Decemberain: Catatan Pendakian Gunung Gede


Oleh: Mahfud Achyar, M.IK

Saat ini, aktivitas pendakian tidak hanya sebatas aktivitas outdoor melainkan sudah menjadi lifestyle. Beberapa dekade lalu, tidak banyak orang yang senang mendaki gunung–aktivitas yang menguras fisik ini hanya dinikmati oleh beberapa kalangan, khususnya para pencinta alam. Namun sekarang, sejak era informasi digital, aktivitas pendakian kian digemari. Terlebih banyak film-film hollywood dan juga film-film Indonesia mengangkat tema petualangan.

IMG_0770
Jalur Pendakian Jalur Cibodas (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sejak dirilisnya film “5 CM” pada tanggal 12 Desember 2012, animo masyarakat Indonesia untuk menikmati sunrise di puncak gunung kian tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin meningkatnya jumlah para pendaki setiap tahunnya. Film “5 CM” merupakan film garapan Rizal Mantovani yang bercerita tentang pendakian ke puncak Mahameru yang dilakoni oleh Fedi Nuril (Genta), Denny Sumargo (Arial), Herjunot Ali (Zafran), Raline Shah (Riani), dan Igor Saykoji (Ian).

Kehadiran film tersebut mendatangan reaksi yang beragam dari pencinta alam. Ada yang menyambut positif film tersebut karena membangkitkan semangat anak-anak muda Indonesia untuk bertualang, namun tidak sedikit juga yang mencibir film tersebut lantaran dianggap kurang memberikan edukasi mengenai safety procedure selama berada di alam bebas. Menurut saya sendiri, aktivitas di alam bebas tentunya beresiko. Namun bila dipersiapkan dengan baik, kita bisa meminimalisasi berbagai kemungkinan buruk yang tidak kita harapkan. Barangkali kita belum mampu menjadi pendaki yang pro, namun setidaknya kita berupaya untuk memastikan bahwa kita bukanlah pendaki yang konyol.

Selain itu, persiapan pendakian pada saat musim hujan tentu memiliki perlakuan yang berbeda dibandingkan musim kemarau. Lazimnya, para pendaki lebih memilih musim kemarau dibandingkan musim hujan karena dinilai lebih aman. Namun, ada juga yang berpendapat pendakian saat musim hujan justru menyenangkan. Apalagi pada saat musim hujan, cuaca di gunung tidak terlalu ekstrem dibandingkan musim kemarau. Hal tersebut lantaran pada musim hujan permukaan bumi dipenuhi oleh air, baik dalam bentuk cairan maupun uap. Air dalam bentuk cairan sebagian besar akan meresap ke dalam tanah, sedangkan air dalam bentuk uap akan larut di udara. Sebaliknya, pada musim kemarau, permukaan bumi lebih kering. Kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya. (Dony Aris Yudono, 2012).

Pengalaman mendaki gunung saat musim hujan pernah saya alami bersama teman-teman saya. Tepatnya pada tanggal 20 Desember 2015, kami mengisi liburan akhir tahun dengan mendaki gunung yang mudah dijangkau dari Jakarta. Setelah berdiskusi cukup panjang melalui grup pesan instan WhatsApp, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki gunung Gede yang berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Jawa Barat.

TNGGP merupakan taman nasional yang berfungsi untuk melindungi dan mengkonservasi ekosistem flora dan fauna di area seluas 21,975 hektare beserta tutupan hutan pegunungan di sekelilingnya. Ada beberapa alternatif jalur pendakian yang bisa dipilih untuk mencapai puncak Gede yang berada di ketinggian 2,958 m (9, 705 ft) di antaranya gerbang utama Cibodas dan Cipanas. Kedua jalur pendakian tersebut memiliki tantangan yang berbeda-beda. Namun pada umumnya, para pendaki yang baru pertama kali ke gunung Gede biasanya memilih jalur Cibodas. Bagi warga Jakarta, Anda bisa mencapai Cibodas dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam dengan jarak ± 100 km menggunakan kendaraan pribadi. Menurut berbagai informasi, jalur Cibodas dinilai lebih mudah dibandingkan jalur Cipanas.

Menurut saya, jalur Cibodas sangat ramah untuk para pendaki. Track pendakian menuju puncak gunung Gede sudah terakses dengan baik. Anda akan menapaki jalanan yang berbatu serta di kelilingi oleh hutan hujan tropis yang rimbun. Namun sebelum itu, Anda terlebih dahulu diwajibkan untuk melapor kepada pengelola TNGGP bahwa Anda sudah terdaftar dan diizinkan mendaki gunung Gede.

Untuk mendaftar atau reservasi, Anda bisa membuka situs http://booking.gedepangrango.org/. Pada situs tersebut, Anda akan mendapatkan informasi mengenai ketentuan umum pendakian gunung Gede – Pangrango. Intinya, setiap pendaki harus memiliki Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) pendakian yang dikeluarkan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP).

Gunung Gede dibuka untuk para pendaki hanya untuk waktu-waktu tertentu. Pada tanggal 31 Desember hingga 31 Maret, biasanya gunung Gede ditutup dengan alasan untuk memulihkan kondisi hutan. Selain itu, kuota pendaki juga dibatasi hanya 600 orang pendaki perharinya (300 melalui Cibodas, 100 melalui Salabintana, dan 200 melalui Gunung Putri). Oleh sebab itu, bila Anda ingin mendaki gunung Gede, Anda harus mempertimbangkan kapan waktu yang tepat untuk mengangkat carrier bag Anda.

