Pantai Pasir Putih Trenggalek, Pesona Pantai Laut Selatan Jawa


Bisa dikatakan traveling saya layaknya petualangan seorang bag packer. Betapa tidak, saya menggunakan bus dari terminal Bungurasih kota Surabaya bersama teman-teman saya. Pada awalnya kami bersepakat untuk menumpang dengan bis AC Ekonomi. Ya, alasannya karena harganya terjangkau. Otomatis kami bisa lebih hemat dalam budget. Namun nyatanya, kami akhirnya dihadapkan dengan pilihan dengan menumpangi bus Patas AC Pelita Jaya dengan ongkos 30ribu.

Menurut saya, ongkos 30ribu tidaklah cukup mahal mengingat jarak yang akan kami tempuh selama lima jam. Waw, cukup lama bukan? Bus Patas menuju Trenggalek ini melewati Jombang, Kediri, Tulungagung, dan terakhir Trenggalek.

Naik bus Patas AC, tentu yang terpikirkan adalah kita tinggal duduk santai di bis, mendengarkan alunan musik dari MP4, sms-an, baca buku, dan tidur. Tapi alih-alih mendapatkan kenyamanan tersebut, kami (tepatnya tiga dari enam orang) harus duduk lesehan di samping kiri supir. Agak gondok juga sebenarnya. Betapa tidak, dengan harga ongkos yang cukup mahal, tapi kami tidak mendapatkan fasilitas sebagaimana penumpang lainnya. Well, dari pada bete tidak karuan, akhirnya kami berusaha menikmati perjalanan kami. Berharap waktu perjalanan semakin singkat.

Dan, kondisi serupa juga dialami oleh seorang pria paruh baya. Menurut hematku, umur bapak itu sekitar 50an. Analisis sotoyku, bapak ini adalah seorang pekerja kantoran, tidak biasa naik bis, dan memang tidak nyaman dengan kondisi yang dia alami sekarang; yaitu duduk manis dekat kaca jendela depan bis.

Untuk menghalau rasa bosan, saya pun membaca buku karangan Dale Carnegie, “Bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain” pemberian teman saya. Sesekali, teman kantor saya berbincang-bincang ringan tentang masalah kantor dan obrolan santai lainnya.

Si bapak yang duduk berdekatan dengan kami nampaknya tertarik dengan apa yang kami diskusikan. Kemudian, si bapak tersebut pun memulai percakapan dengan kami. Mulai dari bertanya, “Mau kemana dek? Tinggal dimana? Kerja dimana? dst.”

Singkat cerita, akhirnya kami pun bercerita banyak hal dengan bapak tersebut. Beliau adalah seorang karyawan PT. Pos Indonesia yang hendak mengunjungi kedua putranya di Pesantren Jombang. Mendengar niatan teman saya yang ingin memberdayakan masyarakat Trenggalek dengan kegiatan sosial, bapak tersebut pun tampak interrest dan dia pun bercerita banyak hal tentang dirinya, kantornya, dan putra-putranya.

Oke, itu pelajaran pertama yang saya dapatkan. Kadang, kondisi buruk yang menimpa kita bukan berarti mematikan inspirasi. Toh nyatanya saya mendapatkan inspirasi yang baik dari obrolan ringan bersama teman-teman dan bapak tadi.

***

Tepat pukul 16.45 WIB kami tiba di terminal bus Surodakan, Jalan Ki Mangun Sarkoro No. 9 Trenggalek.

Dalam hati saya bergumam, “Esok pasti hari yang menyenangkan. Ya, ekspedisi ke Pantai Pasir Putih Trenggalek. Pasti tempatnya menyenangkan secara saya sudah searching info tentang pasir putih tersebut di internet. Tidak sabaran menunggu hari esok segera.”

Keesokan harinya pukul 08.30 kami touring ke Pantai Pasir Putih Trenggalek dengan menggunakan tiga motor. Oh ya lupa, ada tambahan personil yaitu keponakan dari teman saya.

Perjalanan menuju lokasi cukup jauh yaitu sekitar 2 jam dengan kecepatan 70-90 KM/Jam. Cukup ngebut memang, tapi tidak apa-apa toh saya hanya cukup duduk manis dibonceng, hehe. Track perjalanan ke sana sebetulnya tidak begitu sulit. Hanya saja, ketika hampir tiba di lokasi objek wisata seperti Goa Lowo, kita akan menemukan jejalanan yang penuh tanjakan, turunan, tikungan tajam, dan jalanan yang lumayan sempit. Maka butuh ekstra hati-hati dalam mengendalikan sepeda motor.

