It’s Okay!

WhatsAppImage2019-02-06at11.57.23AM
Jakarta when the rain comes. 

Not everyday is a good day, live anyway. Not everyone will tell you the truth, be honest anyway. Not all you love will love you back, love anyway. Not all deals are fair, play fair anyway.” – Anonymous

Saya selalu terkesima dengan konsep “The Art of Conversation,” bahwa dalam setiap obrolan, setidaknya ada satu atau dua kalimat yang tiba-tiba membuat kita merinding. Merasakan kata-kata yang keluar seolah memiliki magic lalu kita tersadarkan bahwa kata-kata itu sangat tepat untuk kondisi kita saat ini—atau mungkin membawa kita pada ingatan masa lampau. Dalam diam, kita berkata pada diri sendiri, “Oh, ini jawaban dari pertanyaan saya selama ini.”

Kerap kali magic itu tidak hadir dalam setiap obrolan. Biasanya hanya keluar pada waktu-waktu tertentu yang kita sendiri sulit merekayasannya. Ia hadir melalui pembicaraan yang dilakukan secara intim, dalam, dan sangat personal. Maka takheran bila pertemuan yang terdiri dari banyak orang, misal lebih dari lima orang, hanya melahirkan obrolan-obrolan yang dangkal. Sekadar basa-basi lalu pulang tanpa membawa pesan yang berarti.

Semakin bertambah usia, saya menyadari ada banyak hal yang berubah dalam diri saya. Dulu, saya begitu bersemangat hadir dalam pertemuan-pertemuan dalam skala besar. Saya pikir, itu baik untuk saya. Bisa berkenalan dengan orang-orang baru yang tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menjadi teman-teman baik saya di kemudian hari. Lalu, aktif di grup—menimpali obrolan hingga menjadi percakapan yang seru yang seolah tidak ada habis-habisnya.

Akan tetapi, everything has changed. Kini, pola komunikasi saya berubah. Saya lebih nyaman berkomunikasi secara personal, person to person. Hampir jarang aktif di grup besar—jika pun masih aktif di grup—hanya grup kecil yang dihuni beberapa orang yang membuat saya nyaman untuk berkomunikasi di sana.

Nyaman menjadi tujuan utama dalam membangun hubungan. Namun, nyaman bukan berarti tanpa percikan-percikan. Jelas masalah akan selalu datang menguji seberapa kuat fondasi hubungan yang kita bangun. Saat bergejolak, kita punya sudut pandang yang sama bahwa kita sama-sama bertumbuh, sama-sama belajar dari kesalahan. Nyaman juga berarti kita bisa menjadi diri kita apa adanya, berbagi tentang bagaimana cara kita melihat dunia serta saling mendukung untuk pribadi yang lebih baik.

Pernah suatu waktu, saya berkeluh kesah pada teman saya, “Mengapa dunia tidak bekerja sesuai dengan value yang berlaku secara universal?”

“Hah, maksudnya?”

“Iya maksud aku, mengapa orang jika punya masalah dengan orang lain harus mengumbarnya di media sosial, mengapa tidak diselesaikan secara langsung? Mengapa orang merokok sembarangan tanpa menghiraukan orang-orang yang tidak merokok? Mengapa orang memutuskan pertemanan tanpa ada niat untuk memperbaiki terlebih dahulu? Mengapa, mengapa, dan mengapa?”

“Setiap orang kan beda-beda. Tidak semua orang punya value yang sama.”

“Tapi kan itu value yang berlaku universal dan dibahas di banyak buku atau artikel.”

“Masalahnya, tidak semua orang punya referensi yang sama. Setiap orang memiliki self righting process. Kamu mungkin sudah di tahap yang lebih baik, namun orang lain belum tentu. Jangan pernah menyamakan diri kita dengan orang lain. Memang, kadang tidak sejalan dengan pikiran kita, tapi it’s okay. Coba lebih santai menanggapi sesuatu ya!”

Saya mencoba melumat mantra it’s okay. Terdengar sederhana namun sebetulnya sangat sulit untuk diterapkan. Tapi bukan hal yang mustahil mantra itu bisa saya kuasai asal mau terus berlatih setiap harinya. Jika ada lintasan pikiran negatif, saya akan bilang ke diri saya, “Go away negative thoughts.” Walau sulit, saya harus menantang diri saya untuk mengontrol pikiran saya sendiri.

Dua tahun belakangan, setidaknya ada dua orang teman yang memutuskan untuk menyudahi hubungan pertemanan dengan saya, tidak hanya di dunia nyata bahkan juga di dunia maya. Sebetulnya, saya bingung apa faktor yang menyebabkan mereka menyudahi pertemanan dengan saya. Berpikir, merenung, dan berkontemplasi sekiranya memang ada kesalahan yang telah saya perbuat saya mereka. Jikapun saya berbuat salah, saya akan mencoba memperbaikinya.

Saya selalu berpikir, tidak ada masalah yang tidak dapat dibicarakan. Mungkin lebih baik kita beradu argumen asal setelah itu kita bisa kembali berdamai. Jikapun tidak bisa seterbuka itu, setidaknya saya diberi alasan mengapa saya layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Saya mencoba memulai, menanyakan kesalahan apa yang telah saya perbuat. Namun tidak ada jawaban hingga pada akhirnya saya memutuskan, “Let them go.”

Menyedihkan memang ketika kita mengetahui fakta, “We are not friends. We’re strangers with memories.” Namun apa boleh buat, orang-orang datang dan pergi silih berganti dalam hidup kita. Sekuat apapun kita menahan mereka untuk tetap bertahan namun ketika mereka milih untuk pergi—yang bisa kita lakukan hanyalah mengucapkan, “selamat jalan!” seraya berharap kebahagiaan senantiasa memenuhi  relung hati mereka.

Agaknya mantra it’s okay dapat sedikit meredam kekecewaan kita terhadap banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. It’s okay bukan berarti kita pasrah namun sikap menerima dengan hati yang lapang bahwa nyatanya banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hidup ini yang tidak ada jawabannya. Kita selalu berharap pertanyaan akan dijawab setidaknya dengan begitu kita meresa lega—tidak lagi dihantui rasa penasaran. Namun lagi-lagi, terkadang dunia berjalan tidak sesuai dengan pikiran kita. Apa yang kita anggap itu ideal belum tentu ideal untuk orang lain, apa yang kita anggap baik belum tentu juga baik untuk orang lain. Once again, it’s okay!

 Jakarta,

6 Februari 2019

Advertisements