Hei, Berhentilah Merokok! Jika Tidak, Berhentilah Anda Bernapas!


Akhirnya saya berkesempatan untuk menuangkan pikiran saya tentang sebuah selinder dari kertas, panjang sekitar 8 cm, berdiamter  10 mm, beraroma sangat tidak sedap, beracun, dan mengandung zat nikotin yang menyebabkan kecanduan. Saya tidak ingin bertele-tele memperkenalkan produk haram yang digandrungi oleh banyak manusia di bumi ini. Orang Indonesia menyebutnya rokok, namun masyarakat dunia lazim mengenalnya dengan sebut cigarette. Ah, nama boleh beda. Tapi bahayanya, jangan ditanya.

Image

Semua orang dunia ini pun saya yakin paham betapa berbahayanya rokok. Sudah sangat banyak sekali yang membahasnya. Mulai dari puisi sederhana yang ditulis murid-murid SD, karya ilmiah di kalangan pelajar, skripsi, thesis, disertasi, jurnal, artikel, dan rasa-rasanya di dunia ini setiap harinya orang-orang membahas bahaya rokok. Berbagai upaya preventif pun sudah dilakukan oleh banyak pihak. Mulai dari tenaga medis, pelajar, komunitas peduli kesehatan, media, dan mantan perokok. Taktangung-tanggung, budget yang sangat besar pun digontorkan untuk menyukseskan kampanye “ANTI ROKOK!”. Namun, grafik pecandu rokok justru melompat signifikan.

Setiap detiknya, di bumi ini setidaknya jutaan manusia menghisap rokok minimal tiga kali sehari. Dan logikanya, perusahaan rokok tentunya memproduksi rokok dengan jumlah yang sangat besar. Hal tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi yaitu semakin tinggi permintaan, maka akan semakin tinggi pula harga penawaran. Dan siapa yang diuntungkan dalam konsepsi bodoh ini? Masyarakat? No! Jelas yang paling tertawa bangga adalah pabrik-pabrik rokok yang beroperasi di berbagai kota di dunia. Pundi-pundi benefit mereka jelas melonjak tinggi. Kemudian, dengan alasan investasi jangka panjang, mereka pun memperluas kanal produksi rokok dengan cara: mendirikan pabrik-pabrik di berbagai daerah, membuka lahan basah untuk ditanami tembakau, dan menghipnotis masyarakat awam untuk menjadi kuli di pabrik besar milik mereka.

Pada tulisan ini, saya sebenarnya tidak ingin terlalu memojokkan subjek si perokok. Karena bagian itu saya pikir sudah cukup banyak “invisible hands” untuk menggerakkan hati mereka untuk tidak merokok. Nah, yang menjadi entry point saya di sini adalah perusahaan rokok dimana pun mereka beroperasi.

Hei, anda! Saya tidak kenal anda, latar belakang anda, jumlah kekayaan Anda, dan apakah hari ini Anda sudah makan atau belum. Saya tidak peduli itu. Saya, seorang manusia yang ingin menyatakan petisi kepada saudara.  Ah, apalah namanya. Dekrit, maklumat, gugatan, atau apa pun itu.

Saya yakin, Anda masih memiliki perasaan? Benar? Ya, pasti! Saya ingin menggugah rasa kemanusiaan Anda untuk menghentikan tindakan bodoh Anda dengan memproduksi tembakau menjadi rokok. Saya sangat heran, mengapa Anda sebagai manusia sangat tega membunuh jutaan umat manusia secara perlahan? Anda merasa tidak salah? Ah, Anda benar-benar keterlaluan. Ini konyol dan memalukan jika Anda tidak beritikad baik untuk menghentikan langkah sistemik yang telah Anda desain untuk memusnahkan manusia. Tapi jika Anda tidak terketuk hatinya, saya tidak akan menyesal. Karena saya tidak akan pernah rugi. Andalah yang paling rugi dan menyedihkan suatu saat.

Anda seperti mengkalungkan bom waktu di leher Anda. Bom waktu yang tanpa kita prediksi bisa meledak kapanpun, dan dimana pun. Saya percaya dengan hukum refleksitifitas dalam kehidupan manusia. Siapa yang berbuat buruk, maka ia sendiri akan menuai benih kecelakaan. Maka tuan, dalam kerendahan hati, saya memohon kepada Anda untuk menghentikan operasi idiot ini. Plis, saya sangat memohon kepada Anda.

Satu hal yang sangat saya bingung adalah, mengapa banyak orang yang ketagihan mengisap barang haram itu? Sebetulnya, ketika SD, saya pernah mencoba mengisap rokok. Dan rasanya sangat tidak enak. Pernah juga saya mengisap rokok ketika kamping bersama teman-teman saya. Dan saya katakan secara tegas, rokok itu sangat memuakkan.

