Merawat Kenangan


“Bagaimana bila kita sama sekali tidak bisa mengingat apa yang sudah kita alami?”

Source: http://images.gizmag.com/
Source: http://images.gizmag.com/

Semalam, saya sempatkan untuk menonton film di laptop. Sudah banyak sekali koleksi film yang menumpuk di external hard disk, namun belum sempat saya tonton. Pilihan saya jatuh pada film The Giver. Entahlah, mengapa saya harus menonton film ini. Padahal juga banyak film lain bisa ditonton. Ada semacam dorongan besar dari dalam saya untuk menonton film tersebut. Sesuatu yang sulit saya jelaskan. Berlebihan? Saya pikir juga begitu.

Film ini mengisahkan seorang pemuda bernama Jonas yang terpilih sebagai Penerima Kenangan. Ia mendapatkan hak prerogatif untuk mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelum lahirnya Komunitas. Berbagai kenangan diterima Jonas, baik itu kenangan yang manis, indah, menakutkan, bahkan kenangan memuakkan. Singkat cerita, ia berjuang untuk mengembalikan kenangan agar semua orang bisa kembali menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang lahir, tumbuh, dan berkembang dengan begitu banyak kenangan. Selesai menonton film ini, saya kemudian merenung. Dalam benak saya, begitu banyak pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya. Dan film ini cukup membantu saya untuk menemukan jawaban atas kegelisahan saya selama ini.

Saya pernah berpikir, mengapa Tuhan tidak menciptakan semua manusia baik. Mengapa harus ada permusuhan, pertengkaran, dan perperangan? Belakangan saya baru menyadari seutuhnya bahwa pada dasarnya fitrah manusia itu baik. Manusia adalah aktor dan decision maker dalam hidupnya. Tuhan memberikan kita kebebasan untuk memilih jalan yang kita suka. Dan jalan itu dipilih oleh segumpal darah yang ada di dalam tubuh kita. Segumpal darah yang orang-orang sering menyebutnya HATI. Maka, sebagai manusia kita diminta untuk merawat hati agar kita tidak salah memilih. Kata orang bijak, jika kau ragu dengan berbagai pilihan dalam hidupmu, maka cobalah tanya pada hatimu. Hati tidak pernah berbohong. Namun bagaimana bisa hatimu berkata jujur? Jika selama ini terlalu banyak noda yang mengotorinya. Sehingga kau sendiri tidak yakin apa yang dikatakan hati.

Sebelum kita lahir, bukankah kita pernah hidup di alam rahim? Lantas apa yang bisa kita ingat? Tidak secuil pun. Bahkan saya pun tidak bisa mengingat perjanjian suci dengan Tuhan ketika Ia meniupkan ruh ke dalam jasad saya. Pada saat itu, saya berjanji bahwa saya mengakui Allah sebagai Tuhan semesta alam. Saya pun menerima syarat dari-Nya atas tiga hal yaitu jodoh, rezeki, dan kematian. Ya itu janji yang pernah terjadi. Bukankah itu kenangan? Mengapa saya tidak mengingatnya sama sekali. Sembilan bulan hidup dalam rahim ibu, menerima asupan gizi dari uterus tentu saya memiliki kenangan, namun lagi-lagi saya tidak bisa mengingatnya. Di mana kenangan itu tersimpan? Apakah di otak? Tapi mustahil jika kenangan tersimpan di otak karena perkembangan otak janin baru dimulai saat ia berusia 8 minggu. Sebelum itu, apakah ia takmemiliki kenangan sama sekali?

Belakangan saya juga berpikir apakah kenangan-kenangan buruk bisa dihapus? Yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan indah dan baik. Sebab selama ini saya selalu terusik dengan kenangan buruk yang membuat hidup saya tidak bahagia, membuat saya gelisah, dan membuat saya merasa benci. Apa iya kita bisa menghapus kenangan? Mungkinkah cara kerja otak itu seperti hard disk? Jika kita ingin memperbaiki kenangan, kita tinggal klik kanan kemudian klik error checking, selanjutnya klik optimise and defragment, dan terakhir clean-up history yang menurut kita perlu dihapus. Sehingga yang tersisa hanyalah folder-folder kenangan yang baik. Bisakah semudah itu?

