Bugenvil, atau Edelweis, dan Hujan.


Surabaya, 21 Oktober 2012
Pukul 17: 12 WIB

Kau bercerita padaku tentang hujan seakan takpernah bosan mengguyur kotamu. Dan kau bisikan padaku betapa bahagianya dirimu saat tetesan rahmat dari langit membasahi pipimu, kemudian kepalamu, hingga sekujur tubuhmu. Kau asyik bermain dalam hujan. Kau biarkan hujan-hujan itu mendendangkan sepenggal bait merindu. Kau katakan lagi padaku, kau senang. Ah, sudah sangat lama aku takmendengar kau berkisah tentang itu. Rasa-rasanya sejak musim kemarau tahun lalu. Namun segalanya kini telah berubah. Nyatanya tidak lagi kudengar tentang cerita itu lagi. Entahlah apakah karena hujan di kotaku dan kotamu yang berbeda.

Takmasalah. Tapi izinkan aku sampaikan syair yang ditulis Sapardi untukmu saja:

“Apa yang kau tangkap dari suara hujan, Dari daun-daun bugenvil yang teratur mengetuk jendela, Apakah yang kau tangkap dari bau tanah, Dari ricik air yang turun di selokan..”
― Sapardi Djoko Damono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s