Perhatian/Prihatin


Processed with VSCO with b1 preset
You will be found. 

Suatu hari di bulan puasa pada tahun 2015.          

Buka puasa bersama menjadi salah satu tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia ketika bulan puasa tiba. Selama satu bulan puasa, biasanya orang-orang sudah mengagendakan jadwal buka bersama, mulai dari buka bersama dengan keluarga, teman-teman, hingga rekan kerja.

Buka bersama tidak hanya menjadi ajang untuk menyantap menu buka puasa yang menggugah selera namun juga menjadi ajang bertukar cerita. Bisa dikatakan buka bersama menjadi momen berkumpul dengan orang-orang yang sudah tidak lama berjumpa, misalnya teman-teman sekolah atau kuliah.

Reuni dengan teman-teman sekolah atau kuliah menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu ketika buka puasa. Betapa tidak, setelah berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama, bulan puasa menjadi alasan untuk berjumpa dengan mereka yang pernah mengisi hari-hari kita di masa lampau. Namun, reuni yang seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bisa berubah menjadi momen yang menyebalkan.

Usai menyantap hidangan berbuka, salah seorang teman bertanya kepada teman lain yang sudah menikah beberapa tahun, “belum isi?” katanya datar. Sontak raut wajah teman saya tadi berubah. Keceriaan yang terpancar dari wajahnya tiba-tiba memudar. Ia seolah baru saja mendengar suara petir yang menggelegar dan memekakkan gendang telinga. Petang itu, barangkali ia takpernah menduga akan mendapatkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka. Pertanyaan yang membuat hatinya terluka.

Saya duduk persis di depannya. Terlihat ia sedang menyusun kalimat yang tepat untuk merespon pertanyaan teman saya tadi. Pelan, ia berkata, “Doakan saja ya.”

Usai menjawab pertanyaan tadi, ia melumat makanan dengan pelan-pelan. Dari sorot matanya, saya melihat dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tentang kehamilan. Apalagi pertanyaan itu keluar dari mulut temannya sendiri dan dilontarkan di hadapan teman-teman lainnya. Mungkin ia merasa terintimidasi sekaligus merasa sedih. Kehamilan merupakan salah satu takdir baik yang dirindukan oleh pasangan yang sudah menikah. Ada pasangan yang cepat mendapatkan keturunan, ada juga yang harus menunggu.

Seketika susana mendadak hening dan kikuk. Saya berupaya mengganti topik pembicaraan sehingga tidak lagi membahas tentang kehamilan atau topik-topik yang sensitif untuk beberapa orang. Saya pikir, menjaga perasaan orang lain lebih penting dibandingkan memenuhi hasrat ingin tahu kita tentang kehidupan orang lain yang barangkali enggan untuk mereka bagi.

Kini, acara reuni kerap kali menjelma menjadi ajang untuk pamer, ajang untuk memojokkan orang lain secara tidak sadar, serta ajang yang dipenuhi pertanyaan basa-basi. Jika ada teman kita yang belum menikah, kita akan bertanya mengapa dia belum menikah. Jika ada teman kita yang belum mempunyai anak, kita akan bertanya mengapa dia belum punya anak. Jika ada teman kita yang belum menambah anak, kita akan bertanya mengapa dia belum menambah anak. Begitu seterusnya. Jika begitu, lama-lama orang akan malas untuk datang ke acara reuni, terutama untuk mereka yang akan menjadi sasaran pertanyaan.

Padahal, andai saja kita memang peduli dengan kondisi orang-orang di sekitar kita, tentu kita tidak akan pernah bertanya di depan banyak orang. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa malu. Tentu kita tidak akan menambah bebannya. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa tidak nyaman. Ya, andai kita memang benar-benar peduli, kita akan bertanya secara personal, menyusun kata dengan tepat, serta menunjukkan empati bahwa kita memang benar-benar peduli.

Saya pikir, hampir semua orang pernah mengalami kondisi di mana merasa terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita berpikir, “Apakah ini perhatian atau prihatin?”

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, saya sempat mengganggur selama kurang lebih lima bulan. Masa-masa penantian hingga akhirnya diterima bekerja menjadi masa-masa yang cukup berat dalam hidup saya. Saya ingat betul, setelah wisuda, saya mempersiapkan semua berkas untuk melamar pekerjaan: curriculum vitae, surat lamaran pekerjaan, dan sertifikat-sertifikat penunjang lainnya yang sekiranya dibutuhkan oleh calon perusahaan tempat saya nantinya bekerja.

Tidak ada satu haripun saya lewati tanpa mengecek surat elektronik, mencari informasi lowongan pekerjaan serta melamar hingga ratusan perusahaan. Usaha saya mendapatkan pekerjaan tidak hanya berhenti di depan komputer. Saya juga kerap kali datang ke job expo, mulai dari yang gratis hingga berbayar. Saya rasa, saya sudah melakukan upaya terbaik untuk mendapatkan pekerjaan.

