Bingkai Romantis dalam Film “A Walk In The Clouds” & “Jalan Tiada Ujung”

A Walk in The Clouds

a-walk-in-the-clouds
A Walk in the Clouds (1995). Image source: https://www.justwatch.com/nl/movie/a-walk-in-the-clouds

Sebuah film yang bercerita tentang seorang tentara bernama Paul. Setelah perang duna ke-2, dia pergi ke rumah teman perempuannya, bernama Betty. Setelah itu, ia pergi ke sebuah desa yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ketika dalam perjalanan, di kereta, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Victoria Sutto. Merekapun berbincang, dan seakan mereka telah mengenal satu sama lainnya. Film ini mengangkat kisah percintaan antara Paul dan Vicotria. Disamping itu, tokoh utama Paul, mengalami halusinasi ketika ia memejamkan matanya. Ia selalu mimpi seram tentang perang. Dimana saat itu, ia melihat banyak tentara-tentara yang tewas. Dan kondisi perang sungguh membuat ia ketakutan.

Setelah bertemu dengan Victoria, inilah awal kisah drama romantis film A walk in the clouds. Entah kenapa, nasib mempertemukan Paul dan Victoria kembali. Setelah perjumpaan mereka di atas bis, mereka saling bercerita antara satu dan lainnya. Paul merupakan penjual coklat. Awal kisah romantis dan penuh liku, ini dimulai ketika Victoria menyatakan bahwa ia hamil. Padahal, ia belum menikah. Victoria merasa kebingungan dengan masalah yang tengah ia hadapi. Apalagi jika ia harus membayangkan bahwa Ayahnya, Mr. Aragon adalah seorang pria sangat keras kepala dan otoriter. Kemudian, Paul pun berinsiatif dan menyatakan, bagaimana kalau mereka pura-pura menikah saja.

Victoria mengajak Paul ke rumahnya, ia menyebutnya-Clouds, yaitu awan. Keluarga Victoria memiliki kebin anggur yang sangat luas. Dan biasanya, ketika mereka panen anggur, maka akan ada upacara dan pesta panen anggur.
Ketika Victoria memperkenalkan Paul kepada keluarganya, keluarganya menyambut gembira karena Victoria sudah menikah. Saat itu, mama, kakek dan neneknya bahagia karena ada anggota baru dikeluarganya. Tapi sayangnya, Mr. Aragon tampak tidak suka dengan kehadiran Paul. Victoria dan Paul harus berakting semanis mungkin gara-gara keluarga Victoria tidak mengetahui kebohongan mereka. Mereka berpura-pura tidur seranjang.
Kakek Victoria sangat antusias dengan kehadiran Paul. Bahkan ia mengajal Paul untuk keliling kebun anggurnya, dan memperlihatkan akar anggur menjadi cikal bakal tumbuhnya pohon anggur.
Ketika perayaan panen anggur, masyarakat di sana tampak bersuka cita. Tarian, musik dan tawa menghiasi pesta kala itu. Victoria dan Paul pun hanyut dalam buaiyan kasih sayang. tapi, kebahagiaan mereka bukan kebahagiaan yang mutlak. Karena memang, mereka bukan sepasang suami-istri. Paul sering sekali bermimpi sama. Mimpi perang. Agaknya ia mengalami traumatis akabita perang.
Mereka (Victoria dan Paul) tidak mampu lagi menutupi kebohongan mereka. Akhirnya, Victoria memutuskan untuk menceritakan perihal kebohongannya kepada keluarganya. Keluarganya, terutama ayahnya sangat kecewa. Ia merasa dibohongi. Paul memutuskan untuk kembali ke San Fransisco, menemui Betty.

Ketika itu ia melihat Betty selingkuh dengan pria lain. Paul melanjutkan perjalanan (walking) ke rumah Victoria. Ketika ia sampai di sana, ia menemui Mr. Aragon yang tampak kelelahan dan tertidu. Ketika berusaha menyapanya, Mr. Aragon sentak bangun dan marah, kemudian mencaci Paul. Ia tidak mengizinkan Paul menjalin cinta dengannya. Pertengkaran pun takdapat dielakkan. Yang pada akhirnya, Mr. Aragon melempar sebuah lampu minyak, dan lampu tersebut membakar seluruh perkebunan anggur milik keluarga Victoria. Semua orang berusaha mematikan api. Tapi sayangnya, usaha mereka gagal. Api begitu cepat menjalar dan menghabisi seluruh kebun anggur. Keluaga itu sedih karena kebun mereka hangus terbakar.
Akhir cerita, Paul yang teringat bahwa kakek Victoria pernah menunjukkan akan anggur, kemudia membokar akar tersebut, dan menunjukkan akar tersebut kepada Mr.Argon. Mr. Argon terkesima. Semua orang tersenyum bahagia. Itu artinya, haparan itu masih ada. Akar anggur, akan menjadi kebun yang sangat luas. End.

Jalan Tiada Ujung, Mochtar Lubis


Novel ini berlatar belakang pasca penjajahan Belanda. Dimana saat itu, rakyat Indonesia harus mengalami nasib buruk, seperti: penembakan, penghinaan hak asasi manusia, pelecehan, dan lain sebagainya. Tentara-tentara sering sekali mengubel-ubel rakyat Indonesia. Setiap jam, setiap hari, bunyi letupan senjata api menghiasi hari-hari rakyat Indonesia. Mereka takmampu berbuat banyak. Hanya bermodal senjata tradisional yaitu bambu runcing. Sedangkan serdadu-serdadu itu mereka menggunakan peralatan senjata yang modern. Mulai dari tank baja, truk, dan senjata api. Biasanya, tiap hari serdadu itu akan memeriksa tiap rumah, tiap orang, jika dicurugai memiliki senjata untuk melawan Belanda.

Cerita ini berlatar di Jakarta, tepatnya di Tanah Abang. Tokoh sentral dalam cerita ini adalah guru Isa dan Hazil. Guru Isa, yang berusia tiga puluh lima tahun. Ia merupakan berprofesi menjadi seorang guru bertahun-tahun lamanya. Ia memiliki seorang istri bernama Fatimah. Tapi sayangnya, hubungan mereka tidak berjalan harmonis. Hal ini disebabkan oleh belum adanya keturunan yang mereka hasilkan. Sesungguhnya ini bukanlah salah Fatimah. Melainkan, Guru Isa, yang mengalami traumatik, sehinga tak bisa berbuat apa-apa.

Guru Isa merupakan lelaki yang cinta damai, tidak menyukai kekerasan, dan sangat penyayang. Ia paling benci dengan perang. Karena bagi ia, perang merupakan kekerasan dan tidak berperikemanusiaan. Maka tak heran, ketika ia melhat terjadinya penembakan oleh tentara Belanda ke penduduk sipil, maka kejadian tersebut selalu terulang dalam benaknya. Ia selalu behalusinasi. Membayangkan seandainya, dirinya, anak istrinya mati ditembak oleh serdadu yang kasar-kasar itu. Perasaan kecut dan takut guru Isa begitu kuat.

Bahkan terkadang, ia menolak ketika diminta istrinya turut membantu pemuda lain yang sedang ronda untuk mengamankan kondisi.
Berbeda dengan guru Isa, tokoh sentral lain dalam novel ?Jalan Tiada Ujung? ini adalah Hazil. Ia merupakan pemuda yang pemberani. Tekadnya sangatlah kuat. Yaitu berjuang merebut kemerdekaan. Ia hanya bermodal sepucuk pistol. Dengan tekad bulat yang ia miliki, ia berkeyakinan bisa menjadi bagian dari perjuangan rakyat Indonesia. Hazil sangat gemar memainkan alunan musik biola. Bahkan kemampun bermain biolanya lebih mahir dibandingkan guru Isa. Alunan nada yang digesek oleh biolanya, merupakan pendamping perjalanan perjuangan Hazil.
Guru Isa, lama-kelamaan rasa beranipun muncul dari dalam dirinya. Ia dimanita ikut organisasi pertukaran senjata. Tentunya, ia sangat ketakutan menjalankan pekerjaan ini. Tapi untungnya, ia berteman dengan Hazil. Rasa takut bisa dikalahkan dengan semangat dan pengorbanan.

Jika kita analisis, kenapa novel ini berjudul “Jalan tiada ujung?” jawabannya terdaoat dalam kutipan berikut: “?Dalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada tempat pikiran kacau dan ragu-ragu,” ?kata Hazil. ?Saya sudah tahu semenjak mula bahwa jalan yang kutempuh ini adalah jalan tiada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya.

Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ada ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.

Selanjutnya, kisah ini bercerita tentang perjuangan guru Isa dan Hazil. Ketakutan guru Isa bertambah ketika ia membaca surat kabar, bahwa dua orang pelempar granat tangan, ditangkap polisi. Ia sangat ketakutan. Ia selalu membayangkan, bagaimana jika seandainya polisi datang ke rumahnya, memeriksa ia, dan mengangkapnya. Ketakutan yang teramat sangat mengusik hari-hari guru Isa. Bahkan ia sampai demam membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya. Akhirnya, ia dtangkap polisi, tapi bersyukur, rasa takutnya lama-kelamaan membuahkan keberanian. Apalagi ketika ia teringat perkataan-perkataan Hazil, dan yang lebih menggembirakan adalah bahwa ia kembali menjadi lelaki sejati.

Analogi/kemiripan antara film, A walk in the Clouds? dengan novel Jalan Tiada Ujung

Dari segi latar waktu cerita, dua buah karya di atas berlatar waktu yang hamper sama yaitu pasca perang. Jika dalam film Awalk in the clouds berlatar waktu ketika setelah perang dunia dua, pada novel Jalan Tiada Ujung? berkisah waktu penjajahan/agresi Belanda ke Indonesia.
Pada dua buah karya tersebut digambrakan kepada kita, pembaca bahwa perperangan adalah kondis yang sangat memprihatinkan. Dimana-mana, banyak manusia mati terbunuh. Bunyi deru pistol dan ketakutan senantiasa menyelimuti setiap oarang yang berada dalam kondisi perang.

Selain itu, kemiripan dua buah karya tersebut terletak pada kesamaan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama. Jika pada film A walk in the clouds?, Paula si tokoh utama, sering kali mimpi buruk karena kondisi perang, dalam novel Jalan Tiada Ujung tokoh utama “Guru Isa mengalami kondisi yang sama hebatnya dengan Paul. Yaitu ketakutan, ketakutan, dan ketakutan. Ia selalu dibayang-bayangi perasaan jika ia dtembak serdadu, dipenjara dan anak-istrinya akan kehilangan dia.”

Jika disimpulkan, kondisi perang merupakan kondisi yang buruk. Tidak ada kedamaian seperti di awan, atau jalan tiada ujung. Sampai pada akhirnya, setiap orang harus merasakan kebahagiaan, kedamaian dan jauh dari bayang-bayang ketakutan.

Dua buah karya tersebut memiliki sisi romantisme masing-masing. Romantisme antara Paul dan Victoria, dan romantisme antara Guru Isa dan Fatimah.

Kisah Dari Calcutta dalam Novel Epilog – Balada Si Roy

aku-rel

Novel yang dibahas pada kesempatan ini adalah novel karya Gola Gong yang berjudul Balada Si Roy, Epilog. Novel Epilog adalah ending dari kisah novel Balada Si Royyang ditulis oleh Gola Gong. Novel ini menceritakan seorang pemuda yang bernama Roy. Ia adalah seorang pemuda yang senang melakukan petulanagan. Ini terlihat dari kebiasaannya yang gemar menjelajah dari suatu tempat ke tempat lain. Pada novel Epilog, Si Roy menjelajahi negeri India. Pada awal cerita, latar tempat yang digunakan adalah Calcuta.

Calcuta adalah sebuah daerah yang terletak di perbatasan India dan Bangladesh. Lalu, apa sebenarnya tujuan Roy berpetualang hingga ke negeri India? Menurut hemat saya, Roy merupakan wujud nyata dari penulis sendiri, yaitu Gola Gong. Secara tekstual dapat kita pahami bahwa alasan yang mendasar kenapa Roy senang bepetualang adalah karena ia jemu dengan kondisi negaranya sendiri, Indonesia. banyak hal yang ia sesalkan. Pertama, ia tidak suka dengan kondisi politik di Indonesia, dan sebenarnya ia ingin melupakan sejenak pikirannya tentang kampung halamannya.

Berbeda dengan novel popular kebanyakan, yang menarik dalam novel ini adalah pembubuhan kata-kata motivasi pada setiap babnya. Menurut saya, tentunya menarik sekali jika kita (sebagai pembaca) dapat memahami pesan yang ingin disampaikan penulis terangkum dalam sebuah tulisan motivasi yang ditulis oleh penyair-penyair hebat di dunia. Ketika saya membaca novel ini, saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan novel kebanyakan yang pernah saya baca. Novel cukup memberikan inspirasi bagi saya.

Betapa pentingnya sebuah kejujuran untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Roy adalah seorang traveler yang sedang mencari identitas dirinya. Berangkat dari Indonesia ke India dengan harapan agar ia menemukan kebahagiaan dan makna hidup yang sesungguhnya.
Di awal cerita, novel ini bercerita tentang perjalanannya bersama seorang sahabatnya yang bernama Osahi di Calcuta. Osahi merupakan sahabat yang baik bagi Roy. Walaupun beebeda Negara, tetapi Osahi mampu menunjukkan kesetiakawanannya.

Selanjutnya, secara deskriptif novel ini menyajikan sebuah potret kehidupan masyrakat India dengan kekompleksan budayanya. Bagi orang India, kejujuran adalah barang yang sangat mahal bagi mereka. karena, banyak orang yang berdusta hanya untuk mendapatkan kesenangan saja. Strata kehidupan sosial adalah suatu kenyataan yang sampai detik ini masih menjadi socio-realty. Ini terlihat ketika ras Paria (berkulit hitam, dan torgolong miskin) yang sangat memprihatinkan. Terbukti dari kesejahteraan yang masih rendah, dan apabila salah seorang anggota keluarga ras Paria meninggal dunia, maka sulit sekali untuk membakar jenazahnya. Hal ini dikarenakan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan. Kondisi ini terjadi pada tokoh Kay. Ia adalah anak kecil yang hitam, tengil, dan pekerja keras. Ketika ibunya meninggal, prosesi pembakaran dilakukan dengan sangat sederhana.
Selain itu, potret budaya yang dibingkai penulis tergambar dari kondisi sungai Ganga. Sungai tersebut merupakan sungai yang suci untuk kaum Hindu India. Sungai Ganga dianggap sebagai air mata Dewa Shiva. Kegitaan masyarakat India mampu terdeskripsikan dengan baik oleh Roy, selaku tokoh central. Mulai dari mandi, perdagangan, peribadatan, dan sebagainya. Maka tak heran jika sungai ini menjadi salah satu icon dari Negara India.


Hal yang menarik lagi adalah, dalam novel Epilog ini penulis mampu memberikan sebuah informasi yang penting bagi pembaca. Informasi tersebut adalah komunikasi lintas budaya antara orang Indonesia, Korea, Jepang, Jerman, dan juga Yahudi. Roy secara gamblang menggambarkan bagaimana karakter/kebudayaan masing-masing Negara. Apakah itu lewat dialog antar tokoh, maupun lewat pencitraan tokoh utama sendiri. Dalam novel ini, percintaan tak luput untuk dibahas. Roy tiba-tiba merasakan getaran cinta dengan seorang gadis bernama Ina. Ia adalah gadis Jerman yang dekat dengan Roy saat berliburan di India. Benih cinta itu kian tumbuh. Akan tetapi, Roy tidak menerima cinta Ina karena ia masaih mencintai pacarnya Suci yang ada di Indonesia.

Setelah melakukan perjalanan di India, Roy balik ke Indonesia. tapi sayangnya, ia tak memiliki pacar lagi. Suci telah pergi, dan sekarang ia hanya bisa menyesal.

Novel ini sangat menarik karena penulis sangat mahir dalam memaparkan sebuah kejadian yang ia tangkap. Selain itu, penulis mampu memilah diksi yang tepat dalam penarasiannya. Sehingga, saya sebagai pembaca merasa nyaman membaca novel ini.