Film The Giver membuat saya sadar bahwa seharusnya kita tidak perlu memilih dan memilah kenangan. Semua manusia memiliki sisi hitam dan putih. Kenangan baik membuat kita merasa bahagia, kenangan buruk membuat kita belajar. Semua kenangan pada akhirnya membuat kita menjadi manusia yang bijak. Membuat kita menjadi Sang Perawat Kenangan. Biarkanlah kenangan baik itu terus terjaga dengan baik. Bila kita sedih dan marah, ingatlah kenangan yang indah dalam hidup kita. Sementara kita juga perlu merawat kenangan buruk. Mungkin ia taksesempurna kenangan baik. Ia layaknya seperti kupu-kupu yang memiliki sayap yang robek. Namun bukankah sayap yang robek bisa kita sembuhkan? Perlahan, biarkan kita merawat sayap yang robek itu. Mungkin ia tidak akan baik seutuhnya. Namun percayalah kondisinya akan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Setiap orang ibarat bulan. Memiliki sisi kelam yang takpernah ia tunjukkan pada siapa pun. Pun sungguh cukup bagi kita memandang sejuknya bulan pada sisi yang menghadap bumi.” – Salim A. Fillah

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita dibangun oleh kenangan-kenangan yang berasal dari dalam diri kita. Kenangan yang kita sendiri tidak tahu mengapa ia hadir dan dimana ia bersembunyi. Pun jika kita merasa sakit di masa lalu, kita takusah bersikeras untuk melupakannya. Upaya maksimal yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan masa lalu. Saya percaya bahwa setiap cobaan yang dihadapi oleh manusia adalah proses untuk ia mendapatkan derajat yang lebih baik di mata Tuhan. Jika saya dan kita semua masih menerima cobaan yang sama, kita perlu memeriksa hati kita. Mungkin hati kita sudah bebal dengan begitu banyak kesalahan yang sudah kita perbuat.

Saya ingin menjadi perawat kenangan. Namun jika saya dihadapkan dengan pilihan bahwa saya harus kehilangan kenangan, saya meminta pada Tuhan untuk menyisakan satu kenangan terbaik yang pernah yang miliki. Sebuah kenangan yang saya sendiri kita yakin apakah kenangan ini benar-benar ada atau tidak.

Suatu malam pada tahun 2013, saya bermimpi bertemu dengan seorang pria paruh baya mengenakan baju putih seperti pakaian ihram. Namun saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Saya hanya bisa mendengar suaranya. Saat itu saya bertanya padanya, “Siapakah ini?” Dengan suara berat ia menjawab, “Nabi Muhammad saw.” Saya terbangun dari mimpi saya. Jantung saya berdetak lebih kencang, napas saya tidak teratur, dan malam itu saya sungguh gelisah. Apa mungkin saya bertemu dengan Sang Pembawa Pesan? Saya tidak yakin dengan mimpi saya. Sebab yang saya tahu selama ini, untuk berjumpa dengan Rasulullah, kendati di alam mimpi, tidaklah mudah. Barangkali hanya orang-orang khusus yang memiliki hak istimewa semacam itu. Sementara siapalah saya? Seorang anak manusia yang hari-harinya hanya disibukkan dengan persoalan dunia dan seringkali berbuat maksiat.

Namun, jika pun kenangan itu taknyata. Saya tetap bahagia karena saya memiliki kenangan yang mungkin taksemua orang punya. Kenangan terbaik yang akan selalu saya rawat hingga kapan pun. Saya percaya, setiap orang memiliki kenangan-kenangan personal yang akan terus mereka rawat. Seperti Harry yang begitu mencintai kenangan saat ia dipeluk oleh kedua orang tuanya. Kenangan terbaik tersebut menjadi pancaran cahaya “Expecto Patronoum!” ketika merasa tertekan oleh kehadiran Dementor.

“Kenangan itu merupakan kebenaran.” – Jonas.

Tulisan ini mungkin sedikit rumit. Saya pun begitu sulit mencerna dan mengurainya untuk menjadi sebuah pesan yang mudah dipahami.

2 thoughts on “Merawat Kenangan

  1. suka dengan tulisannya, memang sedikit rumit tapi jika ditelaah dengan baik bisa kok dicerna dengan baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s