Bingkai Romantis dalam Film “A Walk In The Clouds” & “Jalan Tiada Ujung”

A Walk in The Clouds

https://i0.wp.com/ia.media-imdb.com/images/M/MV5BNjg3OTQzOTM5MF5BMl5BanBnXkFtZTYwNTY5NzY5._V1_SY317_CR4,0,214,317_.jpg

 

Sebuah film yang bercerita tentang seorang tentara bernama Paul. Setelah perang duna ke-2, dia pergi ke rumah teman perempuannya, bernama Betty. Setelah itu, ia pergi ke sebuah desa yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ketika dalam perjalanan, di kereta, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Victoria Sutto. Merekapun berbincang, dan seakan mereka telah mengenal satu sama lainnya. Film ini mengangkat kisah percintaan antara Paul dan Vicotria. Disamping itu, tokoh utama Paul, mengalami halusinasi ketika ia memejamkan matanya. Ia selalu mimpi seram tentang perang. Dimana saat itu, ia melihat banyak tentara-tentara yang tewas. Dan kondisi perang sungguh membuat ia ketakutan.

Setelah bertemu dengan Victoria, inilah awal kisah drama romantis film A walk in the clouds. Entah kenapa, nasib mempertemukan Paul dan Victoria kembali. Setelah perjumpaan mereka di atas bis, mereka saling bercerita antara satu dan lainnya. Paul merupakan penjual coklat. Awal kisah romantis dan penuh liku, ini dimulai ketika Victoria menyatakan bahwa ia hamil. Padahal, ia belum menikah. Victoria merasa kebingungan dengan masalah yang tengah ia hadapi. Apalagi jika ia harus membayangkan bahwa Ayahnya, Mr. Aragon adalah seorang pria sangat keras kepala dan otoriter. Kemudian, Paul pun berinsiatif dan menyatakan, bagaimana kalau mereka pura-pura menikah saja.

Victoria mengajak Paul ke rumahnya, ia menyebutnya-Clouds, yaitu awan. Keluarga Victoria memiliki kebin anggur yang sangat luas. Dan biasanya, ketika mereka panen anggur, maka akan ada upacara dan pesta panen anggur.
Ketika Victoria memperkenalkan Paul kepada keluarganya, keluarganya menyambut gembira karena Victoria sudah menikah. Saat itu, mama, kakek dan neneknya bahagia karena ada anggota baru dikeluarganya. Tapi sayangnya, Mr. Aragon tampak tidak suka dengan kehadiran Paul. Victoria dan Paul harus berakting semanis mungkin gara-gara keluarga Victoria tidak mengetahui kebohongan mereka. Mereka berpura-pura tidur seranjang.
Kakek Victoria sangat antusias dengan kehadiran Paul. Bahkan ia mengajal Paul untuk keliling kebun anggurnya, dan memperlihatkan akar anggur menjadi cikal bakal tumbuhnya pohon anggur.
Ketika perayaan panen anggur, masyarakat di sana tampak bersuka cita. Tarian, musik dan tawa menghiasi pesta kala itu. Victoria dan Paul pun hanyut dalam buaiyan kasih sayang. tapi, kebahagiaan mereka bukan kebahagiaan yang mutlak. Karena memang, mereka bukan sepasang suami-istri. Paul sering sekali bermimpi sama. Mimpi perang. Agaknya ia mengalami traumatis akabita perang.
Mereka (Victoria dan Paul) tidak mampu lagi menutupi kebohongan mereka. Akhirnya, Victoria memutuskan untuk menceritakan perihal kebohongannya kepada keluarganya. Keluarganya, terutama ayahnya sangat kecewa. Ia merasa dibohongi. Paul memutuskan untuk kembali ke San Fransisco, menemui Betty.

Ketika itu ia melihat Betty selingkuh dengan pria lain. Paul melanjutkan perjalanan (walking) ke rumah Victoria. Ketika ia sampai di sana, ia menemui Mr. Aragon yang tampak kelelahan dan tertidu. Ketika berusaha menyapanya, Mr. Aragon sentak bangun dan marah, kemudian mencaci Paul. Ia tidak mengizinkan Paul menjalin cinta dengannya. Pertengkaran pun takdapat dielakkan. Yang pada akhirnya, Mr. Aragon melempar sebuah lampu minyak, dan lampu tersebut membakar seluruh perkebunan anggur milik keluarga Victoria. Semua orang berusaha mematikan api. Tapi sayangnya, usaha mereka gagal. Api begitu cepat menjalar dan menghabisi seluruh kebun anggur. Keluaga itu sedih karena kebun mereka hangus terbakar.
Akhir cerita, Paul yang teringat bahwa kakek Victoria pernah menunjukkan akan anggur, kemudia membokar akar tersebut, dan menunjukkan akar tersebut kepada Mr.Argon. Mr. Argon terkesima. Semua orang tersenyum bahagia. Itu artinya, haparan itu masih ada. Akar anggur, akan menjadi kebun yang sangat luas. End.

Jalan Tiada Ujung | Mochtar Lubis


Novel ini berlatar belakang pasca penjajahan Belanda. Dimana saat itu, rakyat Indonesia harus mengalami nasib buruk, seperti: penembakan, penghinaan hak asasi manusia, pelecehan, dan lain sebagainya. Tentara-tentara sering sekali mengubel-ubel rakyat Indonesia. Setiap jam, setiap hari, bunyi letupan senjata api menghiasi hari-hari rakyat Indonesia. Mereka takmampu berbuat banyak. Hanya bermodal senjata tradisional yaitu bambu runcing. Sedangkan serdadu-serdadu itu mereka menggunakan peralatan senjata yang modern. Mulai dari tank baja, truk, dan senjata api. Biasanya, tiap hari serdadu itu akan memeriksa tiap rumah, tiap orang, jika dicurugai memiliki senjata untuk melawan Belanda.
Cerita ini berlatar di Jakarta, tepatnya di Tanah Abang. Tokoh sentral dalam cerita ini adalah guru Isa dan Hazil. Guru Isa, yang berusia tiga puluh lima tahun. Ia merupakan berprofesi menjadi seorang guru bertahun-tahun lamanya. Ia memiliki seorang istri bernama Fatimah. Tapi sayangnya, hubungan mereka tidak berjalan harmonis. Hal ini disebabkan oleh belum adanya keturunan yang mereka hasilkan. Sesungguhnya ini bukanlah salah Fatimah. Melainkan, Guru Isa, yang mengalami traumatik, sehinga tak bisa berbuat apa-apa.