Apaidemu.com: 1 Bulan, 1 Karya Sastra

A-Love-For-Literature

Bagi sebagian orang, sastra mungkin adalah sebuah minat atau passion yang kurang menarik. Parahnya, banyak generasi muda Indonesia yang tidak mencintai sastra. Mereka lebih tertarik dengan teknologi, kesehatan, lingkungan, politik, dan sebagainya. Sebetulnya sah-sah saja bahwa setiap orang berhak dengan pilihan minatnya. Namun yang menjadi permasalahan adalah, mengapa sastra seakan dikucilkan atau bahkan tidak menjadi kebanggaan dari anak muda Indonesia?

Hal tersebut barangkali dilatarbelakangi kurangnya informasi berkaitan dengan dunia kesusastraan. Banyak anak muda Indonesia yang menilai bahwa sastra itu adalah sesuatu yang klasik, hanya fiksi, dan tidak memberikan peran yang berarti bagi mereka. Bahkan di dunia pendidikan sendiri, sastra semakin dianaktirikan. Hal tersebut terbukti dari kurangnya antusias siswa ketika membahas sastra dan karya-karya sastra seperti cerpen (cerita pendek), puisi, novel, roman, dan juga film.

Sastra seakan tidak menjadi sebuah hal yang mahal di Indonesia. Padahal di negara-negara maju seperti Inggris sastrawan dan karya-karyanya sangat dihargai. Sebut saja salah seorang sastrawan Inggris yang sangat tersohor di seantero dunia William Shakespeare. Banyak karya monumental yang lahir dari jemari Shakespeare, sebut saja kisah cinta abadi “Romeo and Juliet”. Tidak hanya itu, di Inggris sendiri studi “Liberal Art” sangat diminati oleh anak-anak muda di sana. Tidak hanya itu, manuskrip sastra terjaga baik dan senantiasa dipelajari oleh generasi muda di sana. Sementara bagaimana dengan di Indonesia? Miris.

Andai semua anak muda Indonesia mau meluangkan sejenak waktunya mengenal sastra, saya yakin akan sangat banyak anak muda Indonesia yang tertarik untuk sekadar mengenal atau bahkan lebih jauh mempelajari lebih dalam tentang sastra.

Sastra bukan sebatas karya imajinatif seseorang. Lebih dari itu, sastra itu memanusiakan manusia. Hal tersebut tertuang dalam sebuah pesan singkat yang saya terima dari teman saya. Isi pesannya adalah, “Filsuf memahami dunia. Ilmuwan kemudian mengartikannya. Cendekiawan mengubah dunia. Tetapi apa yang didapat dari sastrawan dan seniman sejati? Mereka akan setia bersamamu kawan. Dengan sastra, kau akan mampu merasa dan memberi arti pada makna.”

Bicara sastra, kita akan diajak untuk lebih mengenal arti kehidupan yang sesungguhnya. Percayalah kawan!

*Ini gagasan saya ketika mengikuti lomba apaidemu.com yang diadakan oleh Pertamax 😉 Tapi sayang, ga menang. Ha2x ;D

逢いたくていま

Do you remember the day we first met?
I haven’t forgotten a single day that’s passed
I want to feel everything you had your eyes on
I looked up at the sky, are you there now watching over me? Tell me

初めて出会った日のこと 覚えてますか
過ぎ行く日の思い出を 忘れずにいて
あなたが見つめた 全てを 感じていたくて
空を見上げた 今はそこで 私を 見守っているの? 教えて

今 逢いたい あなたに
伝えたい事が たくさんある
ねえ 逢いたい 逢いたい
気づけば 面影 探して 悲しくて
どこにいるの? 抱きしめてよ
私は ここにいるよ ずっと

もう二度と逢えないことを 知っていたなら
繋いだ手を いつまでも 離さずにいた
ここにいてと そう素直に 泣いていたなら
今も あなたは 変わらぬまま 私の隣りで 笑っているかな

今 逢いたい あなたに
聞いて欲しいこと いっぱいある
ねえ 逢いたい 逢いたい
涙があふれて 時は いたずらに過ぎた
ねえ 逢いたい 抱きしめてよ
あなたを 想っている ずっと

運命が変えられなくても 伝えたいことがある
戻りたい あの日 あの時に 叶うのなら 何もいらない

今 逢いたい あなたに
知って欲しいこと いっぱいある
ねえ 逢いたい 逢いたい
どうしようもなくて 全て夢と願った
この心は まだ泣いてる
あなたを 想っている ずっと

Arigatou Minakata Jin

Cover of Jin by google.com

DESCRIPTION:

Episode: 22 episode
Broadcast Date: 2009.10.11-2009.12.20 until 2011.04.17-2011.06.26
Cast: Takao Osawa / Haruka Ayase / Miki Nakatani / Masaaki Uchino
Category: Family / Medical / Mystery/Thriller / Romance / Tearjerker /

PROLOG

Pada kesempatan ini, saya ingin bercerita tentang sebuah dorama (drama Jepang) yang menurut saya sangat bagus dan memiliki pesan kehidupan yang sangat dalam. Sebelum itu, saya ingin menyampaikan sebuah pesan singkat dari teman saya tentang sastra. Saya akan kutipkan kata mutiara itu untuk kita semua.

“Filsuf memahami dunia. Ilmuwan kemudian mengartikannya. Cendekiawan mengubah dunia. Tetapi apa yang didapat dari sastrawan dan seniman sejati? Mereka akan setia bersamamu kawan. Sastra memanusiakan manusia. Dengan sastra, kita bisa memberi arti pada sebuah makna.”

Film atau drama merupakan produk sastra dalam bentuk audio dan visual. Jelas, kisah yang diangkat dalam drama merupakan kisah rekaan yang mungkin saja terjadi di dunia nyata. Namun, cerita pada sebuah fiksi bukan berarti sebuah kisah yang hambar dan tidak memiliki nilai apa pun untuk kemudian kita ambil sebagai pembelajaran hidup.

Saya beruntung, dari kecil saya sudah mengenal sastra. Saya sudah akrab dengan bacaan seperti cerpen dan novel. Bahkan dulu, ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya memiliki sebuah buku yang berisi kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis oleh seorang anak yang tidak mengetahui teori sastra, seorang anak yang hanya berusaha menuangkan makna yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Namun sayang, buku kumpulan puisi itu hilang dan entah dimana. Saya menyesal karena tidak dapat menjaganya dengan baik.

Baik, kita kembali ke topik utama kita tentang dorama Jepang yang berjudul Jin. Jujur saya katakan, ini adalah dorama terbaik yang pernah saya tonton. Kendati menggunakan subtitle bahasa Inggris, bagi saya tidak masalah. Saya bisa menikmati fiksi dan sekaligus belajar bahasa Inggris. Beberapa kosa kata yang belum pernah saya dengar, kemudian saya catat dan saya hapal.

Entahlah, saya sebetulnya bingung sendiri ketika saya larut menikmati dunia fiksi seperti novel dan film/dorama. Ada semacam perasaan yang mendorong saya turut ambil bagian dalam kisah tersebut. Ah, mungkin karena memang saya sudah terlalu lama berinteraksi dengan sastra.

Dorama Jin mengisahkan tentang seorang dokter bernama Minakata Jin yang terjatuh dari gedung rumah sakit hingga kemudian ia koma. Masa koma tersebut memaksa Minakata Jin memasuki alam bawah sadar menuju pada sebuah dimensi yang berbeda. Sebuah dimensi yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, yaitu ia kembali ke zaman Edo (sebutan nama Tokyo zaman itu) pada tahun 1862.

Minakata Jin di zaman Edo

Kisah Minakata Jin dimulai ketika ia harus penyaksikan pertarungan samurai di sebuah semak belukar di malam hari. Ia melihat dengan kedua matanya bahwa di depannya, ada seorang samurai yang kepalanya ditebas oleh pedang hingga membuat samurai tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Menyaksikan tragedi tersebut, secara naluriah sisi humanisme Minakata Jin pun terpanggil untuk menyelamatkan samurai yang bernama Tachibana Kyotaro. Minakata Jin pun membawa Kyotaro-san ke rumahnya dan menyelamatkan nyawanya dengan operasi yang menggunakan peralatan sederhana.

Tentu menjadi tantangan bagi Minakata Jin sebagai seorang dokter yang hidup di era teknologi canggih, namun harus dihadapkan dengan tantangan untuk menyelematkan nyawan di zaman Edo yang minim fasilitas dan teknologi kedokteran.

Masyarakat Edo pun masih asing ilmu kedokteran sehingga masyarakat Edo merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Minakata Jin. Orang yang pertama kali mendukung cara pengobatan Minakata Jin adalah adik perempuan dari Kyotaro-san yaitu Saki-sama. (Aha, Saki-sama yang diperankan oleh Haruka Ayase sangat baik. Saya masih terkesima dengan aktingnya dalam film Cyborg-she)

Arigatou sensei! -Saki

Keberhasilan operasi yang dilakukan Minata Jin dan dibantu oleh Saki-sama terhadap Kyotaro-san didengar oleh banyak orang. Sejak peristiwa itu, berbagai tantangan berkaitan dengan pengobatan memaksa Minakata Jin untuk menyelesaikannya dengan baik. Mulai dari mengoperasi ibu dari Kicchi-san, mengobati penyakit kolera, mengoperasi tumor Nokaze-san, sivilis, mengatasi penyakit beri-beri yang menyerang banyak masyarakat Edo, dan bahkan sampai mengobati orang yang nyaris merenggut nyawanya. Tapi beruntung Minakata Jin tidak berjuang sendirian. Ia dibantu oleh sahabat-sahabatnya untuk mengatasi setiap tantangan yang terjadi.

“God only gives us challenges. So we can overcome them.” – Minakata Jin

Minakata Jin yakin bahwa setiap tantangan yang ia hadapi, pasti dapat ia atasi dengan baik. Apalagi ia memiliki sahabat dan orang-orang yang di sekitarnya yang mendukung dan mencintainya dengan sepenuh hati. Kendati, kerap kali ia dihantui perasaan gusar, sebetulnya apa alasan ia dikirim ke zaman Edo? Mungkinkah kehadiran ia di zaman tersebut menjadi syarat agar kekasihnya Miki bisa sadar dari komanya? Namun, ia akhirnya sadar bahwa ia kembali ke zaman Edo untuk mengubah masa depan dan hari esok yang lebih baik lagi. Walaupun kadang ia sendiri ragu dengan apa yang telah ia kerjakan. Namun, karena melihat semangat dan senyum tulus dari sahabat-sahabatnya, ia pun memiliki keyakinan penuh untuk mengubah sejarah Jepang menjadi lebih baik lagi.

Kondisi pelik di zaman Edo tidak hanya lantaran masalah kesahatan. Saat itu suasana Jepang berada dalam kondisi pada masa kekuasaan Keshogunan Tokugawa yang diambang kehancuran yang ditandai dengan Restorasi Meiji.

Menonton dorama ini, kita seakan diajak untuk kembali ke masa silam yaitu di zaman Edo. Apalagi diiringan dengan instrument musik Jepang yang sangat indah sehingga kita begitu menikmati setiap peristiwa yang terjadi di zaman tersebut.

Saki: “Sensei… Look at sunset.. Very beautiful right?”

Kadang, tulang saya terasa ngilu ketika menyaksikan operasi yang dilakukan Minakata Jin dan sahabatnya dengan hanya mengandalkan peralatan operasi seadanya. Terlebih ketika scene Nokaze-san yang harus dicaesarr tanpa mengggunakan anesthesia. Bagi saya itu sangat dramatis dan membuat saya tertarik dengan dunia kedokteran. Kadang saya berpikir, apakah di dunia ini masih banyak dokter yang memiliki visi dan semangat seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan sahabat-sahabatnya.

Lega sekali ketika operasi berjalan dengan sukses. Terlihat dengan jelas raut wajah senang memancar dari wajah Minakata Jin dan sahabat-sahabatnya. Saya kagum dengan dokter. Mereka bisa menolong orang lain dengan sepenuh hati kendati dalam perasaan tertekan sekalipun. Saya berharap, saya sangat berharap masih ada dokter-dokter seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan Saburi-san. Rasanya indah sekali jika dunia ini diisi oleh orang-orang baik dan senantiasa berbuat baik.

***

Sebuah drama tidak lengkap rasanya jika tidak ada kisah cinta di dalamnya. Drama Minakata Jin juga mengisahkan ketulusan hati Minakata Jin terhadap kekasihnya Miki yang terbaring koma di masa depan. Namun di zaman Edo; tempat ia berada sekarang, ada seorang gadis yang begitu tulusnya mencintai Minakata Jin yaitu Saki-sama. Namun, Saki-sama tidak mengungkapkan apa yang ia rasa. Ia hanya memendam perasaan tersebut dalam-dalam. Saki-sama mengetahui secara persis bahwa cinta Minakata Jin terhadap Miki sangatlah besar. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan cinta terbaik yang ia miliki untuk kebahagiaan Minakata Jin. Bukankah cinta itu tanpa syarat? Maka berkorbanlah untuk yang kita cintai, karena prinsip cinta itu memberi, bukan diberi.

Di akhir cerita, Minakata Jin harus kembali ke zamannya di masa depan. Padahal saat itu adalah saat-saat tersulit. Saki-sama nyaris tidak bisa diselamatkan akibat bakteri yang terus menggrogoti lengannya. Tapi beruntung, Kyotaro-san menemukan botol obat disinfektan yang dibawa oleh Minakata Jin ketika pertama kali terlempar dari masa depan ke zaman Edo.

Dokter Minakata Jin pun sadarkan diri. Ia terbangun dari tidurnya yang panjang. Betapa kagetnya, ia melihat peralatan-peralatan kedokteran yang canggih dan orang-orang yang dikenalnya di masa depan. Ya, dokter Minakata Jin kembali ke masa depan. Lantas bagaimana dengan kondisi kesehatan Saki-sama di zaman Edo? Rasa penasaran yang membuncah dihati Minakata Jin membuat ia mencari literasi tentang sejarah kedokteran Jepang. Ia pun menemukan literasi yang menuliskan bahwa kedokteran di zaman Edo berkembang berkat semangat Njinyo-do yang tidak lain sahabat-sahabat dari Minakata Jin. Air mata taksanggup lagi ia bendung. Ia pun menangis bahagia karena mengetahui sejarah Jepang terutama di dunia kedokteran berkembang pesat.

Never ending fighting!

Dalam suasana hati yang bercampur baur; sedih, senang, dan gelisah ia pun berkunjung ke sebuah rumah Tachibana di kota Tokyo yang dulu menjadi tempat tinggal Saki-sama dan keluarga Tachibana. Dan yang mengagetkan, ternyata Miki-san, kekasihnya merupakan penerus keluarga Tachibana.

Recommendation:

Untuk siapa saja yang membaca tulisan saya ini, saya sangat merekomendasikan kalian semua untuk menonton drama ini. Drama ini menyentuh sisi kemanusiaan kita; mengajarkan kita tentang filosofis kehidupan, dan kita bisa belajar banyak dari sikap orang Jepang yang sangat bersemangat dalam tolong menolong satu sama lainnya. Jujur saya katakan, saya meneteskan air mata berkali-kali saat menonton drama ini.

Drama ini layak ditonton oleh semua kalangan, terutama mahasiswa kedokteran atau orang-orang yang bergerak di bidang kesahatan. Bahwa pengabdian kalian sebagai seorang tenaga medis itu adalah sebuah kehormatan. Bukan materi yang dicari, tapi investasi jangka panjang. Yakinlah, kebaikan yang saat ini kita lakukan akan terus kita rasakan manfaatnya. Selamat menikmati.
Visit the site: http://www.tbs.co.jp/jin-final/

Ganbarimashou, Yume-san!

Who actually “The Woman in Black?”

Sebetulnya saya belum membaca novel “The Woman In Black”. Saya baru menonton filmnya saja. Film bergenre ghotic/horor ini diperankan oleh Daniel Radclieffe sebagai Arthur Kipps. Banyak tulisan yang telah mengulas film ini. Namun, pada tulisan ini saya hanya menfokuskan untuk mencari tahu siapa sebenarnya the women in black itu?

the-woman-in-black-poster downloaded by google

Akhirnya saya menonton ulang film The Woman in Black untuk kedua kalinya. Saya masih cukup penasaran. Beberapa tulisan (dalam versi bahasa Indonesia) yang mengulas film ini belum ada yang secara detail menjelaskan siapa sebenarnya sosok the woman in black itu.

Dengan seksama, saya coba perhatikan setiap detil dari narasi film ini. Yap, setelah beberapa detik memeras otak, akhirnya saya berkesimpulan bahwa the women in black itu adalah Jennet. Mengapa?

