Bejo Juga Ingin Pintar Seperti Mereka!


1

Bekasi, 12 Juni 2012

SIANG itu, matahari merangkak naik tepat di atas ubun-ubun kepala. Seorang anak kecil mendongakkan kepalanya ke atas. Matanya pun menyipit karena cahaya mentari siang itu terlalu menyilaukan pandangannya. Sesekali, ia mengelap keringat di dahinya. Takjarang tetesan keringat mengucur jatuh di sudut kiri wajahnya. Kemudian, ia pun berjalan dengan ritme langkah yang cepat menuju sebuah bangunan yang berdiri kokoh. Anak laki-laki itu beristirahat dengan menyandarkan tubuhnya pada sebuah tiang di pelataran teras gedung yang dicat berwarna putih. Ia beristirahat tidak lama. Hanya sekitar 15 menit. Tepat pukul 13.00 WIB, ia harus menjajakan dagangannya kepada para mahasiswa yang baru selesai perkuliahan. Baginya, waktu singkat ketika jam istirahat sangatlah penting. Ia sangat berharap kripik dagangannya laku terjual. Tapi kadang, apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Dagangannya tidak melulu laku. Ada masa ia harus menelan kecewa karena kripik dagangannya hanya terjual beberapa bungkus saja. Bocah lelaki itu pun pulang dengan sedikit perasaan bersalah. Ia khawatir ibunya di rumah kecewa karena dagangannya tidak laku terjual.

Anak laki-laki itu bernama Bejo. Ia masih duduk di bangku kelas 5 SD. Umur Bejo 10 tahun. Setiap harinya, selepas pulang sekolah, Bejo harus membantu menunjang perekonomian keluarga dengan berjualan di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Para mahasiswa di sana mengenal Bejo sebagai anak pintar dan murah senyum. Maka takheran jika banyak mahasiswa di universitas tersebut yang senang berbincang ringan dengan Bejo. Ada mahasiswa yang bertanya tentang prestasi Bejo di sekolah, ada juga yang bertanya lebih pribadi tentang kondisi perekonomian Bejo. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak membuat Bejo risih ataupun merasa malu. Bejo yang rendah hati pun tidak sungkan menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan kepadanya.

Bejo bercerita lepas tentang prestasinya yang gemilang di kelas. Ia sangat bersyukur. Kendati ekonomi keluarganya memprihatinkan, namun ia tetap berprestasi. Bejo selalu mendapatkan juara kelas dan menjadi murid kebanggaan guru-guru di sekolahnya. Namun, kadang ada kalanya Bejo menudukkan wajahnya ketika ia menceritakan tentang kondisi keluarganya terutama jika ia bercerita tentang bapaknya. Bejo sangat sayang pada bapaknya. Namun bapaknya telah meninggalkannya. Ia sendiri tidak tahu kemana bapaknya pergi. Satu hal yang ia tahu bahwa ia sekarang menjadi tulang punggung keluarga bagi ibu dan adiknya yang masih berumur 7 tahun.

Bejo menyadari bahwa ia memang tidak seberuntung teman-temannya. Jika teman-temannya memiliki waktu yang sangat banyak untuk belajar dan bermain, maka lain halnya dengan Bejo. Ia harus pandai-pandai mengatur waktunya untuk belajar dan berjualan. Pun begitu, Bejo tidak pernah mengeluh. Ia selalu bersemangat setiap harinya baik ketika ia harus menjadi seorang murid di sekolah, atau pun ketika ia menjadi penjual kripik di kampus.

Akan tetapi, kerap kali ada rasa gelisah yang mengusik ketenangannya. Bejo khawatir. Apakah ia bisa terus bersekolah dan bisa pintar seperti mahasiswa-mahasiswa yang menjadi pelanggan keripiknya. Bejo ingin sekali menjadi dokter. Cita-cita Bejo sangatlah sederhana, tapi sungguh mulia. Bejo ingin menyembuhkan sakit yang diderita ibunya. Ia berharap dan berdoa pada Tuhan agar ibunya bisa kembali sembuh seperti sedia kala. Namun, tetap saja perasaan khawatir itu terus menghantui Bejo. Bagaimana jika ternyata ia tidak bisa melanjutkan sekolah?

