Like a Mountaineer


Jakarta, 1rd March 2012
5:21 AM

senjaPELANGI, tahukah kau bahwa hidup yang kita jalani sekarang layaknya seperti mendaki gunung.

Lead my feet

Tidak ada yang memaksa kita untuk menaklukkan puncak-puncak gunung di semesta ini. Ada yang lebih dari 2000 dpl atau bahkan lebih. Namun, ada saja yang tertarik untuk mengadu nyali dan berkompromi untuk mengucap syukur di puncak ketinggian. Sejatinya hidup yang dijalani ini pun sama. Tidak ada yang memaksa kita untuk memilih ini dan itu. Namun ketahuilah, bahwa kau takusah cemas dengan kemungkinan buruk yang terjadi di hari esok. Nikmatilah hari ini. Syukurilah hidupmu dan tetaplah mengangkasa ke langit luas.

Mendaki gunung, sama halnya dengan kita melawan diri kita sendiri. Kerap kali khawatir menyergap batin kita untuk kemudian menghentikan langkah kita. Bahkan kita harus beradu argumen dengan kata hati yang maunya entah apa. Namun kau harus terus melangkah. Karena kau sudah menapaki satu langkah untuk langkah berikutnya.

Dengarlah, kawanmu selalu berteriak, “Puncaknya sebentar lagi”. Dan itu terus diulang hingga kau lupa berapa kali ia meneriakkan kalimat itu. Namun kau yakin, sebentar lagi. Ya, sebentar lagi.

Atau terkadang, kau nyaris terjatuh ke jurang yang cukup dalam karena jalanan setapak yang kecil, licin, dan berbatu.
Jalan yang kau tempuh tidaklah semulus jalan tol Cipularang. Atau mungkin, kau menyesal untuk melangkahkan kaki, menaiki gunung itu. Tapi kau tidak bisa mundur. Karena mundur hanyalah milik para pecundang. Dan kau, bukan seorang pecundang. Kau pemenang, kau kuat, dan kau hebat. Percayalah itu.

Mendaki gunung membuat napasmu terengah-engah. Cucuran keringat mengalir dari ujung rambut hingga kakimu. Gerah? Tentu! Belum lagi kau harus mencuri-curi agar oksigen bisa tetap masuk ke dalam paru-parumu. Atau bahkan, sakitnya jatuh tidak terasa lagi karena terlalu sering. Biarkanlah kau jatuh. Itu artinya kau harus bangkit. Bangkit dan terus bangkit.

Lupakan lelahmu. Lupakan kesal dan kepapahanmu.

Lihat, ada lukisan Tuhan terbentang di sisi terindah bumi ini. Di depanmu, pepohonan cemara tegap berdiri menyambutmu. Di sampingmu, ada ilalang riang menari. Di belakangmu, terbentang pada rumput yang luas, dan di atasmu, langit luas menjadi pelindungmu.

Hiruplah napas ini dalam-dalam. Rasakanlah syukurmu pada Tuhan. Dan tersenyumlah.

Dan aku memberikan kejutan terindah untukmu. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi kau akan melihat dunia yang sangat luas dari pucuk ketinggian. Dan kau akan berkata, “Aku pemenang, terima kasih Tuhan.”

*Edisi menyemangati diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s