Guru Isa merupakan lelaki yang cinta damai, tidak menyukai kekerasan, dan sangat penyayang. Ia paling benci dengan perang. Karena bagi ia, perang merupakan kekerasan dan tidak berperikemanusiaan. Maka tak heran, ketika ia melhat terjadinya penembakan oleh tentara Belanda ke penduduk sipil, maka kejadian tersebut selalu terulang dalam benaknya. Ia selalu behalusinasi. Membayangkan seandainya, dirinya, anak istrinya mati ditembak oleh serdadu yang kasar-kasar itu. Perasaan kecut dan takut guru Isa begitu kuat.

Bahkan terkadang, ia menolak ketika diminta istrinya turut membantu pemuda lain yang sedang ronda untuk mengamankan kondisi.
Berbeda dengan guru Isa, tokoh sentral lain dalam novel Jalan Tiada Ujung ini adalah Hazil. Ia merupakan pemuda yang pemberani. Tekadnya sangatlah kuat. Yaitu berjuang merebut kemerdekaan. Ia hanya bermodal sepucuk pistol. Dengan tekad bulat yang ia miliki, ia berkeyakinan bisa menjadi bagian dari perjuangan rakyat Indonesia. Hazil sangat gemar memainkan alunan musik biola. Bahkan kemampun bermain biolanya lebih mahir dibandingkan guru Isa. Alunan nada yang digesek oleh biolanya, merupakan pendamping perjalanan perjuangan Hazil.
Guru Isa, lama-kelamaan rasa beranipun muncul dari dalam dirinya. Ia dimanita ikut organisasi pertukaran senjata. Tentunya, ia sangat ketakutan menjalankan pekerjaan ini. Tapi untungnya, ia berteman dengan Hazil. Rasa takut bisa dikalahkan dengan semangat dan pengorbanan.
Jika kita analisis, kenapa novel ini berjudul “Jalan tiada ujung?” jawabannya terdaoat dalam kutipan berikut: “Dalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada tempat pikiran kacau dan ragu-ragu,” kata Hazil. Saya sudah tahu semenjak mula bahwa jalan yang kutempuh ini adalah jalan tiada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya.

Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ada ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.
Selanjutnya, kisah ini bercerita tentang perjuangan guru Isa dan Hazil. Ketakutan guru Isa bertambah ketika ia membaca surat kabar, bahwa dua orang pelempar granat tangan, ditangkap polisi. Ia sangat ketakutan. Ia selalu membayangkan, bagaimana jika seandainya polisi datang ke rumahnya, memeriksa ia, dan mengangkapnya. Ketakutan yang teramat sangat mengusik hari-hari guru Isa. Bahkan ia sampai demam membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya. Akhirnya, ia dtangkap polisi, tapi bersyukur, rasa takutnya lama-kelamaan membuahkan keberanian. Apalagi ketika ia teringat perkataan-perkataan Hazil, dan yang lebih menggembirakan adalah bahwa ia kembali menjadi lelaki sejati.

Analogi/kemiripan antara film, A walk in the Clouds dengan novel Jalan Tiada Ujung
Dari segi latar waktu cerita, dua buah karya di atas berlatar waktu yang hamper sama yaitu pasca perang. Jika dalam film Awalk in the clouds berlatar waktu ketika setelah perang dunia dua, pada novel Jalan Tiada Ujung berkisah waktu penjajahan/agresi Belanda ke Indonesia.
Pada dua buah karya tersebut digambrakan kepada kita, pembaca bahwa perperangan adalah kondis yang sangat memprihatinkan. Dimana-mana, banyak manusia mati terbunuh. Bunyi deru pistol dan ketakutan senantiasa menyelimuti setiap oarang yang berada dalam kondisi perang.
Selain itu, kemiripan dua buah karya tersebut terletak pada kesamaan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama. Jika pada film A walk in the clouds, Paula si tokoh utama, sering kali mimpi buruk karena kondisi perang, dalam novel Jalan Tiada Ujung tokoh utama “Guru Isa mengalami kondisi yang sama hebatnya dengan Paul. Yaitu ketakutan, ketakutan, dan ketakutan. Ia selalu dibayang-bayangi perasaan jika ia dtembak serdadu, dipenjara dan anak-istrinya akan kehilangan dia.”
Jika disimpulkan, kondisi perang merupakan kondisi yang buruk. Tidak ada kedamaian seperti di awan, atau jalan tiada ujung. Sampai pada akhirnya, setiap orang harus merasakan kebahagiaan, kedamaian dan jauh dari bayang-bayang ketakutan.
Dua buah karya tersebut memiliki sisi romantisme masing-masing. Romantisme antara Paul dan Victoria, dan romantisme antara Guru Isa dan Fatimah.

Kisah Dari Calcutta dalam Novel Epilog – Balada Si Roy

aku-rel

Novel yang dibahas pada kesempatan ini adalah novel karya Gola Gong yang berjudul Balada Si Roy, Epilog. Novel Epilog adalah ending dari kisah novel Balada Si Royyang ditulis oleh Gola Gong. Novel ini menceritakan seorang pemuda yang bernama Roy. Ia adalah seorang pemuda yang senang melakukan petulanagan. Ini terlihat dari kebiasaannya yang gemar menjelajah dari suatu tempat ke tempat lain. Pada novel Epilog, Si Roy menjelajahi negeri India. Pada awal cerita, latar tempat yang digunakan adalah Calcuta.

Calcuta adalah sebuah daerah yang terletak di perbatasan India dan Bangladesh. Lalu, apa sebenarnya tujuan Roy berpetualang hingga ke negeri India? Menurut hemat saya, Roy merupakan wujud nyata dari penulis sendiri, yaitu Gola Gong. Secara tekstual dapat kita pahami bahwa alasan yang mendasar kenapa Roy senang bepetualang adalah karena ia jemu dengan kondisi negaranya sendiri, Indonesia. banyak hal yang ia sesalkan. Pertama, ia tidak suka dengan kondisi politik di Indonesia, dan sebenarnya ia ingin melupakan sejenak pikirannya tentang kampung halamannya.