Hari berganti hari, sudah takterhitung berapa banyak lamaran saya sudah saya kirimkan. Beberapa perusahaan ada yang memanggil untuk wawancara, beberapa kali saya nyaris diterima, sisanya berujung penolakan, “Maaf Anda belum bisa bergabung dengan perusahaan kami.”

Sementara lain cerita, teman-teman kuliah saya satu persatu sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan, banyak di antara mereka yang diterima bekerja tidak lama setelah wisuda. Sempat saya berpkir, mengapa nasib baik begitu mudah menghampiri mereka sedangkan saya belum ada tanda-tanda untuk menanggalkan predikat sebagai penggangguran. Padahal jika dipikir-pikir, prestasi saya jauh lebih hebat dibandingkan mereka dan pengalaman organisasi saya juga tidak main-main. Saya sempat tertegun, “Apa yang salah dengan saya? Mengapa saya takkunjung mendapatkan pekerjaan?”

Saya khawatir saya merasa sombong. Merasa lebih baik dibandingkan teman-teman saya. Padahal bisa jadi ini ujian untuk saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih sabar dan berbesar hati. Saya harus percaya bahwa masa-masa berat ini akan segera berakhir. Saya hanya perlu menunggu lebih lama, walau terkadang menunggu begitu sangat menyiksa batin saya.

Suatu kesempatan, saya bertemu dengan teman yang sudah bekerja. Tanpa basa-basi ia bertanya, “Mengapa belum juga bekerja? Apa tidak melamar ke sana ke mari?” Saya hanya bisa menjawab, “Belum rezeki. Doakan saja.” Sejujurnya, saat itu saya marah, dada saya terasa panas. Namun apa boleh buat tugas dia hanya bertanya dan tugas saya hanya menjawab.

Saya pikir, pertanyaan yang sama tidak akan pernah terulang. Namun saya keliru. Beberapa orang yang saya temui secara sengaja dan tidak sengaja menanyakan hal yang sama, “Mengapa belum juga bekerja?” Mungkin karena saat itu saya dalam kondisi yang sensitif, saya menilai pertanyaan yang mereka sampaikan merupakan pertanyaan yang merendahkan saya. “Mereka tidak tahu betapa keras perjuangan saya mendapatkan pekerjaan. Mereka tidak akan pernah tahu,” saya membatin.

Sejak saat itu, saya enggan bertemu dengan orang-orang. Saya habiskan waktu saya untuk fokus mencari pekerjaan. Di sela-sela waktu, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan mengitari kota Jakarta dengan moda Transjakarta: dari ujung Utara-Selatan, Barat-Timur. Namun tujuan favorit saya saat itu yaitu pantai Ancol. Sebetulnya tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih Ancol. Saya hanya membiarkan hati saya menuntun langkah ke mana ia harus pergi.

Berada di pantai, memandang lautan yang luas setidaknya membuat hati saya jauh lebih tenang. Saya berjanji, suatu ketika saya akan datang lagi dengan perasaan yang dipenuhi suka cita. Beberapa bulan kemudian, janji saya tunaikan. Saya akhirnya diterima bekerja.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan terus datang, saya meminta kepada Tuhan agar diberi hati yang besar, agar saya tidak mudah tersinggung, agar saya bisa menjawab dengan santun. Namun saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan menjadi orang-orang yang saya ceritakan tadi. Saya akan lebih berhati-hati dalam bertanya. Jikapun harus bertanya, saya akan bertanya secara asertif. Sisanya, lebih baik saya mendokan karena sesuai kata pepatah, “Tiada kata seindah doa.”

Selama masa-masa menganggur, saya sempat menulis puisi yang menggambarkan perasaan saya saat itu.

seperti muri remaja gigih mencari tanaman untuk sangkarnya. seperti lelaki pucat pasi menanti kado terindah dari Tuhannya. seperti mentari yang menanti bumi pada suatu masa. saksikanlah kereta kencana bernama ketidakpastiaan. seolah semesta pun jadi ragu. inilah harapan. menjadi lentera temani kelam. inilah penantian, tentang sebuah jalan takberujung. nyanyikan keluhmu pada angin, bisa jadi ia merayu mesra. sandarkanlah kepalamu pada air bisa jadi ia penyegar dahaga. dan, titipkanlah hati pada Tuhan karena ragumu terjawab kalam-Nya. titiplah pikirmu pada satu cita yang kau tiduri. puji dan manjakanlah waktu, bacakan sajak ketenangan untuknya. ada jutaan malaikat menenun kebahagiaan. mintalah mereka curi rahasia hati dan malam pun akan menyelimuti rasa. bersabarlah, hanya itu mantra yang kita punya.

 

Jakarta, 26 September 2018

Advertisements

4 thoughts on “Perhatian/Prihatin

  1. judul yang menarik, menjadi fenomena umum yang kita temukan bahkan dipertemuan singkat sekalipun tema ini sering menjadi perbincangan. tema-tema yang kadang kita tidak inginkan menjadi materi pembuka bicara. =)

Leave a Reply to Febi Dwi Putri Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s