Timbuktu, Legenda Islam di Afrika Barat


Kesan akan kota yang miskin dan terbelakang memang takbisa lepas dari Timbuktu saat ini. Namun siapa sangka, ratusan tahun silam kota ini pernah mencatatkan diri sebagi pusat peradaban Islam di Afrika Barat. Sampai dengan saat ini, sisa-sisa peninggalan kebudayaan Islam dari Abad ke 14 hingga 16 masih bisa disaksikan di kota yang kini menjadi bagian dari Republik Mali ini.

sumber: google

Timbuktu, Kota Perdagangan hingga Pusat Penyebaran Islam

Terletak di persimpangan antara Gurun Sahara dan Sungai Niger, Timbuktu awalnya hanyalah perkampungan musiman bagi Suku Tuareg yang nomaden. Hingga pada abad ke-12, Timbuktu berubah menjadi perkampungan permanen akibat semakin ramainya jalur perdagangan Afrika Barat yang melewati kota ini. Barang-barang komoditas dari Afrika dan luar Afrika seperti garam, emas, perak, gading, biji-bijian seperti gandum, dan hewan ternak. Secara cepat Islam pun masuk ke kota ini melalui hubungan dagang dengan para saudagar Arab.

Dalam sejarahnya, secara silih berganti Timbuktu beralih penguasa. Pada awal abad ke-14 masehi, Sultan Muansa Mussa dari Kerajaan Mali memerintahkan pembangunan Masjid Djinguereber sekembali beliau dari perjalanan ke Mekkah pada tahun 1324 masehi. Pada abad ke-15, penguasaan atas Timbuktu beralih ke Kerajaan Songhai. Masa pemerintahan Sultan Askia Mohammad I (1493-1528) tercatat sebagai masa keemasan Timbuktu. Terdapat lebih dari 180 madrasah dan takkurang dari 25.000 pelajar yang sebagian besar berasal dari luar Timbuktu menimba ilmu disini. Salah satu yang termasyur adalah Universitas. Singkat kata, Timbuku menjadi pusat peradaban dan penyebaran Islam di Afrika Barat pada masa itu.

Legenda yang Hidup Kembali

Kemunduran Timbuktu terjadi pada akhir tahun 1500-an ketika Kerajaan Maroko menguasai kota ini. Banyak madrasah termasuk Universitas Sankore ditutup. Ahmad Al Mansur, penguasa Maroko pada masa itu juga memenjarakan dan membunuh para cendekiawan dari Timbuktu, termasuk seorang ilmuwan Timbuktu paling terkenal, Ahmed Baba. Al Mansur bahkan memutus jalur perdagangan yang melewati Timbuktu, sehingga lengkaplah kemunduran Timbuktu. Ketika pada akhir abad ke-19 Afrika Barat berada dalam kekuasaan Perancis, nama Timbuktu hanya tinggal legenda saja.

Selama Puluhan tahun, nama “Timbuktu” cenderung diasosiasikan dengan negeri antah berantah dan terbelakang di Afrika. Bahkan menjadi bahan lelucon bagi sebagian orang di Barat. Kondisi ini berubah ketika pada tahun 1997, Henry Louis Gates, seorang warga Amerika Serikat berkulit hitam yang menjabat Direktur Studi Afrika-Amerika di Universitas Harvard secara pribadi mempelajari dan mempublikasikan keberadaan naskah-naskah kuno Timbuktu peninggalan abad 13 hingga 16. Sejak saat itu, secara khusus Barat mulai memberikan perhatian kepada kota ini karena nilai sejarahnya.

sumber: google

Warisan Takternilai dari Timbuktu

Warisan berharga Timbuktu tidak saja terletak pada bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini. Lebih dari itu adalah apa yang telah dihasilkan oleh masjid-masjid besar Djingareyber, Sankore and Sidi Yahia. Ketiganya dikenal sebagai pusat pengajaran Islam dan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan Timbuktu.

