Pemilu 2014, Media Berada di Pihak Siapa?


Tahun 2014 disebut juga dengan tahun politik. Betapa tidak, pada tahun ini, Indonesia akan menggelar helatan akbar yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 April untuk Pemilu Legislatif dan tanggal 9 Juli untuk memilih presiden dan wakil presiden. Berbeda pada tahun sebelum-sebelumnya, pada tahun ini mekanisme Pemilu akan memakai e-voting dengan harapan menerapkan sistem baru dalam pemilihan umum. Seperti yang dilansir laman website http://www.pemilu.com, keutamaan dari penggunaan sistem e-voting adalah Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang sudah mulai dipersiapkan sejak tahun 2012 secara nasional.

Pada Pemilu tahun ini, ada 12 Partai Politik (Parpol) yang akan bertarung guna menarik simpati rakyat, yaitu Partai Nasdem, PKB, PKS, PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PAN, PPP, Partai Hanura, PBB, dan PKPI. Sementara itu, untuk calon presiden, setidaknya ada sembilan tokoh nasional yang digadang-gadang akan menduduki kursi orang nomor 1 di Indonesia, yaitu Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, Hayono Isman, Joko Widodo, Jusuf Kalla, Megawati Sukarnoputri, Prabowo Subianto, Pramono Edhie Wibowo, dan Wiranto.

Menjelang Pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi, para peserta Pemilu (baik Parpol maupun Calon Presiden) sudah tebar pesona di berbagai saluran media, baik itu media cetak, elektronik, dan juga online. Bahkan jauh sebelum jadwal Pemilu diumumkan, mereka sudah terlebih dulu ngeksis di media. Mereka seperti tidak ingin ketinggalan start bertanding. Padahal jadwal kampanye resmi dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) pun belum resmi diumumkan.

Taktanggung-tanggung, mereka mengeluarkan budget yang tidak sedikit agar personal branding mereka dapat diterima dan dikenal masyarakat. Pertanyaannya dari mana uang tersebut mereka dapat? Padahal untuk berkampanye di televisi saja mereka harus mengeluarkan kocek ratusan juta. Belum lagi untuk memasang iklan di koran, majalah, internet, dan media lainnya. Mereka yang nampang di media layaknya seperti produk-produk kosmetik yang menawarkan berbagai keuntungan. Mereka menarik perhatian publik dengan jualan janji bahwa merekalah yang paling konkret, paling dicintai dan paling layak jadi pemimpin Indonesia. Satu sama lain melakukan hal yang serupa.

Pemilu dan media menjadi dua keping mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sebab kedua hal tersebut memberikan pengaruh satu sama lain. Seperti magnet yang berbeda kutub, maka terjadilah tarik menarik yang sangat kuat. Media digunakan sebagai alat yang paling strategis yang digunakan oleh peserta pemilu untuk memengaruhi pikiran dan cara pandang publik.

Sekarang menjadi pertanyaan adalah, dimana posisi media pada pemilu 2014? Apakah media sebagai alat untuk mengedukasi khalayak? Atau malah media digunakan sebagai tunggangan partai politik dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya kepada khalayak.

Media di Indonesia kini memasuki masa-masa absurd. Media tidak lagi sebagai pihak independent dalam tataran demokrasi Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan seringnya media di Indonesia memberitakan suatu hal yang tidak berimbang: ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Semestinya media mampu menyampaikan kebenaran sejati kepada khalayak. Bukan malah menyampaikan misi tersembunyi dari pemangku kekuasaan yang dikemas sedemikian rupa sehingga terkesan media berada pada pihak yang benar.

Di Indonesia, banyak media-media dimiliki oleh orang-orang yang berkecimpung di partai politik. Mereka adalah pemilik media yang memiliki kuasa untuk mengendalikan diskursus atau wacana yang ada di dapur redaksi untuk disampaikan kepada khalayak/publik. Maka dalam menelisik konteks tersebut, kita perlu menelisik dan membedahnya menggunakan teori Agenda Setting yang diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan memengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat. Agenda setting menjelaskan begitu besarnya pengaruh media berkaitan dengan kemampuannya dalam memberitahukan kepada audiens mengenai isu-isu apa sajakah yang penting.

