Merawat Impian

Source: Tumblr

Oleh: Mahfud Achyar

Jakarta, 6 Oktober 2017.

Jumat sore, pukul 16.00 saya bergegas pulang dari kantor. Sebetulnya, jadwal pulang kantor pada hari Jumat yaitu pukul 16.30. Namun saya minta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan menghadiri workshop astronomi. Beruntung izin berhasil saya kantongi. Saya pun lekas menuju AtAmerica menggunakan ojek daring guna menyisir kemacetan sepanjang jalan Pancoran dan Gatot Soebroto.

Lalu, apa gerangan sehingga saya harus buru-buru agar tiba di AtAmerica tepat waktu? Tidak lain tidak bukan karena saya akan bertemu dengan idola saya, Ibu Pratiwi Sudarmono. Beliau merupakan ilmuwan yang mendapatkan kesempatan dari NASA (The National Aeronautics and Space Administration) untuk ambil bagian dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H sebagai spesialis muatan pada Oktober 1985.

Secara sederhana, beliau akan menjadi wanita pertama Indonesia yang terbang ke luar angkasa. Namun sayang, akibat bencana Challenger impian Pratiwi menjadi astronaut kandas. Peluncuran ke-10 pesawat ulang-alik Challenger gagal. Menurut informasi, kendaraan ini meledak 73 detik setelah peluncuran pada 28 Januari 1986 sebagai hasil kegagalan sebuah segel karet cincin O (O-ring) di kanan roket pendorong padat (Solid Rocket Booster, SRB); hal ini menyebabkan kebocoran dengan percikan api yang menyebabkan kebocoran di tangki hidrogen.

Padahal, jika misi STS-51-L berhasil, maka misi STS-61 H juga akan segera diluncurkan. Pada misi STS-61-H, akan dilakukan pengiriman satelit komersial seperti Palapa B-3 milik Indonesia. Namun sayang misi tersebut dibatalkan. Kabar baiknya satelit Palapa B-3 tetap diluncurkan dengan sebuah roket yang bernama roket Delta.

Kendati Pratiwi gagal menjadi astronot taklantas membuat langkahnya terhenti untuk mengembangkan penelitian di Indonesia. Ia terus menjadi seorang ilmuwan dengan menggeluti bidang mikrobiologi dan nanoteknologi.

Saat ini, selain menjadi Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, beliau juga sering diundang sebagai pembicara pada forum-forum ilmiah tentang astronomi. Pratiwi telah mencatat sejarah. Ia telah membuat perbedaan. Banyak anak-anak muda Indonesia telah terinspirasi dari sosok wanita kelahiran 31 Juli 1952 tersebut, termasuk saya.

Me and Profesor Pratiwi Sudarmono

Selama workshop berlangsung, saya khidmat mendengarkan pengalaman Ibu Pratiwi ketika mendapatkan kesempatan belajar di NASA. Takjarang bulu roma saya merinding saat mendengar harapan-harapan beliau akan perkembangan dunia penelitian di Indonesia, khususnya di bidang nanoteknologi. Cerita yang mengalir dari bibir Ibu Pratiwi membawa saya ke masa kekanak, saat saya begitu terobsesi menjadi seorang astronot.

Ya, dulu sekali, ketika anak-anak saya ingin sekali menjadi seorang astronot. Tidak ada alasan spesifik yang membuat saya jatuh cinta terhadap profesi tersebut. Sederhana: saya ingin ke luar angkasa. Saya terobsesi dengan pesawat.

Kala itu, bagi saya pesawat merupakan teknologi terhebat yang pernah diciptakan oleh manusia. Siapa sangka, manusia yang takbersayap akhirnya bisa terbang; menjelajahi cakrawala dan angkasa. Selain itu, saya juga mengagumi luar angkasa. Sebuah dimensi tanpa batas, misterius, dan mengagumkan. Entahlah, saya pun bingung menjelaskan perasaan saya terhadap antariksa. Sesuatu yang kompleks, sesuatu yang saya cintai kendati saya belum pernah melihat secara langsung bagaimana rupa antariksa yang sesungguhnya.

Kini, setelah dewasa, saya menyadari bahwa menjadi seorang astronot tidaklah mudah. Banyak proses-proses sulit dan panjang yang harus dilalui. Tidak hanya bermodalkan impian menjelajahi antariksa, namun perlu bekal kecerdasan, kesehatan fisik, serta mental yang sekuat baja. Mungkinkah kriteria tersebut ada dalam diri saya? Saya meragu.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa impian saya menjadi seorang astronot tidak akan pernah terwujud. Sekeras apapun saya bermimpi, semakin jauh impian tersebut pergi. Bahkan untuk meraih bayangannya saja sulit. Ia melesat secepat komet Encke yang mencapai titik lintasan bintang (perihelion)–titik terdekat matahari pada 21 November 2013 lalu. Is it possible to reach my dream? I don’t think so.

Kendati mustahil, saya tidak akan pernah mengubur impian tersebut. Selama napas masih berhembus, saya akan terus merawatnya hingga saya mendapatkan kepastian dari Tuhan bahwa impian tersebut akan terwujud.