Menurut pengamatan saya, ini sungguh sangat masuk akal. Anda tentu mengetahuinya melalui petunjuk ataupun kode yang ditemukan oleh Kipps dalam rumah Eel Marsh House. Petunjuk awal berkaitan misteri ini dapat diketahui dari beberapa surat yang ditulis Jennet untuk Alice. Inti surat itu adalah bahwa Jennet sangat iri, cemburu, marah, kesal, atau bahkan kecewa karena anaknya Nathaniel diadobsi (dianggap anak) oleh saudara perempuannya Alice.

Selanjutnya Kipps menemukan foto keluarga Alice, suaminya, dan Nathaniel di depan rumah. Jika kita jeli, di foto itu juga terlihat Jennet mengintip dari balik jendela. Persis. Ia mengenakan gaun berwarna hitam. Entahlah, apa yang membuatnya seakan begitu benci kepada Alice. Mungkin karena Alice sudah merebut perhatian Nathaniel darinya. Lebih-lebih sejak insiden yang merenggut nyawa Nathaniel.

Nathaniel tenggelam dalam rawa di sekitar rumahnya saat terjadinya pasang naik. Alice berusaha untuk menyelamatkan Nathaniel. Namun apa daya, ia tidak berhasil menyelamatkan Nathaniel.

Jennet menganggap kematian Nathaniel karena keegoisan dan kelalaian Alice. Dalam suratnya untuk Alice, ia menulis , “Kau egois. Kau hanya menyelamatkan dirimu sendiri!”

Sejak kematian Nathaniel, warga desa sempat tidak mengetahui dimana dan bagaimana mayat Nathaniel. Melalui Kipps, Jennet memberikan kode melalui pesan rahasia pada dinding kamar di rumah Eel Marsh House. “You Could Save Him”. Sebagai pengacara yang cerdas, Kipps mampu membaca pesan rahasia yang disampaikan Jennet.

Matanya tertuju pada rawa di depan rumah Eel Marsh House yang tertancap salib. Kipps bersama Daily (temannya yang anti-mistis) mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi di dalam rawa itu. Yap benar sekali. Kipps menemukan mayat Nathaniel masih terbenam di dalam rawa di sekitar rumah itu.

Oh ya, ketika Kipps keluar rumah di saat hujan dan petir (karena dihantui), ia kembali melihat sosok the woman in black. Kali ini wanita bergaun hitam itu tidak sendirian. Ia bersama anak-anak penduduk desa yang telah menjadi korbannya.

Lantas kemudian kita akan bertanya-tanya, mengapa harus anak-anak yang menjadi korbannya? Menurut hemat saya, hal tersebut tidak lain tidak bukan, karena obesesi Jennet yang ingin memiliki Nathaniel seutuhnya–tidak terpenuhi. Dan pada akhirnya melampiaskan dendamnya dengan menghisap setiap jiwa anak-anak yang ia kehendaki dengan pertanda alunan musik bernada kelu dan kemudian ia menampakkan diri. Dan hal yang sama juga ia lakukan kepada putra Kipps yaitu Joseph di stasiun kereta api.

Namun yang pertanyaan di benak saya, mengapa si the woman in black alias Jennet melakukan hal yang sama pada Joseph, anaknya Kipss? Padahal Kipps sudah membantunya untuk menemukan mayat Nathaniel. Entahlah. Sepertinya kita memang harus membaca novelnya. (Menurut sumber yang saya baca, ini salah satu novel terbaik di UK. Pernah dikaryakan juga dalam bentuk teater).

Sekian. Terima kasih.

*saya tidak punya alasan mengapa bikin note ini selain saya terobsesi menjadi Detektif, hoho ^^d

Menurut saya, film ini ratingnya di bawah Insidious untuk kategory film horor. Tapi lumayan untuk alternatif hiburan keluarga. haha =)

PS: Menonton film ini kita tidak akan bisa terlepas dari bayang-bayang sosok Harry Potter. Kadang saya berpikir, bagaimana mungkin Arthur (Harry Poter) bisa sebodoh itu dalam film itu. In the case, saat mati lampu, Kipps (Harry) susah-susah menyalakan lilin. Padahal tinggal berucap: Lumos! Atau ketika pintu susah dibuka, tinggal baca mantra Alohomora! Ketika hantu itu mendekat, ia bisa menggunakan mantra Crucio! Tapi begitulah, saya masih terjebak dalam euforia Harry Potter.

tulisan ini sangat sotoy dan saya tidak tahu mengapa saya bisa sesotoy ini.

Di Balik Kesuksesan Film Tjoet Nja Dhien

Film Njoet Nja’ Dhien yang diproduksi oleh Kanta Film pada tahun 1988 menyabet delapan piala citra. Salah satunya yaitu pemeran wanita terbaik yang diperankan oleh Christine Hakim. Lantas, apa alasan dari juri piala citra menganugrahkan Christine Hakim sebagai pemeran wanita terbaik dalam film Njoet Nja’ Dhien tersebut?

Pada tulisan ini, penulis akan memaparkan mengapa Christine Hakim bisa menjadi pemeran wanita terbaik dalam film Njoet Nja’ Dhien. Analisis yang digunakan penulis berdasarkan perhatian penulis setelah menyaksikan film yang hingga saat ini masih populer di kalangan masyarakat Indonesia. Film tersebut merupakan film kolosal yang diangkat dari kisah seorang pahlawan wanita yang berasal dari Serambi Mekah, Aceh.

Tentunya, siapa yang tidak mengenal sosok wanita tersebut. Namanya sangat menyejarah dalam perjuangan masyarakat Indonesia dalam mengusir penjajah Belanda, terutama bagi masyarakat aceh.Jika menelisik sejarah, penjajah Belanda atas Indonesia berlangsung selama kurun waktu 350 tahun. Itu merupakan waktu yang terlama dibandingkan pendudukan pada masa Jepang atau masa Portugis. Lantas sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa mesti mengangkat napak tilas perjuangan Njoet Nja’ Dhien? Bukankah masih banyak tokoh pejuang wanita yang juga turut berperan andil dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Sebut saja Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan sebagainya. Namun sutradara dalam film ini nampaknya teliti untuk membuat sebuah film yang disukai oleh peminat film Indonesia.

Sutradara film ini tidak main-main untuk menentukan tema film dan siapa yang akan memainkan tokoh-tokoh dalam film ini.Aceh, diakui Belanda sebagai daerah yang cukup sulit untuk ditakluki. Pasalnya, masyarakat Aceh merupakan pejuang yang tangguh dan memiliki strategi perang yang rapi. Oleh sebab itu, dalam sejarah ditulis bagaimana kerepotannya Belanda untuk merebut daerah-daerah yang ada di Aceh. Salah satu pejuang yang tangguh yang ada di Aceh yaitu Teuku Umar. Beliau merupakan panglima perang Aceh yang memiliki prajurit perang yang handal dan tangguh. Selain itu, Teuku Umar dikenal sebagai pemimpin yang cerdik dalam mengatur strategi perang. Banyak serdadu-serdadu Belanda yang tewas karena pukulan pasukan Teuku Umar.

Pihak Belanda pun dibuat geram oleh Teuku Umar beserta pasukannya. Sehingga, Belanda dan sekutunya menyusun siasat bagaimana membunuh Teuku Umar dengan cara dan waktu yang tidak terduga. Saat itu, Teuku Umar dan pasukannya tengah bergerilya untuk menyusuri hutan untuk memerangi Belanda dan pengkhianat-pengkhianat bangsa. Namun, Belanda pun telah bersiap siaga untuk meluncurkan timah panas dan meluncur tepat ke dada Teuku Umar. Dengan beberapa kali tembakan, akhirnya Teuku Umar pun menjadi sasaran tembakan dan wafat sebagai syuhada dalam perang.

Kematian Teuku Umar sontan melucutkan semangat rakyat Aceh untuk mengusir Belanda dari tanah Aceh. Njoet Nja’ Dhien. Seorang wanita yang senatiasa mendampingi Teuku Umar dalam perjuangan mengusir kolonial Belanda. Setelah kepergian Teuku Umar, peran sebagai pemimpin pun digantikan oleh Njoet Nja’ Dhien.

Kisah perjuangan Teuku Umar dan Njoet Nja’ Dhien sangat menginspirasi bagi masyarakat Indonesia yang tidak melupakan sejarah. Maka pantaslah, Eros Djarot sebagai sutradara yang bertangan dingin menangkap sinyal yang bagus.

Jika kisah perjuangan Teuku Umar dan Njoet Nja’ Dhien didokumentasikan berupa film, tentu akan mendapatkan sambutan yang baik oleh masyarakat Indonesia. Namun, untuk melahirkan sebuah karya fenomenal harus didukung oleh kru yang mumpuni dalam film. Mulai dari produser, penata artistik, sinamatografi, dan sebagainya. Salah satu yang paling mendukung sebuah film dikatakan bagus atau tidak yaitu terletak siapa yang memainkan tokoh Njoet Nja’ Dhien dan Teuku Umar.

Sebagai seorang sutradara, kemampuan Eros Djarot tidak usah diragukan lagi. Karya-karyanya sudah diakui oleh banyak orang. Sama halnya dengan kemampuannya untuk menentukan siapa aktor dan aktris yang tepat untuk berperan dalam film Njoet Nja’ Dhien yang diproduksi oleh Kanta Film ini. Untuk tokoh Teuku Umar, Eros memercayai Slamat Rahardjo untuk memainkannya. Sementara itu, untuk tokoh utama yaitu Njoet Nja’ Dhien diperankan oleh seorang aktris yang hingga saat ini masih eksis di dunia perfilman Indonesia.

Dialah Christine Hakim yang sangat piawai berakting dalam film-film Indonesia. Bisa dikatakan, Christine Hakim merupakan ikon dalam dunia perfilman Indonesia. Namanya melambung sejak bermain dalam film ini. Maka tidak heran jika Christine Hakim mendapatkan banyak penghargaan dalam berbagai festival film yang ada di Indonesia dan di luar negeri. Salah satu prestasinya yang membanggakan Indonesia yaitu meraih penghargaan International Federation of Film Producers Association Award, yang berlangsung di Gold Coast, Queensland, Australia. Dan terakhir terlibat bersama Julia Roberts di film Eat Pray Love.

Selanjutnya, penulis akan membahas bagaimana kepiawaian Christine Hakim dalam film Njoet Nja’ Dhien. Menurut penulis, salah satu alasan mendasar mengapa Eros Djarot memilih Christine Hakim untuk memainkan peran Njoet Nja’ Dhien karena kemiripan fisiknya dengan tokoh Njoet Nja’ Dhien sebenarnya.

Kendati demikian, jika kita lihat secara detil dari scene-scene dalam di film, kita sebagai penonton mungkin akan berkata, Christine Hakim dan Njoet Nja’ Dhien tidak memiliki wajah yang mirip. Namun, jika kita cermati dalam scene saat Christine Hakim menggulung rambutnya seperti wanita-wanita Aceh, wajah Christine Hakim hampir tidak bisa kita bedakan dengan wajah Njoet Nja’ Dhien yang asli.

Pada dasarnya, penonton Indonesia mengatahui bagaimana ciri morfologis Njoet Nja’ Dhien hanya dari buku pelajaran Sejarah di bangku pendidikan. Hal tersebut bisa menguntungkan Eros Djarot untuk mengelabui penonton dengan menampilkan sosok Njoet Nja’ Dhien melalui tubuh Christine Hakim. Saya kira, penonton Indonesia juga tidak akan berpusing-pusing memikirkan kemiripan Christine Hakim dan Njoet Nja’ Dhien. Namun, penonton Indonesia jauh lebih memperhatikan bagaiman kepiawaian Christine Hakim dalam film tersebut.

Dari segi karakter, Christine Hakim rasanya pas didaulat sebagai pengganti Njoet Nja’ Dhien. Penulis tidak mengetahui persis bagaimana proses casting film ini sehingga Eros Djarot meminang Christine Hakim sehingga menjadi pemeran wanita terbaik dalam ajang penghargaan piala citra. Pasalnya, film ini digarap pada tahun 1988. Penulis akui, penulis menemukan kesulitan untuk mencari referensi yang banyak tentang detil film ini. Namun berdasarkan pengamatan penulis saat menonton film ini, semoga menjadi analisis yang cukup objektif.

Menurut penulis, Christine Hakim bermain sangat total dalam film Njoet Nja’ Dhien. Entahlah, apakah karena kesamaan karakter asli Christine Hakim dengan Njoet Nja’ Dhien atau seperti apa. Namun yang jelas, Christine Hakim sangat menghayati perannya sebagai Njoet Nja’ Dhien sesungguhnya. Hal ini terlihat dengan sangat dari penggunaan dialek Aceh yang cukup kental keluar dari mulut Christine Hakim. Nampaknya Christine Hakim sebelum proses syuting telah belajar bahasa Acehdan juga idealeknya. Bagi penonton yang tidak mengetahui asal daerah Christine Hakim tentu akan akan beranggapan bahwa dia memang betul berasal dari Aceh.

Namun kelemahan dalam film ini dari segi bahasa adalah, ada beberapa scene yang menggunakan bahasa Aceh tapi terjemahan dalam bahasa Indonesia tidak ditampilkan. Hal ini membuat penonton tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Christine Hakim dan beberapa actor lainnya. Namun secara umum, menurut penulis Christine Hakim sudah mahir berbahasa Aceh dalam film ini.

Dari segi penokohan, Christine Hakim berperan sangat memuaskan. Ia mampu menggambarkan bagaimana watak perempuan aceh yang tegar, kuat, dan memiliki komitmen yang tinggi. Sebagai pemimpin perang, ia pun mampu mempertegas kharismatik kepemimpinannya kepada rakyatnya melalui penggunaan bahasa yang tegas dan bijaksana. Njoet Nja’ Dhien memang tegas, namun ia adalah seorang pemimpin yang mampu merasa dengan hati, mencermati situasi dengan intuisi, dan berpikir jauh ke depan. Rasanya, sikap kepemimpinan ini tidak bisa dibuat-buat. Karena jika dibuat-buat, akan terlihat aneh dan ganjil. Tapi beruntung, melalui karakter yang kuat dari Christine Hakim, sosok Njoet Nja’ Dhien pun bisa hadir ke tengah-tengah penonton Indonesia yang tidak mengenal dengan jelas siapa itu Njoet Nja’ Dhien sesungguhnya.

Tidak hanya bicara tentang ketegasan, kepemimpinan, dan kebijaksanaaa Njoet Nja’ Dhien. Christine Hakim juga mampu mengejahwantahkan dengan baik bagaimana kondisi pelik yang dihadapi oleh Njoet Nja’ Dhien saat tubuhnya sudah papah, wajahnya pias, dan raut mukanya menandakan keketiran hatinya. Semua itu dapat terlukis dengan baik melalui ekspresi wajah yang ditampilkan Christine Hakim dalam film ini. Sebagai penonton yang menyaksikan film 1988 pada zaman ini, penulis memberikan apresiasi yang penuh kepada Christine Hakim karena telah bermain dengan sangat baik dalam film Njoet Nja’ Dhien.

Oleh karena itu, tidak heran jika film Njoet Nja’ Dhien mendapatkan delapan piala citra sekaligus. Terutama seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, yaitu film ini mengantarkan Christine Hakim sebagai pemeran wanita terbaik.Penulis akui, Njoet Nja’ Dhien menyejarah bagi bangsa Indonesia. Hal tersebut dikarenakan perjuangannya yang luar biasa dalam mengusir kolonial Belanda dari bumi pertiwi, khususnya Aceh. Namun, jika boleh penulis katakan, menyejarahnya Njoet Nja’ Dhien juga diperkuat dengan peran Christine Hakim sebagai seorang aktris. Penulis berani beragumen, pada tahun 1988 itu, tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui bagaimana sejarah perjuangan Njoet Nja’ Dhien. Namun, setelah Eros Djarot menyuguhkan film dengan judul yang sama, penulis bisa memastikan sosok Njoet Nja’ Dhien semakin dikenang oleh hati masyarakat Indonesia.

Menurut penulis, film ini bagus terutama dari segi tokohnya. Mudah-mudahan ke depannya, dunia perfilman Indonesia lebih disemarakkan oleh tontonan napak tilas perjuangan pahlawan Indonesia yang telah berjuang merebut kemerdekaan.

