Belajar Makna Kehidupan dari Suku Baduy Dalam di Banten (Bagian 1)


Catatan Perjalanan Archernar!

Jakarta – Sabtu, 8September 2014

Semoga saya tiba di stasiun Tanah Abang tepat waktu.”

Demikianlah doa saya selama berada dalam taxi Bluebird dari Pulo Mas menuju stasiun Tanah Abang. Saya khawatir telat, saya khawatir teman-teman saya meninggalkan saya. Saya pun terus berafirmasi agar tiba di stasiun tepat waktu.

Perjalanan terasa begitu lama. Detik berganti menit dan nyaris berganti jam. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 07.55 WIB. Beruntung dari beberapa meter saya sudah melihat stasiun Tanah Abang. Ada cukup banyak orang-orang yang masuk dan keluar stasiun. Barangkali pada hari libur seperti ini akan banyak orang-orang yang berpergian entah kemana.

Setelah selesai membayar taxi, saya pun langsung bergegas menyebrang dan menaiki tangga stasiun yang jumlah anak tangganya lebih dari 30.

Alhamdulillah.

Saya mendapati teman-teman saya masih menunggu. Mereka terlihat begitu girang bercampur kesal ketika mengetahui kedatangan saya. Tanpa banyak mengulur waktu, kami pun langsung membeli tiket, melewati pemeriksaan petugas kereta, dan memasuki area peron kereta api menuju stasiun Palmerah.

Selang beberapa menit, kereta listrik atau commuterlinepun tiba. Kami pun bergegas masuk dan mencari kursi yang masih kosong. Kami cukup beruntung karena jumlah kursi kosong yang tersedia masih sangat banyak. Alhasil kami pun dapat memilih kursi mana saja yang ingin kami duduki.

Ah ya, saya lupa! Di antara teman-teman saya yang ada dalam gerbong kereta, ada beberapa orang yang belum dikenal. Kami hanya sebatas tahu nama ketika melihat percakapan instan di whatsapp, surel, dan juga facebook.Seperti biasa, sebagai kumpulan manusia yang belum mengenal satu sama lain, kami pun berkenalan: menanyakan nama, tempat tinggal, tempat bekerja, dan pertanyaan artifisial lainnya. Mungkin ini terkesan basa-basi. Namun bagi saya pribadi justru “ritual” basa-basi inilah yang menjadi permulaan untuk kita bisa berkenalan lebih jauh. Saya sendiri juga tidak terlalu mengerti mengapa jika kita berkenalan dengan orang yang baru selalu menanyakan hal yang sama. Apakah karena saya orang Asia? Apakah orang Eropa dan Amerika menanyakan hal yang berbeda? Entahlah. Tapi saya kira siapa pun dan dari etnis mana pun, mungkin akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan standar.

Berada di dalam kereta dengan kondisi psikologis yang masih belum stabil membuat saya teringat dengan salah satu adegan dalam film “5 CM” yang tayang pada akhir 2012 lalu. Adegan ketika Yan (Igor Saikoji) yang nyaris ketinggalan kereta karena telat. Namun beruntung ia memiliki teman-teman yang setia dan berjuang agar Yan bisa naik kereta bersama mereka.

Hal sama yang dialami Yan juga terjadi pada saya. Kendati saya baru mengenal beberapa orang di antara mereka, tapi mereka sudah membuktikan bahwa mereka memang teman-teman yang setia.

Saya selalu takjub dengan para travelers.Mereka dapat berteman baik dalam durasi sangat singkat, mereka dapat berkorban kendati tidak saling mengenal, dan mereka bersikap ramah kendati mereka belum mengenal sepenuhnya orang-orang yang membersamai mereka dalam perjalanan.

Lantas apa yang membuat kami begitu begitu cair dan percaya satu sama lainnya? Sebab kami memiliki cara pandang yang sama tentang hidup. Sejatinya hidup itu adalah perjalanan yang cukup panjang. Selama dalam perjalanan tersebut, kita menemukan hal-hal yang di luar ekspektasi kita. Kerap kali kita menemukan hal-hal yang menjengkelkan. Namun sampai kapan kita harus selalu menaruh curiga pada orang lain? Sampai kapan kita harus lelah dengan pikiran-pikiran buruk yang menggelayut di benak kita? Maka pada perjalanan panjang, kami sadar betapa hidup ini tidak serumit yang kami pikirkan. Hidup itu pada dasarnya take and give.Jika dua hal tersebut sudah kita upayakan, yakinlah hati manusia akan cenderung baik pada kita, alam akan senantiasa bersahabat dengan kita, dan semesta akan senantiasa memberikan isyarat dan pertanda yang baik untuk kita. Ya, setidaknya itulah yang bisa kupahami setelah begitu banyak ranah yang kusinggahi.

Stasiun Palmerah, Jakarta Barat – Pukul 08.30 WIB

Akhirnya kami pun tiba di stasiun Palmerah. Rombongan saya dari stasiun Tanah Abang berjumlah 8 orang. Sementara itu, di stasiun Palmerah puluhan orang dengan ekspresi wajah yang ceria dan bahagia sedang asyik berkumpul. Terlihat ada yang tertawa, ada yang menelpon, ada yang berfoto ria, dan ada juga yang hanya sebatas memeriksa ponsel mereka.

