Isyarat untuk Tuhan


Jakarta, 03 April 2012 |Pukul 10: 52 PM.

Tinta pena sudah mengering, lembaran kertas kosong sudah takada ruang untuk ditulis dan tidak bisa pula untuk dihapus. Kitab itu sudah ditutup dan disimpan dalam berangkas-Nya. Kau tahu, bahwa pintu langit terkunci rapat. Entah siapa pemegang kuncinya. Segala rahasia tersimpan dengan baik. Taksatu pun setan yang tahu. Sementara itu, para abdi-Nya hanya bisa menunggu titah, kemudian berbuat.

Tengoklah hari kemarin, kini, atau esok. Tidak ada yang tahu jalan ceritanya. Bahkan, mengira-ngira pun takkuasa karena itulah garis batas kemampuan kita. Rasakanlah dengan sepenuh hati, ada yang takbiasa pada angin malam ini. Bisikannya bernada kelu. Dulu, ia merayu mesra, mencumbu lekat syaraf ubun hingga ujung kuku kaki. Besok siang datang menyapa. Ia ditemani penjaga bernama mentari. Tapi dia mendongak ke atas untuk menatap sinis pada bintang.

Aduhai pepohonan, pinjamilah aku kuasmu. Aduhai samudra, bisakah kuteguk sedikit sejukmu pelepas dahagaku? Aduhai langit luas, biarkan kujadikan punggungmu sebagai kanvas. Aku ingin melukis dengan sedikit warna indah pelangi dan sentuhan suci bidadari.

Lalu kau hujan, kau hadir tanpa permisi untuk melunturkan sekelumat imajinasi, mengangkasa bersama kabut. Rintikmu meniadakan harapan, hilang takberbekas.
aku berteriak, pada jutaan sabda alam.

“Apa maumu, hah?”

Letih dan papah telah menjadi kawan akrab. Kini, mereka bersatu padu dan berpeluk mesra. Lirih, aku berbisik dalam kalimat berpendar, “Tuhan, aku khawatir tidak jeli menangkap isyarat yang kau kirim pada fajar.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s