Hujan Telah Turun

Source: http://static.tumblr.com/
Source: http://static.tumblr.com/

hujan telah turun
namun takmampu padamkan
kobaran api di hati
berkoar-koar semakin besar

Hujan telah turun
Namun takkuasa basahi jiwa yang kering
Semakin kering,
Tambah gersang

hujan telah turun
namun tak bisa tenangkan
pikiran,
berkelabat tak menentu
semraut semakin kusut

hujan telah turun
namun rintiknya tak
sentuh bumi

Kapan hujan turun?

Inpirasi: saat hujan mengguyur Jatinangor (23/01/09) pukul 15:10 WIB

Perbandingan Novel Popular Tahun 70, 80, 90, dan 2000an

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita”.
Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut. Novel, dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.

Dalam karya sastra Indonesia, novel berdasarkan karakternya dibedakan menjadi dua, yaitu novel serius dan novel popular. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan antara novel popular dan novel serius? Apakah novel serius bisa dikatakan lebih baik dibandingkan novel popular? Sejatinya, analisis sastra tidak pernah memungkiri bahwa novel serius lebih baik dibandingkan novel popular. Hal ini dikarenakan novel serius dinilai memiliki unsur sastra yang kompleks dan lebih berkarakter. Sedangkan novel yang dikatakan popular adalah, novel yang diminati banyak orang saat pada zamannya dan dianggap sebagai kebudayaan bersama. Akan tetapi, argumen tersebut pada akhirnya bisa ditepiskan karena novel serius tidak melulu memiliki kualitas yang baik. Banyak novel popular yang justru lebih baik dibandingkan novel serius.

Seperti juga novel serius, novel populer pun ada yang disajikan secara baik, ada pula yang tidak. Ada novel populer yang bagus, ada pula yang buruk. Meskipun demikian, menurut para pakar kebudayaan populer (popular culture), novel populer dan semua karya kebudayaan populer, berangkat dari niat komersial. Tujuan utamanya adalah menghasilkan sesuatu yang bersifat materi. Mengingat tujuan utamanya komersial, maka kar-ya-karya populer ditujukan untuk berbagai lapisan masyarakat. Guna mencapai sasaran itu, unsur hiburan menduduki tempat yang sangat penting.

Akibat unsur hiburan begitu ditonjolkan, maka unsur lainnya sering diabaikan. Penekanan yang sedemikian rupa terhadap unsur hiburan inilah yang kemudian banyak menjerumuskan pengarangnya untuk mengobrol hiburan murahan, bahkan cenderung rendah dan mengabaikan norma-norma kesusilaan. Novel-novel yang mengeksploitasi pornografi misalnya, termasuk ke dalam jenis novel populer yang buruk yang menampilan hiburan dengan selera rendah.

Apakah novel-novel karya Mira W., Marga T., Ike Soepomo, V. Lestari -sekadar menyebut beberapa nama- termasuk jenis novel seperti itu? Seperti telah disebutkan, novel populer ada yang baik ada pula yang buruk. Karya-karya para pengarang di atas, dapatlah dikatakan sebagai novel populer yang baik. Lalu atas dasar apa novel itu disebut populer dan mengapa tidak dimasukkan ke dalam novel serius?

Ciri umum yang paling mudah kita tangkap dalam novel populer adalah bentuk covernya yang sering menonjolkan warna cerah, ilustrasi agak ramai, gambar wanita de-ngan tetesan air mata atau gambar pemuda yang sedang memeluk kekasihnya. Indikator luar ini tentu saja belum dapat sepenuhnya untuk menentukan sebuah novel populer atau tidak. Oleh karena itu, perlu kita mencermati pula indikator dalamnya yang menyangkut unsur-unsur intrinsik novel yang bersangkutan.

Dari segi penokohan, novel populer umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang tidak jelas identitas tradisi-kulturalnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nama tokohnya, seperti Fredy, Sisca, Frans, Boy, Vera, Tommy atau Yance. Mengingat nama-nama itu tidak berakar pada kultur daerah, maka identitas sebagian besar tokohnya ditandai dengan latar perkotaan. Adapun tema-tema yang diangkat umumnya menyangkut percintaan para remaja yang masih bersekolah atau mahasiswa. Jika tokoh-tokohnya seperti itu, maka konflik yang muncul di antara tokoh itu berkisar pada status sosial orang tua masing-masing, perebutan pacar, atau persoalan-persoalan remeh-temeh di sekitar usia pubertas.

Dari segi latar tempat dan latar peristiwa, novel populer cenderung menampilkan latar kontemporer dengan berbagai peristiwa yang aktual. Karena mengejar aktualitas dan kontemporer itu, maka latar dalam novel-novel populer akan terus berubah sesuai dengan zamannya. Cintaku di Kampus Biru (dunia kampus), Ali Topan Anak Jalanan (dunia SMA) atau Lupus (dunia SMP/SMA), merupakan contoh latar novel populer yang berubah sesuai dengan kondisi dan suasana zamannya. Sebelum itu, novel-novel tahun 1970-an karya Motinggo Busye, Ali Shahab, Abdullah Harahap, menampilkan latar kehi-dupan rumah tangga yang berantakan.

Ciri lain yang cukup menonjol dalam sastra populer adalah tampilnya tokoh-tokoh yang stereotipe. Tokoh ibu tiri, misalnya, akan tampil dengan sifat-sifatnya yang pilih kasih, kejam, judes, munafik, dan sifat buruk lainnya. Tokoh anak-anak remaja, tampil dengan hura-huranya, pesta, rebutan pacar, darmawisata, dan kebiasaan-kebiasaan para remaja, termasuk mungkin juga dengan tawurannya. Dalam kenyataannya, tidak semua ibu tiri berperilaku buruk yang seperti itu. Demikian juga, tidak semua remaja mempu-nyai kebiasaan demikian. Akibatnya, tidak ada kemungkinan lain bagi pembaca untuk memperoleh gambaran yang khas, unik, dan berbeda dengan kelaziman umum.

Tipe tokoh yang stereotipe itu akan dihadapkan dengan problem yang sederhana, tanpa pendalaman. Tujuannya memang agar pembaca tidak perlu berkerut dahi, berpikir kritis, karena ia lebih menekankan pada unsur hiburannya. Bahkan, tidak jarang novel populer menyajikan mimpi-mimpi indah dan semu yang menggoda perasaan pembaca.

Dalam hal itu, perasaan pembaca sengaja dimanfaatkan dan dieksploitasi, agar pembaca seolah-olah menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang digambarkannya. Itulah sebabnya, pemihakan pengarang kepada tokoh-tokoh yang digambarkannya, sering kali begitu jelas. Pembaca tidak diberi peluang untuk memperoleh penafsiran lain, karena memang tidak ada kemungkinan munculnya ambiguitas atau tafsir ganda. Makna dan amanat yang ditampilkannya bersifat tunggal. Itulah amanat yang banyak terdapat dalam novel populer. Dengan begitu, akhir cerita tidaklah terlalu sulit untuk ditebak, karena memang sengaja dibuat demikian.

Mengingat sastra populer lebih mementingkan kesenangan, kesederhanaan, pe-nyelesaian persoalan yang gampang dan selalu tuntas, dan tidak merangsang pembacanya untuk berpikir, maka dikatakan pula bahwa sastra populer sebagai bacaan untuk mereka yang tidak memiliki pengetahuan; bacaan untuk pembantu rumah tangga, anak-anak atau remaja, dan bukan untuk kaum terpelajar.

Pembahasan
Novel popular hingga saat ini masih menjadi produk kesenangan—masyarakat. Disamping sifatnya yang menghibur (entertainment), novel popular sering mengangakat tema yang memang menjadi perbincangan khalayak. Seperti percintaan anak muda, rumah tangga, dan karier. Maka tak heran jika ternyata banyak masyarakat Indonesia lebih menggemari novel popular dibandingkan novel serius.

Dalam perkembangannya, novel popular memiliki karakter yang berbeda dari masa ke masa. Berdasarkan masa dan tahun terbitnya, para apresiator sastra menggolongkan novel popular 70, 80, 90, dan 2000an. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan novel-novel tersebut. Apakah karena tahun terbitnya saja, atau memang memiliki perbedaan yang krusial? Sebenarnya, hal yang membedakan novel-novel tersebut terletak dari segi realitas dan struktur novel.

Karmila, Cintaku di Kampus Biru, Terminal Cinta Terakhir, Ali Topan Anak Jalanan, Lupus, Balada Si Roy, Jejak-jejak Jejaka, Peluang Kedua, Pintu Terlarang, Istana Kedua. Novel-novel tersebut digolongkan ke dalam novel popular Indonesia.

Novel tahun 70an

Novel di atas yang termasuk tahun 70an adalah novel Karmila, Cintaku di Kampus Biru, Terminal Cinta Terakhir, Ali Topan Anak Jalanan. Dalam novel Karmila, kisah yang diangkat adalah kehidupan seorang perempuan yang bernama Karmila. Dalam novel ini, tema yang dibahas adalah realitas kehidupan kota metropolitan (dalam hal ini Jakarta). Layaknya sebuah kota metropolitan, masalah yang sering timbul adalah masalah pergaulan ramaja. Karmila—seorang mahasiswi kedokteran yang dinodai oleh lelaki yang tak bertanggung jawab ketika pesta ulang tahun temannya. Selain itu, konflik yang mencuat dalam novel ini adalah masalah percintaan anak manusia. Karmila merasa kecewa karena ia harus meninggalakan kisah percintaannya bersama lelaki yang selama ini ia cintai.

Selain tema percintaan, novel tersebut menggambarkan kepada kita (pembaca) bahwa di kota metropolitan status sosial adalah hal yang cukup krusial. Ini terlihat dari keinginan Karmila (tokoh utama) yang sangat memimpikan menjadi seorang dokter.

Untuk gaya bahasa, novel Karmila menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Sehingga pembaca dengan mudah memahami pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Untuk endingnya, penulis menggunakan ending tertutup yang tidak memungkinkan pembaca untuk mengintrepretasikan isi cerita secara keseluruhan.

Jika berbicara realitas, novel Karmila menonjolkan konflik anak muda kota metropolitan yang diidentik dengan pergaulan bebas, seks bebas, dan tindakan amoral lainnya.

Selain novel Karmila, hal senada juga terdapat pada novel Cintaku di Kampus Biru. Dalam novel ini, tokoh utamanya adalah seorang mahasiswa yang bernama Anton. Tokoh Anton sangat menonjol dalam novel ini. Ia adalah seorang pemuda tampan, pintar, dikagumi gadis-gadis, dan bisa dikatakan nyaris sempurna. Novel ini berlatar kampus dengan penuh dinamika sosial. Lagi-lagi, masalah percintaan menjadi bagian yang paling dominan dalam novel ini.

Jika kita berbicara masalah realitas dalam novel Cintaku di Kampus Biru, realitas yang menjadi perhatian adalah masalah strata sosial. Seperti kutipan berikut ini, Anton yang berlatar belakang keluarga kurang mampu dicela oleh keluarga Erika ketika ia berkunjung ke sana. Selebihnya, tema sentral yang menwarnai kisah ini adalah kisah percintaan di kampus biru.

Selanjutnya, pada novel Terminal Cinta Terakhir, latar ceritanya di kota Jakarta. Akan tetapi, dalam novel tersebut terdapat sentuhan realitas tentang budaya Batak, yang menjadi pembeda dari kedua novel sebelumnya.

Sedangkan dalam novel Ali Topan Anak Jalanan, tokoh perfeksionis melekat pada tokoh utamanya. Ali Topan digambarkan sebagai anak jalanan yang tampan dengan tinggi 172 cm, kurus, berwarna kulit sawo matang, berasal dari keluarga berpunya, tetapi tidak bahagia dirumah, sehingga ia melampiaskannya dengan cara ngebut dengan sepeda motornya di jalanan, sering ponteng, selalu memakai celana jeans ke sekolah, tetapi tetap bisa menjadi juara kelas dan meraih nilai-nilai tertinggi. Untuk masalah latar, lagi-lagi berlatar di kota Jakarta. Seperti pada umumnya, masalah utama yang kerap kali dihadapi oleh remaja metropolitan adalah masalah Broken Heart, percintaan, dan pergaulan bebas anak remaja.

Novel Tahun 80an

Berbeda dengan novel 70an yang tokoh-tokohnya kebanyakan berusia cukup dewasa, yaitu rentang usia 17-22 tahun (berstatus mahasiswa). Pada novel tahun 80an acapkali mengangakat kisah hidup remaja SMP dan SMA. Seperti yang kita ketahui, masa SMP atau SMA adalah fase peralihan seseorang dari remaja menuju dewasa. Lalu apa realitas yang terjadi pada masa itu? Realitas yang terjadi adalah masa remaja diidentik dengan pergaulan huru-hara, kesenangan bermain, dan cinta monyet. Sebagai contoh, novel Lupus (Makhluk Manis dalam Bis) bercerita tentang pertemanan sekelompok anak SMA yang penuh dengan cerita unik dan lucu. Dalam novel Lupus, latar tempatnya yaitu di Jakarta. Layaknya remaja metropolitan, kesenangan mereka adalah menggoda anak perempuan, main ke mall, dan keluyuran di jalan. Karakter remaja sangat melekat pada novel Lupus ini.

Jika dibandingkan, tokoh-tokoh dalam novel tahun 70an dan 80an memang berusia muda. Akan tetapi yang membedakannya adalah, tokoh dalam novel tahun 70an lebih dewasa secara umur (mahasiswa) dibandingkan tokoh dalam novel tahun 80an (remaja).
Novel Tahun 90an.

Lalu, bagaimana pada novel tahun 90an? Adakah perbedaan yang cukup berarti dengan novel pada tahun sebelumnya? Dari segi tema, bisa dikatakan tidak jau berbeda. Yaitu masih tentang cinta. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian awal tulisan ini, tema cinta memang sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari novel popular. Karena itulah yang menjadi nilai komersil dan menjadi daya tarik tersendiri untuk pembaca. Tetapi, perbedaan yang cukup berarti pada novel tahun 90an dibandingkan novel 70 dan 80an terletak dari gaya penyampaian cerita, segmentasi pasar, dan bahasa tentunya. Jika pada novel 70 dan 80an tokoh utamanya rata-rata; orang-orang yang terjerat pada masalah sosial remaja, novel tahun 90an lebih menitikberatkan pada masalah pencarian jati diri, karier, dan percintaan yang lebih bersifat serius. Segmentasinya jelas, yaitu remaja yang minimal sudah paham apa itu cinta, perasaan, kasih sayang, dan pengorbanan. Bisa dikatakan novel tahon 90an lebih serius dari segi cerita dibandingkan novel 70 dan 80an.

Sebagai contoh, dalam novel Balada Si Roy, digambarkan sosok tokoh utama yang tidak terlalu sempurna tapi memiliki permasalahan yang cukup besar dalam hidupnya. Roy, seorang pemuda yang senang melakukan petualangan untuk mencari jati dirinya. Proses inilah yang dinamakan proses pematangan karakter seseorang menjadi manusia yang lebih dewasa. Selain dari segi cerita, gaya bahasa pada novel 90an ini lebih berkarakter. Hal ini dibuktikan dari tuturan-tuturan si tokoh dalam novel lebih serius dan baku.

Hal menarik dalam novel 90an adalah pesan moral yang disampaikan pengarang kepada pembaca. Biasanya, pada novel-novel tahun 90an, penulis lebih menekankan pada pesan/amanat. “Bahwasanya dalam hidup ini, masalah dan cobaan akan selalu mewarnai hidup kita. Hanya ada dua pilihan untuk mengatasi semua masalah itu. Pertama, hadapi atau mundur sebagai seorang pecundang. Seorang yang berjiwa kerdil akan mundur bahkan lari dari permasalahan yang terjadi. Akan tetapi, seorang pemenang akan menghadapi itu semua dan menikmati hari-harinya sebagai seorang manusia yang tangguh.” (Jejak-jejak Jejaka, Zarra Zettira ZR).

Novel Tahun 2000an

Menurut saya pribadi, novel tahun 2000an lebih beragam dari segi tema dibandingkan sebelumnya. Tema yang dibahas tidak hanya seputar kehidupan percintaan saja. Melainkan juga mengangkat kondisi psikologis seseorang dan realitas sosial-kemasyarakatan. Jadi bisa dikatakan, novel tahun 2000an lebih memiliki banyak warna. Selain itu, tokoh-tokoh pada novel 2000an tidak melulu remaja. Banyak oarang-orang dewasa (sudah menikah) dijadikan sebagai tokoh. Permasalahan yang acap kali dibahas adalah masalah rumah tangga.

