Berpetualang di Gunung Ijen pada Malam Hari, Bagaimana Rasanya?


Jawa Timur adalah syurga bagi para pelancong yang menawarkan keindahan alam nan eksotik dan sungguh menawan. Anda suka ke pantai? Daerah pantai selatan di Jawa Timur layak sekali untuk Anda kunjungi. Namun, jika Anda menyukai berpetualang di gunung; maka Anda jangan kebingungan untuk mencari destinasi wisata gunung di Jawa Timur. Ada gunung Semeru sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa yang berada di Lumajang, gunung Bromo yang eksotik di Probolinggo, gunung Kelud di Kediri, dan masih banyak gunung-gunung vulkanik aktif yang patut untuk Anda kunjungi.

Pada tanggal 23 Desember 2012, saya bersama teman kerja saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu destinasi andalan di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi yaitu Gunung Ijen. Kesempatan berpetualang ke Gunung Ijen sama sekali tidak kami rencanakan–spontan dan tanpa persiapan.

Saat itu, kami bertugas hadir dalam penutupan program Budarzi (Ibu Sadar Gizi) di Bondowoso. Acaranya dimulai sekitar pukul 1 siang dan berakhir pukul 15.00 WIB. Selepas acara penutupan, awan tebal menutupi mentari yang sedari tadi memancarkan sinarnya yang cukup terik. Namun hanya selang beberapa menit, awan tebal tersebut berubah menjadi hujan lebat. Saya pun hanya bisa memandang kosong ke depan, melihat hujan turun disertai semilir angina yang berhembus kencang. Ah, bagaimana ini? Apakah rencana jalan-jalan ini dibatalkan? Sayang sekali.
Beberapa menit kemudian, hujan pun reda.

“Kita ke Gunung Ijen yuk,” imbuh salah satu teman saya.
“Yuuk-yuk!”

Semuanya pun sepakat kecuali salah satu rekan kami yang khawatir hujan kembali turun dan jalan yang licin. Namun setelah diskusi cukup panjang, akhirnya kami pun bersepakat untuk ke Gunung Ijen. Beruntung, ada penduduk asli Bondowoso yang juga kenalan kami bersedia menjadi guide ke sana. Yeah! Petualangan di mulai.

Perjalanan dari Bondowoso ke Gunung Ijen tidak terlalu jauh. Hanya sekitar dua jam. Namun saat itu hujan kembali turun dan membuat jarak pandang semakin pendek karena kabut yang menguap di sisi kiri dan kanan jalan. Untungnya driver yang mengantarkan kami sangatlah mahir dan cekatan sehingga kami pun menikmati perjalanan ke Gunung Ijen dengan penuh tantangan. Mobil kami pun melewati jalan yang lurus, berkelok, tanjakan, dan turunan. Air hujan pun semakin senang bermain di kaca mobil kami, kabut pun tidak ketinggalan menutupi jalan, dan sesekali genangan air menciprat ke luar bahu jalan. Ah, perjalanan sore ini sangatlah menyenangkan. Belum lagi jika kita menengok ke samping. Kita akan temukan hamparan rumput gajah yang sengaja di tanam oleh penduduk setempat untuk pakan ternak.

“Mirip di luar negeri ya?” celetuk teman saya.
“Iya mirip. Bagus sekali,” timpal saya.

***

Pukul 17.00 WIB.

Kami pun tiba di pos akhir kawasan Gunung Ijen yaitu Paltuding. Saat itu cuaca terlihat mendung karena hujan baru saja berhenti. Agak ragu sebetulnya apakah kami bisa mencapai puncak gunung Ijen dan melihat kawah gunung Ijen yang terkenal di seantero dunia. Konon katanya, kawah Ijen mengeluarkan blue fire yang hanya bisa dilihat pada dini hari hingga menjelang Subuh. Lebih spektakulernya lagi, blue fire kawah Ijen hanya ada dua di dunia, salah satunya di Indonesia. Hebat bukan? Tapi sebetulnya saya tidak ingin berekspektasi lebih untuk bisa melihat langsung indahnya blue fire kawah gunung Ijen yang eksotis itu. Sampai di puncaknya saja sudah sangat bersyukur mengingat sore yang akan merangkak senja. Waktu perjalanan yang akan ditempuh sekitar dua jam dengan jarak 3KM. Gunung Ijen sendiri memiliki ketinggian 2386 m/dpl. Lumayan jauh bukan? Oke mari kita mulai melangkah menuju puncak gunung Ijen!

Blue Fire Kawah Gunung Ijen. Sumber: google
Blue Fire Kawah Gunung Ijen. Sumber: google

Gunung Ijen memang salah satu gunung wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun luar negeri. Namun medan gunung Ijen tidak seringan medan menuju gunung Bromo yang hanya melewati padang pasir atau gunung Kelud yang harus menaiki ratusan anak tangga untuk tiba di puncak gunung. Di gunung Ijen, kita layaknya mendaki gunung-gunung biasa didaki oleh para pendaki berpengalaman. Namun bedanya, medan yang ditempuh tidak terlalu berat. Jadi jangan terlalu gusar membayangkan track yang sulit dan berbahaya.

