Bingkai Romantis dalam Film “A Walk In The Clouds” & “Jalan Tiada Ujung”


A Walk in The Clouds

https://i2.wp.com/ia.media-imdb.com/images/M/MV5BNjg3OTQzOTM5MF5BMl5BanBnXkFtZTYwNTY5NzY5._V1_SY317_CR4,0,214,317_.jpg

 

Sebuah film yang bercerita tentang seorang tentara bernama Paul. Setelah perang duna ke-2, dia pergi ke rumah teman perempuannya, bernama Betty. Setelah itu, ia pergi ke sebuah desa yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ketika dalam perjalanan, di kereta, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Victoria Sutto. Merekapun berbincang, dan seakan mereka telah mengenal satu sama lainnya. Film ini mengangkat kisah percintaan antara Paul dan Vicotria. Disamping itu, tokoh utama Paul, mengalami halusinasi ketika ia memejamkan matanya. Ia selalu mimpi seram tentang perang. Dimana saat itu, ia melihat banyak tentara-tentara yang tewas. Dan kondisi perang sungguh membuat ia ketakutan.

Setelah bertemu dengan Victoria, inilah awal kisah drama romantis film A walk in the clouds. Entah kenapa, nasib mempertemukan Paul dan Victoria kembali. Setelah perjumpaan mereka di atas bis, mereka saling bercerita antara satu dan lainnya. Paul merupakan penjual coklat. Awal kisah romantis dan penuh liku, ini dimulai ketika Victoria menyatakan bahwa ia hamil. Padahal, ia belum menikah. Victoria merasa kebingungan dengan masalah yang tengah ia hadapi. Apalagi jika ia harus membayangkan bahwa Ayahnya, Mr. Aragon adalah seorang pria sangat keras kepala dan otoriter. Kemudian, Paul pun berinsiatif dan menyatakan, bagaimana kalau mereka pura-pura menikah saja.

Victoria mengajak Paul ke rumahnya, ia menyebutnya-Clouds, yaitu awan. Keluarga Victoria memiliki kebin anggur yang sangat luas. Dan biasanya, ketika mereka panen anggur, maka akan ada upacara dan pesta panen anggur.
Ketika Victoria memperkenalkan Paul kepada keluarganya, keluarganya menyambut gembira karena Victoria sudah menikah. Saat itu, mama, kakek dan neneknya bahagia karena ada anggota baru dikeluarganya. Tapi sayangnya, Mr. Aragon tampak tidak suka dengan kehadiran Paul. Victoria dan Paul harus berakting semanis mungkin gara-gara keluarga Victoria tidak mengetahui kebohongan mereka. Mereka berpura-pura tidur seranjang.
Kakek Victoria sangat antusias dengan kehadiran Paul. Bahkan ia mengajal Paul untuk keliling kebun anggurnya, dan memperlihatkan akar anggur menjadi cikal bakal tumbuhnya pohon anggur.
Ketika perayaan panen anggur, masyarakat di sana tampak bersuka cita. Tarian, musik dan tawa menghiasi pesta kala itu. Victoria dan Paul pun hanyut dalam buaiyan kasih sayang. tapi, kebahagiaan mereka bukan kebahagiaan yang mutlak. Karena memang, mereka bukan sepasang suami-istri. Paul sering sekali bermimpi sama. Mimpi perang. Agaknya ia mengalami traumatis akabita perang.
Mereka (Victoria dan Paul) tidak mampu lagi menutupi kebohongan mereka. Akhirnya, Victoria memutuskan untuk menceritakan perihal kebohongannya kepada keluarganya. Keluarganya, terutama ayahnya sangat kecewa. Ia merasa dibohongi. Paul memutuskan untuk kembali ke San Fransisco, menemui Betty.

Ketika itu ia melihat Betty selingkuh dengan pria lain. Paul melanjutkan perjalanan (walking) ke rumah Victoria. Ketika ia sampai di sana, ia menemui Mr. Aragon yang tampak kelelahan dan tertidu. Ketika berusaha menyapanya, Mr. Aragon sentak bangun dan marah, kemudian mencaci Paul. Ia tidak mengizinkan Paul menjalin cinta dengannya. Pertengkaran pun takdapat dielakkan. Yang pada akhirnya, Mr. Aragon melempar sebuah lampu minyak, dan lampu tersebut membakar seluruh perkebunan anggur milik keluarga Victoria. Semua orang berusaha mematikan api. Tapi sayangnya, usaha mereka gagal. Api begitu cepat menjalar dan menghabisi seluruh kebun anggur. Keluaga itu sedih karena kebun mereka hangus terbakar.
Akhir cerita, Paul yang teringat bahwa kakek Victoria pernah menunjukkan akan anggur, kemudia membokar akar tersebut, dan menunjukkan akar tersebut kepada Mr.Argon. Mr. Argon terkesima. Semua orang tersenyum bahagia. Itu artinya, haparan itu masih ada. Akar anggur, akan menjadi kebun yang sangat luas. End.

