Semangat dalam Secangkir Caffe Latte


Sejujurnya, saya bukanlah seorang penggemar kopi. Saya bahkan tidak begitu hapal jenis-jenis kopi di dunia beserta lengkap dengan filosofinya. Ketika menonton film Indonesia yang berjudul “Filosofi Kopi” yang diperankan oleh Chiko Jerikho, Rio Dewanto, dan Julie Estelle–saya takjub karena ternyata di dunia ini ada orang-orang yang begitu candu dengan kopi. Pada film tersebut, tokoh Ben, yang diperankan oleh Chiko Jerikho tampak natural memerankan peran sebagai barista yang sangat terobsesi meracik secangkir kopi dengan sempurna.

Processed with VSCO with a6 preset
Caffe Latte (Photo taken by: Mahfud Achyar)

Di kantor saya yang dulu, ada seorang teman yang juga mencintai kopi. Bahkan, ia memiliki alat peracik kopi manual. Sesekali saya perhatikan, ia terlihat menikmati proses pembuatan kopi, mulai dari menumbuk serbuk kopi yang masih berserat kasar, menuangkan air panas dengan derajat kepanasan yang pas, mengaduk kopi dengan sangat lembut, serta menyajikan secangkir kopi ke dalam cangkir berwarna putih. Ia sangat menyukai kopi hitam. Beberapa teman saya yang lainnya juga menyukai kopi hitam. Katanya, “Kopi itu harusnya tanpa gula.” Saya pun hanya bisa menganggukkan kepala.

Pernah suatu ketika, saya berdiskusi dengan seorang teman perempuan mengenai kelezatan kopi yang dijual di salah kedai kopi ternama di dunia. Saya berkata, “Gue suka kopi rasa espresso di Starbucks!” Kemudian teman saya yang ternyata penyukai kopi hitam (khususnya kopi Sumatera) menimpali celetukan saya, “Ah, kopi Starbucks mah kopi banci!” Seketika itu juga saya kaget dan meminta ia mengklarifikasi perkataannya. Ia pun menjawab, “Ya, menurut gue sih ga worth beli kopi mahal di Starbucks tapi rasanya kurang original. Gw lebih suka kopi tradisional yang gue racik sendiri. Menurut gue itu lebih enak.”

Saya pun hanya bisa terdiam dan berusaha mencerna setiap frasa yang keluarnya. Intonasi bicaranya sangat datar seolah tidak begitu menghargai penilaian saya terhadap cita rasa kopi. “Oke, barangkali setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda soal kopi. Pasti akan terjadi perdebatan yang berkepanjangan,” gumam saya dalam hati.

Kopi dan Selera

Menurut artikel yang saya baca, karakter seseorang dapat dilihat dari kopi yang ia minum. Konon bagi orang yang suka dengan kopi hitam, ia digambarkan sebagai pribadi yang misterius, pekerja keras, dan selalu fokus dalam bekerja.

Entahlah, kadang saya berpikir itu hanyalah teori yang yang masih diragukan keabsahannya. Namun bila benar ada penelitian semacam itu, mungkin saya akan mengubah sudut pandang saya mengenai kopi. Sejauh ini, saya berpendapat bahwa tidak ada relevansi kopi dan orang yang meminumnya, Saya pikir itu kopi bergantung selera masing-masing individu. Saya tidak terlalu suka kopi hitam. Bahkan sejujurnya, saya tidak terlalu menyukai kopi. Namun beberapa tahun ke belakang, saya mulai menyukai kopi, khususnya caffe latte tanpa gula. Ada rasa manis yang tidak berlebihan, ada rasa pahit yang tidak terlalu pekat. Menurut saya rasanya sangat pas di lidah. Perfecto!

Akan tetapi, jauh sebelum saya menyukai kopi, saya adalah pencinta susu dan teh. Sewaktu kecil hingga SMA, saya hampir setiap hari minum susu. Kata nenek saya, “Susu itu bagus untuk kecerdasan.” Saya pun menjadi ketagihan untuk minum susu tidak hanya pada pagi hari, namun terkadang juga malam hari sebelum tidur. Namun semenjak kuliah, saya sudah jarang minum susu. Maklum, tinggal jauh dari orang tua membuat saya harus pintar mengatur finansial yang terbatas. Maka, membeli susu bukanlah hal yang prioritas untuk saya. Setelah lulus kuliah kemudian bekerja, saya ingin mengembalikan kebiasaan saya untuk meminum susu. Sayangnya, kondisi sekarang jauh berbeda dibandingkan waktu saya kecil hingga SMA. Sekarang, jika saya minum susu pada pagi hari, sudah dapat dipastikan perut saya akan terasa sakit. Akibatnya, saya harus buang air besar. Lebih parah lagi saya bisa terserang diare.

Beberapa hari yang lalu, saya berkonsultasi dengan teman saya seorang dokter. Namanya Sari. Saat ini ia sedang bertugas menjadi salah satu dokter umum di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Secara spesifik, saya mengeluhkan tentang penolakan perut saya ketika mengkonsumsi susu pada pagi hari.

Berikut jawaban yang disampaikan oleh Sari.