Masjid Djingareyber didirikan oleh Sultan Mussa yang kemudian dipugar dan diperluas dua abad kemudian, yakni 1570 dan 1583 oleh Qadi Timbuktu, Imam Al Aqib. Sedangkan masjid Sidi Yahia dibangun sekitar tahun 1400 oleh Sheikh El Moktar Mamalla dan dipugar oleh Imam Al Aqib pada 1577 hingga 1578. Masjid Sankore adalah yang paling masyur dengan Universitas Sankorenya dibangun pada abad ke-14. Pada tahun 1578 dan 1583, Imam Al Aqib merobohkan bangunan utama masjid dan membangunnya kembali sesuai dengan arah Ka’bah di Mekkah.

Universitas Sankore

Pad abad ke-14 hingga 16, universitas ini menampung ribuan pelajar dari luar Timbuktu. Sistem pengajaran di universitas ini dilakukan secara independen oleh beberapa sekolah yang masing-masing dijalankan oleh seorang guru atau imam. Para siswa belajar langsung dari imam dan kelas diselenggarakan di halaman masjid, di dalam masjid atau di tempat tinggal para imam tersebut.

Meskipun metode pembelajarannya sederhana, namun kurikulum yang diajarkan sangat luas dan intensif, terdiri atas kurikulum Agama Islam dan ilmu-ilmu umum. Wisuda bagi para siswa dilakukan dengan penyerahan turban yang melambangkan pencerahan, kebijaksanaan, pengetahuan dan perilaku yang menjunjung tinggi moral. Mereka yang telah lulus berkewajiban untuk mengamalkan ilmu yang dimilikinya.

Universitas Sankore telah melahirkan banyak ilmuwan seperti Ahmed Baba (1564-1627) yang telah menulis lebih dari 60 buku dalam bidang kedokteran, hukum, filsafat, matematika dan astronomi. Nama-nama lainnya adalah Mohammad Bagayogo as-Sudane, Modibo Mohammed al-Kaburi, Abu al-Abbas Ahmad Buryu, Abu Abdallah, Mukhtar an-Nawahi dan masih banyak lagi.

Naskah-naskah Kuno Timbuktu

Salah satu bukti nyata Timbuktu sebagai pusat peradaban Islam dan ilmu pengetahuan adalah keberadaan naskah-naskah kuno dari abad ke-13 hingga 16 yang diperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari satu juta naskah di Timbuktu dan dua puluh juta lainnya tersebar di Afrika. Naskah-naskah kuno yang sebagian besar berbahasa arab ini berisi tentang ilmu hukum, seni, arsitektur, fisafat, kedokteran, matematika, astronomi yang tidak saja berasal dari Timbuktu namun juga dari Andalusia, Afrika Utara dan Arab.

Naskah-naskah kuno Timbuktu merupakan naskah milik keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Pada masa penjajahan Perancis, banyak keluarga di Timbuktu yang menyembunyikan dengan menimbun naskah-naskah mereka agar tidak dirampas oleh Pemerintah Perancis.

Meskipun pemerintah Mali melalui Ahmed Baba Institute telah melakukan penyelamatann 30.000 naskah kuno di Timbuktu, namun banyak pewaris naskah yang lebih memilih untuk mendirikan perpustakaan-perpustakaan pribadi daripada menjual atau menyerahkan naskah-naskah warisan tersebut kepada pemerintah. Saat ini tercatat lebih dari 60 perpustakaan berdiri di Timbuktu atas kerja keras Abdel Kader Haidara. Haidara adalah salah seorang pewaris 9.000 naskah kuno yang mendirikan Mamma Haidara Memorial Library untuk penyelamatan dan penyebarluasan isi naskah kuno agar umat Islam tidak kehilangan kebudayaan mereka yang berharga. Savama, sebuah LSM lokal secara rutin juga menyelenggarakan workshop mengenai naskah-naskah kuno Timbuktu.

Timbuktu saat ini telah terdaftar sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Timbuktu Manuscript Project untuk penyelamatan naskah-naskah kunonya juga sudah berjalan. Namun warisan-warisan berharga tersebut tetap terancam hilang karena dicuri, pemusnahan sebagai akibat dari berkecamuknya perang saudara di Mali, serta ancaman cuaca ekstrem Timbuktu. (Berbagai sumber)

Penulis: Dewi Nurul Maliki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s