Bintang, Hijrah, dan Bromo


Rabu ketika malam hari. Tanggal 14 November 2012.

Suara mesin mobil avanza silver ini menderu pelan. Berpacu dengan puluhan mobil lainnya yang saling berkejar-kejaran. Seperti kekanak yang berlarian mengejar layang-layang di pematang sawah. Sesekali terdengar suara orang yang sedang asyik berbincang-bincang ringan. Tidak cukup jelas apa yang mereka bicarakan. Mata saya sudah tidak kuat menahan kantuk yang teramat.

Saya pun berpetualang di sebuah dimensi yang berbeda. Pada spasial waktu yang tidak diketahui siapa pun. Menjadi diri yang berbeda dan bertemu dengan orang yang berbeda pula. Saya tidak ingat sama sekali.

Plakkk.

Kepala saya terasa sakit sekali terantuk kaca mobil. Semuanya jadi buyar. Saya jadi kehilangan orientasi waktu. Mencoba sadar bahwa ini masih mimpi atau saya sudah terbangun. Pandangan masih kabur. Saya pun menengok ke luar ternyata sangat kelam. Sepintas saya melihat pepohonan pinus yang berjajar rapi. “Oh masih dalam perjalanan,” gumam saya dalam hati. Entah apa yang mendorong saya untuk melihat kembali suasa di luar. Saya pun mendongakkan leher ke sudut atas kaca mobil, melihat langit malam yang teramat luas. Kemudian saya pun berdecak kagum seakan saya sendiri masih belum percaya tentang apa yang sudah saya lihat. Ini sangat langka. Ini sangat jarang sekali saya temukan di Jakarta atau di Surabaya.

Langit malam yang sangat indah bertabur bintang gemintang yang sangat banyak. Kerlap-kerlip seakan menyambut kehadiran saya (lagi-lagi yang berimajinasi yang berlebihan). Bintang-bintang di langit itu sangatlah banyak. Bahkan saya pun sulit mengidentifikasi bintang-bintang tersebut. Apakah itu si bintang yang paling terang Sirius, Archernar, Vega, atau yang lainnya. Sangat banyak dan sangat mengagumkan. Andai setiap malam saya bisa melihat langit seperti ini betapa indahnya malam-malam yang saya lewati. Jemari saya pun kemudian menunjuk beberapa bintang. Titik satu, titik kedua, titik ketiga, dan titik keempat. Ya, itu rasi bintang pari yang seringkali bisa dijumpai. Saya mengagumi bintang-bintang dari kecil. Dulu, ketika saya masih kecil, saya dan kakak saya senang sekali bermain tebak-tebakan hanya untuk sekadar menentukan siapa yang lebih jago menebak rasi bintang.

night_sky-9030_0

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB.

Kami pun akhirnya tiba di pintu masuk kawasan Wisata Nasional Bromo Tenger Semeru. Perlu kalian ketahui, berkunjung ke gunung Bromo adalah salah satu dari sekian tujuan wisata yang menjadi impian saya. Bahkan saya pun telah menulis semua tujuan wisata saya di dream book. Gunung Bromo berada di urutan ke-51 dalam list saya. Hasrat saya untuk berkunjung ke Bromo lantaran betapa seringnya saya melihat liputan di televisi tentang Bromo. Belum lagi sinema yang pernah diperankan oleh Ari Shihasale dan Maudy Koesnaedi yang bejudul “Camelia” yang mengambil lokasi syuting di sana. Tidak hanya itu, film yang berjudul “Pasir Berbisik” yang diperankan oleh Dian Sastro dan Christine Hakim juga berlokasi di sana. Teman-teman saya sudah banyak ke sini. Saya iri pada mereka dan berharap suatu saat bisa ke Bromo. Alhamdulillah malam ini impian saya terkabulkan. Terima kasih Allah.

Mengutip apa yang disampaikan ST. Augustine,

“Jika dunia diibaratkan sebuah buku, maka mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman.”

Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu sering melakukan perjalanan. Baru beberapa tempat yang sudah saya kunjungi. Namun saya tetap berharap akan lebih banyak lagi tempat-tempat yang bisa saya kunjungi. Bukankah bumi Allah ini sangat luas? Saya tidak ingin berdiam diri dan pura-pura merasa nyaman dengan tempat saat ini saya berada. Saya ingin sekali melihat bumi di bagian barat, timur, utara, dan selatan. Tentunya akan sangat banyak tempat yang bisa saya kunjungi. Semoga.

Melakukan perjalanan bagi saya tidak hanya sebatas melepas kepenatan dari berbagai rutinitas yang saya jalani. Lebih dari itu, tujuan utama saya melakukan perjalanan adalah untuk melihat kekuasaan Tuhan yang tiada terhingga melalaui ayat-ayat Qauliyah-Nya. Saya hanya ingin sebagai seorang manusia yang bersyukur. Berharap saya akan menjadi pribadi yang memiliki pandangan yang luas seluasa bumi yang terbentang. Mungkin terlalu klise. Tapi itulah pengharapan terbesar saya.

***

Udara dingin gunung Bromo kini semakin menusuk tulang. Kami pun bergegas mempersiapkan atribut perjalanan kami ke gunung Bromo seperti syal, kupluk, jaket, kaos kaki, dan sarung tangan. Ah ya, saya lupa! Sarung tangan saya ketinggalan di Jakarta. Rasanya tidak mungkin saya nekad untuk melawan cuaca yang dingin ini. Kasian tubuh ringkih saya yang hanya dibalut oleh beberapa centi daging saja. Saya bisa saja nekad. Tapi saya harus terima resiko kedinginan. Setelah berpikir beberapa menit, saya dan beberapa di antara kami yang tidak membawa perlengkapan pengusir dingin akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa kekerangan perlengkapan kepada seorang bocah. Apalah ini namanya, seorang bocah yang masih kecil, ya mungkin berusia 10 tahun harus menjajakan perlengkapan wisata gunung kepada para pengunjung. Luar biasa! Mereka sangat hebat.

Oke, semuanya sudah siap! Saatnya melanjutkan perjalanan.

Sejauh mata memandang, semuanya terlihat gelap! Sangat gelap! Penerangan hanya ada di sekitar pavilun penginapan dan di area pintu masuk Bromo. Sementara sepanjang jalan menuju lokasi sangat gelap. Tapi bagi saya itu tidak menjadi persoalan berarti. Kalian tahu, ada sesuatu yang spesial dari gelapnya malam ini. Ya, tepat di atas kepala saya, ada jutaan bahkan milyaran bintang yang berkerlap-kerlip. Saya hanya tinggal menunjuk satu bintang, kemudian jadikan ia teman dalam perjalanan, dan saya tidak akan merasa ketakutan.

Salah seorang dari tim kami kemudian berinisiatif memanfaatkan penerangan dari telepon genggam miliknya. Memang tidak terlalu terang, tapi saya rasa cukup untuk menyinari setapak demi setapak perjalanan kita. Tenang saja, tidak hanya kita yang akan melakukan jurit malam. Ada beberapa kelompok juga yang menyusuri padang pasir yang luas ini.

Saya ceritakan pada kalian, lautan pasir yang saya injak ini sangat lembut. Saya merasa sangat nyaman berjalan di atasnya. Kadang rasa penasaran saya pun memuncak. Saya jongkok, kemudian menggenggam pasir yang lembut itu. Tidak hanya lembut, tapi juga terasa dingin. Perlahan, pasir itu tertiup angin dan hilang entah kemana. Saya pun berpikir, mungkin itulah dunia. Kita hanya bisa menggenggamnya dengan tangan kita untuk sementara waktu. Namun kita perlu tahu bahwa semuanya akan hilang. Semuanya akan pergi.

Desiran angin gunung Bromo seakan menyanyikan senandung lagu klasik untuk kita. Mungkin untuk menemani perjalanan kita. Ah merdu sekali dan menentramkan. Sesekali gelak tawa menghiasi perjalanan kami. Tidak jarang decak kagum melengkapi romantisnya perjalanan kami. Kami sangat kagum dengan bintang, pasir, malam, angin, awan kelabu di langit, dan sinar senter yang terpancar dari titik-titik yang berbeda.