Pada novel Pintu Terlarang bercerita tentang seorang anak kecil yang kerap kali mendapatkan siksaan dari orang tuanya. Selanjutnya, ada pula seorang pematung yang bernama Gambir. Dalam novel ini, unsur yang paling menonjol adalah konflik batin. Banyak teka-teki yang harus dipecahkan pembaca ketika membaca novel ini. Disamping ide ceritanya yang berbeda, keunikan novel tahun 2000an adalah gaya bahasa yang lebih majemuk. Sering menggunakan bahasa metafora, ragam bahasa baku, dan enak untuk dibaca.

Seperti yang saya katakan pada di atas, tokoh-tokoh dalam novel 2000an lebih banyak yang berusia dewasa. novel Istana Kedua, tokoh Arini adalah seorang istri yang harus merelakan suaminya Pras poligami dengan Mei Rose. Tema yang diangkat dalam novel ini adalah masalah poligami. Dan realitasnya, ketika itu, kasus poligami menjadi topik pembicaraan di masyarakat. Jadi bisa dikatakan, novel tersebut mengangakat sebuah cerita dari realitas yang tengah berkembang.

Jadi dapat kita mengerti adalah, novel-novel tahun 2000an seringkali mengangakat masalah-masalah yang up to date terjadi. Selain itu, novel tahun 2000an lebih dinamis. Hal ini terlihat dari keragaman karakter tokoh, konflik, dan ide cerita.

Simpulan

Novel popular adalah novel yang diminati banyak orang saat pada zamannya dan dianggap sebagai kebudayaan bersama. Dalam perkembangannya, ternyata novel-novel popular memiliki perbedaan dari segi struktur dan realtitasnya.

Daftar Pustaka

Pengertian Novel. (Online). Available at: http://www.wikipedia.com. (diakses 5 Juni 2009)
Puja. 2008. Novel Popular dan Novel Serius. (Online). Available at: http://www.Sastra-Indonesia.com. (diakses 5 Juni 2009)

Sepucuk Surat untuk Linda

cintasurat3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Teruntuk Linda.

Aku taktahu mengapa setiap yang kusentuh selalu rusak. Waktu SD aku begitu bodoh. SMP aku menjadi orang yang cerdas karena mengenalmu. Dan SMA aku kembali menjadi orang biasa karena kau tak lagi bersamaku. Kini aku begitu bodoh dan arogan hingga akhirnya kuputuskan bahwa aku harus menjauh darimu agar aku takmerusak kebahagianmu, agar aku takmerusak mimpimu, dan agar aku takmerusak ciptaan Tuhan yang begitu berharga. Yaitu kau yang masih menyimpan kerendahatian dalam setiap keceriaanmu. Kau yang masih mampu menyimpan kegelisahan dalam setiap senyum manismu.

Usai cinta remajaku di kala SMP sirna setelah kelulusan kita, aku berpikir bahwa aku dapat melupakanmu dengan mudah. Aku pernah berpikir bahwa aku akan melupakanmu seiring bertambah dewasanya usia kita. Namun, nyatanya, wajahmu yang dulu dapat membuat hatiku melonjak, masih terpatri di hatiku. Semakin kuat seperti air laut yang mengisi palung terdalam. Kau mungkin tak sadar karena kaulah air di samudra luas itu, sementara aku hanya salah satu palung kecil di samudra hatimu. Palung yang pernah kau isi dengan ketulusanmu saat kita masih sama-sama duduk di bangku SMP.

Masih kuingat dengan jelas bahwa kau berhasil memenangi lomba cerdas cermat saat kelasmu bersaing dengan kelasku di SMP. Meski kau adik kelasku, aku kalah olehmu. Aku sadar bahwa saat itu ketika aku kalah olehmu bukan hanya karena kau lebih pintar dariku, tapi juga karena aku ceroboh dan membuang poin yang kukumpulkan. Aku ceroboh sehingga nilaiku dikurangi pada sesi pertanyaan rebutan di babak terakhir lomba cerdas cermat itu. Jika saja aku bersabar dengan tidak menjawab pertanyaan yang jawabanya tidak kuketahui, maka mungkin akulah yang menjadi pemenang. Kautahu apa yang membuatku tak sabar dan ceroboh? Ego. Aku ingin terlihat hebat di hadapanmu. Aku ingin membuatmu terpesona. Sebuah perilaku primitif yang masih terpelihara di benak laki-laki saat berusaha memikat wanita. Entah kau tahu atau tidak, karena saat itu kau begitu anggun dan sama sekali tak peduli dengan kekalahanku.

“Kak, ada yang suka dengan kakak!”

Bodohnya aku percaya dengan kata-kata temanmu setelah kita latihan membuat tandu di hari minggu. Temanmu memandang ke arahmu. Dan setelah itu, aku mulai menaruh perhatian lebih padamu. Aku seakan terbang karena menganggap bahwa kau memberi secuil perhatian yang tak kau tunjukan sebelumnya saat kita bersaing di lomba cerdas cermat.

Di usia puberku, tubuhku dipenuhi zat-zat yang mengantarkan reaksi kimia yang disebut cinta. Aku kehilangan sedikit logikaku meski aku masih tetap menjadi salah satu murid favorit di kalangan guru-guru SMP kita. Aku jatuh cinta. Meski saat itu aku berharap dapat membangun cinta bersama orang yang lebih tepat denganku.

Karena cinta pula aku banyak melakukan kebodohan yang menyebabkanku merusak segala hal yang coba kusentuh. Namun, aku berusaha membangun hidupku seiring semakin sadarnya aku dengan segala kebodohan yang melekat pada diriku. Aku tahu kenapa aku harus hidup. Aku memiliki satu alasan kenapa aku harus menjadi yang terbaik di suatu bidang yang aku sukai.

Bahkan, karena kebodohanku itu, pernah pula aku dianggap taklayak menjadi ketua PMR karena tak adil memimpin PMR ketika kau menjadi anggota PMR. Ini keterlaluan. Saat hari pertanggungjawaban kepengurusan PMR, anak PMR lainnya berhasil membaca perasaan tersembunyiku kepadamu. Ia menganggap aku takadil memimpin kepengurusan PMR, karena sering memilihmu menjaga UKS atau menjadi petugas PMR saat upacara bendera. Sungguh, sebenarnya dulu, selain rasa cintaku kepadamu, aku memilihmu atas bakatmu merawat anak-anak yang sakit saat upacara. Pada saat itulah aku sadar bahwa aku harus menjauh darimu agar tak ada seorangpun yang cemburu dengan kebaikanmu.

Aku menjauh darimu. Perlahan. Hingga akhirnya cinta itu justru berbunga subur dalam kesendirianku. Dalam kesunyianku menjelang kelulusanku dari SMP. Entah kau ingat atau tidak tentang wujud kebodohanku yang lain menjelang hari kelulusanku dari SMP. Usiaku empat belas tahun. Saat itu, jiwa anak-anakku bercampur dengan keinginan dewasaku. Dengan mata anak-anakku, aku melihatmu seperti kembang gula yang harus kupertahankan. Sementara jiwa dewasaku yang mulai tumbuh menuntutku agar aku memintamu menjadi kekasihku dengan cara ksatria, yaitu dengan penuh tanggung jawab saat aku hendak mengatakan bahwa aku menginginkanmu. Dan apa jadinya? Saat aku ingin mengatakan perasaaanku, semua kata-kata yang telah kukumpulkan akhirnya ditelan udara. Aku tak sanggup mengeluarkan segala keinginaku dari mulutku. Aku menjadi bisu di depanmu.

“Kakak mau ngomong apa?”

Begitu tantangmu setelah kutarik tanganmu agar kau mau mendengarkan kata-kataku. Aku hanya diam. Memandang kecemasan yang tersimpan di bola matamu dan membiarkanmu pulang setelah kau menunggu beberapa detik kata-kata cinta yang tak sanggup kuucapkan. Kita berpisah setelah itu. Aku melanjutkan sekolahku ke SMA. Sementara kau, yang kuharap akan masuk SMA yang sama denganku akhirnya masuk SMA yang berbeda setahun setelah kelulusanku. Kita tak pernah bertemu meski kenanganmu masih mengkristal di kepalaku.

Sedikit kenangan yang masih kuingat tentangmu adalah bahwa kau penyuka warna ungu. Syal favorit yang sering kau gunakan untuk mengikat rambutmu adalah syal dengan motif Daisy Duck. Kau memiliki cita-cita menjadi seorang dokter, perawat, atau bidan. Dan kau memiliki semangat dan obsesi yang tinggi terhadap cita-citamu. Karena semangatmu itu pula maka akupun tahu bahwa kau akan menempuh jalan sesulit apapun untuk menapaki tangga cita-citamu. Kau dapat menapakinya karena saat itu makna kebahagiaan bagimu adalah jika kenyataan yang ada di hadapanmu sejalan dengan mimpi yang ada di kepalamu. Kau mendapatkanya sekarang. Dan aku merasa cukup bahagia dengan hanya melihatmu memperoleh kebahagiaan yang kau inginkan.

Teruntuk Linda yang pernah kukagumi saat aku SMP.

Setelah lulus SMP aku berusaha mencari motif untuk tidak mencintaimu. Di SMA, kusibukan diriku dengan mencari minat lain di mana aku tidak akan kembali terjebak ke dalam satu perasaan yang nyaris kuberikan kepadamu. Aku tak mau jatuh cinta. Aku ingin membangun cinta sehingga akhirnya kutepis niatku untuk kembali masuk ekskul PMR saat aku SMA.

Aku berusaha mencari kegiatan lain di mana aku bisa berbagi cinta tanpa harus terjebak hasrat untuk memiliki. Kepemilikan hanya melahirkan kesibukan untuk mengamankan, bukan untuk mengembangkan. Dan terkadang, kepemilikan yang begitu kuat justru merusak benda berharga yang kita miliki. Kau ingat bukan tentang cerita anak kecil yang menggenggam erat kerikil di tanganya? Ya. Kerikil itu akhirnya lepas melalui sela-sela jemarinya karena anak kecil itu menggenggamnya terlalu kuat.

Oleh sebab itu. Untuk membebaskanmu dari pikiranku, aku akhirnya memilih untuk meyalurkan ketulusan yang pernah kupelajari darimu melalui tulisan. Aku menulismu. Bercerita tentangmu dengan berbagai nama. Aku terus mengalirkan semangat yang kau miliki melalui tulisanku. Setelah menjadi palung, aku ingin menjadi sungai yang mengalirkan air yang bersumber dari samudra hatimu.

Namun, berbeda denganmu. Hatiku mungkin takcukup luas untuk menampung kegelisahan ini. Meski kucoba salurkan kegelisahanku melalui lamunan dan tulisan, kenanganku tentangmu tak juga hilang. Sebaliknya, kenangan itu justru semakin membekas. Itu semua mungkin karena hatiku yang keras. Hatiku menolak perasan ini. Dan ketika aku mencoba untuk menolak, namamu justru terukir di hatiku yang sekeras karang. Bukan di hatiku yang selembut pasir sehingga namamu tak kunjung hilang meski air pasang berkali-kali hantam hatiku untuk coba hapus dan pudarkan namamu.

Aku bergelora. Seperti gelombang pasang yang mencari pantai yang tenang. Seperti kapal laut yang mencari pelabuhan yang damai. Seperti ikan yang mencari sebuah karang. Seperti pelaut yang merindu dermaga untuk berlindung dari badai topan yang terus menghantam. Namun kusimpan itu selama SMA karena tak ada pantai, pelabuhan, karang, ataupun dermaga yang senyaman dirimu.

Kau tahu Linda. Kerinduanku yang bergelora saat itu sempat membuatku nyaris kehilangan akal pikiranku. Pernah suatu ketika aku turun dari bus kota hanya karena melihatmu ada di bus kota lain saat bus yang kutumpangi terjebak macet di lampu merah. Lampu merah yang menjadi tanda berhenti bagi mobil-mobil yang ada di perempatan itu justru membuat jantungku berpacu lebih kencang. Aku turun dari bus kota, berlari menuju bus kotamu, naik melalui pintu belakang, dan memandangimu yang duduk di bangku depan meski kau tak menoleh sedikitpun kepadaku. Aku bahagia melihatmu duduk di sana. Membiarkanmu memandang ke luar jendela bus kota. Membiarkanmu menyaksikan anak-anak pengamen dan pedagang asongan yang ringkih dan rapuh. Kau tak menoleh ke arahku hingga akhirnya aku turun lebih dulu begitu bus kota itu keluar di pintu tol Cikunir. Setelah itu kita tak pernah lagi naik bus yang sama meski aku sempat berharap bahwa kita akan duduk di satu bangku bus bersama-sama.

Semakin lama tak menemuimu, kerinduanku justru semakin tak terbendung. Dan untuk hapus itu semua, Aku akhirnya memilih untuk terus luapkan emosiku melalui aktivitas apapun yang bisa kulakukan. Kuikuti beberapa organisasi di SMA, aku alokasikan kerinduanku kepadamu dengan membuat banyak tulisan, aku kubur kenanganku tentangmu dengan mengerjakan soal-soal latihan menuju universitas, dan aku sibukan diriku agar aku berhasil temukan tempat yang cocok untuk labuhkan egoku.

Aku takmengerti kesibukanku. Aku kehilangan motifku hingga akhirnya kuputuskan bahwa aku harus melanjutkan studiku agar aku tetap bisa menulis. Karena, setelah lama menulis aku merasa menemukan mimpiku di sana. Mimpi yang kutemukan saat beberapa temanku menganggapku memiliki bakat menulis. Aku tak menganggap ini sebagai bakat, karena aku hanya mencoba menceritakan kebaikan yang kulihat pada dirimu dengan menuliskannya dalam berbagai nama.

Teruntuk Linda yang kini tengah menciptakan mimpi di dunia nyata. Seperti yang kubilang di awal surat ini, aku tak pernah berani memegang sesuatu karena sesuatu itu akan rusak saat aku berusaha menyentuhnya. Saat aku merasa yakin bahwa semuanya berjalan lancar jika aku mengerjakan sesuatu dengan cara yang benar, tiba-tiba saja sebuah kejutan menarikku keluar dari jalan yang kurancang dengan sempurna. Aku seperti terhempas dari jalan tol. Dokter mendiagnosa bahwa aku terkena tifus beberapa hari menjelang hari pelaksanaan masuk universitas. Aku terbaring di rumah sakit, dan tak sanggup bangkit meski kuharap aku dapat mengerjakan soal ujian dengan seratus persen kemampuanku. Tak kutemukan namaku di koran pengumuman. Aku telah merusak mimpiku sendiri saat aku berusaha menggenggamnya dalam kepalan tanganku. Segala hal yang coba kugenggam akhirnya rusak.

Setelah sembuh, tanpa asa aku akhirnya mencoba menjalani hidupku yang begitu datar. Aku sama sekali tak memiliki keberanian untuk arungi gelombang hidup meski dalam bentuk kata-kata. Hidupku begitu datar hingga undangan ulang tahunmu yang ke tujuh belas datang kepadaku. Aku terlonjak. Tak kusangka kau mengingatku meski menurutku tak mungkin ada namaku di salah satu sudut hatimu. Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk ciptakan harapan kecil kepada hamba-Nya yang terhempas. Dan kau bahkan justru melambungkanku saat kau memberiku potongan ke tiga kue ulang tahunmu. Pertama untuk ayahmu, ke dua untuk adikmu, dan ke tiga untukku yang hanya datang sebagai teman lama yang menyimpan rinduku kepadamu.

Aku menyimpan harapanku. Berharap bahwa kau bahagia karena aku tak ingin merusak kebahagiaanmu dengan cara mencoba mendekati atau menyentuh mimpimu. Aku pernah bilang bahwa aku lebih sering merusak segala hal yang kusentuh. Aku pulang dari rumahmu dengan menyimpan mimpimu di kepalaku. Mencoba menemukan mimpiku sendiri hingga keberanianku muncul karena melihat tekadmu untuk menjadi seorang perawat. Kalau kau memiliki tekad begitu kuat, kenapa aku tak memiliki tekad yang juga kuat?

