The Rise of Media Theory in the Age of Propaganda


Response Paper Chapter 4

Mass Communication Theory – Stanley J. Baran & Dennis K. Davis

Jika pada teori masyarakat massa dikatakan bahwa media dinilai sebagai kekuatan yang menggangu nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, namun dalam teori propaganda, media dijadikan fokus perhatian. Teori propaganda secara khusus menganalisis isi media dan berspekulasi tentang pengaruhnya. Pada akhir 1930-an, sebagian besar pemimpin Amerika yakin bahwa demokrasi tidak akan bertahan jika ekstremis politik propaganda diizinkan untuk didistribusikan secara bebas.

Propaganda dinilai melanggar aturan paling dasar dalam komunikasi politik yang demokratis dan adil, atau dikenal juga dengan sebut propaganda hitam. Dalam teori ini dijelaskan bahwa propaganda dengan bebas menggunakan kebohongan dan penipuan untuk mengelabui fakta yang sebenarnya. Namun ada pendapat lain yang mengatakan propaganda dapat dijadikan sebagai saluran untuk menyampaikan dan mempromosikan cita-cita yang baik dan adil. Teori ini dikenal sebagai teori propaganda putih. Propaganda putih dimanfaatkan untuk melawan propaganda-propaganda buruk yang acap kali disebarkan secara meluas dan sporadis untuk mengelabui fakta yang sebenarnya.

Peneliti sosial di tahun 1920 dan 1930 mengemukakan pendapat tentang landasan solidaritas sosial dalam propaganda. Mereka berpendapat bahwa propaganda adalah alat penting yang harus digunakan secara efektif untuk mengelola tatanan sosial modern, terutama ketika berada dalam persaingan mematikan dengan negara-negara lain yang mengandalkan propaganda untuk memobilisasi massa.

Sebagai komunikasi satu ke banyak orang, propaganda memisahkan komunikator dari komunikannya. Komunikator dalam propaganda sebenarnya merupakan wakil dari organisasi yang berusaha melakukan pengontrolan terhadap masyarakat komunikannya. Sehingga dapat disimpulkan, komunikator dalam propaganda adalah seorang yang ahli dalam teknik penguasaan atau kontrol sosial. Dengan berbagai macam teknis, setiap penguasa negara atau yang bercita-cita menjadi penguasa negara harus mempergunakan propaganda sebagai suatu mekanisme alat kontrol sosial.

Sejarah mencatat bahwa propaganda digunakan sebagai alat untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda.  Propagandis mencoba untuk mengarahkan opini publik untuk mengubah tindakan dan harapan dari target individu. Yang membedakan propaganda dari bentuk-bentuk lain dari rekomendasi adalah kemauan dari propagandis untuk membentuk pengetahuan dari orang-orang dengan cara apapun yang pengalihan atau kebingungan. Propaganda adalah senjata yang ampuh untuk merendahkan musuh dan menghasut kebencian terhadap kelompok tertentu, mengendalikan representasi bahwa itu adalah pendapat dimanipulasi. Metode propaganda termasuk kegagalan untuk tuduhan palsu.

Hitler mengatakan, “Sampaikan kebohongan secara terus menerus. Maka kebohongan itu akan diterima oleh publik sebagai sebuah kebenaran.” Propaganda dirancang sedemikian rupa, secara sistematis dan rapi. Bahkan publik yang menjadi sasaran propaganda tidak menyadari bahwa mereka berada dalam kuasa rekayasa sosial.

Menurut penulis, hingga saat ini tanpa kita sadari kita sebetulnya berada dalam sebuah dimensi propaganda yang menggurita. Jika kita balik ke belakang, tepatnya saat Indonesia berada di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, hampir setiap tanggal 30 September, televisi menayangkan film tentang kekejaman PKI. Film tersebut menggambarkan bagaimana PKI dengan sangat tega membunuh dengan sadis orang-orang yang berlainan ideologi dengan mereka. Film tersebut diputar secara berulang-ulang. Pesan yang ingin disampaikan film tersebut adalah, Gerakan 30 September 1965 yang membantai ribuan nyawa masyarakat Indonesia didalangi oleh PKI.

Banyak pendapat yang mempertanyakan apakah betul G/30 S dilakukan oleh PKI? Atau, mungkin film tersebut digunakan oleh pemerintah (dalam hal ini Soeharto) untuk mencuci otak masyarakat dan mendistorsi sejarah? Hingga detik ini belum ada fakta yang merujuk siapa sebetulnya yang merancang dan melakukan G/30 S yang menjadi sejarah hitam bangsa Indonesia.

Menurut penulis, film 30/S-PKI yang diputar di televisi bisa jadi sebagai alat propaganda yang digunakan untuk mengaburkan fakta sejarah. Dampaknya, banyak orang-orang pada akhirnya secara tidak sadar mengakui bahwa kejahatan pada masa lampau itu dilakukan oleh PKI.

Kesimpulan dari response paper ini adalah, propaganda layaknya seperti mata pisau. Ia dapat bermanfaat bila digunakan untuk kepentingan yang baik, namun ia juga dapat menjadi mata pisau yang berbahaya: melukai, mencederai, dan bahkan juga membunuh orang-orang yang menjadi sasarannya. Hal itu sangat bergantung dengan siapa yang menguasai dan merancang propaganda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s