Satu kata yang bisa saya gambarkan dalam perjalanan menuju Pasir Putih Trengalek: AWESOME. Ya, sangat mengesankan. Pasalnya kita melewati hamparan sawah yang hijau di sisi kiri dan kanan jalan, barisan bukit-bukit yang gagah, dan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Ditambah dengan aroma udara pedesaan yang masih asri menambah rileks. Betul-betul kondisi yang tentunya kontras dengan kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Melewati Jalan Bandung Tulungagung, kita akan disuguhi dengan pemandangan gunung yang mirip seperti piramida. Ya, saya kira sangat mirip sekali. Gunung batu itu berbentuk limas dan sedikit ditumbuhi lumut-lumut hijau. Saya pun tidak ketinggalan mengabadikan pemandangan gunung piramida itu dengan kamera digital. Tapi sayang, hasilnya tidak bagus. Maklum saya mengambil objek gambar saat motor melaju dengan kecepatan tinggi.

Nah, sekitar pukul 11.45 WIB (jika tidak salah) akhirnya kami pun tiba di Pantai Pasir Putih Trenggalek. Sebetulnya Pantai Pasir Putih Trenggalek ini berdekatan dengan Goa Lowo yang saya ceritakan tadi. Konon katanya Goa Lowo merupakan salah satu goa terpanjang di Asia. Sebetulnya agak penasaran juga untuk berkunjung ke sana. Namun apa daya waktu kami liburan di Trenggalek tidaklah lama. Selain Goa Lowo (Goa Kelelawar), ada juga Pantai Prigi tapi juga tidak kami singgahi.

Tujuan utama kami hanya satu yaitu: Pasir Putih Trenggalek.

***

Yeah, akhirnya perjalanan yang sangat panjang selama 2jam dibayar lunas dengan indah pesona Pantai Pasir Putih Trenggalek. Kami pun buru-buru memarkir motor, melepas sendal, melepas jaket, dan menyimpan handphone dan dompet dalam satu tas. Selanjutnya yeah kami berlarian ke bibir pantai.

Pasir putih yang lembut terasa sangat nyaman menyentuh di setiap syaraf telapak kaki kami. Untungnya panas matahari saat itu tidak terlalu terik jadi kami bisa bermain di pantai tanpa khawatir kulit kami terbakar matahari.

Tanpa pikir panjang, saya pun pasrah membasahkan celana jeans saya oleh air laut. Ah, agak kecewa juga karena tidak bawa baju ganti. Padahal sangat sayang kalau tidak mandi ombak di pantai ini. Tapi apa boleh buat. Kami pun larut dalam suasana suka.

Jepretan kamera poket dan kamera DSLR menjadi teman setia tidak tergantikan. Merekalah yang merekam semua. Nyiur pantai yang melambai-lambai, manusia-manusia yang berendam di lautan yang luas, bebukitan yang asri, dan batu karang yang cantik-cantik. Terima kasih kamera yang baik yang sudah mau membantu kami di saat kami tidak bisa menjelaskan dengan kekata yang indah kepada orang-orang betapa indahnya Pantai Pasir Putih Trenggalek ini.

Pantai Pasir Putih Trenggalek merupakan pantai yan terletak di garis pantai selatan laut Jawa. Sama halnya dengan pantai selatan lainnya, Pantai Pasir Putih Trenggalek ini tentunya memiliki palung-palung laut yang sangat dalam dan berbahaya. Oleh sebab itu, pengelola pantai membuat batas aman bagi pengunjung yang ingin berenang di bibir pantai.

Ah, saya tidak bisa menceritakan dengan detail pemandangan di sana. Tapi saya paparkan bahwa di pantai itu ada air lautan yang jernih, jembatan untuk melihat pemandangan dengan lebih luas, di kelilingi bebukitan, ada bebatuan untuk bersantai, dan udara pantai yang berhembus sepoi-sepoi.

Saya kasih nilai 7 untuk Pasir Putih Trenggalek ini. Silakan datang dan enjoy it!
Tiket masuk: Rp. 5000,-

Thanks a lot,
🙂

Let’s see the pictures:

Bibir pantai🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s