiliki visi dan semangat seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan sahabat-sahabatnya.

Lega sekali ketika operasi berjalan dengan sukses. Terlihat dengan jelas raut wajah senang memancar dari wajah Minakata Jin dan sahabat-sahabatnya. Saya kagum dengan dokter. Mereka bisa menolong orang lain dengan sepenuh hati kendati dalam perasaan tertekan sekalipun. Saya berharap, saya sangat berharap masih ada dokter-dokter seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan Saburi-san. Rasanya indah sekali jika dunia ini diisi oleh orang-orang baik dan senantiasa berbuat baik.

***

Sebuah drama tidak lengkap rasanya jika tidak ada kisah cinta di dalamnya. Drama Minakata Jin juga mengisahkan ketulusan hati Minakata Jin terhadap kekasihnya Miki yang terbaring koma di masa depan. Namun di zaman Edo; tempat ia berada sekarang, ada seorang gadis yang begitu tulusnya mencintai Minakata Jin yaitu Saki-sama. Namun, Saki-sama tidak mengungkapkan apa yang ia rasa. Ia hanya memendam perasaan tersebut dalam-dalam. Saki-sama mengetahui secara persis bahwa cinta Minakata Jin terhadap Miki sangatlah besar. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan cinta terbaik yang ia miliki untuk kebahagiaan Minakata Jin. Bukankah cinta itu tanpa syarat? Maka berkorbanlah untuk yang kita cintai, karena prinsip cinta itu memberi, bukan diberi.

Di akhir cerita, Minakata Jin harus kembali ke zamannya di masa depan. Padahal saat itu adalah saat-saat tersulit. Saki-sama nyaris tidak bisa diselamatkan akibat bakteri yang terus menggrogoti lengannya. Tapi beruntung, Kyotaro-san menemukan botol obat disinfektan yang dibawa oleh Minakata Jin ketika pertama kali terlempar dari masa depan ke zaman Edo.

Dokter Minakata Jin pun sadarkan diri. Ia terbangun dari tidurnya yang panjang. Betapa kagetnya, ia melihat peralatan-peralatan kedokteran yang canggih dan orang-orang yang dikenalnya di masa depan. Ya, dokter Minakata Jin kembali ke masa depan. Lantas bagaimana dengan kondisi kesehatan Saki-sama di zaman Edo? Rasa penasaran yang membuncah dihati Minakata Jin membuat ia mencari literasi tentang sejarah kedokteran Jepang. Ia pun menemukan literasi yang menuliskan bahwa kedokteran di zaman Edo berkembang berkat semangat Njinyo-do yang tidak lain sahabat-sahabat dari Minakata Jin. Air mata taksanggup lagi ia bendung. Ia pun menangis bahagia karena mengetahui sejarah Jepang terutama di dunia kedokteran berkembang pesat.

Never ending fighting!

Dalam suasana hati yang bercampur baur; sedih, senang, dan gelisah ia pun berkunjung ke sebuah rumah Tachibana di kota Tokyo yang dulu menjadi tempat tinggal Saki-sama dan keluarga Tachibana. Dan yang mengagetkan, ternyata Miki-san, kekasihnya merupakan penerus keluarga Tachibana.

Recommendation:

Untuk siapa saja yang membaca tulisan saya ini, saya sangat merekomendasikan kalian semua untuk menonton drama ini. Drama ini menyentuh sisi kemanusiaan kita; mengajarkan kita tentang filosofis kehidupan, dan kita bisa belajar banyak dari sikap orang Jepang yang sangat bersemangat dalam tolong menolong satu sama lainnya. Jujur saya katakan, saya meneteskan air mata berkali-kali saat menonton drama ini.

Drama ini layak ditonton oleh semua kalangan, terutama mahasiswa kedokteran atau orang-orang yang bergerak di bidang kesahatan. Bahwa pengabdian kalian sebagai seorang tenaga medis itu adalah sebuah kehormatan. Bukan materi yang dicari, tapi investasi jangka panjang. Yakinlah, kebaikan yang saat ini kita lakukan akan terus kita rasakan manfaatnya. Selamat menikmati.
Visit the site: http://www.tbs.co.jp/jin-final/

Ganbarimashou, Yume-san!