Dear Achyar, kemungkinan terbesar kondisi yang mas alami adalah intoleransi laktosa (meskipun masih banyak kemungkinan lain). Intoleransi laktosa adalah suatu kondisi tubuh, di mana tubuh tidak dapat mencerna secara sempurna laktosa yang terdapat dalam susu dan produk olahannya karena kurangnya enzim laktase di dalam tubuh yang berfungsi untuk mencerna laktosa (gula dalam susu). Laktosa yang tidak tercerna akan mengalami proses fermentasi di imusus besar yang nantinya dapat menghasilkan gas yang menyebabkan perut tidak nyaman dan bahkan bisa menyebabkan diare. Biasanya kondisi ini terjadi pada remaja dan dewasa.

Intoleransi laktosa terjadi pada saat mengkonsumsi susu dan produk olahannya. Gejala yang dirasakan beragam seperti perut terasa todak nyaman, sering buang gas, dan bahkan diare. Saran yang dapat saya berikan: 1) Coba mengkonsumsi susu bukan pada pagi hari. Produksi asam lambung yang meningkat pada malam hari, biasanya jika perut dalam keadaan kosong dan diisi susu akan terjadi peningkatan produksi gas lambung yang menyebabkan rasa tidak nyaman. Coba konsumsi susu pada siang atau malam hari sebelum tidur; 2) Jika pada saat mengkonsumsi susu selain pagi hari masih terdapat keluhan yang sama, cobalah mengkonsumsi susu dicampur dengan bahan makanan lain misalnya oatmeal atau mengganti susu murni dengan produk olah susu lain dengan kandungan gizi yang sama; dan 3) Jika memang benar intoleransi laktosa, maka yang bisa dilakukan adalah menghindari susu serta produk olahannya. Zat gizi yang ingin diperoleh misalnya kalsium dan lain-lain bisa diperoleh dengan sumber gizi lain.

 Intoleransi laktosa bukan sesuatu yang berbahaya. Akan tetapi, lebih baik memerlukan penanganan lebih lanjut terutama untuk mengenali produk-produk apa saja yang menyebabkan munculnya gejala pada tiap individu. Konsultasi lebih lanjut dengan dokter tetap diperlukan. Terima kasih.”

Ah, menulis tentang susu saya jadi teringat dengan nenek saya. Dulu, hampir setiap pagi, neneklah orang yang paling berjasa membuatkan susu untuk saya. Kini, susu seolah menjadi musuh saya terutama jika diminum pada pagi hari. Pun demikian, bukan berarti saya sudah tidak minum susu lagi. Jika waktunya pas dan memang sedang ingin susu, pasti saya akan meminumnya.

Berbeda dengan nenek, mama saya sering membuatkan secangkir teh hangat untuk saya. Apalagi pada momen Ramadan, teh seakan menjadi minuman wajib ketika sahur atau buka puasa. Saya suka sekali teh. Salah satu jenis teh yang menjadi favorit saya yaitu Thai tea yang saya beli waktu liburan di Bangkok pada Februari lalu. Rasa Thai tea agaknya cocok dengan lidah saya. Enak.

Well, setelah membahas susu dan teh, selanjutnya mari kita kembali membahas kopi. Menurut literatur yang saya baca, kopi mulai dikenal masyarakat dunia pada saat Perang Salib sekitar tahun 1096-1099. Dikisahkan bahwa kopi merupakan minuman para tentara Muslim. Setelah kalah perang, konon kabarnya biji kopi menjadi harta rampasan perang yang dibawa oleh pasukan Katolik Roma ke daratan Eropa. Sejak saat itu, kopi mulai terkenal dan menjadi minuman favorit oleh masyarakat dunia. (Jika informasinya kurang berterima, mohon dikoreksi ya!)

Menyoal tentang minuman seperti susu, teh, dan kopi biasanya selalu saya kaitkan dengan beberapa orang. Jika susu merujuk pada nenek, teh merujuk pada mama atau kakak, maka kopi merujuk pada sahabat saya di kantor dulu yang kami juluki “Barista Terkeren Se-Jakarta.” Sejujurnya, julukan yang kami berikan (kami merujuk pada teman-teman satu divisi Marcomm) agar Sang Barista yang dimaksud bersedia mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam meracik caffee latte. Oh ya, nama teman saya itu Feri. Nama lengkapnya Feriyanto. Itu nama terpendek untuk zaman semodern saat ini.

Specifically, Feri adalah master caffee latte. Kami sangat menyukai kopi buatannya. Jika kantuk mulai menyerang dan diiringi rasa malas yang menggurita, maka kami tinggal merengek kepada Feri. Tara! Kopi pun siap diseduh! (Resep kopi ala Feri tidak dapat dipublikasikan pada tulisan ini. Resep rahasia).

Ada semangat dalam secangkir caffee latte. Mengutip perkataan Marcia Carrington, “A morning coffee is my favorite way of starting the day, settling the nerves so that they don’t later fray.”

Pagi hari, saat nyawa saya masih 50:50, saya begitu terobsesi dengan secangkir kopi. Terkadang saya menganggap kopi laiknya doping yang dibutuhkan oleh seorang pekerja Jakarta untuk menjadi produktif, semangat, dan riang gembira. Walau sekarang saya sudah menyukai kopi, saya tidak ingin bergantung padanya. Saya hanya akan meminumnya bila saya membutuhkannya.

Belakangan ini bila baru bangun tidur, saya membiasakan diri untuk meminum air putih hangat. Saya berharap organ dalam tubuh saya bisa bekerja maksimal hingga hari tua. Saya tidak ingin merepotkan orang! Fix! Tulisan ini sungguh acak dan absurd. Demikianlah hidup.

Jakarta,

23 Agustus 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s