Analog, Bukan Digital!


Jakarta, 06 Januari 2011

Detik belajar merangkak. Menit belajar berjalan. Jam tidak lagi belajar. Ia sudah mampu berlari. Tidak kencang memang, namun langkahnya pasti. Seringkali larian kecilnya itu takdihiraukan. Sering kali tanpa sadar sepasang mata mawas diri. Namun tidak banyak. Tidak banyak yang paham betul bahwa ia adalah segalanya. Kini, ia semakin memacu kemudi. Meninggalkan orang-orang yang payah dan lemah.

Malam ini, bulan menari anggun di garis tata surya. Sementara bumi dalam diam, tersipu malu. Tanpa malu pun ia larut dalam alunan syair semesta. Mentari pun semakin bergairah menabuh gendang. Dan planet-planet lainnya pun ikut menari. Berputar, bertatapan, dan saling menjauh. Mereka Nampak bosan, sudah terlalu sering bertemu pada posisi yang sama. Bedanya, dulu, kini, dan esok.

Ini sebuah konsepsi yang percaya pada suatu keniscayaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s