Sebelum Terlambat

Source: https://pxhere.com/ru/photo/368492

Menjalin hubungan, tidak melulu berkisah tentang momen yang bahagia, menyenangkan, dan suka cita. Namun, ada juga momen yang tidak kita harapan hadir kemudian lahir menjadi  pengalaman yang tidak menyenangkan. Kerap kali, kita hanya menginginkan hari-hari kita dihiasi dengan tawa tanpa sedih dan duka.

Akan tetapi, nyatanya cerita hidup anak manusia hadir dalam paket yang lengkap; suka dan duka. Seringkali kita mengutuk nasib atas hal buruk terjadi dalam hidup kita atau orang-orang terdekat kita. Jika itu terjadi, lantas kita bisa berbuat apa? Kita hanyalah seorang aktor atau aktris yang memainkan skenario yang telah ditulis Tuhan sebagai Sang Sutradara. Jika ada hal yang kurang berkenan, anggap saja sebagai bagian cerita yang mau tidak mau harus kita perankan, walau harus dengan tertatih-tatih.

Pada 1 Maret 2015 lalu, saya mendapat kabar duka. Seorang sahabat saya, Arry Purwaningsih dipanggil oleh Tuhan pada usia yang masih sangat muda, 26 tahun. Mendengar kabar duka tersebut, hati saya remuk. Saya tidak menyangka ia akan pergi secepat itu, semendadak itu. Sebetulnya, Arry sudah sakit sejak lama, namun ternyata Tuhan sangat sayang terhadap Arry. Tuhan mengangkat rasa sakit Arry untuk selama-lamanya. Kini, ia beristirahat dengan tenang di sana. Semoga Tuhan berikan tempat yang terbaik untuk Arry. Selama mengenal Arry, ia merupakan pribadi yang baik, tulus, dan ceria.

Perginya Arry untuk selama-lamanya menyisakan rasa sesal dalam hati saya. Seingat saya, satu pekan sebelum ia meninggal, teman saya bernama Kantri mengajak saya ke Bandung untuk membesuk Arry. Namun karena saat itu saya sibuk dan berpikir bahwa jarak Jakarta ke Bandung tidaklah dekat, akhirnya saya urungkan niat untuk membesuk Arry.

Ya, penyesalan selalu datang belakangan, begitulah yang terus terjadi. Andai saja waktu itu saya memutuskan membesuk Arry, mungkin saya tidak akan merasa begitu bersalah. Setidaknya, saya bisa hadir pada hari-hari terakhir Arry. Memberikan dukungan moril dan turut merasakan beban atas apa yang ia rasakan. Sayangnya, itu hanya angan-angan kosong yang takakan mungkin terjadi.

Sejak kejadian itu, saya belajar satu hal: jangan pernah menunda-nunda kebaikan karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih sempat berbuat baik atau semuanya sudah terlambat, tidak ada artinya. Saya hanya tidak ingin menyesal pada kasus yang sama. Penyesalan membuat saya merasa bersalah. Sungguh tidak mengenakkan.

Semakin ke sini, jika ada orang-orang terdekat saya sedang sakit bahkan harus dirawat di rumah sakit, saya akan upayakan untuk bisa membesuknya tanpa harus mengulur-ulur waktu. Saya tahu, barangkali kehadiran saya mungkin tidak mempercepat kesembuhan, namun saya hanya ingin memastikan bahwa diri saya hadir di dekat orang-orang terdekat saya, terutama pada masa-masa yang sulit

Saya pernah sakit, semua orang pernah sakit. Ketika kita sakit, kita menjadi lebih sentimentil, kita merasa takberdaya, serta kita merasa sangat kesepian. Lebih menyedihkan, pada saat kita sakit, pikiran-pikiran buruk lalu lalang di otak kita tanpa kita undang. Ia menyajikan potongan-potongan peristiwa dalam hidup kita yang tidak mengenakkan. Layaknya Dementor yang menghisap sumber kebahagiaan. Benar-benar mengerikan.

Saya hanya berharap dan terus berharap semoga prinsip hidup ini terus saya amalkan. Entah saya kapan? Mungkin hingga saya dibebastugaskan oleh Tuhan sebagai seorang makhluk sosial. Saya rasa begitu.

“Don’t let bad memories kill you. You can make a new memory, a good one. Remember, good  can save your life.” – The Punisher. 

Tentang memori baik, rasanya takselalu menyajikan rangkaian pengalaman yang seru-seru saja. Saya pikir, hadir pada saat-saat berat untuk orang terdekat adalah memori baik yang selalu baik untuk diingat. Saya mungkin pengkoleksi memori, saya berharap saya pengkoleksi memori yang baik. Hanya itu.

 

Jakarta, 31 Januari 2018

Spektrum Kebaikan

Processed with VSCO with a6 preset
Happee Birthdae, Harry! 

Hari ini, saya dan teman saya yang bernama Christin memiliki rencana untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk sahabat kami, Harry. Sebetulnya, ulang tahun Harry kemarin, namun kami berpikir bahwa malam inilah yang paling tepat untuk memberikan kejutan untuknya. Betapa tidak, malam ini, kali pertama pada tahun 2018, kami latihan cardio ceria kembali sejak terakhir latihan pada Desember 2017.