Berbeda dengan novel popular kebanyakan, yang menarik dalam novel ini adalah pembubuhan kata-kata motivasi pada setiap babnya. Menurut saya, tentunya menarik sekali jika kita (sebagai pembaca) dapat memahami pesan yang ingin disampaikan penulis terangkum dalam sebuah tulisan motivasi yang ditulis oleh penyair-penyair hebat di dunia. Ketika saya membaca novel ini, saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan novel kebanyakan yang pernah saya baca. Novel cukup memberikan inspirasi bagi saya.

Betapa pentingnya sebuah kejujuran untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Roy adalah seorang traveler yang sedang mencari identitas dirinya. Berangkat dari Indonesia ke India dengan harapan agar ia menemukan kebahagiaan dan makna hidup yang sesungguhnya.
Di awal cerita, novel ini bercerita tentang perjalanannya bersama seorang sahabatnya yang bernama Osahi di Calcuta. Osahi merupakan sahabat yang baik bagi Roy. Walaupun beebeda Negara, tetapi Osahi mampu menunjukkan kesetiakawanannya.

Selanjutnya, secara deskriptif novel ini menyajikan sebuah potret kehidupan masyrakat India dengan kekompleksan budayanya. Bagi orang India, kejujuran adalah barang yang sangat mahal bagi mereka. karena, banyak orang yang berdusta hanya untuk mendapatkan kesenangan saja. Strata kehidupan sosial adalah suatu kenyataan yang sampai detik ini masih menjadi socio-realty. Ini terlihat ketika ras Paria (berkulit hitam, dan torgolong miskin) yang sangat memprihatinkan. Terbukti dari kesejahteraan yang masih rendah, dan apabila salah seorang anggota keluarga ras Paria meninggal dunia, maka sulit sekali untuk membakar jenazahnya. Hal ini dikarenakan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan. Kondisi ini terjadi pada tokoh Kay. Ia adalah anak kecil yang hitam, tengil, dan pekerja keras. Ketika ibunya meninggal, prosesi pembakaran dilakukan dengan sangat sederhana.
Selain itu, potret budaya yang dibingkai penulis tergambar dari kondisi sungai Ganga. Sungai tersebut merupakan sungai yang suci untuk kaum Hindu India. Sungai Ganga dianggap sebagai air mata Dewa Shiva. Kegitaan masyarakat India mampu terdeskripsikan dengan baik oleh Roy, selaku tokoh central. Mulai dari mandi, perdagangan, peribadatan, dan sebagainya. Maka tak heran jika sungai ini menjadi salah satu icon dari Negara India.


Hal yang menarik lagi adalah, dalam novel Epilog ini penulis mampu memberikan sebuah informasi yang penting bagi pembaca. Informasi tersebut adalah komunikasi lintas budaya antara orang Indonesia, Korea, Jepang, Jerman, dan juga Yahudi. Roy secara gamblang menggambarkan bagaimana karakter/kebudayaan masing-masing Negara. Apakah itu lewat dialog antar tokoh, maupun lewat pencitraan tokoh utama sendiri. Dalam novel ini, percintaan tak luput untuk dibahas. Roy tiba-tiba merasakan getaran cinta dengan seorang gadis bernama Ina. Ia adalah gadis Jerman yang dekat dengan Roy saat berliburan di India. Benih cinta itu kian tumbuh. Akan tetapi, Roy tidak menerima cinta Ina karena ia masaih mencintai pacarnya Suci yang ada di Indonesia.

Setelah melakukan perjalanan di India, Roy balik ke Indonesia. tapi sayangnya, ia tak memiliki pacar lagi. Suci telah pergi, dan sekarang ia hanya bisa menyesal.

Novel ini sangat menarik karena penulis sangat mahir dalam memaparkan sebuah kejadian yang ia tangkap. Selain itu, penulis mampu memilah diksi yang tepat dalam penarasiannya. Sehingga, saya sebagai pembaca merasa nyaman membaca novel ini.

Apaidemu.com: 1 Bulan, 1 Karya Sastra

A-Love-For-Literature

Bagi sebagian orang, sastra mungkin adalah sebuah minat atau passion yang kurang menarik. Parahnya, banyak generasi muda Indonesia yang tidak mencintai sastra. Mereka lebih tertarik dengan teknologi, kesehatan, lingkungan, politik, dan sebagainya. Sebetulnya sah-sah saja bahwa setiap orang berhak dengan pilihan minatnya. Namun yang menjadi permasalahan adalah, mengapa sastra seakan dikucilkan atau bahkan tidak menjadi kebanggaan dari anak muda Indonesia?

Hal tersebut barangkali dilatarbelakangi kurangnya informasi berkaitan dengan dunia kesusastraan. Banyak anak muda Indonesia yang menilai bahwa sastra itu adalah sesuatu yang klasik, hanya fiksi, dan tidak memberikan peran yang berarti bagi mereka. Bahkan di dunia pendidikan sendiri, sastra semakin dianaktirikan. Hal tersebut terbukti dari kurangnya antusias siswa ketika membahas sastra dan karya-karya sastra seperti cerpen (cerita pendek), puisi, novel, roman, dan juga film.

Sastra seakan tidak menjadi sebuah hal yang mahal di Indonesia. Padahal di negara-negara maju seperti Inggris sastrawan dan karya-karyanya sangat dihargai. Sebut saja salah seorang sastrawan Inggris yang sangat tersohor di seantero dunia William Shakespeare. Banyak karya monumental yang lahir dari jemari Shakespeare, sebut saja kisah cinta abadi “Romeo and Juliet”. Tidak hanya itu, di Inggris sendiri studi “Liberal Art” sangat diminati oleh anak-anak muda di sana. Tidak hanya itu, manuskrip sastra terjaga baik dan senantiasa dipelajari oleh generasi muda di sana. Sementara bagaimana dengan di Indonesia? Miris.

Andai semua anak muda Indonesia mau meluangkan sejenak waktunya mengenal sastra, saya yakin akan sangat banyak anak muda Indonesia yang tertarik untuk sekadar mengenal atau bahkan lebih jauh mempelajari lebih dalam tentang sastra.

