Hidup Mencatat Kehidupan


Let me go
Google.com

Menurut saya, hidup itu mencatat dan dicatat.

Ada malaikat yang mencatat perjanjian ketika kita masih di alam rahim; ketika bunda mengandung.

Tentang perkara yang ramai diperbincangkan manusia; jodoh, rezeki, dan kematian.Bahkan, kita pun tidak perkenankan untuk sekadar mengintip barang sejenak pun. Sst, itu rahasia langit! Sebab, kita dicatat.

Hidup itu dicatat.

Ketika kita lahir ke dunia fana ini, ada suster atau bidan yang mencatat nama kita pada sebuah papan nama. Di situ; tertulis nama dan tanggal lahir kita.

Lalu, ada petugas sipil yang mencatat kita pada sebuah kertas yang bernama akte kelahiran.

Beranjak besar, kita mencatat.

Mencatat mata pelajaran “Ini Budi” yang ditulis oleh guru baik di bangku SD.

Dan lagi-lagi, kita dicatat. Pada sebuah daftar hadir di kelas guna dipanggil setiap harinya. Kita terus dicatat dan mencatat hingga kita tercatat pada sebuah lembar kertas berukuran A4. Kata mereka, itu ijazah. Nama, tempat tanggal lahir, nama orang tua, dan nilai-nilai pelajaran kita dicatat di situ. Kita pun mencatat bahwa kita pernah dicatat di sekolah itu.

Saya bingung, kita mencatat atau dicatat?

Ada dua malaikat; di sisi kiri dan kanan bertugas mencatat semua yang kita lakukan. Pagi, siang, sore, bahkan malam. Kita tidak tahu apa yang dicatat malaikat-malaikat yang baik itu. Tapi kita tahu, kita telah dicatat.

Ketika dewasa, pada saatnya kita telah menikah, ada petugas KUA yang mencatat kita pada sebuah buku yang bernama buku nikah. Tuh kan, kita dicatat lagi.

Hingga pada akhirnya, tibalah pada suatu masa, kita dicatat untuk terakhir kalinya pada sebuah batu nisan di pusara. Kita mungkin tidak tahu bahwa kita telah dicatat. Tapi kata mereka, ya kata mereka kita telah dicatat. Bahkan, kitab pencatatan kita sudah usai. Dua malaikat di sisi kiri dan kanan kita tidak lagi bertugas mencatat. Mereka dibebastugaskan. Tapi, kau perlu tahu! Bahwa pada waktu yang telah ditentukan, saya dan kita semua dapat membaca dengan seksama buku catatan itu.

Saya semakin bingung. Sebenarnya, kita sering dicatat atau mencatat?

Ah, rasa-rasanya kita memang terlalu sering dicatat. Jarang sekali kita mencatat apa yang sudah kita lakukan. Saya khawatir, saya tidak bisa mengingat dengan baik apa yang sudah terjadi dalam hidup saya. Mungkin esok atau lusa saya lupa. Hal itu terjadi karena saya lupa mencatatnya. Sungguh saya sangat pemalas.

Tuhan, saya ingin mencatat.

Tentang cita-cita dan impian yang ada di dalam hati dan benak saya. Namun saya ingin mencatatnya dengan sebuah pensil. Bolehkah Tuhan?

Saya ingin menulis semuanya. Hingga semua lembaran kertas ini terisi penuh, tiada bersisa. Namun, saya serahkan penghapus ini pada-Mu Tuhan. Jika ada impian saya yang tidak sejalan dengan rencana-Mu, saya ikhlas untuk dihapus. Atau mungkin diperbaiki. Saya hanya ingin mencatat.

Tuhan, saya ingin mencatat.

Untuk semua masa lalu yang kelu, memori yang tidak menyenangkan, dan rasa sakit hati yang mungkin bernanah.

Saya ingin mencatatnya pada sebuah pasir di padang gurun yang luas. Agar semua yang telah saya tulis, bisa tertiup angin padang gurun, kemudian sirna.

Tuhan, saya ingin mencatat.

Untuk sepasang malaikat terhebat, untuk mereka yang terkasih, dan untuk kenangan terbaik yang pernah saya lalui.

Pada sebuah batu prasasti. Agar kelak, ia akan tetap mengabadi. Terus mengabadi hingga kapan pun.

Tapi, saya juga sangat ingin dicatat.

Pada lembaran kebaikan yang taksatu pun orang yang tahu. Agar kelak, saya akan berkata, “Terima kasih karena saya telah mencatat hidup dan saya telah dicatat kehidupan.”

-end-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s