Kolumnis Walter Lippman mengatakan bahwa media memiliki kemampuan untuk menciptakan pencitraan-pencitraan ke hadapan publik. McCombs and Shaw melakukan analisis dan investigasi terhadap jalannya kampanye pemilihan presiden pada tahun 1968, 1972, dan 1976. Pada penelitiannya yang pertama (1968), mereka menemukan dua hal penting, yakni kesadaran dan informasi. Dalam menganalisis fungsi agenda setting media ini, mereka berkesimpulan bahwa media massa memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap apa yang pemilih bicarakan mengenai kampanye politik tersebut, dan memberikan pengaruh besar terhadap isu-isu apa yang penting untuk dibicarakan. Asumsi utama dan pendapat-pendapat inti; agenda setting merupakan penciptaan kesadaran publik dan pemilihan isu-isu mana yang dianggap penting melalui sebuah tayangan berita. (Himikom, Universitas Bengkulu).

Lebih lanjut McCombs and Show mengatakan bahwa dua asumsi mendasar dari teori ini adalah, 1) pers dan media tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya, melainkan mereka membentuk dan mengkonstruk realitas tersebut. 2) media menyediakan beberapa isu dan memberikan penekanan lebih kepada isu tersebut yang selanjutnya memberikan kesempatan kepada publik untuk menentukan isu mana yang lebih penting dibandingkan dengan isu lainnya.

Berita yang disajikan oleh media melalui proses rumit ketika berada di dapur redaksi. Maka pada tahapan ini teori framing berlaku. Media hanya memilih berita yang menguntungkan pemilik saja yang akan ditayangkan. Sementara yang akan merugikan, akan disamarkan. Kondisi semacam ini menjadi dilematis bagi media. Pada satu sisi, media ingin menyajikan fakta. Bukan fakta yang sudah dibingkai dalam agenda-seting. Namun pada sisi lain, media di bawah intervensi pemilik media yang juga berkecimpung di dunia politik yang ingin menyebarkan pengaruh kepada publik. Maka apa yang bisa dilakukan media? Mereka pun melakukan praktik agenda-setting yang melibatkan pemilik media dan media itu sendiri.

Sebagai contoh, ada salah satu media swasta di Indonesia yang gencar menayangkan program acara kuis yang dikemas sedemikian rupa sehingga khalayak pun berbondong-bondong mengikuti kuis tersebut. Kuis tersebut bukanlah kuis biasa. Namun kuis tersebut adalah alat yang digunakan oleh pemilik media yang juga berkecimpung di dunia politik guna menarik simpati masyarakat Indonesia.

Mengamati kasus tersebut, jelas independensi media dipertanyakan: Pemilu 2014, media berada di pihak siapa? Jawabannya adalah pemangku kekuasaan, dalam hal ini partai politik. Seharusnya media menjalankan fungsinya sebagai saluran yang independen dan melakukan fungsi kontrol sosial (social control).

Maka, dalam membahas peran media di Indonesia, khususnya media televisi, kita takbisa memisahkannya dari proses demokrasi yang coba kita bangun di negeri ini. Dalam kaitan pelaksanaan Pemilu 2004, seharusnya peran media yang menonjol adalah peran memberi informasi, mendidik, dan mempengaruhi publik berkaitan edukasi tentang Pemilu yang jujur dan adil. Bukan menjadi alat yang digunakan penguasa untuk melancarkan misi-misi “hitam” pemilik media dan partai politik.

Tantangan media dalam Pemilu 2014 adalah lemahnya profesionalisme yang terjadi hampir di semua level. Hal ini dapat terlihat dengan lemahnya objektivitas media dan kurang seimbangnya pemberitaan terhadap suatu kasus. Pemberitaan informasi yang tidak akurat dan terkontrol akan menjadi informasi sampah. Untuk itu, media kembalilah pada jalan yang benar. Junjunglah etika jurnalistik dan genggamlah kejujuran agar masyarakat menerima apa yang sebenarnya. Bukan rekayasa dan agenda-setting.

* Dari berbagai sumber

Mahfud Achyar

Student of Paramadina Graduate

School of Communication

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s