Berfoto bersama di stasiun Palmerah. (Dokumentasi: Ekta)
Berfoto bersama di stasiun Palmerah. (Dokumentasi: Ekta)

Di stasiun ini, sekitar 30 orang pemuda dari berbagai latar belakang usia, agama, pendidikan, pekerjaan, dan etnis berkumpul untuk satu tujuan yaitu mengenal lebih dekat suku Baduy Dalam di Banten. Perjalanan ke Banten ini diinisiasi oleh teman kantor saya bersama kedua temannya. Mereka memproklamirkan geng mereka dengan sebutkan “SEI BOLANGERS” yaitu penggabungan nama mereka bertiga S untuk Sari, E untuk Ekta, dan I untuk Indi. Tidak ada yang menyangka jika semua orang yang ikut trip pada hari itu bahwa nama mereka bertiga akan menempel pada kaos berwarna biru muda yang kami pakai. Saya hanya tersenyum kecut. Begitu juga dengan beberapa teman lainnya. Kita seperti dibodohi. Bisa-bisanya nama mereka terpampang indah di kaos kami. Haha. Kami pun saling tertawa dan meledak satu sama lainnya.

Heart to Heart with Baduy Ethnic

Mengenal lebih dekat suku Baduy Dalam Banten. Apa yang ada di benak saya? Selama ini tidak banyak informasi tentang mereka yang saya terima. Saya hanya tahu bahwa mereka disebut sebagai etnis Sunda Wetan yang sudah mendiami hutan pedalaman di Banten berpuluh tahun lamanya.

Saya pun hanya bisa berasumsi tentang mereka tanpa saya berusaha untuk mencari informasi yang lebih dalam tentang mereka. Menurut saya suku Baduy Dalam adalah kelompok etnis yang sangat introvertdengan dunia luar dan memiliki kebiasaan yang tidak lazim dengan manusia modern. Jujur, itulah yang saya pahami tentang mereka saat itu. Saya katakan, saya sangat minim informasi. Sempat khawatir untuk tidak ke sana. Namun saya beranikan diri, saya yakin tidak ada hal yang berbahaya yang perlu saya takuti.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kami pun berangkat ke Rangkas Bitung menggunakan kereta api Patas Jaya kelas ekonomi dengan merogoh kocek sekitar Rp. 4000. Harga yang cukup murah bukan? Naik kereta api kelas ekonomi bukan sesuatu yang baru untuk saya. Sebelumnya, saya sudah pernah naik kereta api ekonomi ke Yogyakarta. Saat itu saya berangkat dari stasiun Rancaekek, Bandung menuju stasiun Tugu, Yogyakarta.

Perjalanan menuju Rangkas Bitung akan ditempuh selama 3 jam. Menurut saya, gerbong kereta ekonomi menggambarkan potret kehidupan masyarakat Indonesia. Kita mungkin tidak akan tahu persis apa yang terjadi dalam gerbong kereta apabila kita tidur, menyumpel telinga dengan earphone,tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman, atau sibuk dengan membaca buku. Cobalah luangkan waktu untuk melihat orang-orang yang ada di dalam kereta ekonomi. Tataplah wajah mereka satu-satu. Tampak jelas dari wajah mereka betapa mereka memiliki sejuta pengalaman hidup yang tidak mudah. Mungkin saya sendiri kurang mampu mendiskripsikannya atau barangkali karena saya kurang peka membaca apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Tapi yang jelas, saya yakin mereka masih memiliki pengharapan untuk hidup yang lebih baik dan sejahtera.

Pada gerbong kereta ekonomi ini saya sendiri ragu saya sedang berada dimana. Apakah saya berada di pasar atau saya berada di kereta. Sebab selang beberapa menit saja, satu persatu penjual asongan menjajakan barang dagangannya beragam jenis. Sesekali terdengar suara cempreng sang ibu penjual buah-buahan tropis, suara iba dan sikap memelas dari pedagang tisu, belum lagi ada seorang pemuda yang tampak lusuh dan kumal membersikan sampah-sampah di sepanjang gerbong. Satu sodokan sampah, ia pun menadahkan tangan meminta rupiah dari penumpang. Begitu seterusnya.

Kasihan. Hanya perasaan itu yang hanya mampu mendeskripsikan kondisi di gerbong kereta ekonomi. Saya berharap suatu saat mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, mereka dapat hidup lebih sejahtera. Saya tidak ingin menutup mata bahwa di negeri yang kaya ini begitu banyak rakyat yang masih perlu dikuatkan tekad dan mentalnya. Kita mungkin memang terlahir miskin, tapi kita jangan pernah bermental miskin. Kita mungkin terlahir menderita, namun kita punya pilihan untuk hidup bahagia. Bukankah hidup itu bicara pilihan? Kita berhak menentukan pilihan-pilihan yang ditawarkan hidup. Hanya saja kita seringkali salah memilih.

Dalam kereta, saya tidak terlalu banyak berbincang-bincang ringan dengan teman-teman atau penumpang lainnya. Saya hanya ingin membaca tanda-tanda yang ada di dalam kereta. Saya pun hanya ingin melihat pemandangan yang tampak tidak begitu indah dari kaca jendela kereta yang buram dan tidak bening.

Saya pun merasa mengantuk dan akhirnya tidur.

.. bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s