Mendengar kabar itu maka akhirnya aku memutuskan untuk coba bangun mimpiku kembali di dunia nyata. Aku mencoba untuk menjadi seorang pewarta. Aku cari jurusan yang memungkinkanku menjadi seorang pewarta. Aku berusaha sadar dengan pilihanku. Mengumpulkan segenap keberanianku, dan mengambil kesempatan ke dua ini bersamaan dengan saat kau mengambil kesempatan pertamamu untuk menjadi seorang perawat. Kau diterima sebagai calon perawat. Aku diterima sebagai calon pewarta. Kelegaan kembali menyelusup di hatiku. Tuhan seakan kembali kirimkan jari-Nya untuk angkat tubuhku yang terhempas di lembah keputusasaan.

Saat itu aku melonjak. Girang karena rencana yang dipersiapkan Tuhan begitu mengejutkan bagiku. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini bersamamu. Mengundangmu dalam perayaan kecil yang kuadakan di rumahku bersama beberapa teman dan sahabat yang juga kuundang untuk merayakan kebahagiaan kecil ini.

Aku mengundangmu. Aku menantimu. Menunggumu. Dan berharap kau datang agar aku bisa berbagi kebahagiaan ini kepadamu. Namun kau tak datang. Kau tak datang ke rumahku hingga perayaan kecil itu usai. Aku tersadar. Berusaha sadar karena mungkin Tuhan tak ingin aku melukaimu. Aku mungkin akan melukaimu dengan cara yang tak kusadari jika kau datang ke perayaan kecil yang kutujukan untuk mensyukuri nikmat ini. Aku mungkin akan melukaimu dan meloloskanmu dari sela jemariku saat aku berusaha mengenggamu di hari yang begitu bahagia bagiku. Tuhan telah mengatur ketidakhadiranmu agar aku tak kembali merusak mimpiku dan mimpimu dengan kebahagiaanku yang seperti anak kecil. Sehingga akhirnya, di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagiku, tertinggal satu kebahagiaan yang seharusnya menggenapi kebahagiaan itu.

Teruntuk Linda. Ingin sekali aku mengeposkan surat ini untuk mengambil satu kebahagianku yang tertinggal saat itu. Namun aku sadar bahwa aku lebih sering merusak setiap benda yang ingin kusentuh. Dan akhirnya setelah aku selesai menulis surat ini, maka aku putuskan untuk membiarkan kesempurnaan itu tetap menjadi milikmu. Aku simpan saja surat ini dalam sebuah kotak coklat yang ada di laci mejaku. Sementara cukup bagiku mengagumi kesempurnaanmu dalam kesendirianku. Di sini, saat aku menulis surat ini, aku bahagia melihatmu begitu bahagia.

***

 

Belum Saatnya

source: google
source: google

 

Pagi masih berkabut memeluk erat Bandung. Padahal, sekarang sudah menunjukkan pukul 6.13 pagi. Tetapi, udara pegunungan masih saja menusuk-nusuk kulit Riga. Sedari subuh tadi, Riga sudah rapih. Karena hari ini, ia bersama teman-temannya akan menghabiskan liburan week-end ke sebuah pantai di Garut.

Riga pamit pada mama dan papanya yang duduk di ruang keluarga. Mamanya mengenakan kerudung putih dan baju muslimah. Sedangkan papanya, mengenakan kaos santai. Dari tadi, kedua orang tuanya berbincang-bincang sambil disuguhi teh manis yang hangat.

“Mama, papa, Riga berangkat dulu ya!”
“Ya nak, hati-hati di jalan ya!. Salam buat teman-temanmu. Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi papa,” pesan papanya kepada Riga.
Riga pun mengucapkan salam kepada papa dan mamanya. Riga mengenakan jaket abu-abu yang dibelinya di Gedebage beberapa waktu yang lalu. Riga telah siap berangkat ke Jatinangor. Ia menyalakan mesin mobil Avanzanya dan menginjak gas mobil. Perjalanan dari Bandung ke Jatinangor tidak terlalu lama. Hanya berjarak 18 kilo meter. Itu artinya, Riga hanya membutuhkan waktu setengah jam saja ke Jatinangor. Mobil Avanza kremnya melaju cukup cepat.
Riga pun sampai di kampusnya, Unpad. Di sana, teman-temannya sudah berkumpul menunggu pemberangkatan ke Garut. Wajah-wajah mereka tampak senang karena akan menghabiskan waktu liburan di pantai yang paling memesona di Garut yaitu pantai Pameungpeuk.

 

“Ga, kamu telat beberapa menit!” Seorang teman Riga bernama Arya menghampirinya.
“Ya Ar. Tadi saya harus mengecek mobil. Jadi butuh waktu yang agak lama. Maaf ya!”
“Gak kenapa-kenapa kok. Saya hanya bercanda. Lagian, ada beberapa teman-teman kita yang belum datang.”
“Oh ya?! Dinda udah dateng? Tanya Riga kepada Arya.
“Belum Ga. Kata Marsha, Dinda tiba-tiba gak jadi ikut. Katanya sih dia rada gak enak badan. Ga, mending kamu bujuk Dinda. Siapa tahu kalau kamu yang merayu Dinda, dia mau ikut. Kamu kan dekat dengan dia.”
“Mmm, oke! Saya akan coba menelpon dia. Mudah-mudahan dia berubah pikiran.”
Riga pertama kali kenal dengan Dinda di kampus. Sejak saat itu, Riga menaruh perhatian yang lebih kepada Dinda. Walaupun berbeda fakultas, tetapi karena seringnya rutinitas rapat di organisasi kemahasiswaan, getaran-getaran cinta itu mulai menyentuh hati Riga. Apalagi, belakangan ini mereka sering bertemu karena sama-sama menjadi panitia perpisahan organisasinya.

Setiap malam, Dinda, Riga beserta teman-teman yang lain rapat untuk mempersiapkan acara hari ini. Rasa cinta Riga kepada Dinda semakin kuat karena mereka sama-sama memiliki hobi yang sama yaitu travelling. Obrolan ringan di antara mereka adalah seputar objek wisata, kuliner, dan saling berbagi pengalaman.
“Assalamualaikum. Din, kamu dimana? Kamu jadi ikut acara perpisahan kan? Ayolah! Kamu mesti ikut Din. Ini acara terakhir kita. Jika kamu gak ikut, pastinya acara ini gak rame. Din, kita jauh-jauh hari mempersiapkan hari ini. Plis. Aku berharap banget kamu bisa ikut.”
“Wa’alaykumsalam. Mmh, ya Ga. Aku ikut kok. Tadi, badanku rada gak enak. Sekarang udah baikkan kok. Mana mungkin aku melewati saat-saat seperti ini. Aku sekarang masih di kostan. Sepuluh menit lagi aku nyampe di kampus. Aku siap-siap dulu ya. Selamat ketemu di kampus!”
Riga tampak berbahagia karena pujaan hatinya akhirnya bisa ikut acara perpisahan. Sebenarnya, rasa cinta Riga kepada Dinda tidak hanya kerena kesamaan hobi diantara mereka. Lebih dari itu, Riga kagum dengan sikap Dinda yang lembut, sopan, dan tentunya karena Dinda memiliki wajah yang cantik. Kulitnya putih bersih. Selain itu, yang paling membedakan Dinda dengan gadis kebanyakan adalah karena ia mengenakan kerudung sebagai identitasnya sebagai seorang muslimah yang baik.

Sebenarnya, Dinda tidak tahu bahwa Riga menyukainya. Akan tetapi, ia sering mendengar guyonon dari temen-temannya bahwa Riga menyukainya.

***
Jam sudah menunjukkan pukul 8.00 pagi. Dinda sudah tiba di kampus. Teman-teman Riga pun juga sudah siap berangkat ke Pameungpeuk, Garut. Ada empat kendaraan yang mengantarkan mereka ke sana. Ada tiga buah mobil pribadi dan satu bus yang dipinjam dari kampus. Riga selaku panitia acara menyeru kepada teman-teman untuk berkumpul di lapangan.
Semuanya telah masuk ke dalam bus dan mobil. Perjalanan dari Jatinangor ke Pameungpeuk cukup lama. Butuh waktu empat jam ke sana. Akses jalan cukup berbahaya karena hanya ada satu jalur saja. Apalagi jalannya ada tanjakan, turunan, tebing, dan jurang-jurang. Tapi itu semua bukanlah hal yang buruk. Karena di sepanjang jalan, kebun teh nan hijau membentang laksana hamparan hijau surgawi yang sungguh sejuk dan indah untuk dipandang.

“Dinda di mobil mana?” tanya Riga kepada Remi.

“Dinda di mobil APV, Ga. Emang kenapa?”

Riga hanya tersenyum. Dalam benaknya, ia berharap agar bisa satu mobil dengan Dinda. Jika satu mobil, pasti dia akan bisa berbincang lama dengan Dinda. Tentang apa pun itu. Tapi, Dinda tidak ada. Walaupun sedikit kecewa, Riga masih tetap senang. Khayalnya berharap bahwa nanti, sesampai di pantai, ia cukup banyak waktu menghabiskan waktu bersama Dinda.

***
Akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Riga dan teman-temanya tiba juga di pantai Pameungpeuk. Suhu udara di sini cukup panas. Tapi rasa panas telah terbayar oleh keeksotikan pantai Pameunpeuk. Awan cumulus yang tebal berarak melapisi langit biru yang cerah. Ombak berlari-larian mengejar ke bibir pantai. Pasir putih menjadi permadani. Desiran angin pantai membuat lukisan alam ini begitu sempurna.
Riga menantap jauh ke laut lepas yang entah di mana ujungnya. Nanar tak hentinya ia melihat sang ombak pecah di batu karang. Riga merasakan hawa pantai yang mendamaikan. Tiba-tiba, Riga memejamkan matanya. Pikirnya menerawang menelusuri dimensi masa lampau ketika SMA dulu. Ia bersama teman-temannya sering sekali menghabiskan waktu di pantai. Baginya, pantai adalah sahabat. Pantai paham betul bagaimana mengolah perasaannya yang tengah kacau menjadi lebih tentram. Tapi sekarang, sejak ia kuliah di Bandung, jarang sekali Riga ke pantai. Bandung itu daerah pegunungan. Bukan pantai.
Assalamualaikum. Din, maaf mengganggu. Kamu sedang apa?”

Dindaa pun membuka matanya. Ia kaget karena Riga sudah berdiri di depannya. Spontan ia menghapus air matanya dengan kerudung putih miliknya.
Wa’alaykumsalam. Hai Riga. Kamu sudah dari tadi di sini? Gak. Kamu gak mengganguku kok. Aku hanya sedikit merenung dan memuhasabah diri kepada Rabbku, Ga. Aku begitu takjub melihat karya sang Mahakarya ini. Aku merasa begitu kecil, Ga. Aku menyadari bahwa sering sekali aku tidak bersyukur atas nikmat yang telah kuperoleh. Entahlah, tiba-tiba hati ini bergetar ketika kuingat surat qauliyah dalam surat Al-Imran ayat 190. Aku takut, aku bukan termasuk orang yang berfikir bahwasanya hidup ini perlu kita syukuri. Aku takut menjadi ahli neraka, Ga.”
“Riga terdiam dengan penuturan kata-kata puitis yang keluar dai bibir Dinda. Ia tak menyangka, gadis yang dicintainya adalah seorang muslimah yang paham betul bagaimana memaknai kehidupan ini. Hatinya sangat lembut. Ayat-ayat yang disampaikannya kepada Riga mampu mengubah pandangan hidupnya selama ini tentang alam. Selama ini, Riga hanya bisa mencintai alam tanpa paham bagaimana mensyukurinya. Rasa cintanya semakin dalam kepada Dinda. Entah kenapa, saat itu juga ingin sekali Riga mengungkapkan perasaannya kepada Dinda.”

 

“Din, aku kagum dengan cara pandangmu memaknai lukisan alam ini. Aku kagum dengan sifat visionermu yang berpikir jauh ke depan. Din, aku ingin menyatakan bahwa aku tak sekadar kagum kepadamu. Lebih dari itu, aku ingin mengutarakan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Din, aku mencintaimu. Aku takminta kau membalas cintaku. Aku hanya ingin mengungkapkan saja. Bagaimana menurutmu?”
“Menurutku tak ada yang salah dengan rasa cinta. Itu fitrah, Ga. Setiap manusia diberi rasa itu dari Alloh. Tinggal sekarang bagaimana kita sebagaimana mengelola itu semua menjadi cinta yang diberkahi oleh Alloh. Jujur kuakui, aku juga mengagumi kamu. Tapi hanya sebatas itu. Aku tak ingin terjerat fitnah syaitan, Ga. Aku berkeyakinan suatu saat aku pasti akan menemukan cintaku. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Cinta tak berbekas yang kebanyakan orang merasakannya. Aku ingin menemukan imamku, Ga. Aku tak menginginkan seorang laki-laki sebagai pacar. Aku hanya butuh imam yang mampu membimbingku menuju Rabbku. Aku ingin cinta di dunia dan di akhirat. Jika kau mencintaiku, tunggulah sampai di batas waktu. Jika kita berjodoh, aku yakin hati-hati kita akan ditautkan oleh Allah dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Aku yakin, Ga. Kalau memang, kau pilih aku. Tunggu sampai aku datang. Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi. Kini belumlah saatnya. Aku membalas cintamu.
***
Jatinangor, 27 April 2009
20:43

 

Mereka Mengangkasa Menuju Langit

 

Ya Allah, sampai kapan semua ini harus berlanjut?Aku tak sanggup ya Rabb. Mihat ribuan nyawa melayang.Hilang, begitu mudah.Aku tak sanggup. Melihat puing-puing peradaban Islam yang luluh lantak.Takberbentuk.

Di sana-sini, onggokan mayat manusia muslim Palestina. Di sana-sini, kabut mesiu menyesakkan hidung. Di sana-sini, tangis darah menjadi minuman yang paling disukai oleh Israel.

Dengarlah, tangisan anak-anak Palestina itu begitu menyayat hati.Bukan tangis karena tidak dikasih susu.Bukan juga tangis karena mereka pipis di celana.Tangis itu, tangis suka cita.Mereka, anak-anak itu.Terbang menuju-Mu, ya Rabb.Menjadi bunga yang bersemi di telaga Alkautsar.

Aku rindu.Kapan saat yang tepat aku bisa mencium bau syurga?Oh, kapan aku bisa menyiumnya?Di sana, di Tanah Palestine, para mujahid tengah bersuka cita.Bukan menangis karena takut, kawan!Mereka bahagia.Janji Allah telah mereka genggam.
Jatinangor, 9 Januari 2000. Pukul: 22:03