Jalan Tiada Ujung | Mochtar Lubis


Novel ini berlatar belakang pasca penjajahan Belanda. Dimana saat itu, rakyat Indonesia harus mengalami nasib buruk, seperti: penembakan, penghinaan hak asasi manusia, pelecehan, dan lain sebagainya. Tentara-tentara sering sekali mengubel-ubel rakyat Indonesia. Setiap jam, setiap hari, bunyi letupan senjata api menghiasi hari-hari rakyat Indonesia. Mereka takmampu berbuat banyak. Hanya bermodal senjata tradisional yaitu bambu runcing. Sedangkan serdadu-serdadu itu mereka menggunakan peralatan senjata yang modern. Mulai dari tank baja, truk, dan senjata api. Biasanya, tiap hari serdadu itu akan memeriksa tiap rumah, tiap orang, jika dicurugai memiliki senjata untuk melawan Belanda.
Cerita ini berlatar di Jakarta, tepatnya di Tanah Abang. Tokoh sentral dalam cerita ini adalah guru Isa dan Hazil. Guru Isa, yang berusia tiga puluh lima tahun. Ia merupakan berprofesi menjadi seorang guru bertahun-tahun lamanya. Ia memiliki seorang istri bernama Fatimah. Tapi sayangnya, hubungan mereka tidak berjalan harmonis. Hal ini disebabkan oleh belum adanya keturunan yang mereka hasilkan. Sesungguhnya ini bukanlah salah Fatimah. Melainkan, Guru Isa, yang mengalami traumatik, sehinga tak bisa berbuat apa-apa.

Guru Isa merupakan lelaki yang cinta damai, tidak menyukai kekerasan, dan sangat penyayang. Ia paling benci dengan perang. Karena bagi ia, perang merupakan kekerasan dan tidak berperikemanusiaan. Maka tak heran, ketika ia melhat terjadinya penembakan oleh tentara Belanda ke penduduk sipil, maka kejadian tersebut selalu terulang dalam benaknya. Ia selalu behalusinasi. Membayangkan seandainya, dirinya, anak istrinya mati ditembak oleh serdadu yang kasar-kasar itu. Perasaan kecut dan takut guru Isa begitu kuat.

Bahkan terkadang, ia menolak ketika diminta istrinya turut membantu pemuda lain yang sedang ronda untuk mengamankan kondisi.
Berbeda dengan guru Isa, tokoh sentral lain dalam novel ťJalan Tiada Ujungť ini adalah Hazil. Ia merupakan pemuda yang pemberani. Tekadnya sangatlah kuat. Yaitu berjuang merebut kemerdekaan. Ia hanya bermodal sepucuk pistol. Dengan tekad bulat yang ia miliki, ia berkeyakinan bisa menjadi bagian dari perjuangan rakyat Indonesia. Hazil sangat gemar memainkan alunan musik biola. Bahkan kemampun bermain biolanya lebih mahir dibandingkan guru Isa. Alunan nada yang digesek oleh biolanya, merupakan pendamping perjalanan perjuangan Hazil.
Guru Isa, lama-kelamaan rasa beranipun muncul dari dalam dirinya. Ia dimanita ikut organisasi pertukaran senjata. Tentunya, ia sangat ketakutan menjalankan pekerjaan ini. Tapi untungnya, ia berteman dengan Hazil. Rasa takut bisa dikalahkan dengan semangat dan pengorbanan.
Jika kita analisis, kenapa novel ini berjudul “Jalan tiada ujung?” jawabannya terdaoat dalam kutipan berikut: “ťDalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada tempat pikiran kacau dan ragu-ragu,” ťkata Hazil. ťSaya sudah tahu semenjak mula bahwa jalan yang kutempuh ini adalah jalan tiada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya.

Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ada ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.
Selanjutnya, kisah ini bercerita tentang perjuangan guru Isa dan Hazil. Ketakutan guru Isa bertambah ketika ia membaca surat kabar, bahwa dua orang pelempar granat tangan, ditangkap polisi. Ia sangat ketakutan. Ia selalu membayangkan, bagaimana jika seandainya polisi datang ke rumahnya, memeriksa ia, dan mengangkapnya. Ketakutan yang teramat sangat mengusik hari-hari guru Isa. Bahkan ia sampai demam membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya. Akhirnya, ia dtangkap polisi, tapi bersyukur, rasa takutnya lama-kelamaan membuahkan keberanian. Apalagi ketika ia teringat perkataan-perkataan Hazil, dan yang lebih menggembirakan adalah bahwa ia kembali menjadi lelaki sejati.

Analogi/kemiripan antara film, A walk in the Cloudsť dengan novel Jalan Tiada Ujung
Dari segi latar waktu cerita, dua buah karya di atas berlatar waktu yang hamper sama yaitu pasca perang. Jika dalam film Awalk in the clouds berlatar waktu ketika setelah perang dunia dua, pada novel Jalan Tiada Ujungť berkisah waktu penjajahan/agresi Belanda ke Indonesia.
Pada dua buah karya tersebut digambrakan kepada kita, pembaca bahwa perperangan adalah kondis yang sangat memprihatinkan. Dimana-mana, banyak manusia mati terbunuh. Bunyi deru pistol dan ketakutan senantiasa menyelimuti setiap oarang yang berada dalam kondisi perang.
Selain itu, kemiripan dua buah karya tersebut terletak pada kesamaan konflik batin yang dialami oleh tokoh utama. Jika pada film A walk in the cloudsť, Paula si tokoh utama, sering kali mimpi buruk karena kondisi perang, dalam novel Jalan Tiada Ujung tokoh utama “Guru Isa mengalami kondisi yang sama hebatnya dengan Paul. Yaitu ketakutan, ketakutan, dan ketakutan. Ia selalu dibayang-bayangi perasaan jika ia dtembak serdadu, dipenjara dan anak-istrinya akan kehilangan dia.”
Jika disimpulkan, kondisi perang merupakan kondisi yang buruk. Tidak ada kedamaian seperti di awan, atau jalan tiada ujung. Sampai pada akhirnya, setiap orang harus merasakan kebahagiaan, kedamaian dan jauh dari bayang-bayang ketakutan.
Dua buah karya tersebut memiliki sisi romantisme masing-masing. Romantisme antara Paul dan Victoria, dan romantisme antara Guru Isa dan Fatimah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s