Kamipun membeli kue di salah satu toko kue ternama di Jakarta. Tulisan pada kue tersebut bertuliskan, “Happee Birthdae, Harry.” Persis seperti tulisan pada kue ulang tahun Harry yang diberikan oleh Hagrid. Lantaran nama mereka mirip, sebagai seorang Potterhead, saya pikir itu ide yang cerdas.

Membawa kue serta memberikan kejutan sederhana untuk teman yang sedang ulang tahun, barangkali menjadi hal yang lumrah di muka bumi ini. Namun bagi saya pribadi, yang spesial dari ulang tahun itu bukan terletak pada kue yang enak atau ucapan selamat ulang tahun yang berduyun-duyun diterima dari orang-orang terdekat, melainkan momen ulang tahun itu sendiri.

Sejatinya, kita hidup dari satu momen ke momen lainnya. Seringkali, momen-momen yang terjadi dalam hidup kita terasa hambar, biasa saja. Untuk itu, kita butuh orang-orang di sekitar kita untuk bersinergi menciptakan momen yang berarti, momen yang akan selalu indah untuk dikenang. Bila kita merindukan momen tersebut, kita hanya perlu memanggilnya sesuka hati; kapan pun dan di mana pun.

Pada momen-momen yang menyejukkan hati, kita bersyukur dan bahagia.

Benar adanya apa yang pernah dikatakan Christopher McCandless, “Happiness is only real when shared.” Hanya dengan berbagi kita merasa layak mencintai dan dicintai sebagai seorang manusia yang jauh dari kesempurnaan.

Saya selalu bahagia hadir pada momen-momen penting dalam hidup orang-orang yang yang saya kasihi.

Dulu, ketika di kampus, saya selalu senang jika datang ke wisuda senior-senior di BEM. Seingat saya, ketika itu saya masih tingkat dua. Satu tahun kebersamaan kami sebagai pengurus BEM terasa sangat lekat dan hangat. Seolah tiada jarak yang membuat hubungan kami menjadi sungkan untuk berkata, “Ya, berteman baik.”

Hadir pada hari wisuda mereka, membawakan sekuntum bunga atau hadiah ala kadarnya, membuat hati saya bahagia. Energi kebahagiaan terasa mengalir hebat saat mereka menyunggingkan senyuman terbaik, saat mereka menjabat tangan saya, atau saat mereka mengucapkan terima kasih karena saya sudah hadir pada hari spesial mereka.

Kebahagiaan memancar memasuki relung hati saya yang terdalam. Melihat mereka bahagia, saya pun turut bahagia. Sesederhana itu. Apalagi, saya pernah menjadi saksi betapa tidak mudah perjalanan mereka menggapai gelar sarjana; begadang, menghabiskan waktu di depan laptop, serta berulang kali harus revisi atas titah dosen pembimbing. Namun proses yang sulit terasa sangat manis saat hari yang bahagia akhirnya tiba.

Akan tetapi, kerap kali ada bisik yang membuat saya harus menuntut atas apa yang sudah saya lakukan. “Bukankah hidup itu take and give? Sudah sepantasnya saya mendapatkan hal yang sama seperti apa yang sudah saya lakukan?” Saya tidak yakin, apakah itu suara hati saya yang sesungguhnya atau hanya suara dari sisi tergelap saya?

Namun dari kehidupan saya belajar, bila kita menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain, maka siap-siaplah untuk menerima kekecewaan. No one is perfect.

Ada masanya, orang-orang yang di dekat kita akan membuat kita kecewa, akan membuat hati terluka. Untuk itu, langkah terbijak yang bisa kita upayakan hanyalah berbuat baik tanpa menunggu balasan kebaikan datang dari orang-orang yang pernah kita sentuh hatinya. Mungkin ini terdengar klise, namun demikianlah formula yang paling sesuai untuk meredam kekecewaan.

Berbuat baik harusnya tanpa alasan. Berbuat baik harusnya membuat hati kita terkesan. Sebab, spektrum kebaikan menjangkau hingga mengetuk pintu langit. Percayalah, tidak ada kesia-siaan yang lahir dari benih kebaikan yang sudah kita tanam. Kelak, kita akan memanennya dalam bentuk buah yang ranum warnanya dan enak rasanya. Saya tidak yakin telah membuat perumpamaan yang benar. Namun saya hanya berusaha memastikan bahwa jangan pernah menyesal jika telah berbuat baik. Penyesalan hanya boleh terjadi jika kita memiliki rasa sesal itu sendiri.

Oleh sebab itu, berulang kali kita diminta untuk selalu memeriksa niat ketika hendak berbuat baik. Untuk apa dan siapa kita berbuat baik? Jika ada yang mengganjal di hati, ada baiknya kita selalu perbaiki niat. Sebab pada niat semua kebaikan kita akan dinilai Tuhan.

Saya selalu percaya, kindness is contagious. Kebaikan yang sudah kita perbuat, akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lainnya. Bisa jadi, ada orang yang terinspirasi atas kebaikan yang kita lakukan kendati itu hanyalah kebaikan sederhana. Jadi, jangan pernah lelah berbuat baik selama hayat masih di kandung badan. Begitu pepatah lama berpesan kepada kita.

Jakarta, 11 Januari 2018