Sastra bukan sebatas karya imajinatif seseorang. Lebih dari itu, sastra itu memanusiakan manusia. Hal tersebut tertuang dalam sebuah pesan singkat yang saya terima dari teman saya. Isi pesannya adalah, “Filsuf memahami dunia. Ilmuwan kemudian mengartikannya. Cendekiawan mengubah dunia. Tetapi apa yang didapat dari sastrawan dan seniman sejati? Mereka akan setia bersamamu kawan. Dengan sastra, kau akan mampu merasa dan memberi arti pada makna.”

Bicara sastra, kita akan diajak untuk lebih mengenal arti kehidupan yang sesungguhnya. Percayalah kawan!

*Ini gagasan saya ketika mengikuti lomba apaidemu.com yang diadakan oleh Pertamax 😉 Tapi sayang, ga menang. Ha2x ;D

逢いたくていま

Do you remember the day we first met?
I haven’t forgotten a single day that’s passed
I want to feel everything you had your eyes on
I looked up at the sky, are you there now watching over me? Tell me

初めて出会った日のこと 覚えてますか
過ぎ行く日の思い出を 忘れずにいて
あなたが見つめた 全てを 感じていたくて
空を見上げた 今はそこで 私を 見守っているの? 教えて

今 逢いたい あなたに
伝えたい事が たくさんある
ねえ 逢いたい 逢いたい
気づけば 面影 探して 悲しくて
どこにいるの? 抱きしめてよ
私は ここにいるよ ずっと

もう二度と逢えないことを 知っていたなら
繋いだ手を いつまでも 離さずにいた
ここにいてと そう素直に 泣いていたなら
今も あなたは 変わらぬまま 私の隣りで 笑っているかな

今 逢いたい あなたに
聞いて欲しいこと いっぱいある
ねえ 逢いたい 逢いたい
涙があふれて 時は いたずらに過ぎた
ねえ 逢いたい 抱きしめてよ
あなたを 想っている ずっと

運命が変えられなくても 伝えたいことがある
戻りたい あの日 あの時に 叶うのなら 何もいらない

今 逢いたい あなたに
知って欲しいこと いっぱいある
ねえ 逢いたい 逢いたい
どうしようもなくて 全て夢と願った
この心は まだ泣いてる
あなたを 想っている ずっと

Arigatou Minakata Jin

Cover of Jin by google.com

DESCRIPTION:

Episode: 22 episode
Broadcast Date: 2009.10.11-2009.12.20 until 2011.04.17-2011.06.26
Cast: Takao Osawa / Haruka Ayase / Miki Nakatani / Masaaki Uchino
Category: Family / Medical / Mystery/Thriller / Romance / Tearjerker /

PROLOG

Pada kesempatan ini, saya ingin bercerita tentang sebuah dorama (drama Jepang) yang menurut saya sangat bagus dan memiliki pesan kehidupan yang sangat dalam. Sebelum itu, saya ingin menyampaikan sebuah pesan singkat dari teman saya tentang sastra. Saya akan kutipkan kata mutiara itu untuk kita semua.

“Filsuf memahami dunia. Ilmuwan kemudian mengartikannya. Cendekiawan mengubah dunia. Tetapi apa yang didapat dari sastrawan dan seniman sejati? Mereka akan setia bersamamu kawan. Sastra memanusiakan manusia. Dengan sastra, kita bisa memberi arti pada sebuah makna.”

Film atau drama merupakan produk sastra dalam bentuk audio dan visual. Jelas, kisah yang diangkat dalam drama merupakan kisah rekaan yang mungkin saja terjadi di dunia nyata. Namun, cerita pada sebuah fiksi bukan berarti sebuah kisah yang hambar dan tidak memiliki nilai apa pun untuk kemudian kita ambil sebagai pembelajaran hidup.

Saya beruntung, dari kecil saya sudah mengenal sastra. Saya sudah akrab dengan bacaan seperti cerpen dan novel. Bahkan dulu, ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya memiliki sebuah buku yang berisi kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis oleh seorang anak yang tidak mengetahui teori sastra, seorang anak yang hanya berusaha menuangkan makna yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Namun sayang, buku kumpulan puisi itu hilang dan entah dimana. Saya menyesal karena tidak dapat menjaganya dengan baik.

Baik, kita kembali ke topik utama kita tentang dorama Jepang yang berjudul Jin. Jujur saya katakan, ini adalah dorama terbaik yang pernah saya tonton. Kendati menggunakan subtitle bahasa Inggris, bagi saya tidak masalah. Saya bisa menikmati fiksi dan sekaligus belajar bahasa Inggris. Beberapa kosa kata yang belum pernah saya dengar, kemudian saya catat dan saya hapal.

Entahlah, saya sebetulnya bingung sendiri ketika saya larut menikmati dunia fiksi seperti novel dan film/dorama. Ada semacam perasaan yang mendorong saya turut ambil bagian dalam kisah tersebut. Ah, mungkin karena memang saya sudah terlalu lama berinteraksi dengan sastra.

Dorama Jin mengisahkan tentang seorang dokter bernama Minakata Jin yang terjatuh dari gedung rumah sakit hingga kemudian ia koma. Masa koma tersebut memaksa Minakata Jin memasuki alam bawah sadar menuju pada sebuah dimensi yang berbeda. Sebuah dimensi yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, yaitu ia kembali ke zaman Edo (sebutan nama Tokyo zaman itu) pada tahun 1862.

Minakata Jin di zaman Edo

Kisah Minakata Jin dimulai ketika ia harus penyaksikan pertarungan samurai di sebuah semak belukar di malam hari. Ia melihat dengan kedua matanya bahwa di depannya, ada seorang samurai yang kepalanya ditebas oleh pedang hingga membuat samurai tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Menyaksikan tragedi tersebut, secara naluriah sisi humanisme Minakata Jin pun terpanggil untuk menyelamatkan samurai yang bernama Tachibana Kyotaro. Minakata Jin pun membawa Kyotaro-san ke rumahnya dan menyelamatkan nyawanya dengan operasi yang menggunakan peralatan sederhana.

Tentu menjadi tantangan bagi Minakata Jin sebagai seorang dokter yang hidup di era teknologi canggih, namun harus dihadapkan dengan tantangan untuk menyelematkan nyawan di zaman Edo yang minim fasilitas dan teknologi kedokteran.