Kawan, itulah sepenggal kisah dari seorang bocah bernama Bejo. Tahukah kita, bahwa di bumi pertiwi ini mungkin ada ratusan bahkan ribuan anak Indonesia yang mengalami nasib serupa dengan Bejo. Lantas, apakah kita hanya terus berpangku tangan kemudian membuang muka? Bukankah mereka generasi bangsa? Bukankah mereka aset berharga? Bukankah mereka penerus estafet perubahan? Bagaimana jika ratusan atau bahkan ribuan Bejo di Indonesia ini tidak bisa meraih mimpi-mimpi mereka? Bagaimana jika mereka harus hidup di jalan sebagai pengamen atau mungkin sebagai peminta-minta. Ironis.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2010 persentase masyarakat Indonesia umur 15 tahun ke atas yang mengalami buta huruf mencapai 7.09 persen. Berdasarkan data tersebut, dapat kita ketahui bahwa secara kuantitas ada banyak calon penerus bangsa (usia produktif) yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam manisnya pendidikan. Lantas yang menjadi pertanyaan, bagaimana nasib mereka? Setidaknya ada sekitar 155.965 anak Indonesia hidup di jalan dan sekitar 12 juta anak sekolah putus sekolah. Mereka menghabiskan masa kekanak menjadi pekerja di jejalanan kota-kota besar. Ada yang menjadi pengamen, penjual Koran, dan bahkan ada yang menjadi pengemis. Tingginya angka buta huruf yang dialami anak Indonesia tentunya inheren dengan kebodohan yang berdampak pada kemiskinan.

Potret suram nasib anak Indonesia tentunya membuat kita menghela napas dalam-dalam dan mengelus dada. Bagaimana mungkin bangsa yang sebesar ini luput memperhatinkan kondisi sang penerus bangsa? Sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas muslim, sebetulnya ada solusi untuk membantu mereka yaitu dengan mengeluarkan zakat.

Secara harfiyah, zakat berkonotasi pemberdayaan (Azzakah = Annama). Dalam surat At-Taubah ayat 103 Allah swt. berfirman: “Ambilah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Keutamaan zakat tidak hanya untuk membersihkan harta namun juga bermanfaat sebagai penyubur jiwa dan pembawa berkah.

Sebetulnya umat Islam di Indonesia sudah mengetahui keutamaan zakat. Sayangnya, masih banyak umat Islam yang enggan menunaikan rukun Islam yang keempat ini karena pelbagai alasan. Ada orang yang berlimpah rejeki tapi enggan berzakat. Ah, andaikan semua muslim di Indonesia yang sudah wajib zakat mau mengeluarkan zakat, tentu Bejo sang penjual kripik tadi takusah khawatir memikirkan masa depan dan pendidikannya. Mungkin tidak ada lagi jutaan anak Indonesia yang putus sekolah dan hidup di jalanan.

Salah satu Lembaga Amil Zakat Nasional yang bertugas mendayagunakan zakat dari Muzaki (pemberi zakat) adalah PKPU. Zakat yang diterima dari Muzaki kemudian dikelola dan disalurkan kepada mustahik (penerima manfaat) berdasarkan prinsip pemberdayaan. Misalnya dalam bidang pendidikan, PKPU memberikan beasiswa pendidikan kepada pelajar yang kurang mampu. Hal ini penting dilakukan mengingat pendidikan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi.

“Sebagai bangsa kita bukan hanya bercita-cita, tapi harus berjanji. Kita hanya diberi dua pilihan; melipat tangan atau turun tangan. Pendidikan adalah upaya kita memenuhi janji kemerdekaan.” (Anies Baswedan, Pendiri Yayasan Indonesia Mengajar).

Kita adalah bangsa yang sebesar. Maka jangan kerdilkan bangsa kita dengan ketidakpedulian. Di negeri yang permai ini ada berjuta anak yang ingin bersekolah dan ingin sekali mengenyam pendidikan. InsyaAllah dengan kita mengeluarkan zakat, Bejo dan anak Indonesia lainnya yang kurang mampu akan bisa meraih mimpi-mimpi mereka. Lihatlah, mereka tersenyum dengan senyuman terindah dan berlari menuju puncak kemandirian.

3 thoughts on “Bejo Juga Ingin Pintar Seperti Mereka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s