Finding the Hidden Paradise: Cikaniki Forest


Oleh: Mahfud Achyar

Canopy Trail, Cikaniki Forest
Canopy Trail, Cikaniki Forest

Cikaniki merupakan hutan hujan tropis yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (THGS), Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Hutan yang memiliki luas 113,000 hektare ini dinobatkan oleh Majalah Tempo sebagai satu dari “100 Surga Tersembunyi di Sekujur Nusantara” pada tahun 2013. Julukan tersebut rasanya memang pantas disandangkan untuk Cikaniki. Sebab, Cikaniki merupakan hutan yang dihuni oleh 500 spesies tumbuhan dan 200 spesies burung yang beraneka ragam dan langka. Selain itu, belum banyak wisatawan domestik yang mengetahui pesona memukau di balik tabir tersembunyi Cikaniki. Namun yang mengherankan justru wisatawan mancanegaralah yang lebih banyak dan sering berkunjung ke sana.

Pada tanggal 1 hingga 2 november 2014 lalu, saya bersama travelmates berkesempatan untuk menikmati oksigen segar yang diproduksi oleh hutan Cikaniki yang memiliki luas nyaris dua kali Jakarta. Sebagai penduduk urban yang terbiasa menghirup oksigen yang tidak sehat, liburan ke Cikaniki tentu merupakan liburan yang “mahal”. Kami berangkat dari Depok, Jawa Barat dengan menyewa bus elf pariwisata berkapasitas sekitar 15 orang. Tujuan utama kami adalah kampung Citalahab yang berada di jantung TNGHS.

Untuk menuju kampung Citalahab, perjalanan ditempuh sekitar 5 jam. Namun durasi perjalanan bisa lebih lama apabila jalanan macet, terlebih jika berpergian pada hari libur. Untuk mengusik rasa bosan selama perjalanan, barangkali bisa diisi dengan main games, ngobrol, menikmati pemandangan, atau mungkin bisa juga tidur. Namun jangan sampai melewati momen epic ketika memasuki gerbang THGS. Anda akan disuguhi dengan pemandangan yang memanjakan mata. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan kebun teh yang ditanam dengan begitu rapi. Perkebunan teh yang memiliki luas 900 hektar tersebut sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Kabut tipis pun terlihat menutupi beberapa bagian kebun teh. Hal tersebut menambah kesyahduan dan rasa damai yang menyeruak seketika dari dalam hati.

Jalan yang dilewati hanya bisa dilalui oleh dua mobil berukuran sedang. Jalan tersebut belum beraspal, berwarna coklat tua, dan masih berbatu. Takheran bila sesekali kendaraan yang kita tumpangi bergoncang ke kiri dan ke kanan. Kita seolah sedang menaiki wahana permainan yang membuat tertawa dan deg-degan. Namun menikmati perjalanan adalah hal penting yang harus kita pilih. Sekitar 30 menit dari gerbang TNGHS, kita pun tiba di kampung Citalahab yang dihuni sekitar 60 orang (dewasa dan anak-anak).

Kampun Citalahab berada pada ketinggian 1.070 meter di atas permukaan laut. Bisa dikatakan kampung Citalahab adalah desa tersembunyi di kaki gunung Halimun-Salak. Masyarakat Citalahab menjadikan rumah-rumah mereka sebagai guest house bagi para wisatawan. Kondisi demikian membuat kita dapat berinteraksi lebih dekat dengan para warga. Rumah-rumah panggung yang sederhana seolah memberikan kesan back to village kepada para pengunjung. Kita pun bisa leluasa menikmati pemandangan berupa air terjun, sungai jernih, sawah, dan aneka tanaman tropis. Hal-hal menarik di Citalahab dapat dengan mudah dijangkau dengan berjalan kaki.

Hutan Cikaniki Sebagai Kawasan Konservasi

Hutan Cikaniki dijadikan sebagai kawasan konservasi yang bekerjasama dengan Lembaga Kerjasama Internasional Jepang (JICA). Bisa dikatakan Cikaniki adalah laboraturium hidup bagi para peneliti untuk meneliti berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi seperti elang jawa, macan tutul jawa, hewan primata, dan sebagainya. Seperti kebanyakan hujan tropis, hutan Cikaniki hampir setiap hari diguyur hujan terutama pada bulan Oktober hingga April.

Dulu, hutan Cikaniki hanya diperuntukkan untuk penelitian. Namun kini juga dibuka untuk para wisatawan. Ada beberapa objek wisata menarik yang dapat ditemukan di kawasan hutan Cikaniki seperti curug macan, loop trail (jalur interpretasi) sepanjang 1,8 km, canopy trail (jembatan tajuk) yang menghubungkan antara pepohonan sepanjang 100 m, dan glow mushroom (jamur bercahaya).

Glowing Mushroom
Glowing Mushroom

Namun menurut saya pribadi, keberadaan glowing mushroom adalah yang paling menarik dari hutan Cikaniki. Di Indonesia sendiri, glowing mushroom hanya tumbuh tujuh tempat yaitu di Taman Nasional Halimun-Salak, Jawa Barat; Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok; Gunung Meja, Manokwari; Taman Nasional Gunung Paling, Kalimantan Barat; Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh; Taman Nasional Gunung Kerinci, Jambi; dan Taman Nasional Tanjung Putih, Kalimantan Tengah.

Glowing mushroom di Cikaniki dapat dijumpai pada malam hari. Untuk melihat secara langsung glowing mushroom harus didampingi petugas stasiun Cikaniki, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak untuk faktor keselamatan. Jamur ini sendiri memiliki nama latin Mycena luxaeterna yang merupakan spesies jamur keluarga Mycenaceae. Lantas mengapa jamur ini dapat bercahaya? Glowing mushrooms dapat bercahaya karena mengandung zat Fosfor yang memancarkan sinar pigmen sehingga menimbulkan cahaya hijau. Selain menyaksikan keajaiban glowing mushroom, Anda juga akan takjub dengan cahaya- berpendar dari kunang-kunang.

Jika Anda bosan dengan objek wisata yang biasa-biasa saja, alangkah baiknya jika Anda merencanakan liburan ke Cikaniki. Selamat liburan!

 

2 thoughts on “Finding the Hidden Paradise: Cikaniki Forest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s