Sejarah Perkembangan Novel Indonesia

Ketika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angakatn 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.
Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya; angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa) dan Amir Hamzah (bidang puisi). Angjatan 1945 dengan tokoh sentralnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku. Angkatan 1966 dengan tokoh centralnya Dr. Taufik Ismail dengan kumpulan puisinya berjudul Tirani dan Benteng.
Pembagian angkatan seperti itu dikemukakan oleh Hans Bague Jassin (H.B. Jassin), seorang ahli sastra Indonesia yang sering disebut-sebut sebagai Paus Sastra Indonesia. Tentu boleh-boleh saja kita setuju dengan pembagian seperti itu, apalagi memang kepakaran H.B. Jassin dalam mengapresiasi sastra Indonesia cukup mumpuni. Tetapi yang lebih penting kita ketahui adalah bahwa sastra Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan.
Menarik untuk diperhatikan bahwa perkembangan sastra Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal, dimulai tahun 1900-an, yaitu ketika penjajah Belanda membolehkan bangsa boemi poetra (sebutan untuk orang Indonesia oleh Belanda) memasuki pendidikan formal. Tentu saja pendidikan formal saat itu adalah milik penjajah Belanda.
Karena genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama), maka ada baiknya kita menganalisis perkembangan genre sastra ini dari tiga bentuk itu. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini Anda akan menganalisis perkembangan puisi, prosa, dan drama dalam lingkup sastra Indonesia.
Seiring dengan perkembangan puisi, prosa Indonesia pun berkembang pula. Seperti puisi, prosa pun mengenal prosa lama dan prosa baru atau prosa modern. Prosa lama bersifat anonim; dengan penjenisannya meliputi dongeng, hikayat, fabel, sage. Sedangkan prosa baru, dengan diukur dari panjang pendeknya, meliputi cerpen, novelet, dan novel/roman.
Prosa Indonesia baru pun mulai muncul tahun 1920-an, dengan ditandai munculnya novel monumental berjudul Siti Nurbaya, buah karya Marah Rusli. Lalu zaman Pujangga Baru muncul pula Sutan Takdir Alisjahbana dengan roman berjdul Layar Terkembang. Lalu, menjelang kemerdekaan muncul Armiyn Pane yang menulis novel Belenggu yang dianggap novel modern pada zamannya.
Tahun 1945 perlu dicatat nama Idrus sebagai prosaic cerpen. Buku kumpulan cerpennya Dari Ave Maria ke Jalan Lain Ke Roma menjadi buku yang cukup terkenal. Selain itu juga novel singkat yang digarap dengan nada humor berjudul Aki.
Tahun 1949 muncul novel karya Achdiat Karta Miharja berjudul Atheis. Atheis termasuk novel yang cukup berhasil karena hamir semua unsurnya menonjol dan menarik unuk dibaca. Dengan mengambil latar Pasundan berhasil mengangkat sebuah tema terkikisnya sebuah kepercayaan keagamaan. Hasan, tokoh utama dalam novel ini, adalah orang yang 180 derajat berbalik dari taat beragama tiba-tiba menjadi seorang yang atheis karena pengaruh pergaulannya dengan Rusli dan Anwar yang memang berpaham komunis.
Tahun 1955 muncul cerpen yang sangat terkenal, berjudul Robohnya Surau Kami, buah karya Ali Akbar Navis (lebih dikenal dengan A.A. Navis). Cerpen ini sarat dengan kritik sosial menyangkut kesalahan orang dalam menganut agama. Navis nambapknya ingin mendobrak paham keagamaan masyarakat Indonesia yang mengira beribadah hanyalah sekedar melaksanakan shalat, puasa, atau mengaji Quran; sedangkan kegiatan lain di luar ibdah formal, sepertimencari nafkah, peduli pada sesama dan alam dibaikan. Lewat tokoh Haji Shaleh yang tiba-tiba masuk neraka karena ulahnya di dunia yang mengabaikan kepentingan keluarga.
Tahun 1968 muncul novel berjudul Merahnya Merah, garapan Iwan Simatupang, sebuah novel yang cukup absurd, terutama dalam hal gaya bercerita. Namun demikian, novel ini banyak memperoleh pujian dan sorotan para kritikus sastra, baik dalam maupun luar negeri.
Tahun 1975 nuncul novel Harimau! Harimau!, buah karya Mochtar Lubis, menceritakan tentang tujuh orang pencari damar yang berada di tengah sutan selama seminggu. Mereka adalah Pak Haji, Wak Katok, Sutan, Talib, Buyung, Sanip dan Pak Balam. Di tengah hutan itu mereka berhadapan dengan seekor harimau yang tengah mencari mangsa. Empat orang di antara tujuh orang itu (Pak Balam, Sutan, Talib, dan Pak Haji). Kecuali Pak Haji yang meinggal karena tertembak senapan Wak Katok, tiga yang lalinnya meninggal karena diterkam Harimau.
Haimau! Harimau! Sarat dengan pesan moral, yaitu bahwa setiap manusia harus mengakui dosanya agar terbebas dari bayang-bayang ketakutan. Pak Balam, orang yang pertama terluka karena diterkam harimau, mengakkui dosa-dosanya di masa muda, dan menyuruh para pendamar yang lain juga mengakui dosa-dosanya. Semua memang mengakui, hanya Wak Katok yang enggan mengakuinya.
Tahun 1982, muncul novel Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari, sebuah novel yang berhasil mendeskripsikan adat orang Jawa, khususnya Cilacap.
Tahun 1990, Ramadhan K.H. menulis novel berjudul Ladang Perminus, sebuah novel yang mengisahkan tentang korupsi di tubuh Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus). Novel ini seolah-olah menelanjangi tindakan korupsi di tubuh Pertamina, sebagai perusahaan pertambanyak minyak nasional.
Dan novel paling mutakhir adalah Saman, 1998, karya Ayu Utami. Ayu Utami termasuk novelis yang membawa pembaharuan dalam perkembangan novel Indonesia. Dalam Saman, Ayu Utami tidak sungkan-sungkan membahas masalah seks, sesuatu yang di Indonesia dianggap kurang sopan untuk diungkap. Tapi mungkin zamannya sudah berubah, kini masalah sesks sudah bukan merupakan hal yang tabu untuk diungkapkan. Ironis, bahwa yang mengungkap secara detail dan sedikit jorok dalam nobvel ini adalah justru seorang wanita, Ayu Utami.
Dan untuk tahun 2000-an ini, tepatnya tahun 2003 yang baru silam, telah terbit novel termuda, dari penulis termuda pula yang menulis novel berjudul Area X, sebuah novel futurisktik tentang Indonesia tahun 2048, mengenai deribonucleic acid dan makhlluk ruang angkasa. Novel ini ditulis oleh Eliza Vitri Handayani, seorang siswi kelas 2 SMA Nusantara Magelang, sebuah SMA favorit di Indonesia.


Novel merupakan salah satu karya sastra yang tidak asing lagi bagi kita. Sejarahnya, novel hadir sebagai alat untuk merepresentatifkan kehidupan manusia yang tertuang dalam karya fiksi. Lalu yang jadi pertanyaan adalah bagaimana perkembangan novel dari masa ke masa, terutama novel Indonesia.
Ketika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angakatn 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.
Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya; angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa) dan Amir Hamzah (bidang puisi). Angjatan 1945 dengan tokoh sentralnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku. Angkatan 1966 dengan tokoh centralnya Dr. Taufik Ismail dengan kumpulan puisinya berjudul Tirani dan Benteng.
Pembagian angkatan seperti itu dikemukakan oleh Hans Bague Jassin (H.B. Jassin), seorang ahli sastra Indonesia yang sering disebut-sebut sebagai Paus Sastra Indonesia. Tentu boleh-boleh saja kita setuju dengan pembagian seperti itu, apalagi memang kepakaran H.B. Jassin dalam mengapresiasi sastra Indonesia cukup mumpuni. Tetapi yang lebih penting kita ketahui adalah bahwa sastra Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan.
Menarik untuk diperhatikan bahwa perkembangan sastra Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal, dimulai tahun 1900-an, yaitu ketika penjajah Belanda membolehkan bangsa boemi poetra (sebutan untuk orang Indonesia oleh Belanda) memasuki pendidikan formal. Tentu saja pendidikan formal saat itu adalah milik penjajah Belanda.
Karena genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama), maka ada baiknya kita menganalisis perkembangan genre sastra ini dari tiga bentuk itu. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini Anda akan menganalisis perkembangan puisi, prosa, dan drama dalam lingkup sastra Indonesia.
Dari masa ke masa
Pada pertengahan abad ke-19, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi telah meletakkan dasar-dasar penulisan prosa dengan teknik bercerita yang disandarkan pada pengumpulan data historis yang bertumpu pada lawatan-lawatan biografls. Akan tetapi, karya prosa yang diakui menjadi karya pertama yang memenuhi unsur-unusr struktur sebuah novel modern baru benar-benar muncul di awal abad ke-20. Novel yang dimaksud adalah novel karya Mas Marco Kartodikromo dan Merari Siregar. Sementara itu, tahun 1920 dianggap sebagai tahun lahirnya kesusastraan Nasional dengan ditandai lahirnya novel Azab dan Sengsara. Pada masa awal abad ke-20, begitu banyak novel yang memiliki unsur wama lokal. Novel-novel tersebut, antara lain Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Kalau Tak Untung, Harimau! Harimau!, Pergolakan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sementara itu, novel Belenggu karya Armjn Pane, hingga saat ini lazim dikatakan sebagai tonggak munculnya novel modern di Indonesia.

Dari waktu ke waktu, novel terus mengalami perkembangan. Masing-masing novel tersebut mewakili semangat dari setiap zaman di mana novel itu muncul. Di awal tahun 2000 muncul jenis novel yang dikatakan sebagai chicklit, teenlit,dan metropop. Ketiga jenis tersebut sempat dianggap sebagai karya yang tidak layak disejajarkan dengan karya sastra pendahulu mereka oleh kelompok-kelompok tertentu. Di antara karya-karya tersebut yang tergolong ke dalam jajaran best seller, antara lain Cintapuccino karya Icha Rahmanti, Eiffel I’m In Love karya Rahma Arunita, Jomblo karya Aditya Mulya, dan lain sebagainya. Akan tetapi, walau bagaimana pun juga, seperti yang telah dikemukakan di awal, setiap karya sastra mewakili zaman tertentu. Begitu juga dengan karya-karya tersebut yang kini berdampingan kemunculannya bersama Supernova karya Dee, Dadaisme karya Dewi Sartika, Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, 5 cm karya Donny Dhirgantoro, dan novel-novel terbaru lainnya yang memiliki kekuatan serta pembaca sasaran masing-masing.
Sebelum Balai Pustaka
Lalu, bagaimana perkembangan novel Indonesia Sebelum Balai Pustaka? sebelum berdirinya Balai Pustaka, tahun 1917. Sejauh kepustakaan yang dapat dirunut, terbukti belum pernah ada ahli atau -pengamat kesusastraan Indonesia yang berusaha mengungkap khazanah kesusastraan sebelum Balai Pustaka tersebut, secara menyeluruh dan khusus. Seandainya pun pernah ada yang melakukan, rata-rata terbatas pada topik-topik yang sangat spesifik. Dalam hubungan ini pantas disebut, misalnya, penelitian yang lebih dari memadai yang pernah dilakukan oleh Claudine Salmon, berjudul Literature in Malay bz the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography (1981), atau yang dilakukan oleh no Joe Lan dengan bukunya SasteraIndonesia-Tionghoa, atau seperti juga yang dilakukan oleh John B. Kwee dengan disertasinya berjudul Chinese Maley Literature of the Peranakan Chinese in Indonesia 1880-1942 (1977). Ketiga peneliti tersebut jelas sekali hanya mengkhususkan pembicaraannya pada khazanah kesusastrann yang ditulis oleh pengarang Peranakan Cina.

Peneliti lain yang pernah mencoba menunjukkan khazanah kesusastraan Indonesia dari sisi yang lain hampir-hampir belum pernah ada, dan masih sangat sedikit, Dari yang sedikit ini, tampak hanya Pramoedya Ananta Toer yang cukup mempunyai perhatian, khususnya dalam mengungkap khazanah novel sebelum Balai Pustaka yang ditulis oleh pribumi atau peranakan Eropa. Dua buah buku Pramoedya yang masing-masing berjudul Tempo Doeloe (19E2) dan Sang Pemu1a (19P5), menunjukkan perhatiannya itu.

Dalam hubungan ini perlu di jelaskan sedikit bahwa sebenarnya ada beberapa ahli yang mempunyai cukup perhatian mengenai khazanah kesusastraan Indonesia sebelum Balai Pustaka yang melihat tidak hanya sesisi saja. Hanya sayang sekali, para ahli tersebut agaknya belum melakukan penelitian yang mendalam, sehingga mereka pada umumnya hanya dapat menuliskannya dalam bentuk artikel kecil di sebuah majalah. Di antara para ahli yang sedemikian itu, dapat disebutkan disini misalnya C.W. Watson dalam “Some PreliminaryRemarks on the Antecedents of Modern Indonesian Literature” (dalam Bra, 1971), W.Q. Sykorsky dalam “Some Additional Remarks on the Antecedents of Modern Indonesian literature” 1980), dan beberapa tulisan Jakob Sumardjo yang tersebar di berbagai penerbitan.

Penelitian ini setidaknya ingin melengkapi atau ingin mengungkap khazanah kesusastraan Indonesia sebelum Balai Pustaka itu, secara menyeluruh dan 1engkap, yang tentu saja bertolak dari data-data yang berhasil diperoleh dan di temukan selama dilangsungkannya penelitian yang enam bulan ini.

Novel Modern
Ada perkembangan menarik dalam penulisan novel di negeri ini. Bukan saja masalah berapa ratus judul per bulan jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lampau, melainkan juga apa yang novel-novel tersebut kisahkan. Ada berbagai tema mulai perempuan, seks, sains, sejarah, agama, spiritual, sosial, etnis, hingga politik. Perkembangan pilihan tema itu tentu tidak lepas dari hal-hal di luar masalah penulisan novel itu sendiri. Perkembangan itu tak lain dari risiko perkembangan pemikiran manusia saat ini yang semakin hari semakin spesifik.
Keinginan untuk memasukkan berbagai hal dalam novel ini dengan melihat perkembangan masalah dalam masyarakat mulai menarik perhatian dan penting untuk diperhatikan. Kecenderungan kontemporer ini antara lain direspons dalam novel d.I.a., Cinta dan Presiden karya Noorca M Massardi. Seorang budayawan, penulis, dan jurnalis kawakan.

Folklor dan Kearifan Bangsa

Folklor adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri khas yang unik sehingga dapat dibedakan dengan kelompok lainnya. Folklor diwariskan secara turun-temurun secara lisan dengan isyarat. Setidaknya, demikianlah pengertian sempit mengenai folklor.

http://3.bp.blogspot.com/
http://3.bp.blogspot.com/

Indonesia adalah negara kepulauan yang tersebar dari sabang sampai meureuke. Pantaslah bahwa Indonesia merasa begitu bangga dengan kekayaan yang ia miliki. Indonesia memiliki banyak suku, bahasa dan budaya. Kebanggan itu terangkai dalam lirik-lirik lagu yang sering dikumandangkan dibangku sekolah. Indonesia memiliki lambang negara burung garuda. Garuda merupakan kegagahan dan kewibawaan bangsa Indonesia dimata dunia. Semboyan yang berbunyi Bhineka Tunggal Ika, merupakan pemersatu dari keberagaman yang dimiliki Indonesia.

Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi mejemuk karena ia bermodalkan berbagai kebudayaan lingkungan wilayah yang berkembang menurut tuntutan sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan wilayah-wilayah itu memberikan bentuk, shape, dari kebudayaan itu. Juga proses sosialisasi yang kemudian dikembangkan dalam kerangka masing-masing kultur itu memberi warna kepada kepribadian yang muncul dari lingkungan budaya itu. (Umar Khayam: Seni, Tradisi, Masayarakat: 16).

Kekayaan budaya membuat Indonesia memiliki begitu banyak daya tarik. Daya tarik tersebut harus diperkenalkan sehingga tiap daerah bisa saling berinteraksi dan sama-sama merasa bangga. Kebanggaan tersebut tertuang pada peringatan hari-hari kebesaran seperti Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Kemerdekaan. sehingga kita bisa mengenal tari Saman dari Aceh, dari Kecak dari Bali, budaya Tana Toraja, Upacara Ngaben di Bali, Angklung di Jabar, peninggalan candi Borobudur dan peninggalan budaya lainnya.

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. Sepertinya, kebudayaan adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan lagi dari bangsa ini. Kebudayaan hadir sebagai salah satu identitas bangsa. Bangsa yang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri.

Jika kita bicara masalah folklor, maka tidak akan pernah habisnya. Indonesia memiliki banyak sekali folklor yang telah berkembang dari dulu hingga sekarang. Mulai dari upacara adat, perkawinan, legenda, cerita adat, hantu, dan makanan khas di masing-masing daerah. Tentunya, semua folklor yang berkembang membuat Indonesia menjadi bangsa yang arif dan berbeda dengan bangsa lainnya. Sekarang yang jadi pertanyaan adalah masihkah Indonesia bangga dengan kebudayaan dan adat istiadatnya? Jika masih, lalu upaya apa yang telah dilakukan untuk membuktikannya? Mungkinkah, warisan masa lampau hanya menjadi kenangan? Mungkinkah kita akan melihat kehancuran kebudayaan bangsa kita sendiri?

Folklor merupakan kebudayaan turun temurun yang membedakan suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Itu artinya, setiap daerah di Indonesia memiliki folklor yang berbeda. Mulai dari Aceh hingga Papua. Lalu, folklor seperti apa yang membedakan di masing-masing daerah? Folklor yang membedakan, misalnya ritual keagamaan, makanan, pakaian adat, legenda, mitos/mistis, dan seni musik.

Dulu, sebelum teknologi berkembang seperti sekarang, kita mengenal budaya daerah melalui mata pelajaran sejarah yang diajarkan di SD melalui ilustrasi foto. Sekarang, kita bisa menyaksikan seni budaya melalui film, bioskop dan alat teknologi lainnya.

Kebudayaan daerah, merupakan inspirasi seniman yang diekspresiakan melalui beragam media sebagai wujud sebuah karya kreatif. Pada zaman orde baru, kita sering melihat film yang mengangkat kultur daerah masing-masing provinsi. Diantaranya: fil Musang Berjanggut (Sumatera Utara), Nuansa Birunya Rinjani (Lombok), Si Kabayan (Jabar), Jeram Cinta (Kalimantan Timur), dan lainnya. Film-film tersebut sangat menonjolkan ciri khas dari masing daerah melalui kostum, bentuk rumah, dialek dan kesenian. Karya-karya tersebut lahir karena kecintaan seniman kepada budaya daerah yang ada di Indonesia.

