on subconcious


Memori itu sudah lama terkubur. Bersama waktu yang tidak mungkin lagi untuk diulang. Sudah cukup lama. Namun kini, entah siapa yang membongkar memori itu. Ia hadir menjadi potongan episode yang tidak berkesudahan. Pelakunya adalah otak. Dia memang sangat kreatif. Dia terdiri dari milyaran sensorik yang sangat rumit dan kompleks. Dia bukan hard disk ekternal yang hanya berkapasitas 80 GB atau lebih dari itu. Memori yang ia tampung tidak terbatas. Tidak terhingga. Bahkan tanpa kita sadari, suka atau tidak suka; banyak peristiwa dan kenangan yang ia potret, kemudian direkam dan ditampilkan pada display yang berbeda-beda. Penyajiannya pun tidak disangka-sangka. Bisa melalui lintasan-lintasan pikiran kita. Bisa juga hadir pada alam bawah sadar.

Saya tidak menyangka, ternyata memori pada masa lalu sangat membekas, tersimpan baik dalam satu file yang tidak saya ketahui lokasinya. Bahkan, saya hampir tidak pernah mengusiknya. Meminta ia hadir kembali untuk sedikit bernostalgia. Tidak. Tidak sama sekali. Dalam kehidupan nyata pun, saya jarang sekali memikirkannya. Entahlah, belakangan ini saya lebih terfokus memikirkan hari esok yang sampai saat ini masih menjadi misteri.

Mungkin karena terlalu sibuknya saya memikirkan sesuatu yang belum pernah direkam otak saya, hingga munculah represif pada dimensi yang berbeda, yaitu alam bawah sadar. Konon menurut Sigmund Freud, represif atau tindakan pertahanan diri bisa terbawa ke dalam alam bawah sadar kita. Mimpi yang kita alami adalah pemunculan display memori kita. Kadang ia tidak kita harapkan muncul. Namun, otak kita berhak menampilkan apa pun ketika kita terlelap, memasuki alam bawah sadar kita.

Jakarta, 26 Februari 2012, pukul 04.48 WIB.

Saya terbangun setelah mengalami mimpi yang saya sendiri tidak paham maksudnya. Sebenarnya selama saya tidur, banyak mimpi yang saya alami. Saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan banyak rupa manusia, dan berinteraksi tentunya. Tapi saya tidak mengingat semua mimpi saya itu. Saya hanya ingat mimpi yang alami 15 menit terakhir. Sebetulnya mimpi yang sama. Hanya saja, setting tempat dan ceritanya berbeda.

Saya menarik napas dalam-dalam untuk mengatur ritme pernapasan. Saya pun bergumam dalam hati, mengapa saya sering sekali bermimpi dengannya. Bermimpi dengan orang yang sudah tidak ada di dunia ini. Menurut teman saya, ketika saya bermimpi dengan orang meninggal, artinya saya harus mendoakannya. Tapi entahlah, sepertinya ada tanda lain sehingga saya sering bermimpi dengannya. Ya, saya sering bermimpi dengan sahabat saya yang sudah meninggal sekitar 3 tahun yang lalu.

Kadang saya bertanya-tanya, mengapa saya sering sekali bermimpi dengannya. Apakah masih ada kesalahan saya padanya, dan saya belum sempat minta maaf? Wallahu’alam. Namun yang jelas, kita adalah sahabat baik. Bersahabat dari kecil hingga lulus SMA. Tapi yang namanya persahabatan tentu ada warna-warninya. Kadang kita mengukir tawa, namun takjarang kita saling meluka. Dan itulah yang biasa terjadi. Banyak hal yang telah kita lalui bersama. Dan itu akan selalu saya kenang.

Bagi saya, dia adalah salah satu orang yang memiliki tempat spesial di hati saya. Walaupun kadang kita berpikir kita sama sekali memiliki banyak ketidakcocokan. Hobi kita berbeda, karakter kita berbeda, dan pola pikir kita jelas berbeda. Namun itulah uniknya, kita bersahabat baik.

Satu hal yang saya sesali hingga saat ini adalah, saya tidak bisa menciptakan momentum yang indah di kali terakhir kita bersama. Saya terlalu bereuforia dengan lingkungan baru, sahabat-sahabat baru, dan aktivitas yang baru. Dan saya lupa untuk sekadar menanyakan kabar, atau meminta nomor handphonenya. Dan itu sungguh keterlaluan.

Mendengar kabar berita yang memilukan itu, saya merasa sangat menyesal. Maafkan saya.

Saya bingung mengapa ketika kami berinteraksi di dunia mimpi, saya tidak pernah sadar bahwa dia sudah pergi dengan tenang untuk selama-lamanya. Dan mengapa di alam bawah sadar itu, saya tidak sadar sama sekali dengan kondisi yang sebenarnya. Entahlah, saya sendiri pun sangat bingung.