Masyarakat Edo pun masih asing ilmu kedokteran sehingga masyarakat Edo merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Minakata Jin. Orang yang pertama kali mendukung cara pengobatan Minakata Jin adalah adik perempuan dari Kyotaro-san yaitu Saki-sama. (Aha, Saki-sama yang diperankan oleh Haruka Ayase sangat baik. Saya masih terkesima dengan aktingnya dalam film Cyborg-she)

Arigatou sensei! -Saki

Keberhasilan operasi yang dilakukan Minata Jin dan dibantu oleh Saki-sama terhadap Kyotaro-san didengar oleh banyak orang. Sejak peristiwa itu, berbagai tantangan berkaitan dengan pengobatan memaksa Minakata Jin untuk menyelesaikannya dengan baik. Mulai dari mengoperasi ibu dari Kicchi-san, mengobati penyakit kolera, mengoperasi tumor Nokaze-san, sivilis, mengatasi penyakit beri-beri yang menyerang banyak masyarakat Edo, dan bahkan sampai mengobati orang yang nyaris merenggut nyawanya. Tapi beruntung Minakata Jin tidak berjuang sendirian. Ia dibantu oleh sahabat-sahabatnya untuk mengatasi setiap tantangan yang terjadi.

“God only gives us challenges. So we can overcome them.” – Minakata Jin

Minakata Jin yakin bahwa setiap tantangan yang ia hadapi, pasti dapat ia atasi dengan baik. Apalagi ia memiliki sahabat dan orang-orang yang di sekitarnya yang mendukung dan mencintainya dengan sepenuh hati. Kendati, kerap kali ia dihantui perasaan gusar, sebetulnya apa alasan ia dikirim ke zaman Edo? Mungkinkah kehadiran ia di zaman tersebut menjadi syarat agar kekasihnya Miki bisa sadar dari komanya? Namun, ia akhirnya sadar bahwa ia kembali ke zaman Edo untuk mengubah masa depan dan hari esok yang lebih baik lagi. Walaupun kadang ia sendiri ragu dengan apa yang telah ia kerjakan. Namun, karena melihat semangat dan senyum tulus dari sahabat-sahabatnya, ia pun memiliki keyakinan penuh untuk mengubah sejarah Jepang menjadi lebih baik lagi.

Kondisi pelik di zaman Edo tidak hanya lantaran masalah kesahatan. Saat itu suasana Jepang berada dalam kondisi pada masa kekuasaan Keshogunan Tokugawa yang diambang kehancuran yang ditandai dengan Restorasi Meiji.

Menonton dorama ini, kita seakan diajak untuk kembali ke masa silam yaitu di zaman Edo. Apalagi diiringan dengan instrument musik Jepang yang sangat indah sehingga kita begitu menikmati setiap peristiwa yang terjadi di zaman tersebut.

Saki: “Sensei… Look at sunset.. Very beautiful right?”

Kadang, tulang saya terasa ngilu ketika menyaksikan operasi yang dilakukan Minakata Jin dan sahabatnya dengan hanya mengandalkan peralatan operasi seadanya. Terlebih ketika scene Nokaze-san yang harus dicaesarr tanpa mengggunakan anesthesia. Bagi saya itu sangat dramatis dan membuat saya tertarik dengan dunia kedokteran. Kadang saya berpikir, apakah di dunia ini masih banyak dokter yang memiliki visi dan semangat seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan sahabat-sahabatnya.

Lega sekali ketika operasi berjalan dengan sukses. Terlihat dengan jelas raut wajah senang memancar dari wajah Minakata Jin dan sahabat-sahabatnya. Saya kagum dengan dokter. Mereka bisa menolong orang lain dengan sepenuh hati kendati dalam perasaan tertekan sekalipun. Saya berharap, saya sangat berharap masih ada dokter-dokter seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan Saburi-san. Rasanya indah sekali jika dunia ini diisi oleh orang-orang baik dan senantiasa berbuat baik.

***

Sebuah drama tidak lengkap rasanya jika tidak ada kisah cinta di dalamnya. Drama Minakata Jin juga mengisahkan ketulusan hati Minakata Jin terhadap kekasihnya Miki yang terbaring koma di masa depan. Namun di zaman Edo; tempat ia berada sekarang, ada seorang gadis yang begitu tulusnya mencintai Minakata Jin yaitu Saki-sama. Namun, Saki-sama tidak mengungkapkan apa yang ia rasa. Ia hanya memendam perasaan tersebut dalam-dalam. Saki-sama mengetahui secara persis bahwa cinta Minakata Jin terhadap Miki sangatlah besar. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan cinta terbaik yang ia miliki untuk kebahagiaan Minakata Jin. Bukankah cinta itu tanpa syarat? Maka berkorbanlah untuk yang kita cintai, karena prinsip cinta itu memberi, bukan diberi.

Di akhir cerita, Minakata Jin harus kembali ke zamannya di masa depan. Padahal saat itu adalah saat-saat tersulit. Saki-sama nyaris tidak bisa diselamatkan akibat bakteri yang terus menggrogoti lengannya. Tapi beruntung, Kyotaro-san menemukan botol obat disinfektan yang dibawa oleh Minakata Jin ketika pertama kali terlempar dari masa depan ke zaman Edo.

Dokter Minakata Jin pun sadarkan diri. Ia terbangun dari tidurnya yang panjang. Betapa kagetnya, ia melihat peralatan-peralatan kedokteran yang canggih dan orang-orang yang dikenalnya di masa depan. Ya, dokter Minakata Jin kembali ke masa depan. Lantas bagaimana dengan kondisi kesehatan Saki-sama di zaman Edo? Rasa penasaran yang membuncah dihati Minakata Jin membuat ia mencari literasi tentang sejarah kedokteran Jepang. Ia pun menemukan literasi yang menuliskan bahwa kedokteran di zaman Edo berkembang berkat semangat Njinyo-do yang tidak lain sahabat-sahabat dari Minakata Jin. Air mata taksanggup lagi ia bendung. Ia pun menangis bahagia karena mengetahui sejarah Jepang terutama di dunia kedokteran berkembang pesat.

Never ending fighting!