Saya sangat geram dengan iklan rokok yang seakan-akan merepresentasi para perokok laki-laki sebagai sosok laki-laki yang keren, tangguh, dewasa, dan sangat LAKI! Hei, open your mind, bro! Laki itu adalah, ketika saya dan kalian mampu memilih dan memilah hal yang paling tepat dan rasional untuk kalian kerjakan, kalian sukai, dan kalian konsumsi. Dan rokok, hanyalah pilihan untuk laki-laki yang papah, tidak punya kepribadian, dan tidak punya integritas.

Hanya karena tidak enak dengan teman sejawat dan rekan bisnis, Anda menghunus paru-paru sendiri. Hanya karena mengikuti trend, Anda membakar uang Anda dengan percuma. Dan hanya karena iklan, Anda begitu mudah dihipnotis untuk mencitrakan diri sebagai sosok yang hebat. Hello?

Saya sangat yakin, berhenti merokok itu sangatlah mudah. Asalkan, Anda memiliki tekad, kemauan, komitmen, dan semangat untuk menghargai apa yang telah Tuhan titipkan pada Anda yaitu kesehatan. Maka tidak ada lagi alasan, “Ah, saya sudah mencoba. Tapi ada saja godaannya.” Bla-bla-bla. Its just excuse!

Saya banyak menjumpai orang-orang di sekitar saya yang pada akhirnya berhenti rokok. Contoh yang paling dekat adalah Papa saya sendiri. Beliau (54 tahun) dulunya adalah seorang perokok yang addict. Kebiasaan merokok papa saya dimulai sejak beliau sekolah. Anda tentu sudah bisa menebak, siapa yang menjadikannya perokok. Ya, teman-teman dan lingkungannya. Namun, bersyukur kebiasaan merokok papa saya berhenti beberapa tahun yang lalu. Saya sendiri cukup kaget mendengar berita baik dari mama yang mengatakan kalau Papa sudah tidak lagi merokok. Dalam hati saya lega. Akhirnya ikhtiar saya untuk menjauhkan barang haram itu akhirnya membuahkan hasil.

Image

Dulu, sewaktu saya masih tinggal bersama orang tua, saya sering sekali melalukan pergerakan untuk menjauhkan Papa dari rokok dan menghapus memori beliau tentang rokok. Hal sederhana yang saya lakukan adalah dengan menyembunyikan asbak rokok papa. Mungkin terkesan nakal. Tapi apa boleh buat. Yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah melakukan kenakalan itu. Jika Papa meminta saya untuk membelikan rokok, saya punya seribu satu alasan untuk menolak dengan cara baik hingga akhirnya papa mengurungkan niatnya untuk membeli rokok. Pergerakan sederhana itu seringkali menimbulkan perdebatan antara saya dan papa. Tapi saya tidak ketir dan putus asa. Saya yakin, suatu saat papa akan berhenti merok. Hingga akhirnya pun usaha dan kemauan papa berbuah hasil. Papa lolos menjadi pemenang.

Dan saya yakin, cerita sukses papa saya untuk berhenti merokok juga banyak  dialami oleh orang-orang hebat di luar sana.

Di Indonesia, ketika ada diskursus upaya pembekuan pabrik tembakau bergulir, banyak pihak yang meradang. Terutama para penganut paham utopis yang menuding petani tembakau adalah subjek yang paling menderita jika diskursus itu benar-benar terjadi. Dengan dalih hilangnya lapangan kerja, perusahaan rokok digadang-gadang sebagai pahlawan ekonomi Indonesia. Jelas, ini benar-benar konspirasi. Media pun turut-turut membuntut dengan kepentingan pemangku kuasa yang berduit. Pemerintah? Cukup duduk manis menonton kemelut takberkesudahan dengan sekali-kali memberikan komentar. Ah, payah!

Image

Saya perlu tekankan bahwa aktor penentu untuk menyudahi konspirasi ini adalah pemerintah. Ya, jika saja pemerintah lebih cerdas dan berkemanusiaan, saya yakin pemerintah akan menggulirkan kebijakan yang pro kepada kemanusiaan. Tapi sekarang, kebijakan yang dikeluarkan layaknya seperti permen karet. Manis sejenak, kemudian dibuang.

Sebetulnya jelas, bahwa tugas menyejahteraan masyarakat adalah tugas utama pemerintah. Jika saja kebijakan yang diambil secara tepat, saya pikir sudah saatnya kita berdiri untuk memberikan tepuk tangan meriah untuk pemerintah. Jika tidak, ya memang seperti itulah yang bisa biasa mereka lakukan. Miris.

Tembakau selama ini memang diidentik sebagai bahan baku untuk memproduksi salah. Padahal sebetulnya tembakau memilik multi manfaat seperti anti kanker, obat luka, anti radang, dan lain sebagainya. Jadi, sudah saatnya tembakau dialihfungsikan sebagai tanaman yang diperuntukkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Stop rokok sekarang juga! 

Jakarta, 9rd March  2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s