Melakukan perjalanan malam seperti ini, lebih-lebih bertepatan dengan tahun baru Islam 1434 Hijriah mengingatkan saya tentang sebuah peristiwa penting umat Islam. Pada tahun 622 Masehi, Rasulullah dan para sahabatnya hijrah dari kota Mekkah ke Madinah. Saya pun merenungi betapa hebatnya keteguhan hati umat Muslim saat itu. Berjalan kaki di hamparan padang gurun di malam hari. Setahu saya, angin gurun itu sangat ekstrim. Bahkan tanpa terprediksi badai pasir bisa datang kapan pun. Mereka sangat hebat. Ya Rabb, sampaikan salam kami untuk kekasihmu Muhammad dan para sahabatnya. Malam ini kami juga berjalanan di atas padang pasir yang luas. Tetapi bukan untuk berhijrah seperti apa yang dulu dilakukan Rasul dan sahabat-sahabatnya. Satu tujuan kami, kami hanya ingin mentafakuri ayat-ayat qauliyah yang Engkau bentangkan di bumi dan apa-apa yang kau hamparkan di langit.

Luar biasa. Selalu saja ada pembelajaran yang saya dapat ketika melakukan perjalanan.

Tidak ada patokan yang jelas jalan menuju ke lokasi gunung Bromo. Namun ada satu petanda yang menjadi kovensi dari tim kami. Di sana, di sebelah barat sana ada batok gunung Bromo. Memang tidak terlihat begitu jelas karena sangat gelap. Namun di sekitar sana ada beberapa cahaya lampu yang bisa dijadikan patokan. Setidaknya kami tidak akan tersasar.

Tidak terasa sudah lebih dari satu jam kami berjalan kaki. Saya pun melihat ke atas. Bintang-bintang yang mengagumkan itu menghilang satu persatu. Sementara awan kelabu di antara pekat langit malam juga semakin mendominasi. Nampaknya waktu Subuh akan segera datang. Saya pun melihat jam di telepon genggam saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Artinya waktu Subuh sudah tiba. Alhamdulillah kami sebentar lagi tiba di kaki gunung Bromo. Kami sudah melewati Pura suku Tengger yang konon katanya sangat dijaga dan dihormati.

Menurut informasi yang saya ketahui, suku Tengger adalah suku asli yang bermukim di sekitar gunung Bromo. Mereka menganut kepercayaan Hindu yang masih memelihara tradisi lelehur mereka. Terlepas dari itu semua, saya juga kagum pada mereka. Fisik mereka sangatlah kuat. Baik itu orang tua (laki-laki dan perempuan) maupun anak muda sudah terbiasa dengan cuaca dingin gunung Bromo. Pada waktu dini hari, beberapa orang tua suku Tengger sudah siap sedia menjajakan minuman hangat dan makanan ringan di kaki gunung. Pagi hari, para pemudanya sudah berdampingan dengan kuda-kuda untuk membawa turis-turis mengelilingi kawasan wisata Bromo. Ah mereka sungguh hebat. Saya takjub.

Untuk melihat sunrise yang cantik, kita perlu usaha lebih ekstra yaitu dengan menaiki tangga menuju puncak gunung Bromo. Saya sendiri tidak hapal berapa jumlah anak tangga di sana. Sempat terpikirkan untuk menghitungnya, namun di pertengahan jalan saking letihnya saya pun lupa saya sudah menghitung berapa anak tangga. Rasanya tidak mungkin saya untuk turun kembali ke bawah kemudian mengitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Sungguh pekerjaan yang melelahkan.

Oh ya, saya lupa. Sebelum naik tangga, kami pun sholat Subuh di area pasir yang agak landai. Tidak terlalu luas memang. Tapi cukup untuk jamaah yang berjumlah enam orang. Hei tidak ada air, mari kita tayamum. Saya pun melepas sarung tangan yang sudah sangat berjasa memberikan kehangatan untuk kedua telapak tangan saya. Wua, dingin sekali. Seolah saya seperti menggenggam salju di Rusia. Hah, lagi-lagi saya berimajinasi. Maklum sebagai penganut golongan darah B, saya kadang tidak kuasa membendung imajinasi saya yang liar. Huh.