Dalam suasana hati yang bercampur baur; sedih, senang, dan gelisah ia pun berkunjung ke sebuah rumah Tachibana di kota Tokyo yang dulu menjadi tempat tinggal Saki-sama dan keluarga Tachibana. Dan yang mengagetkan, ternyata Miki-san, kekasihnya merupakan penerus keluarga Tachibana.

Recommendation:

Untuk siapa saja yang membaca tulisan saya ini, saya sangat merekomendasikan kalian semua untuk menonton drama ini. Drama ini menyentuh sisi kemanusiaan kita; mengajarkan kita tentang filosofis kehidupan, dan kita bisa belajar banyak dari sikap orang Jepang yang sangat bersemangat dalam tolong menolong satu sama lainnya. Jujur saya katakan, saya meneteskan air mata berkali-kali saat menonton drama ini.

Drama ini layak ditonton oleh semua kalangan, terutama mahasiswa kedokteran atau orang-orang yang bergerak di bidang kesahatan. Bahwa pengabdian kalian sebagai seorang tenaga medis itu adalah sebuah kehormatan. Bukan materi yang dicari, tapi investasi jangka panjang. Yakinlah, kebaikan yang saat ini kita lakukan akan terus kita rasakan manfaatnya. Selamat menikmati.
Visit the site: http://www.tbs.co.jp/jin-final/

Ganbarimashou, Yume-san!

Who actually “The Woman in Black?”

Sebetulnya saya belum membaca novel “The Woman In Black”. Saya baru menonton filmnya saja. Film bergenre ghotic/horor ini diperankan oleh Daniel Radclieffe sebagai Arthur Kipps. Banyak tulisan yang telah mengulas film ini. Namun, pada tulisan ini saya hanya menfokuskan untuk mencari tahu siapa sebenarnya the women in black itu?

the-woman-in-black-poster downloaded by google

Akhirnya saya menonton ulang film The Woman in Black untuk kedua kalinya. Saya masih cukup penasaran. Beberapa tulisan (dalam versi bahasa Indonesia) yang mengulas film ini belum ada yang secara detail menjelaskan siapa sebenarnya sosok the woman in black itu.

Dengan seksama, saya coba perhatikan setiap detil dari narasi film ini. Yap, setelah beberapa detik memeras otak, akhirnya saya berkesimpulan bahwa the women in black itu adalah Jennet. Mengapa?

Menurut pengamatan saya, ini sungguh sangat masuk akal. Anda tentu mengetahuinya melalui petunjuk ataupun kode yang ditemukan oleh Kipps dalam rumah Eel Marsh House. Petunjuk awal berkaitan misteri ini dapat diketahui dari beberapa surat yang ditulis Jennet untuk Alice. Inti surat itu adalah bahwa Jennet sangat iri, cemburu, marah, kesal, atau bahkan kecewa karena anaknya Nathaniel diadobsi (dianggap anak) oleh saudara perempuannya Alice.

Selanjutnya Kipps menemukan foto keluarga Alice, suaminya, dan Nathaniel di depan rumah. Jika kita jeli, di foto itu juga terlihat Jennet mengintip dari balik jendela. Persis. Ia mengenakan gaun berwarna hitam. Entahlah, apa yang membuatnya seakan begitu benci kepada Alice. Mungkin karena Alice sudah merebut perhatian Nathaniel darinya. Lebih-lebih sejak insiden yang merenggut nyawa Nathaniel.

Nathaniel tenggelam dalam rawa di sekitar rumahnya saat terjadinya pasang naik. Alice berusaha untuk menyelamatkan Nathaniel. Namun apa daya, ia tidak berhasil menyelamatkan Nathaniel.

Jennet menganggap kematian Nathaniel karena keegoisan dan kelalaian Alice. Dalam suratnya untuk Alice, ia menulis , “Kau egois. Kau hanya menyelamatkan dirimu sendiri!”

Sejak kematian Nathaniel, warga desa sempat tidak mengetahui dimana dan bagaimana mayat Nathaniel. Melalui Kipps, Jennet memberikan kode melalui pesan rahasia pada dinding kamar di rumah Eel Marsh House. “You Could Save Him”. Sebagai pengacara yang cerdas, Kipps mampu membaca pesan rahasia yang disampaikan Jennet.

Matanya tertuju pada rawa di depan rumah Eel Marsh House yang tertancap salib. Kipps bersama Daily (temannya yang anti-mistis) mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi di dalam rawa itu. Yap benar sekali. Kipps menemukan mayat Nathaniel masih terbenam di dalam rawa di sekitar rumah itu.

Oh ya, ketika Kipps keluar rumah di saat hujan dan petir (karena dihantui), ia kembali melihat sosok the woman in black. Kali ini wanita bergaun hitam itu tidak sendirian. Ia bersama anak-anak penduduk desa yang telah menjadi korbannya.

Lantas kemudian kita akan bertanya-tanya, mengapa harus anak-anak yang menjadi korbannya? Menurut hemat saya, hal tersebut tidak lain tidak bukan, karena obesesi Jennet yang ingin memiliki Nathaniel seutuhnya–tidak terpenuhi. Dan pada akhirnya melampiaskan dendamnya dengan menghisap setiap jiwa anak-anak yang ia kehendaki dengan pertanda alunan musik bernada kelu dan kemudian ia menampakkan diri. Dan hal yang sama juga ia lakukan kepada putra Kipps yaitu Joseph di stasiun kereta api.

Namun yang pertanyaan di benak saya, mengapa si the woman in black alias Jennet melakukan hal yang sama pada Joseph, anaknya Kipss? Padahal Kipps sudah membantunya untuk menemukan mayat Nathaniel. Entahlah. Sepertinya kita memang harus membaca novelnya. (Menurut sumber yang saya baca, ini salah satu novel terbaik di UK. Pernah dikaryakan juga dalam bentuk teater).

Sekian. Terima kasih.

*saya tidak punya alasan mengapa bikin note ini selain saya terobsesi menjadi Detektif, hoho ^^d

Menurut saya, film ini ratingnya di bawah Insidious untuk kategory film horor. Tapi lumayan untuk alternatif hiburan keluarga. haha =)

PS: Menonton film ini kita tidak akan bisa terlepas dari bayang-bayang sosok Harry Potter. Kadang saya berpikir, bagaimana mungkin Arthur (Harry Poter) bisa sebodoh itu dalam film itu. In the case, saat mati lampu, Kipps (Harry) susah-susah menyalakan lilin. Padahal tinggal berucap: Lumos! Atau ketika pintu susah dibuka, tinggal baca mantra Alohomora! Ketika hantu itu mendekat, ia bisa menggunakan mantra Crucio! Tapi begitulah, saya masih terjebak dalam euforia Harry Potter.

tulisan ini sangat sotoy dan saya tidak tahu mengapa saya bisa sesotoy ini.

