Awas, ada jambret!


Jakarta, 26 Desember 2011

Sumber: Beny and Mice

Hari ini bertepatan dengan tujuh tahun pasca tsunami di Aceh. Tapi kali ini saya bukan menulis tentang tsunami atau tentang kondisi di Aceh. Tidak! Tidak sama sekali. Saya ingin menulis true story yang dihimpun langsung dari pengalaman saya sebagai manusia petualanga. Ya, begitulah orang keren selalu punya cara mengungkapan gagasannya. Baiklah, saya tidak akan berlama-lama. Anda pasti sudah tidak sabaran menunggu ulasan sesuai dengan judul di atas.

Yap, kali ini saya akan mengulas tentang salah satu tindakan kriminal yang cukup populer di Indonesia selain tindakan kriminal lain seperti korupsi, dkk.

Sore itu, sekitar pukul 17.30 saya pulang dari Bekasi ke Jakarta menggunakan bis yang distop di pintu tol Timur Bekasi. Oh ya lupa, saya belum menceritakan mengapa saya dari Bekasi ya? Ok, tenang-tenang saya akan ceritakan. Jadi, pada hari itu, kalau tidak salah hari Minggu saya bersama keluarga Bangkiters reunian di rumah Kang Gena dan Teh Indri. Saat itu yang hadir tidak banyak. Ya, seperti biasa. Ada saya (selalu), kang Fiqih, teh Wenti, teh Eka, kang Gena, teh Indri, dan kang Hassan (selaku anggota kehormatan KELUARGA KEBANGKITAN).

Ok, acaranya seperti biasa. Makan-makan, ngobrol, foto-foto, dan tentu saja menengok tiga ponakan Bangkiters yang sangat lucu yaitu Nahya, Nayla, dan Amira. Kalau boleh saya bilang, nama anak-anak teh Indri & kang Gena; teh Eka & kang Fiqih seperti judul sinetron. Entahlah, mungkin suatu saat mereka akan menjadi aktris menggantikan Asmirandah dan Marshanda dengan judul sinetron Nahya, Nayla, dan Amira. Kita tunggu saja. selesai (cool ;P)

Nah, kembali ke cerita utama tentang jambret.

Bisa Anda bayangkan kondisi bis yang saya tumpangi?

Anda (sedang membayangkan): “Ya, bis-nya besar dan ber-Ac”

Heoks, Anda salah besar. Bis yang saya tumpangi sama halnya dengan kebanyakan bis jurusan Pulo Gadung – Bekasi. Sempit, tua, dan penumpangnya sangat padat. Padahal penumpangnya sudah sangat padat. Tapi masih saja dipaksa masuk. Jadilah para penumpang seperti ikan sarden yang ditumpuk di dalam kaleng. Yeah, ini realitas. Tapi harus bersyukur dan tersenyum :p

Hidup dan tinggal di kota besar seperti Jakarta memang berbeda dengan di Bandung.
Bandung memang sangat nyaman. Jika ingin kemana-mana, tidak usah khawatir akan berdesak-desakkan di bis karena banyak angkot yang berseliweran dimana-mana. Satu lagi, karena Bandung memiliki suhu udara yang cukup rendah dibandingkan Jakarta, jadi penumpang transportasi publik tidak akan terlalu kepanasan di dalam angkot/damri. Selain itu, keamanan dan kenyamanan penumpang angkot/damri di Bandung jauh lebih tergaransi dibandingkan Jakarta. Mungkin karena warga di Bandung lebih sopan karena nilai-nilai lokal yang masih kentara.

Nah, jika Anda di Jakarta, jangan harapkan kondisi di Bandung bisa Anda rasakan di sini. Apalagi jika Anda menggunakan transportasi publik seperti bis. Oh ya sampai lupa, kita kembali ke topik bahasan kita tentang jambret ya.

Perjalanan dari Bekasi ke Jakarta (Pulo Gadung) tidak terlalu lama. Ya, sekitar 45 menit menggunakan jalan tol. Setelah bisa keluar gerbang tol, penumpang pun turun satu persatu. Akhirnya, saya yang keren ini diberi juga kesemapatan duduk di kursi paling belakang.

Yeaaah, alhamdulillah.

Nah, tiba-tiba konsentrasi saya pecah. Ada penumpang yang mencurigakan duduk di sebelah saya. Seorang pemuda yang kemungkinan sepantaran dengan saya. Pemuda itu memakai kaos, celana jeans, dan sepatu kets. Sepintas jika tidak diamati secara fokus, penampilan pemuda itu layaknya seorang mahasiswa yang baru pulang kuliah. Tapi apa iya ya, kan hari Minggu?

Entahlah, bawaan saya saat itu was-was mendekati su’udzhon. Mau bagaimana lagi./ Soalnya gerakan dan bahasa tubuh pemuda itu sangat mencurigakan. Sebagai anak linguistik, saya tidak hanya paham komunikasi verbal. Tapi juga komunikasi nonverbal.

Kecurigaan saya menjadi-jadi saat kedua tangan itu muncul dari bawah tas yang ia pangku di dadanya. Ketika ada penumpang yang turun, ia memainkan sepasang tangannya untuk menggapai benda di saku atau tas penumpang.

Oh my ghost, ternyata benar kecurigaan saya. Dia seorang penjambret. “Duh, gw harus ekstra hati-hati. Dompet? Handphone? Saya cek. Alhamdulillah masih ada di saku depan. Akhirnya saya selalu pantau aktivitas pemuda ini. Dan Anda tahu, ternyata bocah ini tidak sendirian. Tetapi ada juga temannya yang beraksi di wilayah bagian depan.

Siapa target pemuda ini selanjutnya? Ah, tidak! Nampaknya saya menjadi incaran. Akhirnya saya pun memasang wajah galak dan jutek sembari melihat secara tajam pada pemuda itu. Dia pun terlihat kasak-kusuk dan akhirnya pindah ke depan.

Singkat cerita, tujuan Pulo Gadung sebentar lagi. Si pemuda mencurigakan dan temannya itu akhirnya pun turun. Saat itu juga banyak penumpang yang turun di daerah Cakung. Dan Anda tahu sahabat senjapelangi, ternyata resleting tas saya sudah kebuka. Oh, ternyata saat berdesak-desakkan turun ia beraksi.

Tapi alhamdulillah, saya tidak kehilangan barang apa pun. Alhamdulillah ya Allah.

“Buaya dikadalin,” umpat saya dalam hati.

Tiba-tiba, penumpang wanita yang duduk di sebelah saya berkata,

“Gak kena kan mas?”
“Alhamdulillah ga mba. Terima kasih”

“Dari tadi udah banyak yang kena,” lanjut si mba penumpang.
“Oh ya? Pantesan. Dari tadi saya sudah curiga.”

-selesai-

Hikmah yang saya dapat hari itu dan langsung saya forward ke teman-teman.

“KEJAHATAN TERJADI BUKAN HANYA KARENA ADA NIAT PELAKU. TAPI JUGA KARENA ADA KESEMPATAN. WASPADALAH-WASPADALAH!!”

-by: Bang Napi

2 thoughts on “Awas, ada jambret!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s