Selama ini, untuk tetap menjaga antusias saya terhadap dunia astronomi, saya kerap kali meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel yang dipublikasi NASA atau Langit Selatan. Selain itu, jika rindu membuncah, saya pergi ke Planetarium atau berselancar melihat benda-benda angkasa secara virtual di Stellarium. Bicara tentang antusiasme, izinkan saya mengutip perkataan Aldous Huxley. Katanya, “The secret of genius is to carry the spirit of the child into old age, which means never losing your enthuasism.”

Usai Ibu Pratiwi bercerita, saya mengangkat tangan. Saya ingin bertanya langsung kepada beliau tentang banyak hal, mulai dari Asgardia The Space Nation Project, zero gravity labs, hingga secrets of hidden valley on Mars. Namun sayang, lantaran waktu yang terbatas sehingga saya hanya diperbolehkan mengajukan pertanyaan saya.

Dari sekian banyak tanya yang terlintas di benak saya, akhirnya saya mengajukan satu pertanyaan, “Bu, apakah memungkinkan kita membuat laboraturium zero gravity di Indonesia?” tanya saya singkat.

Ibu Pratiwi menjawab pertanyaan saya dengan tenang. Katanya, tentu bisa di Indonesia menciptakan laboraturium zero gravity. Namun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sejauh ini, para peneliti Indonesia menggunakan demo sederhana guna mendekati zero gravity. Padahal menurut Ibu Pratiwi, beberapa penelitian membutuhkan kondisi zero gravity untuk menghasilkan penilitian yang akurasi dan presisi.

Tentang merawat impian, saya berdoa pada Tuhan agar mendapatkan kesempatan untuk berkunjung Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat. Selain itu, saya berdoa pada Tuhan, jika di dunia saya benar-benar takbisa ke luar angkasa, semoga nanti ketika ruh saya diangkat ke langit, saya diberi kesempatan satu kali saja untuk menjelajahi berbagai galaksi dan berkenalan secara langsung dengan benda-benda angkasa yang mengagumkan.

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people?” – Carl Sagan.

Advertisements

Cinta, Menemukan atau Ditemukan?

 

 

DSC_0192

Captured by. Mahfud Achyar

Resensi Buku: Discover Love

Judul: Discover Love – Cinta Selalu Tahu Tempat Terbaiknya untuk Singgah

Penulis: Rula Creative Hub Batch I (Petronela Putri, Rosemerry F, Siti Yulianingsih, Ina Massijaya, Wesa Theslan Bhadrasana, Kia F, Arvi Resvita, Jane Mellisa, Michele Gracia, Melisa, Rahajeng Kurniawati, Isnia Nuruldita, Lady Octora, Chaca Atmika, Titis Ayuningsih, Farah Refina Hidayati)

Penerbit: Ellunar Publisher

Sampul: Soft cover

Cetakan: Pertama

Jenis Kertas, Jumlah Halaman: Bookpaper, 152 Halaman

Tahun Terbit: Juli, 2017

ISBN: 978-602-6567-53-6

Harga: Rp46.000

Bicara tentang cinta memang tidak ada habis-habisnya. Ia menjadi topik utama yang hadir di ruang-ruang kehidupan anak manusia; mulai sejak bangun tidur, berjalan kaki di trotoar, menyeduh secangkir kopi hitam di kedai kopi ternama, hingga mungkin saat mata terpejam menembus dimensi yang berbeda.

Setiap orang memiliki definisi yang berbeda-beda tentang cinta. Seorang penyair dan sastrawan seperti William Shakespeare contohnya. Pada bukunya yang berjudul “A Midsummer Night’s Dream,” ia berpendapat seperti ini tentang cinta. Ia mengatakan, “Love looks not with the eyes, but with the mind, and therefore is winghed Cupid painted blind.” Entahlah, pendapat siapa yang harus dirujuk untuk meredefinisi arti cinta yang dapat diterima secara universal. Namun yang jelas, setiap orang berhak mendefinisikan arti cinta menurut sudut pandang mereka masing-masing. Takboleh ada penghakiman untuk itu.

Lantas, pertanyaan selanjutnya apakah cinta itu ditemukan atau menemukan? Rasa-rasanya kita akan berdebat cukup alot untuk menemukan jawaban yang tepat dari pertanyaan tersebut. Barangkali kita perlu mendengar kisah dari 16 orang perempuan yang menuangkan gagasan dan mencurahkan perasaan mereka tentang cinta pada buku yang berjudul “Discover Love”.

Buku yang memiliki subjudul “Cinta selalu tahu tempat terbaiknya untuk singgah” ini merupakan kumpulan cerpen, setiap penulis diwakili oleh satu judul cerita. Namun benang merah yang menyatukan semua cerita ialah rasa yang tiba-tiba hadir, singgah, pergi, dan takkembali lagi. Ialah rasa cinta yang takmelulu berkisah tentang yang manis-manis. Seringkali cinta menyisakan rasa marah, kesal, dendam, hingga takada rasa yang bisa dirasakan sama sekali. Mati rasa.