Di Balik Kesuksesan Film Tjoet Nja Dhien

Film Njoet Nja’ Dhien yang diproduksi oleh Kanta Film pada tahun 1988 menyabet delapan piala citra. Salah satunya yaitu pemeran wanita terbaik yang diperankan oleh Christine Hakim. Lantas, apa alasan dari juri piala citra menganugrahkan Christine Hakim sebagai pemeran wanita terbaik dalam film Njoet Nja’ Dhien tersebut?

Pada tulisan ini, penulis akan memaparkan mengapa Christine Hakim bisa menjadi pemeran wanita terbaik dalam film Njoet Nja’ Dhien. Analisis yang digunakan penulis berdasarkan perhatian penulis setelah menyaksikan film yang hingga saat ini masih populer di kalangan masyarakat Indonesia. Film tersebut merupakan film kolosal yang diangkat dari kisah seorang pahlawan wanita yang berasal dari Serambi Mekah, Aceh.

Tentunya, siapa yang tidak mengenal sosok wanita tersebut. Namanya sangat menyejarah dalam perjuangan masyarakat Indonesia dalam mengusir penjajah Belanda, terutama bagi masyarakat aceh. Jika menelisik sejarah, penjajah Belanda atas Indonesia berlangsung selama kurun waktu 350 tahun. Itu merupakan waktu yang terlama dibandingkan pendudukan pada masa Jepang atau masa Portugis. Lantas sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa mesti mengangkat napak tilas perjuangan Njoet Nja’ Dhien? Bukankah masih banyak tokoh pejuang wanita yang juga turut berperan andil dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Sebut saja Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan sebagainya. Namun sutradara dalam film ini nampaknya teliti untuk membuat sebuah film yang disukai oleh peminat film Indonesia.

Sutradara film ini tidak main-main untuk menentukan tema film dan siapa yang akan memainkan tokoh-tokoh dalam film ini. Aceh, diakui Belanda sebagai daerah yang cukup sulit untuk ditakluki. Pasalnya, masyarakat Aceh merupakan pejuang yang tangguh dan memiliki strategi perang yang rapi. Oleh sebab itu, dalam sejarah ditulis bagaimana kerepotannya Belanda untuk merebut daerah-daerah yang ada di Aceh. Salah satu pejuang yang tangguh yang ada di Aceh yaitu Teuku Umar. Beliau merupakan panglima perang Aceh yang memiliki prajurit perang yang handal dan tangguh. Selain itu, Teuku Umar dikenal sebagai pemimpin yang cerdik dalam mengatur strategi perang. Banyak serdadu-serdadu Belanda yang tewas karena pukulan pasukan Teuku Umar.

Pihak Belanda pun dibuat geram oleh Teuku Umar beserta pasukannya. Sehingga, Belanda dan sekutunya menyusun siasat bagaimana membunuh Teuku Umar dengan cara dan waktu yang tidak terduga. Saat itu, Teuku Umar dan pasukannya tengah bergerilya untuk menyusuri hutan untuk memerangi Belanda dan pengkhianat-pengkhianat bangsa. Namun, Belanda pun telah bersiap siaga untuk meluncurkan timah panas dan meluncur tepat ke dada Teuku Umar. Dengan beberapa kali tembakan, akhirnya Teuku Umar pun menjadi sasaran tembakan dan wafat sebagai syuhada dalam perang.

Kematian Teuku Umar sontan melucutkan semangat rakyat Aceh untuk mengusir Belanda dari tanah Aceh. Njoet Nja’ Dhien. Seorang wanita yang senatiasa mendampingi Teuku Umar dalam perjuangan mengusir kolonial Belanda. Setelah kepergian Teuku Umar, peran sebagai pemimpin pun digantikan oleh Njoet Nja’ Dhien. 

Kisah perjuangan Teuku Umar dan Njoet Nja’ Dhien sangat menginspirasi bagi masyarakat Indonesia yang tidak melupakan sejarah. Maka pantaslah, Eros Djarot sebagai sutradara yang bertangan dingin menangkap sinyal yang bagus.

Jika kisah perjuangan Teuku Umar dan Njoet Nja’ Dhien didokumentasikan berupa film, tentu akan mendapatkan sambutan yang baik oleh masyarakat Indonesia. Namun, untuk melahirkan sebuah karya fenomenal harus didukung oleh kru yang mumpuni dalam film. Mulai dari produser, penata artistik, sinamatografi, dan sebagainya. Salah satu yang paling mendukung sebuah film dikatakan bagus atau tidak yaitu terletak siapa yang memainkan tokoh Njoet Nja’ Dhien dan Teuku Umar.

Sebagai seorang sutradara, kemampuan Eros Djarot tidak usah diragukan lagi. Karya-karyanya sudah diakui oleh banyak orang. Sama halnya dengan kemampuannya untuk menentukan siapa aktor dan aktris yang tepat untuk berperan dalam film Njoet Nja’ Dhien yang diproduksi oleh Kanta Film ini. Untuk tokoh Teuku Umar, Eros memercayai Slamat Rahardjo untuk memainkannya. Sementara itu, untuk tokoh utama yaitu Njoet Nja’ Dhien diperankan oleh seorang aktris yang hingga saat ini masih eksis di dunia perfilman Indonesia.

Dialah Christine Hakim yang sangat piawai berakting dalam film-film Indonesia. Bisa dikatakan, Christine Hakim merupakan ikon dalam dunia perfilman Indonesia. Namanya melambung sejak bermain dalam film ini. Maka tidak heran jika Christine Hakim mendapatkan banyak penghargaan dalam berbagai festival film yang ada di Indonesia dan di luar negeri. Salah satu prestasinya yang membanggakan Indonesia yaitu meraih penghargaan International Federation of Film Producers Association Award, yang berlangsung di Gold Coast, Queensland, Australia. Dan terakhir terlibat bersama Julia Roberts di film Eat Pray Love.

