Semesta, Keluarga, dan Asa


*catatan acak mahasiswa

Jatinangor, 04:25 wib

https://i1.wp.com/www.hdwallpapers.in/walls/clean_home_sky-wide.jpg

Sayup-sayup suara adzan terdengar dari Mushola Al-Islam. Mushola itu tidak terlalu jauh dari kostanku. Hanya beberapa langkah, aku pasti tiba di Mushola. Biasanya, suara adzan yang berkumandang terdengar sangat jelas. Tapi sekarang, sejak bapak yang jadi muadzin sedang sakit, maka suaranya yang lantang pun tak terdengar lagi.
Aku sentak tersadar dari dimensi mimpi yang dari tadi kujelajahi. Walau agak berat, kucoba perlahan-lahan membuka mata ini. Susah sekali membukanya. Agaknya, setan-setan masih bergelantungan di mataku. Atau mungkin, mataku telah dikencingi oleh mereka. Sudahlah. Nanti saja bangunnya. Tidur saja dulu!ť Bisikan itu jelas terdengar di kedua telingaku. Astaghfirulah. Aku berusaha bangkit dari kasur yang dari tadi memaksaku untuk tidur kembali. Selimut tebal berwarna merah itu pun kubuang jauh-jauh. Aku bergegas ke kamar mandi.

Langkah kaki berjalan gontai. Aku mulai mengambil air wudhu. Pertama, kucuci tanganku yang kotor ini. Selanjutnya, air dingin di bak mandi itu membasahkan mukaku. Aku merasakan kesegaran, dan sungguh ini adalah nikmat yang sulit untuk aku ungkapkan.

Beruntunglah orang-orang yang bisa bangun dan mengerjakan sholat subuh. Suara iqomat terdengar dari mushola Al-Islam. Itu artinya, sholat akan segera dilaksanakan. Semua jamaah bergegas menuju mushola. Alhamdulillah, aku telah selesai menunaikan sholat subuh berjamaah.

Kawan, tahukan kamu keistemewaan sholat Subuh? Sholat subuh adalah pembeda antara orang yang benar beriman dan orang munfik. Bahkan, di katakan dalam sebuah hadits, “Jika kalian tahu bagaimana istemewanya sholat subuh berjamaah, maka kalian akan sholat walau dengan merangkak.” Subhanallah sekali, Allah hanya menganugrahkan nikmat subuh yang hanya dirasakan oleh umat Islam.
Setelah selesai sholat, aku memandang langit yang tampak masih gelap. Udara pagi Jatinangor masih menusuk tulangku. Bahkan angin berhembus membelai seluruh tubuhku ini. seolah ada seseuatu yang ingin ia bisikan kepadaku. Kutatap nanar langit subuh. Di atas sana, sebuah lukisan terpampang dengan begitu indahnya. Maha Karya Allah yang telah melukisnya. Pantaslah dalam surat Al-Imran, Allah berfirman: “Sesungguhnya diantara penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berfikir.”

Allah telah memperlihatkan kekuasaan-Nya padaku. Aku takbisa berkata-kata lagi. Semua terlukis begitu sempurna. Langit-langit bertaburan bintang yang gemintang. Indah dan sungguh memesona. Lihatlah, bintang-bintang itu berkelip bersamaan. Jika disatukan, aku tak dapat membayangkan betapa indahnya alam semesta ini. Aku yakin, seorang penyair sekaliber Kahlil Gibran pun takakan mampu untuk menarasikannya. Labih dari itu, aku melihat bintang-bintang itu bertasbih kepada Allah. Bintang-bintang itu membentuk gugusan yang sangat indah. Ada yang berupa gugusan layang-layang, dan bahkan ada yang menyerupai gugusan lafaz Allah. Sungguh ini menakjubkan, kawan! Sang rembulan tampak anggun dikelilingi bintang-bintang. Ia seakan menjadi ratu di tengah cahaya. Di ufuk timur sana, sang fajar mulai menyeruak membiaskan cahayanya. Langit yang tadi gelap, perlahan ditutupi cahaya yang kemilau. Cahayanya berwarna kuning oranye. Dan satu persatu, bintang-bintang itu mengilang. Entahlah, aku tak tahu bintang-bintang itu hilang kemana. Semuanya hilang tanpa bekas.

 

***

Hari ini hari Minggu. Hampir genap dua tahun aku berada di sini, di Jatinangor. Tiba-tiba saja, aku melihat foto keluarga yang terpampang di pojok meja belajarku. Foto itu adalah aku, mama, papa, dan adikku. Ya Allah, aku merindukan mereka. Apa yang sedang mereka lakukan? Apakah merasakan hal yang sama denganku? Rindu yang memuncak. Hari ini adalah hari libur. Biasanya, setiap hari libur aku pasti dibangunkan lebih awal oleh mamaku. Tuhan, aku sangat merindukan mamaku. Bagiku, ia adalah wanita yang luar biasa. Ia sangat perhatian kepada keluarganya.

“Nak.. bangun nak. Sholat subuh dulu. Sekarang hari libur. Ya, kata-kata itulah hampir kudengar setiap subuh dari malaikatku yang kupanggil mama. Tapi sekarang, aku harus bangun sendiri. Aku harus mandiri, kawan! Dan pada pagi harinya, mama pasti telah menyiapkan sarapan untukku. Satu gelas susu, dan lontong sayur. Sarapan yang sangat enak. Ia tidak pernah lelah untuk membangunkanku setiap pagi. Sering, aku tidak membalas pengorbanan mama kepadaku. Malah aku sering sekali mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk kuucapkan. Aku sungguh berdosa. Aku sering sekali menuntut hakku seenak hatiku.

Mama selalu memenuhi permintaanku. Aku tahu betapa besarnya pengorbanan mama padaku. Andai aku bisa memutar waktu, akan keperbaiki semua salahku pada mama. Kawan, banyak kisah yang ada di benak ini tentang mama. Aku beruntung sekali memiliki seorang malaikat seperti mama.
Pagi-pagi benar papaku juga sudah bangun. Tuhan aku merindukan lelaki itu. Papa sering sekali mengenakan kemeja. Ia memang gagah, dan kesahajaannya selalu terukir dengan seluas senyuman. Kawan, aku memang taksering berkomunikasi dengan papa. Ia adalah lelaki yang takbanyak bicara. Bisa dikatakan, papa sangat berbeda denganku.Komunikasi yang sering ia gunakan adalah komunikasi non verbal. Jika ia tidak senang akan sifatku, ia cukup mengerutkan keningnya. Dan aku pun paham apa yang ada di benak papa. Walau tak sering berbincang, tapi aku sering di ajak bertamasya ke luar kota. Bertahun-tahun. Mulai dari kecil sampai aku SMP. Tapi setelah SMP, semuanya berubah kawan! Aku tak bisa menceritakannya padamu. Cukup hanya aku yang tahu. Bahkan, ketika aku duduk di bangku SMA, kami sering sekali berbeda pandangan. Papa memiliki cara pandang yang berbeda, sedangkan aku juga berbeda. Sampai akhirnya, hubungan aku dengan papa sempat renggang beberapa bulan. Sekarang ketika aku telah jauh dari papa, aku sangat merindukan sosok beliau. Sosok ayah yang sangat perhatian kepada anaknya.

Tuhan pemilik nyawaku. Betapa lemah diriku ini. berat ujian darimu. Kini kupasrahkan pada-Mu. Sebuah bait di atas cukup mewakili perasaan yang pernah kurasakan ketika kondisi sakit yang pernah merenggut nikmat sehatku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s