Resensi Novel: Maryamah Kapov

Judul Buku: Maryamah Karpov | Penulis: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang | Harga: Rp. 79.000,00 | Tebal: 504 Halaman

Cinta itu gila! Begitulah peryataan yang sering kita dengar. Banyak orang melakukan apa saja untuk cinta. Bahkan takjarang orang melakukan pengorbanan yang tidak masuk akal hanya untuk cinta. Cinta itu membutakan! Setidaknya itulah yang menjadi ulasan pada buku keempat dari tetralogi laskar pelangi Maryamah Karpov. Lalu, apa hal gila yang dilakukan Ikal (Andrea Hirata) untuk cintanya, A Ling?

maryamah-karpov

Setelah menyelesaikan S2 di Sorbone University Prancis, Ikal (Andrea Hirata) kembali ke tanah kelahirannya di pulau Belitong. Kerinduan! Itulah alasan yang mendasar kenapa Ikal kembali ke Belitong. Ia rindu kepada orang tuanya, rindu kepada Arai (sepupu jauh Ikal), rindu kepada masyarakat Belitong, rindu dengan alam Belitong dan lebih dari itu, ia rindu pada gadis impiannya yaitu A Ling.

Perjalanan dari Jakarta ke rumahnya di Belitong, dilalui Ikal dengan penuh perjuangan dan rasa letih. Tapi semua itu pudar karena ia begitu merindukan ayahnya. Lelaki pendiam itu sangat istemewa bagi Ikal. Bahkan, Ikal mempersiapkan penampilan terbaiknya untuk bertemu dengan ayahnya. Ikal mengenakan pakaian pelayan resotoran ketika bekerja di Perancis dulu. Ketika bertemu dengan ayah, ibunya dan Arai, rasa haru tak dapat terbendung lagi. Betapa Ikal sangat merindukan saat ini. Saat bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.

Pulau Belitong takseperti dulu lagi, masyarakat Belitong terpuruk setelah pabrik timah gulung tikar. Walaupun demikian, suasana Belitong tak jauh berbeda dibandingkan saat Ikal melanjutkan studinya ke Perancis. Masyarakat Belitong masih gemar membual, minum kopi ke warung, dan sangat menyukai taruhan.

Cerita dibuka dengan kehadiran seorang dokter gigi dari Jakarta yang bernama dokter Budi Ardiaz. Ia adalah wanita kaya dan sebenarnya bisa hidup nyaman di Jakarta. Akan tetapi, karena idealismenya, ia mengabdikan dirinya sebagai dokter di tanah Melayu, Belitong. Namun sayangnya, setelah berbulan-bulan membuka praktek, tak ada satupun masyarakat yang mau berobat padanya. Masyarakat lebih senang berobat ke dukun gigi dengan alasan bahwa mulut adalah sesuatu yang sensitif seperti kelamin. Jadi, tak boleh sembarangan memasukkan tangan ke dalam mulut kecuali muhrim. Kenyataan ini, membuat kepala kampung Karmun geram dan memaksa masyarakat untuk berobat pada dokter Diaz. Tapi sayang, masyarakat tetap kekeh dengan prinsip yang telah mereka pegang.

Selanjutnya, diceritakan bahwa masyarakat Belitong menemukan dua jenazah yang terapung di air. Kejadian itu mengagetkan masyarakat khususnya Ikal. Terlebih, jenazah itu memiliki tato kupu-kupu mirip tato A Ling. Konon kabarnya, dua jenazah tersebut tewas karena mencoba melarikan diri dari kawanan perampok yang bengis di pulau Betuan. Hal ini membuat Ikal meyakini bahwa A Ling merupakan salah satu penumpang kapal ke pulau Betuan. Ikal berniat ke pulau Betuan untuk menemukan A Ling. Tapi tidak ada yang mau membantunya. Malah, masyarakat melarang Ikal untuk berlayar ke pulau Betuan. Pulau itu sangat berbahaya, jika mau ke sana jangan harap untuk bisa balik lagi. Ikal tidak menyerah.

Demi cinta!

Itulah motivasi terbesar kenapa ia berusaha keras untuk bisa berlayar ke pulau Betuan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Niat Ikal untuk berlayar akhirnya dibantu oleh sahabat-sahabatnya (Laskar Pelangi) yang kini telah tumbuh dewasa dengan profesi beragam. Lintang dan Mahar memiliki peran yang besar dalam masalah ini. Dengan modal semangat, bantuan dari sahabat-sahabatnya, dan sedikit ilmu, Ikal mampu membuat sebuah kapal yang hebat.

Kapal itu diberi nama Mimpi-mimpi Lintang. Walaupun Ikal telah berhasil membuat kapal, masih saja orang-orang mencemoohkannya dan tak ayal Ikal menjadi objek taruhan masyarakat Belitong. Tapi itu semua tidak menjadi penghambat untuk Ikal. Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada Ikal. Bahkan, Ikal membuat orang terkagum-kagum dengan perjuangan hebatnya.

Setelah berhasil membuat sebuah kapal yang hebat, Ikal berangkat ke pulau Betuan bersama Mahar, Chung Fa dan Kalimut. Mereka memiliki misi-misi yang berbeda untuk berlayar ke pulau Betuan. Selama perjalanan menuju pulau Betuan, banyak sekali rintangan yang harus mereka tempuh. Mulai dari angin laut, pembajak sadis, dan dunia mistik. Tapi semua rintangan itu dapat ia lewati. Akhirnya, Ikal dapat menemukan cinta sejatinya yang telah ia cari bertahun-tahun lamanya. Bahkan separuh benua telah ia tempuh untuk menemukan A Ling.

Singkat cerita, Ikal membawa A Ling pulau Belitong. Mereka berdua berniat untuk menikah. Ikalpun meminta izin kepada keluarga Al Ling agar diizinkan meminang A Ling. Keluarga A Ling pun menyetujuinya. Tapi sayangnya, ayah Ikal tidak menyetujui anak bujangnya meminang A Ling.

Novel Maryamah Karpov memberikan pesan kepada kita (pembaca), agar kita jangan takut untuk bermimpi. Semua yang kita impikan pasti akan terwujud asal kita berusaha untuk mewujudkannya.

“Aku kasih tahu rahasia padamu, Kawan, buah yang paling manis dari berani bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.” (Hal, 343).

Seperti novel-novel sebelumnya, Andrea Hirata mencoba kembali menyuntikkan semangat dan motivasi kepada pembaca agar jangan pernah mengalah dengan nasib. Selain itu, novel ini memiliki banyak kelebihan. Kelebihan pada novel ini terletak untaian kata-katanya yang puitis dan deskripsi narasi yang jelas pada alur ceritanya.

Membaca novel ini, seakan kita (pembaca) dapat mengetahui budaya masyarakat Belitong. Di antaranya adalah kebiasaan membual dan melebih-lebihkan cerita. Juga kebiasaan menyematkan nama baru di belakang nama asli, semata-mata untuk mengolok-olok, bahkan merendahkan martabat yang mempunyai nama. Seperti Berahim Harap Tenang, Tancap Seliman, Marhaban Hormat Grak dan lain sebagainya.

Kejujuran Andrea Hirata dalam menulis novel ini membuat novel ini berbeda dengan novel kebanyakan. Lelucon dan humor juga menjadi bumbu dalam novel ini. Tak jarang kita (pembaca), tertawa membaca kisah masyarakat Belitong yang lucu dan penuh guyonan. Andrea Hirata sepertinya cermat sekali memahami kebudayaan Belitong secara keseluruhan. Sehingga, kita seolah bisa melihat jelas bagaimana realitas masyarakat Belitong sesungguhnya.

Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Begitu juga pada novel Maryamah Karpov ini. Ada beberapa yang mengganjal setelah kita membaca novel ini. Jika kita cermati, judul novel Maryamah Karpov tidak ada kaitan langsung dengan keseluruhan ceritanya. Maryamah Karpov hanya diulas sedikit saja. Maryamah Karpov digambarkan sebagai seorang perempuan yang biasa dipanggil Mak Cik, mendapat tambahan nama belakang karena sering terlihat di perkumpulan jago-jago catur di warung kopi Usah Kau Kenang Lagi dan mengajari orang langkah-langkah ala Karpov.

Selanjutnya, secara keseluruhan novel ini menceritakan tentang perjuangan Ikal untuk menemukan tambatan hatinya, A Ling. Ada juga hal yang ganjil pada cerita Maryamah Karpov yaitu terkait peran ibu Ikal yang tak berarti apa-apa ketika pelayaran ke pulau Betuan. Lebih dari itu, pengalaman fantasis Ikal selama berlayar terkesan terlalu hiperbola dan kurang masuk akal.

Pada akhir cerita, pembaca merasa bingung karena tidak adanya penjelasan tentang kelanjutan hubungan Ikal dengan A Ling. Mungkinkah karena tidak disetujui oleh ayah Ikal, maka rencana meraka untuk menikah batal?

“Sebagaimana kawan tahu. Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orang tua, sejak dulu. Rupanya, begitu pula ayahku yang sederhana itu. Katanya, ia selalu menempatkan setiap kata ayah-ibundanya di atas nampan pualam, membungkusnya dengan tilam.” (Hal, 1)

Mungkinkah itu jawaban atas kelanjutan hubungann Ikal dengan A Ling? Kita hanya bisa meraba dan menemukan kebenarannya menurut analisis kita masing-masing. Terlepas dari adanya beberapa kekurangan di atas, novel ini mempunyai banyak keistemewaan dan pembelajaran yang berharga untuk kita. Novel ini takhanya sekadar kisah kehidupan anak manusia. Lebih dari itu, novel ini mengajarkan kita untuk berani bermimpi. Novel ini cocok dibaca untuk semua kalangan.

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita.

Mahfud Achyar

Universitas Padjadjaran

 

Bercengkrama Tentang Sastra

https://achyar89.wordpress.com/wp-admin/media-upload.php?post_id=-1228952622&type=image&TB_iframe=true
Add an Image

Source: http://informationng.com/
Source: http://informationng.com/

“Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.” (Apresiasi Kesusastraan, halaman 3)

Saya pikir sastra hanya sekadar cerita. Baik berupa dongeng, novel, cerpen dan sebagainya. Ternyata, saya baru memahami bahwa pandangan saya tentang sastra (dulu) itu salah. Novel, cerpen dan lainnya hanya beberapa bentuk karya sastra. Sedangkan sastra sendiri, memiliki ruang dan makna yang luas. Sastra itu memanusiakan manusia. Saya bingung memahami konsep sastra. Berangkat dari itu, rasa penasaran saya untuk mengetahui makna sastra makin tinggi. Saya pun mencari referensi di perpustakaan.

Setelah saya baca buku yang berjudul Apresiasi Kesusastraan karya Jakob Sumardjo dan Saini. K.M, barulah saya dapat memehami bagaimana sastra itu sebenarnya. Sastra lahir sebagai ungkapan perasaan manusia tentang kebenaran. Ya, itulah kesimpulan saya peroleh ketika lembaran buku yang saya baca secara hemat. Manusia senantiasa dalam hidupnya mencari kebenaran, namun terkadang jalan yang ditempuh untuk mencari kebenaran seringkali menimbulkan kejenuhan dan kebosanan. Kemudian, sastra hadir sebagai salah satu jalan yang menyenangkan ketika kita mencari kebenaran.

Menurut Aristoteles, ada empat jalan untuk mencari kebenaran. Jalan mencari kebeneran itu adalah agama, ilmu, filsafat dan sastra. Melihat teori yang disampaikan oleh pakar sosilog seperti Aristoteles, maka sastra termasuk salah satu jalan menuju kebenaran.

Sekarang, yang jadi pertanyaan adalah, apakah benar sastra merupakan jalan menuju kebenaran? Saya pikir pendapat di atas memang benar adanya. Ini bisa kita temukan dari bacaan berupa seperti novel, cerpen dan puisi. Jika kita cermati dengan baik, novel misalnya, mengungkapkan kebenaran yang terjadi di alam semesta. Kebenaran lahir dari realiatas yang tengah terjadi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembacanya.

Lebih dari itu, saya pikir hanya karya sastra yang mampu mengungkapkan kebenaran secara tegas tanpa pandang waktu. Novel-novel pada tahun 1920, adalah gambaran kebenaran yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Karya sastra berupa novel, mengungkapakan kebenaran dengan gaya bahasa. Alasannya, karena tidaklah mudah mengungkapkan kebenaran secara gamblang, kebenaran harus diungkapakan dengan cara yang etis dan estetis, sehingga orang dengan lebih mudah menerima kebenaran.

Saya sangat senang dan apresiasi terhadap sastra. Bagi saya, sastra taksekadar disiplin ilmu. Lebih dari itu, sastra adalah karya seni yang bermanfaat untuk kita (baca: manusia). Karya sastra, besar memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Dari padanya kita dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia, dunia dan kehidupan. Jika bicara bagaimana pendapat saya setelah mengetahui sastra, maka akan saya jawab, saya menemukan makna hidup dan kehidupan lewat sastra. Sastra memberikan konstribusi yang besar dalam hidup saya.

Dulu, saya kurang memahami bagaimana karakter dan polemik-polemik yang dialami manusia. Tapi sekarang, setelah menggeluti sastra, saya jadi bisa memahami kekompleksan karakter manusia dan memahami itu semua. Di samping itu, karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spritual. Hiburan yang lebih tinggi, lebih daripada hiburan batin karena memiliki mobil baru, misalnya. Manusia, tidak lepas dari yang namanya masalah. Apapun itu masalahnya, baik itu masalah besar maupun kecil, pasti akan membuat batin kita gelisah. Dengan karya sastra, kita bisa lebih rehat dan memaknai kehidupan dengan lebih bijak.

Karya-karya sastra berisi muatan semangat moral, agama, dan hiburan yang membantu kita terlepas dari belenggu kegelisahan. Saya pernah mengalami kegelisahan yang cukup hebat. Kemudian, saya membaca novel dan puisi. Setelah mebaca dua karya sastra tersebut, perasaan saya lebih tenang dan kegelisahanpun jadi berkurang. Saya pikir, sastra memiliki kekuatan yang hebat untuk mengaduk-aduk perasaan manusia.

Lalu, apa sebenarnya konstribusi sastra kepada masyarakat? Secara umum, Karya sastra dapat memberikan kita (baca: masyarakat) penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui. Pengetahuan yang kita peroleh bersifat penalaran, tetapi pengetahuan itu dapat menjadi hidup dalam sastra. Kita tahu membunuh itu jahat, tetapi pengetahuan itu menjadi begitu hidup dan terasa kengerian kejahatannya kalau kita membaca drama Wiliam Shakespeare, Machbeth. Dengan karya semacam itu kita diajak memasuki dan menghayati pengalaman kejahatan berupa pembunuhan. Dengan demikian pengetahuan kita tentang adanya larangan moral dan agama untuk tidak membunuh menjadi lebih hidup dan lebih terpahami.

Saya berkeyakinan, bahwa sastra juga berperan sebagai alat pengontrol sosial masyarakat. Kanapa demikian? Karena sastra merupakan representatif realitas kehidupan manusia yang tertuang dalam bentuk karya. Selain itu, membaca karya besar juga dapat menolong pembacanya menjadi manusia berbudaya (cultured man). Manusia berbudaya adalah manusia yang responsif terhadap apa-apa yang luhur dalam hidup ini. Manusia demikian itu selalu mencari nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Salah satu cara memperoleh nilai-nilai itu adalah lewat pergaulan dengan karya-karya seni, termasuk karya-karya sastra besar.

Jadi jelas, bahwa sastra memberikan konsribusi yang besar dalam hidup kita. Takjarang, banyak orang yang berubah dari jahat menjadi baik, karena sastra. Jika kita bicara penting atau tidaknya sastra, maka saya berani katakan bahwa sastra sangat penting dan bermanfaat. Bayangkan jika tidak ada sastra di dunia ini, pastinya sikap-sikap manusia tidak terkontrol. Untuk itu, sastra hadir ketika akal, pikiran dan perasaan tidak menumakan arahnya dengan baik.

Jatinangor, 10 Desember 2008, pukul 6:05 WIB