Pesona gunung Gede memang patut diacungi jempol. Maka taksalah, banyak para pendaki domestik dan internasional yang bersaing ketat untuk berhasil mendapatkan Simaksi. Lokasi yang mudah dijangkau serta medan pendakian yang tidak terlalu susah membuat gunung Gede menjadi salah satu gunung yang patut untuk didaki.

Selain itu, keragaman flora dan fauna di TNGGP membuat kawasan ini tidak hanya worth untuk disinggahi namun juga menjadi laboratorium yang mampu meningkatkan khazanah kita mengenai ilmu pengetahuan alam. Menurut literatur yang saya baca, gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia. Maka rasanya pendakian menjadi lengkap bila ada teman pendakian kita yang menguasai ilmu botani. Sembari mendaki, kita juga belajar. Menyenangkan bukan?

Tentang pendakian, ada yang pernah berkata seperti ini, “Bukan kemana kita mendaki, namun dengan siapa kita mendaki.” Menurut saya, ungkapan tersebut cukup filosofis. Teman seperjalanan memang menjadi penentu apakah perjalanan kita akan berkesan atau justru terasa hambar. Teman perjalanan tidak melulu orang-orang dekat kita. Teman perjalanan bisa jadi orang-orang yang baru kita kenal namun mereka mampu memberikan makna dalam perjalanan panjang kita. Bersama mereka, perjalanan yang sulit pun terasa lebih ringan. Bersama mereka, berbagai rintangan dapat diatasi dengan baik. Perjalanan mengajarkan kita bagaimana cara membentuk tim yang hebat dalam durasi yang sangat singkat. Teman perjalanan saya saat melakukan pendakian ke gunung Gede adalah orang-orang hebat yang saya kenal di salah satu komunitas positif di Indonesia, Kelas Inspirasi. Berbeda dengan pendakian-pendakian sebelumnya yang mewajibkan untuk mendirikan tenda (menginap), pendakian ke gunung Gede kami lakukan secara tektok (pulang-pergi).

IMG_0723
Sahabat Positif – Kelas Inspirasi Depok 2

Kami mulai mendaki sekitar pukul 06.30 WIB. Saat cuaca terlihat mendung. Maklum bulan Desember adalah musim penghujan. Kami pun sudah mengantisipasinya dengan mempersiapkan rain coat kalau-kalau hujan turun. Belum setengah perjalanan, hujan turun dengan cukup deras. Pendakian saat hujan agak berat. Jalanan pasti akan lebih licin. Belum lagi bagi yang menggunakan kaca mata, tentunya kaca mata menjadi berembun. Kendati sudah memakai rain coat, tetap saja kita harus ekstra hati-hati. Kami pun terus melangkah melalui medan yang terjal, curam, dan sesekali harus melompat.

Ada banyak hal menarik yang bisa kita jumpai selama pendakian di gunung Gede. Beberapa objek wisata yang bisa kita temui yaitu telaga biru (1.575 mdpl), air terjun Cibeureum (2,8 km dari Cibodas), air panas (5,3 km dari Cibodas), Kandang Batu dan Kandang Badak (2.220 mdpl), alun-alun Surya Kencana, dan tentunya puncak dan kawah gunung Gede.

Jalur Gunung Gede (Sumber 2(dot)bp(dot)blogspot(dot)com)
Map of Mt. Gede (Source: http://www.2.bp.blogspot.com)

Akan tetapi mengingat terbatasnya waktu yang kami miliki, kami pun tidak sempat singgah lama-lama di beberapa objek wisata tersebut. Kami harus berpacu dengan waktu sebab kami harus turun juga pada hari itu. Sekitar pukul 11.00 WIB, kami pun tiba di Kandang Badak yang menjadi lokasi favorit para pendaki untuk mendirikan tenda. Kami singgah sebentar untuk menyiram tenggorokan yang kering dengan air teh hangat. Ah, rasanya saat itu nikmat sekali menyeruput teh. Saat kondisi badan yang sudah basah kuyup, tubuh terasa dingin, kemudian seketika menjadi kembali hangat. Oh God, thanks!

IMG_0857
Kabut Tipis di Gunung Gede (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Setelah cukup puas beristirahat di Kandang Badak, kami pun melanjutkan pendakian ke puncak gunung Gede. Menurut para pendaki, kami hanya perlu menanjak sekitar dua jam lagi untuk bisa mencapai puncak. Kami pun bergegas dengan mempercepat langkah agar bisa mencapai puncak secepatnya. Hujan kembali turun. Namun tidak terlalu deras. Beberapa pendaki terlihat baru turun dari puncak. Sepanjang perjalanan mereka menyemangati kami, “Semangat ya mas, semangat ya mba!” Kami pun membalas dengan mengucapkan terima kasih.

Akhirnya, sekitar pukul 14.00 WIB kami berhasil mencapai puncak. Horray! Beruntung hujan saat itu sudah reda. Kami pun bisa menikmati keindahan alam bumi Pasundan di atas ketinggian 2.958 mdpl. Di puncak gunung Gede, terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu, dan Wadon. Selebrasi paling mainstream saat tiba di puncak gunung yaitu berfoto di depan plang yang bertulis, “Puncak Gede.” Hah! Kami bersyukur mendapakan kesempatan yang berharga, kami bersyukur lahir di negara yang menyimpan semilyar pesona. Terima kasih Indonesia!

IMG_0874
Kawah di Puncak Gunung Gede (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

 

2 thoughts on “Decemberain: Catatan Pendakian Gunung Gede

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s