Jonggol: Antara Sony Wakwaw dan Gunung Batu


Oleh: Mahfud Achyar

Pernah mendengar Jonggol sebelumnya? Saya pernah! Namun dulu saya tidak tahu secara persis di mana titik koordinat Jonggol di peta. Namun beberapa tempo ke belakang, nama Jonggol kian tenar berkat dipopulerkan oleh seorang aktor pendatang baru Sony Wakwaw yang sering berseliweran di layar kaca Indonesia. Ia kerap kali berguyon, “Bapak mana, bapak mana? Jonggol!”

Ulah guyonan Sony Wakwaw, nama Jonggol mulai akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyak orang yang kemudian mencari nama Jonggol melalui mesin pencari di internet. Mereka penasaran seperti apa itu Jonggol, apa saja yang bisa dijumpai di sana, dan bagaimana caranya bisa ke Jonggol. Barangkali karena rasa penasaran yang membuncah, akhirnya terkuaklah bahwa ada mutiara alam yang tersembunyi di Jonggol yaitu gunung Batu.

Bagi yang belum mengenal Jonggol, saya sampaikan sedikit informasi mengenai daerah ini. Menurut telusuran saya di Wikipedia, Jonggol adalah sebuah kecamatan di kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jonggol merupakan kecamatan yang dikenal dengan wilayah penghasil buah rambutan dan juga durian. Selain unggul dalam hasil perkebunan, ternyata Jonggol juga memiliki objek wisata gunung Batu yang takkalah aduhai. Bahkan salah satu situs travel mengatakan pemandangan di gunung Batu seolah membawa kita negeri di paling selatan bumi, yaitu New Zealand. Agaknya mungkin majas metafora yang ditulis pada situs itu agak berlebihan. Namun bisa jadi demikianlah yang memang rasakan penulisnya. Lagi-lagi penilaian bersifat relatif, tidak mutlak.

Gunung Batu. Photo taken by: Mahfud Achyar
Gunung Batu.
Photo taken by: Mahfud Achyar

Bagi Anda yang ingin mendaki gunung, namun masih ragu untuk mendaki gunung yang tinggi, rasanya pilihan mendaki gunung Batu adalah yang paling tepat. Mengapa? Sebab gunung ini (saya sendiri masih risih menggunakan istilah gunung karena lebih tepat disebut bukit) hanya memiliki ketinggian sekitar 875 meter dari permukaan laut. Selain itu, lokasi gunung Batu mudah diakses apalagi bagi Anda yang tinggal di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

Dari Jakarta, perjalanan menuju gunung Batu sekitar 2,5 jam dengan jarak sekitar 55 kilometer. Anda bisa ke sana menggunakan sepeda motor dan mobil. Namun bagi Anda yang senang konfoi, menggunakan sepeda motor lebih disarankan. Untuk sampai di gunung Batu, Anda akan melewati Cibubur, Cileungis, Jonggol, Mengker, dan Gunung Batu. Ketika tiba di Mengker, Anda bisa belok kanan dan terus mengikuti jalan yang ke arah gunung Batu. Bila Anda sangsi, Anda dapat menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) untuk sekadar bertanya dan berkomunikasi dengan penduduk lokal. Sebetulnya lokasi gunung Batu bukanlah di Jonggol, melainkan di kampung Gunung Batu 01, desa Sukaharja, kecamatan Sukamakmur, Bogor. Saya sendiri kurang tahu mengapa banyak orang yang mengatakan bahwa gunung Batu itu di Jonggol. Jadi? (Hanya bisa mengangkat bahu).

Tiba di lokasi, Anda akan disambut oleh beberapa petugas parkir yang setia menunggu kedatangan para hikers. Untuk biaya parkir sepeda motor dikenakan sebesar 10ribu dan bila Anda ingin kemping maka parkir motor dikenakan 20ribu permalamnya. Relatif cukup murah, kan?

Pemandangan Gunung Batu dari Puncak. Photo taken by: Mahfud Achyar
Pemandangan Gunung Batu dari Puncak. Photo taken by: Mahfud Achyar

Gunung Batu memang tidak begitu tinggi. Namun jangan sampai kita bersikap abai dan meremehkan keselamatan. Kita tetap perlu stretching dan berdoa sebelum memulai pendakian. Berharap semoga kita senantiasa dijaga oleh Sang Pemilik Semesta.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai di puncak? Kira-kira 1 jam. Namun bisa cepat dan lambat bergantung kita. Jika lebih banyak foto-foto atau istirahat mungkin akan memakan waktu lebih lama. Jika kecepatan menanjak ditambah, tentu akan lebih cepat mencapai puncak. Sebetulnya bukan persoalan cepat atau lambat kita mendaki, namun bagaimana kita menikmati proses pendakian itu.

Kita perlu menikmati panaroma gunung Batu yang hijau dan indah, menghirup dalam-dalam udara yang segar, dan tentunya berhati dalam setiap langkah. Apalagi medan menuju puncak cukup berbahaya. Kita dihadapkan dengan tanjakan yang cukup terjal, bebatuan, jalan yang sempit, dan begitu banyak orang. Untuk mencapai puncak saja kita harus mengantri. Maklum karena jalan yang sempit, gunung yang takluas itu disesaki para pendaki. Jadi harus ekstra hati-hati dan sabar.

Saya bersama teman-teman saya ke sana pada tanggal 1 Mei 2015 lalu. Niat kami ke gunung Batu sebetulnya dalam rangka latihan fisik untuk persiapan ke gunung Rinjani pada tanggal 13 hingga 17 Mei 2015. Sebelumnya beberapa di antara kami sudah melakukan pendakian pemanasan ke gunung Papandayan dan ke gunung Gede (batal karena kuota sudah penuh). Mau tidak mau gunung Batu menjadi alternatif untuk latihan fisik kami. Menurut saya sendiri, mendaki gunung Batu cukup membuat otot-otot bekerja dan membuat tubuh terasa lebih fit.\

Di atas puncak, kita dapat menyaksikan anak-anak manusia yang tertawa bahagia sembari mengabadikan momen-momen bersama sahabat dengan ragam kamera: ponsel, poket, pro, dan DSLR. Semua tampak ceria dalam balutan suasana suka cita. Demi mendapatkan foto terbaik, takjarang juga ada pendaki yang selfie di pinggir jurang yang berbahaya. Saya sempat miris melihatnya. Bukan karena saya tidak berani. Namun saya tidak ingin mati konyol, terpeleset jatuh ke jurang. Puncak gunung Batu sama sekali belum diberi tanda peringatan atau tanda keamanan lainnya. Jadi wajar banyak pendaki yang berbuat sesuka hati. Lagi-lagi seharusnya kita mampu bersikap bijak di alam terbuka.

Selfie di tepi tebing
Selfie di tepi tebing

Gunung Batu indah. Sejauh mata memandang kita akan dimanjakan dengan hamparan reremputan yang hijau. Jika mata kita cermat, kita bisa melihat sungai yang mengalir dan perkebunan yang digarap begitu rapi. Bagi Anda yang ingin kabur dari kepenatan ibu kota, gunung Batu selalu terbuka menerima Anda. Selamat bertualang!

Sepasang Kepik.  Photo taken by: Mahfud Achyar
Sepasang Kepik.
Photo taken by: Mahfud Achyar

2 thoughts on “Jonggol: Antara Sony Wakwaw dan Gunung Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s