BeFunky_IMG_0867

Subhanallahu. Saya selalu merasa tentram dan bahagia ketika sholat di alam bebas. Ada semacam perasaan yang tidak bisa diuraikan dengan kekata puitis. Namun satu yang saya tahu, saya merasa bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Terima kasih Allah.

***

Tiga. Dua. Satu.

Yap, akhirnya kami pun tiba di atas puncak gunung Bromo. Kepulan asap kawah gunung Bromo menguap ke atas. Aroma belerang menusuk hidung. Namun semuanya seakan tidak berarti apa-apa. Ada hal yang lebih penting. Saya bisa merasakan segarnya oksigen yang saya hirup. Ini sangat mahal untuk saya dapatkan di Jakarta. Terima kasih Allah.

Melihat ke timur, perlahan mentari kian menampakkan pesonanya. Barangkali mentari itu masih asyik di peraduannya dan enggan muncul. Tapi puluhan orang di atas puncak ini menunggu kedatangan matahari. Kami butuh kehangatanmu dan menyapu dingin angin Bromo yang dari tadi malam menyergap kami.

Romantic
Romantic

Menit pun berganti. Mentari kini terlihat sempurna terlihat di ufuk timur. Warna merah jingga mendominasi di langit pagi ini. Membuat suasana menjadi sangat romantis. Tubuh terasa hangat. Semua orang tampak takjub. Untuk mengabadikan moment berharga ini, maka berterima kasihlah pada kamera. Mata kita memang menangkap semuanya. Otak kita merekamnya. Namun, kamera digital juga membantu kita memvisualisasikan dengan lebih detail. Bersiap-siaplah mengabadikan kenangan ini!

Sunrise at Bromo
Sunrise at Bromo

Setelah cukup puas menikmati pagi di atas puncak, kami pun bergegas turun. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Kami memutuskan untuk pulang dan melanjutkan perjalanan berikutnya. Tapi perjalanan ke tempat parker mobil sangatlah lama dan melelahkan. Mungkin langit sudah terang, kami baru menyadari betapa jauhnya perjalanan kami tadi malam. Maka untuk mengusik rasa jenuh, kami pun menikmatinya dengan mengabadikan setiap moment perjalanan kami menggunakan kamera.

BeFunky_IMG_1125

Saya masih belum berhenti mengagumi keindahan alam Bromo. Sangat indah. Akhirnya saya bisa berkunjung ke sini. Menyaksikan secara langsung apa yang dulu hanya bisa saya saksikan di lacar kaca.

***

Malang, 16 November 2012.

Untuk kedua kalinya, saya kembali ke Bromo. Padahal baru dua hari yang lalu saya ke sana. Rasanya magnet Bromo sangatlah kuat untuk menarik saya kembali ke sana. Tentu dengan cerita yang hampir sama, namun dengan orang-orang berbeda. Saya kembali menikmati perjalanan ke Bromo. Bagi saya sendiri, Bromo adalah tempat spesial dan rumah kedua untuk saya. Di sina saya menemukan ketentraman. Terima kasih kepada orang-orang yang sudah mengajak saya ke sini. Terima kasih banyak.

Galeri:

BeFunky_IMG_1093

BeFunky_IMG_1200

BeFunky_IMG_1230

BeFunky_IMG_1277

BeFunky_IMG_1278

BeFunky_IMG_1332

BeFunky_IMG_1335

BeFunky_Instant_1

BeFunky_P1190690

BeFunky_P1190715

BeFunky_P1190757

BeFunky_P1190765

BeFunky_P1190781

4 thoughts on “Bintang, Hijrah, dan Bromo

  1. this is such a loooonggg writing,, hahahaa,,, but i enjoy every word of it… nice writing, nice story, and outstanding picture!!! n you successfully make me want to visit bromo immediately!!

    kereeeennnn…

  2. @ade: haha, itu yang couple itu mah bukan gw de.. itu orang, gw iseng moto aja.. haghagšŸ˜€ nah, yang berempat itu temen sekantor.. gpp lah ya, foto bareng doang kooo :p

    @teh histor: teteh, makasih ya udah ngunjungi lapak ane.. aye juga sering ngunjungin lapak teh histor lo.. bener2 inspiring! hei kepala genk Jakarta! ayoo kita belom pernah touring bareng nih.. ke Pulau seribu yok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s