Seorang Petronela Putri membuka cerita dengan memilih judul “Tempat untuk Pulang”. Pada cerita pendeknya, ia berkisah tentang seorang perempuan yang tengah merindu. Ia rindu dengan seseorang pria yang telah berhasil memasuki ruang yang sangat pribadi dalam dirinya: hati.

Perempuan yang sering berkunjung ke sebuah kafe bar kecil di tengah kota tersebut sedang dilanda rasa gelisah. Keluarga besarnya ingin di usianya yang sudah matang, ia lekas menikah. Namun ia memiliki cara pandang yang berbeda tentang pernikahan.

“Aku ingin bahagia, Adimas,” aku menyentuh punggung tangannya, “dan bahagia takselalu perkara menikah, kan?”

“Orang-orang menganggapnya begitu.”

“Jika kamu menganggapku seperti orang kebanyakan, berarti kamu takcukup mengenalku dengan baik.” (Halaman 5).

Bagi seorang Adista Cakra, perasaan cinta takharus diukir pada sebuah buku yang berlabel buku nikah. Ia memilih memerdekaan cinta walau berlabuh pada hati yang tidak tepat: suami orang. Namun begitulah realita yang ada. Jika begini persoalannya, siapa yang harus dihakimi? Adista Cakra atau cinta itu sendiri?

Lain kisah, seorang perempuan lainnya yang bernama Rahajeng Kurnia menulis sebuah judul yang membuat kepala menyergit. Judulnya, “Aku, Perjodohan Itu, dan Kamu.” Siapa sangka, hubungan yang sangat serius seperti tunangan bisa saja kandas. Kapanpun. Di manapun. Semuanya terjadi tiba-tiba. Alena, tiba-tiba memutuskan hubungan pertunangan dengan Rio di bandara, menjelang hari pernikahan mereka.

“Aku… aku merasa kita nggak cocok Rio. Jujur aku merasa terkekang waktu kita dekat. Aku rasa hubungan kita terlalu dipaksakan. Daripada nanti nggak bahagia lebih baik diakhir sekarang,” kataku lagi tanpa berani menatap mata Rio. (Halaman 107).

Bagi Alena, hubungan yang takdidasarkan atas nama cinta hanyalah kepura-puraan semata. Jauh, jauh dalam hatinya ia masih mencintai Daniel Sutanto; seorang pria yang takdiinginkan oleh keluarga besarnya. Tidak mapan dan tidak satu suku: klise. Lantas, Alena berupaya berdamai dengan dirinya sendiri. Ia selalu percaya, takada yang kebetulan. Pasti ada maksud Tuhan dari setiap peri hidup yang ia alami.

Membaca 16 kisah dari 16 perempuan yang berbeda tentu membuat penafsiran kita tentang cinta menjadi kaya. Atau mungkin, lahir definisi baru tentang cinta itu sendiri. Namun apapun itu, nyatanya yang lebih menarik dari cerita yang tersaji pada buku “Discover Love” bukanlah tentang cinta itu sendiri. Melainkan mereka yang telah melalui banyak kisah yang sangat berharga untuk dibagi. Manusia, adalah cinta itu sendiri. Ia menjelma dalam berbagai bentuk dan bekerja dengan cara yang sulit dinalar. Misterius.

Buku ini agaknya tepat dipilih untuk menemani perjalanan kita yang mungkin terasa panjang dan membosankan. Ia takubahnya seperti kawan yang bercerita dengan sangat intim—berbisik dari mulut tepat ke daun telinga. Bahasa yang digunakan setiap penulis begitu mudah untuk dimengerti, namun tidak murahan. Kita seakan diajak untuk terus digiring mengikuti bab demi bab hingga akhirnya cerita purna. Namun kisah-kisah perempuan pada buku “Discover Love” bukanlah kisah-kisah manis yang sering kita temukan pada buku kategori teenlit. Ini adalah kisah tentang perempuan-perempuan dewasa yang meredefinisi cinta yang lahir dari proses yang takmudah.

Hal menarik lainnya dari kumpulan cerpen ini yaitu cerita-ceritanya tidak bertele-tele. Namun setelah membaca satu kisah, kita seakan diminta untuk berhenti sejenak–merenung, memikirkan apakah kisah yang sama pernah kita alami? Barangkali iya, bisa jadi tidak.

Kendati banyak kelebihan yang terdapat pada buku tersebut, nyatanya tidak ada yang sempurna. There’s no perfect story. Ada beberapa cerita yang agak membosankan sehingga ingin sekali melewatkan kisah tersebut. Mungkin pemilihan tokoh yang tidak begitu kuat karakternya atau alur cerita yang mudah ditebak. Kondisi semacam demikian membuat kita enggan membaca dengan seksama setiap frasa dan klausa. Tidak begitu menarik hati.

Pun demikian, buku ini layak untuk dibaca dan dimiliki. Percayalah, ada hal baru yang bisa kita temukan, ada hal yang spesial yang bisa kita ceritakan ulang. Selamat membaca buku “Discover Love”! [Mahfud Achyar]