Kasihku, Tiuplah Dandelion Itu Untukku


Jakarta, 7 March 2012

Image

Kasihku, petang ini kulihat kembali kau menari-nari di hamparan savana itu. Ah, tempat itu memang sangat mengesankan untuk kita. Di savana hijau yang luas itu, dulu kita pertama kali bertemu. Saat itu, kau tampak sungkan berkenalan denganku. Kau terlalu asik dengan duniamu. Seakan aku tidak berada di situ. Aku pun penasaran dan mengusik kesenanganmu. Tapi takjua kau hiraukan. Hingga akhirnya pun aku hanya bisa memandang diam. Duduk manis memerhatikanmu dengan seksama.

Kasihku, tahukah kamu; Aku seperti menonton suguhan tari balet termegah sedunia. Dan penarinya kamu. Ya, kamu. Kamu menari dengan sangat indah. Ke kiri, ke kanan, memutar, dan kau pun takjarang melemparkan senyum padaku. Duh, bisa saja kamu membuat pipiku memerah. Aku pikir, kau penari balet terbaik yang pernah kutemui. Bahkan kau mengalahkan penari-penari yang biasa tampil di teater Paris. 

Masa?

Iya, aku berkata itu jujur. Tidak ada maksud membohongimu. Tapi sayang, tidak ada musik klasik yang menemanimu. Apakah harus kuputar lagu dari Bethoven, Kitaro, Yiruma, atau apa? 

Tidak, tidak usah!

Mengapa? Rasanya tidak lengkap tanpa ada iringan musik klasik. Aku pikir, suasana petang ini jauh lebih akan romantis. Ah ya, jika kamu tidak mau, bagaimana jika aku saja yang bernyanyi. Mau?

Boleh!

“La..La…La..La…La…” Bagaimana? Apakah kau suka dengan suaraku? Memang, suaraku tidak seindah suara kicauan burung di pegunungan Himalaya sih. Tapi kupikir, suaraku cukup merdu. 

Bagus.

Baiklah, petang ini, kita akan menampilkan atraksi yang memukau dunia. Ah, tapi aku malu. Kau begitu cantik. Apalagi dengan gaun berwarna gold itu. Terlihat sangat kontras dengan hijaunya alam ini. Dan di atas kita, ada semburat cahaya mentari menyorot langsung pertunjukan ini. Benar-benar seperti pertunjukkan yang sangat luar biasa. Bagaimana pendapatmu?

Iya.

***

Kasihku, 

Hari ini kau tidak menari lagi seperi masa itu. Tapi kau berlari-lari. Ke kiri, ke kanan, dan memutar. Apakah itu salah satu tarian? 

Tidak.

Lantas apa? Apakah kau ketakutan?

Tidak.

Aku semakin bingung dengan sikapmu belakangan ini. Rasa-rasanya, ada yang kau sembunyikan dariku. Kau tidak semesra dahulu. Tuturmu juga tidak selembut pertama kali kita bertemu. Bahkan tatapanmu, seakan sinis penuh benci padaku. 

Kasihku, apa salahku padamu? Katakanlah, agar aku bisa memperbaiki diriku. Menjadi terbaik seperti yang kau mau. Aku ingin petang ini kita menari lagi seperi masa itu. Aku mohon padamu. 

Kasihku, kau terus berlari. Hingga aku kesulitan mengejarmu. Mentari kian merangkak menuju senja. Burung-burung camar pun bergegas kembali pulang. Sementara, kumbang-kumbang di savana ini pun perlahan juga pergi dari pepucuk seruni. Ada apa dengan kalian?

Dan liat, dandelion itu kini sudah tumbuh mekar mendewasa. Seingatku, dulu mereka masih sangat belia. Kini, mahkota putihnya sempurna. Aku ingin mengulang lagi kisah kita, kasihku. Bersamamu, kita tiup  lagi kuncup dandelion itu. 

Kasihku, tiuplah dandelion itu untukku. Kumohon sekali ini saja. Biarkan aku menikmati keindahan di sisi kuncup yang terbang mengangkasa. Aku ingin meminta satu permohonan. Dan itu saja yang kumau. 

Dandelion kasihku,

Petang ini aku mengikhlaskan kepergianmu dari sisi terbaikku. Terbanglah kalian bersama cinta dan kebaikan kasih kita. Mungkin suatu saat aku akan bisa mengulangi kembali masa indah dulu. 

4 thoughts on “Kasihku, Tiuplah Dandelion Itu Untukku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s