Selanjutnya, penulis akan membahas bagaimana kepiawaian Christine Hakim dalam film Njoet Nja’ Dhien. Menurut penulis, salah satu alasan mendasar mengapa Eros Djarot memilih Christine Hakim untuk memainkan peran Njoet Nja’ Dhien karena kemiripan fisiknya dengan tokoh Njoet Nja’ Dhien sebenarnya.

Kendati demikian, jika kita lihat secara detil dari scene-scene dalam di film, kita sebagai penonton mungkin akan berkata, Christine Hakim dan Njoet Nja’ Dhien tidak memiliki wajah yang mirip. Namun, jika kita cermati dalam scene saat Christine Hakim menggulung rambutnya seperti wanita-wanita Aceh, wajah Christine Hakim hampir tidak bisa kita bedakan dengan wajah Njoet Nja’ Dhien yang asli.

Pada dasarnya, penonton Indonesia mengatahui bagaimana ciri morfologis Njoet Nja’ Dhien hanya dari buku pelajaran Sejarah di bangku pendidikan. Hal tersebut bisa menguntungkan Eros Djarot untuk mengelabui penonton dengan menampilkan sosok Njoet Nja’ Dhien melalui tubuh Christine Hakim. Saya kira, penonton Indonesia juga tidak akan berpusing-pusing memikirkan kemiripan Christine Hakim dan Njoet Nja’ Dhien. Namun, penonton Indonesia jauh lebih memperhatikan bagaiman kepiawaian Christine Hakim dalam film tersebut.

Dari segi karakter, Christine Hakim rasanya pas didaulat sebagai pengganti Njoet Nja’ Dhien. Penulis tidak mengetahui persis bagaimana proses casting film ini sehingga Eros Djarot meminang Christine Hakim sehingga menjadi pemeran wanita terbaik dalam ajang penghargaan piala citra. Pasalnya, film ini digarap pada tahun 1988. Penulis akui, penulis menemukan kesulitan untuk mencari referensi yang banyak tentang detil film ini. Namun berdasarkan pengamatan penulis saat menonton film ini, semoga menjadi analisis yang cukup objektif.

Menurut penulis, Christine Hakim bermain sangat total dalam film Njoet Nja’ Dhien. Entahlah, apakah karena kesamaan karakter asli Christine Hakim dengan Njoet Nja’ Dhien atau seperti apa. Namun yang jelas, Christine Hakim sangat menghayati perannya sebagai Njoet Nja’ Dhien sesungguhnya. Hal ini terlihat dengan sangat dari penggunaan dialek Aceh yang cukup kental keluar dari mulut Christine Hakim. Nampaknya Christine Hakim sebelum proses syuting telah belajar bahasa Aceh dan juga idealeknya. Bagi penonton yang tidak mengetahui asal daerah Christine Hakim tentu akan akan beranggapan bahwa dia memang betul berasal dari Aceh.

Namun kelemahan dalam film ini dari segi bahasa adalah, ada beberapa scene yang menggunakan bahasa Aceh tapi terjemahan dalam bahasa Indonesia tidak ditampilkan. Hal ini membuat penonton tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Christine Hakim dan beberapa actor lainnya. Namun secara umum, menurut penulis Christine Hakim sudah mahir berbahasa Aceh dalam film ini.

Dari segi penokohan, Christine Hakim berperan sangat memuaskan. Ia mampu menggambarkan bagaimana watak perempuan aceh yang tegar, kuat, dan memiliki komitmen yang tinggi. Sebagai pemimpin perang, ia pun mampu mempertegas kharismatik kepemimpinannya kepada rakyatnya melalui penggunaan bahasa yang tegas dan bijaksana. Njoet Nja’ Dhien memang tegas, namun ia adalah seorang pemimpin yang mampu merasa dengan hati, mencermati situasi dengan intuisi, dan berpikir jauh ke depan. Rasanya, sikap kepemimpinan ini tidak bisa dibuat-buat. Karena jika dibuat-buat, akan terlihat aneh dan ganjil. Tapi beruntung, melalui karakter yang kuat dari Christine Hakim, sosok Njoet Nja’ Dhien pun bisa hadir ke tengah-tengah penonton Indonesia yang tidak mengenal dengan jelas siapa itu Njoet Nja’ Dhien sesungguhnya.

Tidak hanya bicara tentang ketegasan, kepemimpinan, dan kebijaksanaaa Njoet Nja’ Dhien. Christine Hakim juga mampu mengejahwantahkan dengan baik bagaimana kondisi pelik yang dihadapi oleh Njoet Nja’ Dhien saat tubuhnya sudah papah, wajahnya pias, dan raut mukanya menandakan keketiran hatinya. Semua itu dapat terlukis dengan baik melalui ekspresi wajah yang ditampilkan Christine Hakim dalam film ini. Sebagai penonton yang menyaksikan film 1988 pada zaman ini, penulis memberikan apresiasi yang penuh kepada Christine Hakim karena telah bermain dengan sangat baik dalam film Njoet Nja’ Dhien.

Oleh karena itu, tidak heran jika film Njoet Nja’ Dhien mendapatkan delapan piala citra sekaligus. Terutama seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, yaitu film ini mengantarkan Christine Hakim sebagai pemeran wanita terbaik. Penulis akui, Njoet Nja’ Dhien menyejarah bagi bangsa Indonesia. Hal tersebut dikarenakan perjuangannya yang luar biasa dalam mengusir kolonial Belanda dari bumi pertiwi, khususnya Aceh. Namun, jika boleh penulis katakan, menyejarahnya Njoet Nja’ Dhien juga diperkuat dengan peran Christine Hakim sebagai seorang aktris. Penulis berani beragumen, pada tahun 1988 itu, tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui bagaimana sejarah perjuangan Njoet Nja’ Dhien. Namun, setelah Eros Djarot menyuguhkan film dengan judul yang sama, penulis bisa memastikan sosok Njoet Nja’ Dhien semakin dikenang oleh hati masyarakat Indonesia.

Menurut penulis, film ini bagus terutama dari segi tokohnya. Mudah-mudahan ke depannya, dunia perfilman Indonesia lebih disemarakkan oleh tontonan napak tilas perjuangan pahlawan Indonesia yang telah berjuang merebut kemerdekaan.