Menunggu untuk Ditunggu

BeFunky_CAtByyTUYAA56an.jpg

Dulu, aku takbegitu senang untuk menunggu. Bagiku, menunggu adalah hal yang menyebalkan, membuang waktu, dan ketika menunggu aku merasa seperti orang bodoh. Apabila ingin membuat janji bertemu dengan seseorang, aku akan menganalisis secara matematis agar waktu menunggu bisa lebih efektif. Namun sayangnya, seringkali perhitunganku tidak begitu akurat, seringkali malah di luar ekspektasi.

Namun sekarang sepertinya aku mulai menikmati waktu menunggu. Kemarin, (Minggu, 23 Maret 2015), aku menunggu kedatangan Papa di terminal 1B Bandara Internasional Soekarno Hatta. Untungnya pesawat yang ditumpangi Papa tidak delay. Jadi, aku tidak perlu menunggu terlalu lama atau menunggu dengan perasaan yang kacau: tidak sabaran.

Kadang aku berpikir, bagaimana bila orang yang kita tunggu takjadi datang? Bukan karena ia membatalkan janji. Ia bahkan takpunya niatan untuk membatalkan secara sepihak. Ia hanya takkuasa untuk menolak permintaan untuk bertemu segera dengan Sang Pengatur Janji.

Barangkali demikianlah yang terjadi terhadap ratusan penumpang Malaysia Airlines Flight MH370 yang hilang entah kemana. Kondisi serupa juga dialami oleh 155 penumpang Air Asia QZ8501 yang hendak bertemu dengan karib kerabat, sahabat, dan orang-orang yang mereka cintai di Singapura. Percayalah, mereka tidak bermaksud untuk ingkar janji. Hanya saja, mereka sudah membuat janji terlebih dahulu dengan-Nya jauh sebelum ia berkata, “Okay, kita akan bertemu di Bandara setelah landing.”

Begitulah, kadang ada yang sengaja menunggu, namun orang yang ditunggu malah berlalu. Ada juga yang telah lama ditunggu, namun isyaratnya kerap keliru. Nyatanya bukan dia yang menunggu. Tapi kita yang ditunggu. Menunggu dan ditunggu, apakah itu akan selalu berbeda?

“If I die, I will wait for you, do you understand? No matter how long. I will watch from beyond to make sure you live every year you have to its fullest, and then we’ll have so much to talk about when I see you again.” – Jeaniene Frost