Seperti biasanya, latar cerita interaksi saya dengan sahabat saya adalah di sekolah. Di mana kondisi kami mengenakan seragam sekolah, aktivitas belajar, dan bercanda.

Pada salah satu mimpi, saya melihatnya sedang asyik belajar. Ya, dia memang sangat senang belajar. Berbeda sekali dengan saya yang lebih memilih mengobrol dan bercanda dengan teman-teman lainnya. Di lain kesempatan, saya dan dia sedang asyik memperhatikan belajar, dan ketika itu kondisi saya sangat terancam. Saya tidak bisa menjawab soal matematika atau fisika. Saya pun kalang kabut dan meminta sahabat saya itu untuk membantu saya. Pernah juga, saya bertengkar dengannya di angkot yang biasa kami gunakan untuk berangkat sekolah.

Dan yang terakhir adalah hari senin ini, tanggal 26 Maret 2012. Saya kembali bertemu dengan sahabat saya itu di dunia mimpi. Berbeda dengan mimpi-mimpi sebelumnya yang banyak diisi dengan aktivitas yang monoton, namun kini interaksi dan komunikasi saya dengan sahabat saya itu sangat intens dan akrab sekali. Setting tempatnya di sekolah berlantai dua. Sekolah ini belum pernah saya kunjungi. Tetapi mirip dengan Madrasah tempat di mana saya mengenyam pendidikan Islam sewaktu SD. Jika boleh saya bilang, mimpi saya itu terjadi pada hari Sabtu. Mengapa saya bisa seyakin itu? Karena saat itu, saya dan teman-teman saya mengenakan seragam pramuka.

Seingat saya, ketika itu menjelang ujian kelulusan sekolah. Kita belajar Biologi di kelas. Namun, tiba-tiba sahabat saya ini minta izin kepada guru untuk pulang. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya pulang lebih awal. Ia meminta saya untuk menemaninya. Awalnya saya berat hati untuk mengantarkannya pulang. Namun saat itu hati saya berkata, saya harus mengantarkannya. Kami pun minta izin pada guru.

Setelah berada di pekarangan sekolah, sahabat saya itu lupa mengambil tasnya. Akhirnya saya berteriak memanggil salah satu teman saya di kelas. “Tolong ambilin tas!” Teman saya itu pun menjatuhkan tasnnya dan saya berhasil menangkapnya.

Akhirnya, saya dan sahabat saya pun pulang. sesampai di luar pekarangan, kami pun berhenti. Dia menatap saya dan berkata,

“Sepedanya lupa di bawa. Saya lupa dimana saya memarkir sepeda.” Dia tampak gelisah.

“Mungkin di parkiran.”

“Oh ya, sepertinya memang di parkiran. Mau menunggu di sini, atau ikut mengambil sepeda?”

Saya pun diam sejenak. Apa yang harus saya putuskan.

“Yuk, kita ambil sepedanya bersama.”

Kita pun mengambil sepeda itu. Namun anehnya, kita bukan ke parkiran sekolah. Tapi kita memasuki ruangan berbeda. Dan teman saya itu pun pergi entah kemana. Saya pun tidak tahu saya memasuki ruangan apa. Kita pun terpisah. Dan saya pun terbangun dari mimpi itu.

P.S: Sepeda sahabat saya itu adalah sepeda yang sangat berkesan untuk saya. Saya sering menumpang sepeda itu ketika berangkat sekolah. Sepeda BMX yang berwarna biru agak dongker. Yang unik dari sepeda ini adalah penutup ban atau plank yang suka bergoyang-goyang jika dijalankan. Sepeda ini pernah sangat berjasa. Sewaktu ujian semester kelas 2, saya lupa membawa kartu ujian. Petugas ujian meminta saya mengambil kartu ujian yang tertinggal di rumah. Tapi Alhamdulillah sahabat saya tadi meminjami saya sepedanya. Dan saya pun bisa mengikuti ujian.

Alhamdulillah, saya mensyukuri untuk potongan memori penuh kenangan yang ditayangkan dalam mimpi ini. Saya pun kemudian mendoakan sahabat saya, semoga ia tenang di alam sana. Mendapatkan tempat terbaik di sisinya. Semoga di syurga kelak kita bisa berjumpa kembali. Selamat jalan sahabat. Berbahagialah.

One thought on “on subconcious

  1. terkadang saia jg sering brmimpi, dan mimpi yang saia pikir tdk prnah bahkn dilintasan fkran saia nmn tba2 saia brmimpi hal yang sama scara berulang..hingga saia mncari ttg tafsiran mimpi dan saia hanya menemukan 2 jawaban yang prsis sm dg kesmpuln yang kwan utarakn, 1. mimpi it hanya skdar hiasan tdur, 2. mepresentasi dr fikiran alam bawah sadar…
    mdh2n temanny diterima disisiny…mngkn mmg beliau mnta doa…salam ukhuwah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s