Nostalgi(L)a: Celetukan Anak Cerdas!


Jakarta, 02 March 2012 (2: 08 AM)

Image

Hei kamu! Pasti sudah tidak sabar menunggu postingan saya di hari kedua di bulan Maret ini kan? Hayo ngaku?! Ga usah malu-malu. Ha2x. *alay nampol!

Oceh, siang ini di Jakarta agak gerah ya? Padahal tadi sempat turun hujan. Woy, anak hebat ga boleh ngeluh? “Tos dulu ah biar kompak. 

Hai-hai-hai kali ini saya mau posting celetukan-celetukan saya inget ketika masih kecil. Saat dimana saya masih unyu-unyu-nya🙂 Mungkinkah karena saya memang unyu, saya dipanggil oleh my big family dengan panggilan “Si Munyu”. Oha, itu panggilan yang tidak LAKI! sekali. Huh, hup-hup-hup.

Gara-gara mikirin masa kecil yang sangat memories, cielah memories. Gaya beuuddd (Nuny Style). Saya jadi sedikit tidak fokus pada sholat Jum’at tadi. Ya Allah, maafkan hamba-Mu yang nakal ini. Amiin.

Oke, saya belum ingat banyak sih. Mendadak pas depan si Tochi, saya amnesia. “Hah? Siapa saya? Kamu? Kamu siapa? Saya dimana? Ah tidaakkk. Mana tongkat sihir saya?” Grrr, korban imajinasi yang berlebihan -.-“

Ha2x.. Saya kadang tidak bisa mengontrol imajinasi yang terbang kemana-mana. Inilah susahnya menjadi pengidap sanguinis, melankolis, dan koleris. Semuanya dicampur aduk jadi gado-gado.

Oke, dari pada bengong ga karuan, berikut penelusuran tim investigasi otak cerdas saya:

Part 1:

Sewaktu SD, saya memiliki kebiasaan unik. Oh, salah! Bukan unik, tapi kebiasaan aneh. Saya suka menulis pesan singkat menggugah di uang lembar pecahan 100, 500, 1000 rupiah. Isinya, “Barang siapa yang menemukan uang ini, sudilah kiranya untuk mengembalikan kepada pemiliknya. Terima kasih saya haturkan.” Rupanya sekarang saya baru paham, kenapa uang-uang keren itu tidak pernah kembali ke tangan saya. Rupanya saya lupa mencantumkan nomer hanphone, akun facebook dan twitter. Hah, payah. Huppp -.-“

***

Part 2:

Suatu ketika di sebuah rumah yang sangat Indah seorang anak kecil berumur delapan tahun dan ibunya sedang duduk di beranda rumahnya. Tiba-tiba gemuruh terdengar hingga radius 5 kilo meter dari permukaan langit. Halah, apa pula itu. 

Tiba-tiba kilat pun menampakkan ke-eksis-annya di depan anak dan ibu itu. Si anak yang lucu dan tampan itu berujar pada ibunya,

“Ma..Ma, Ma,Ma.. Ko langit seenaknya ya moto kita tanpa ijin?” tanya anak itu (polos atau bego).

“Iya ya, ga minta ijin dulu. Ya udah, kalo gitu kita siap-siap.” Imbuh mamanya.

“Siap-siap buat apa Ma?”

“Siap-siap berpose keren ya?!”

“Oke mamah,” jawab anak itu mantap.

satu-dua-tiga. Tiba-tiba kilat pun nongol…

*Cherrssss :) 

“Ma, kapan jadi fotonya?” tanya anak itu penasaran.

“Oh ya? Kapan ya? Mama juga ga tau?!”

“Oh, mungkin ntar fotonya dikasih pas kita di syurga ya, Ma?!”

“Iyaa, sayaang.” *mama itu pun memeluk anak laki-laki yang cerdas itu.

#Sumpah, bukan saya. Ha2x.

***

Part 3: 

Pada malam harinya, si anak yang cerdas itu pun kembali duduk-duduk di beranda rumahnya. Tapi kali ini bukan sama Mamanya. Tapi bersama Papanya.

Malam itu mati lampu. Kota tempat mereka tinggal seperti kota mati. Seakan-akan jutaan zombi menyergap dari berbagai sisi tidak terduga. Si anak cerdas itu pucat pasi karena tiba-tiba mendengar ada yang tertawa, “Hi..hi..hi…hi”

Kemudian si anak cerdas itu bertanya pada Papanya, 

“Pa, pa,pa, paaa itu suara ketawa siapa? Ko suaranya tidak seindah suara Maissy?”

“Mana? Papa ga denger?!”

“Masa sih, Pa?”

“Ah Papa kupingnya tidak keren. Gini Pa suaranya, “Hihihihi..”

“Oh itu suara hantu kali? Atau suara zombie? Atau.. Hihihi.. Adek takut ga?”

“Ga dong, Pa! Adee kan punya Kamen Rider?! Pasti ntar setannya kalah deh.”

Papa: #Azzz 

(Sumber: ini baru rekayasa saya)

***

Part 4:

Saking fansnya saya sama Kamen Rider yang konon katanya anak matahari, saya pun jadi penasaran untuk mendalami karakternya.

Dalam hati: “Ya Allah, mudah2an ade bisa jadi Kamen Rider. Amin.”

Suatu hari di siang terik yang sangat terik. Saya memandang matahari yang sangat sangar dan panas. Nanar saya tatap lekat. Dan akhirnya saya pun bisa melihat bentuk matahari – si bintang bulat sempurna- bentuknya seperti obat INZANA rasa jeruk. Tapi warnanya bukan oranye. Melainkan biru telur bebek.

Beberapa tahun kemudian,

“Mamaaaa.. Mata ade sakit.”

“Kenapa?” 

“Iya soalnya adee selalu nantang matahari.” (jawaban yang bodoh)

“Kamu sih, nanti mata adee bisa buta lo?!” ungkit mamanya.

“Ga mauuuu.. Adee ga mauu butaa. Nanti ade temennya Si Monyet Dari Gua Hantu dong!”

#Cerita asli, tapi agak diimprovisasi, he2x🙂 Hup, gara-gara si Belalang Tempur nih, sekarang saya jadi pake kacamata. Adakah one day without a glasses? 

***

Cukup sekian ya, jika ada sumur di ladang, boleh nanti kita makan semangka *apadeh

End Part:
Saya berdoa khusyu’ dan penuh kedamaian.
“Ya Allah Yang Maha Baik, Engkau Maha Pemurah. Aku ingin uang 5000 sekarang ya Allah. Turunkanlah dari langit” (Doa anak cerdas).

2 thoughts on “Nostalgi(L)a: Celetukan Anak Cerdas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s