Kisah Si Botol Kuning 

Tumbler Berwarna Kuning

Hari ini saya mau bercerita tentang botol atau tumbler berwarna kuning miliki saya. Saya tidak tahu apakah cerita ini spesial atau tidak, namun entah mengapa perasaan saya memaksa untuk bercerita. Lagi pula, lama juga saya tidak menulis lepas tanpa harus direncanakan.

Jadi, sore tadi saya menjadi penumpang uber motor untuk menuju ke fX Sudirman. Ketika melewati jalan Mampang Prapatan, tanpa saya sengaja tumbler kuning saya jatuh berguling-guling hingga ke tepi jalan. Untung saat itu tidak ada kendaraan lain yang menabraknya. Jika tidak, tentulah saya merasa kasihan. Ia pasti remuk redam.

Dengan kecepatan motor kira-kira 50-60 km per jam, saya ingin bilang ke supir uber untuk berhenti. Namun saya urungkan niat saya tersebut sembari menggurutu dalam hati. Setelah cukup jauh, saya baru kemudian menyesal namun tidak memungkinkan lagi untuk berhenti dan menyelamatkan tumbler yang digandrungi ibu-ibu itu.

Dalam hati terjadi percekcokan kecil. “Ah, harusnya berhenti!” Namun saya tidak berhenti. Motor terus melaju menyisir jalanan ibu kota. Berulangkali saya meyakinkan diri sendiri bahwa takada gunanya mengumpati kebodohan yang terang-terangan saya lakukan. Akhirnya, saya berusaha menerima kenyataan bahwa sore itu, saya resmi berpisah dengan “Si Botol Berwarna Kuning”.

Kemacetan di jalan Mampang Prapatan mulai menggeliat. Seketika kecepatan motor kamipun melambat. Tiba-tiba dari sisi kiri, ada dua orang pengendara motor yaitu mba-mba menghampiri kami sembari menyerahkan botol kuning saya.

“Mas, ini botolnya kan?”

“Iya mba, benar itu botol saya!”

Saya kaget. Saya terharu. Saya takjub dengan kebaikan hati mba-mba tadi. Saya pikir saya benar-benar berpisah dengan tumbler kesayangan saya. Saya pikir, botol itu sudah rezeki orang lain. Nyatanya saya salah besar. Ah, saya jadi merinding sendiri.

Hikmah dari kejadian sore tadi: bahwa rezeki setiap anak cucu adam tidak akan pernah tertukar.

Sekuat apapun kita mengklaim bahwa itu rezeki kita, maka jika Tuhan menetapkan bahwa itu bukan rezeki kita, maka yang terjadi terjadilah. Sebaliknya, jika Tuhan menetapkan sesuatu menjadi hak kita, menjadi rezeki kita, maka semesta akan berkonspirasi agar sesuatu itu layak untuk kita miliki.

Terima kasih untuk mereka yang masih peduli dan baik hatinya.

Jakarta,

12 Juli 2017.

 

Advertisements