Untuk mencapai puncak gunung Ijen, kita hanya perlu mempersiapkan tenaga yang cukup dan air mineral. Ketika kita mulai melangkah, maka kita menginjaki tanah berpasir berwarna agak kecoklatan. Lihatlah di sepanjang jalan, tumbuh dengan suburnya pohon pinus. Senja pun kian menggulung cahaya, menyapu awan putih secara perlahan. Di ufuk barat, dapat kita lihat sinar lembayung senja yang tertutup ranting dan pepohonan. Senja kala itu berwarna jingga. Sangat cantik sekali. Aih, saya selalu suka senja dengan segala keindahannya.

Senja di gunung Ijen
Senja di gunung Ijen

Namun untuk kali ini, maaf senja, saya tidak bisa lama-lama bercengkrama denganmu. Ada misi yang harus saya tuntaskan dalam tempo waktu yang teramat singkat. Yaitu: tiba di puncak gunung Ijen. Ketika mendaki gunung, adakalanya kita tidak melulu menikmati indahnya perjalanan. Kerap kali rasa lelah yang bergelantungan di pundak dan kaki yang seakan membawa beban yang berat membuat saya mengurungkan niat untuk menyudahi ini semua. Ah, sudahlah. Sudah malam. Tidak usah kita lanjutkan perjalanan ini. Sontak saat itu rasa khawatir membuncah. Namun melihat semangat teman-teman membuat saya berpikir dua kali untuk berhenti melangkah. Oke, apa pun yang terjadi kita harus melanjutkan dan menyudahi perjalanan kita senja ini seperti apa yang sudah kita rencanakan.

Di antara rasa lelah dan kurangnya air minum karena harus berbagi dengan teman-teman, saya sangat takjub melihat seorang pria paruh bayu yang baru turun mendulang belerang dari kawah Ijen.

3 CapsulX-Penambang Kawah Ijen

“Mas itu berat belerangnya berapa?”
“80 Kilogram mas!”

Keren!

Pria yang sudah berumur itu mampu membawa belerang dengan berat 80 kilogram tanpa terlihat mengeluh atau berhenti melangkah. Saat itu pun saya bertekad bahwa saya pasti bisa menyudahi dengan baik perjalanan malam di gunung Ijen ini dengan perasaan puas dan lega ketika telah tiba di puncak.

Sekitar pukul 18.00 WIB, kami pun tiba di pos sebelum tiba puncak gunung. Di sana, ada kedai yang menjual minuman hangat seperti teh dan kopi. Kami pun singgah di sana dan memesan teh hangat. Cuaca yang dingin, keringat dingin yang mengucur, dan ritme napas yang tidak teratur harus dipulihkan sebelum melanjutkan perjalanan. Ah, nikmatnya minum teh hangat sembari melihat bulan yang baru muncul dari peraduannya, senja yang berubah menjadi malam, dan menikmati obrolan ringan dengan teman-teman. Kenangan yang sangat mandalam.

Setelah cukup puas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Yeah! Sebentar lagi kami tiba di puncak gunung Ijen. Kabut gunung pun kini seakan menggulung kami dalam perjalanan. Untungnya salah satu kami membawa senter. Lumayan untuk penerangan. Pun begitu, kami masih aman karena saat itu cahaya bulan cukup menyinari bulan jalanan setapak yang kami lewati. Mulut kami pun berdzikir membaca almatsurat sebagai teman dalam perjalanan. Saya rasa ini bukan hanya perjalanan biasa, tapi ini perjalanan yang memiliki nilai ruhiah.

Rembulan di Gunung Ijen
Rembulan di Gunung Ijen

“Kaki terus melangkah, mulut selalu berdizikir, mata terus waspada, dan ucapan optimis selalu menjadi buluh penyemangat yang sangat berarti.”

***
Alhamdulillah.

Setelah mendaki selama dua jam, akhirnya kami pun tiba di puncak gunung Ijen. Tidak ada yang bisa dilihat saat itu kecuali cahaya senter yang seadanya. Kami pun tidak bisa melihat dengan mata kepala kami keindahan kawah gunung Ijen yang katanya indah. Kondisinya memang tidak memungkinkan. Tapi kami cukup senang karena guide kami menunjukkan arah di mana kawah gunung Ijen. Kami dapat mencium bau belerang yang agak tajam. Kami hanya bisa memvisualisasikan bagaimana keindahan kawah gunung Ijen dan berfoto-foto di salah satu papan yang bertulis “Dangerous Area”.

Plank peringatan di puncak gunung Ijen
Plank peringatan di puncak gunung Ijen

Kabut semakin membumbung tinggi. Kami pun memutuskan untuk segera turun. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan kami kesempatan untuk menjadi saksi betapa hebatnya Kuasa-Mu menciptkan alam yang indah ini.

Bersama tim
Bersama tim
Ini loooo kawah Gunung Ijen yang keren abis! Sumber: google
Ini loooo kawah Gunung Ijen yang keren abis! Sumber: google

selesai.
by: @mahfudACHYAR

6 thoughts on “Berpetualang di Gunung Ijen pada Malam Hari, Bagaimana Rasanya?

  1. Sayang fotonya koq diambil dari google? Karena foto dari google itu hasil edit. Dari puncak kawah Ijen, bisa turun ke kawahnya sekitar 1,3Km dan sangat terjal, jalan hanya bisa dilalui 1 orang jadi harus saling tunggu dan gantian dengan yang naik.
    Dari puncak kawah Ijen, harus naik 2Km lagi untuk sampai di puncak gunung Ijen untuk menyaksikan Sunrise.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s