MEREKA, YANG MENUNGGU WAKTU DI RUMAH PASRAH


Dan Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (QS. Yasin: 68)

I Love Grandma

Suatu hari pada bulan Ramadhan 2011. Saya diajak oleh teman-teman saya untuk berkunjung ke salah satu panti jompo di kota Bandung. Saya sudah lupa kapan persis waktunya. Namun seingat saya, kunjungan tersebut beberapa hari menjelang lebaran. Bagi saya pribadi, ini adalah pengalaman pertama saya. Saya belum pernah sama sekali berkunjung ke panti jompo. Saya pun tidak tahu bagaimana kondisi di sana. Kendati potret kehidupan di panti jompo sudah pernah saya saksikan di televisi atau pun pernah saya baca di majalah.

Miris dan menyedihkan. Begitulah frasa yang tepat untuk mendeskripsikan rumah tak diharapkan itu.

Alhamdulillah, Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar dan meraup hikmah dari perjalanan spiritual tersebut. Rasanya sudah lama sekali hati saya tidak tersentuh. Ah, naudzubillah. Semoga pintu hati saya tidak ditutup oleh Allah dari hikmah dan kebaikan. Amiin.

Sesampai di sana, kami pun disambut hangat oleh salah seorang petugas yang saya lupa untuk menanyakan namanya. Sesekali senyuman sumringah wanita separuh baya itu menyiratkan pesan bahwa ia sangat berterima kasih atas kehadiran kami.

Kami pun bergegas mempersiapkan segala sesuatunya untuk persiapan ifthor bersama. Ada yang sibuk dengan konsumsi, ada yang sibuk dengan dokumentasi, dan saya pun sibuk sebagai pengamat yang baik.

Menurut cerita teman saya, sebut saja namanya Are, pada tahun kemaren jumlah penghuni di panti jompo ini lebih banyak dibandingkan tahun sekarang. Tahun kemaren, rumah ini tidak hanya dihuni oleh oma-oma. Tapi juga dari kalangan opa-opa. Namun, waktu menjawab sudah. Opa-opa tersebut telah meregang nyawa, dan ruhnya telah terangkat ke haribaan Ilahi.

Sontak ketika mendengar cerita dari Are, dada saya terasa sesak. Butiran air mata telah mengkristal di penghujung mata. Ingin sekali meneteskannya walau hanya sedikit. Namun entah mengapa seolah tertahan di antara rasa malu dan ketidakberdayaan.

Kau tahu kawan, tidak ada yang spesial di rumah ini. Rumah tua ini dibangun di atas tanah yang tidak terlalu luas dengan corak gedung sangat kental Belanda. Rasanya rumah ini begitu memilukan. Dan saya tidak habis pikir, mengapa oma-oma tersebut bisa betah tinggal di sini. Apakah karena memang tidak ada pilihan lagi atau karena rumah inilah yang satu-satunya mau menampung mereka? Wallahu’alam.

Pun demikian, saya berterima kasih kepada Dinas Sosial yang masih berbaik hati memberikan fasilitas kepada mereka yang menghabisi usia dengan menunggu giliran yang tidak pasti.

Seingat saya, ada sekitar lebih 50 oma-oma yang tinggal di rumah ini. Mereka menghabiskan waktu dengan ragam aktifitas yang bermanfaat. Seperti beribadah, kegiatan rutin panti, dan menerima kunjungan dari tetamu. Namun, menurut saya jika ditanya pada hati mereka yang paling dalam, apakah mereka bahagia? Saya rasa tidak.

Kawan, saya ingin bertanya pada kalian. Orang tua mana yang pernah bermimpi bahwa kelak di hari tua ia akan dititipkan oleh anak kandungnya sendiri di panti jompo? Orang tua mana yang akan bahagia ketika di hari tuanya ditemani oleh kesepian dan kepapahan? Atau mungkin, saya ingin bertanya, orang tua mana yang terima bahwa hari-hari tuanya di habiskan di pembaringan yang dingin? Saya ingin bertanya, siapa orang tua yang mau seperti itu?

Entahlah, rasanya saya begitu dikuasai emosi ketika menulis tentang mereka yang tinggal di rumah pasrah ini. Betapa tidak, sisi kemanusiaan kita sangat dipertaruhkan ketika melihat potret semacam ini. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga saya tidak seperti anak-anak mereka. Yang begitu mudahnya menyia-nyiakan orang tua mereka hanya karena faktor kesibukan, keangkuhan, rasa malu, atau apa pun alasannya.

Menurut penuturan salah seorang oma yang saya ajak ngobrol, beliau mengaku sudah cukup lama dititipkan keluarganya di panti jompo ini. Oma tersebut berasal dari salah satu daerah di provinsi Jawa Tengah. Sejak dititipkan di panti jompo, jarang sekali keluarganya datang untuk menjenguk. Boro-boro menjenguk, menelepon untuk menanyakan kabar pun jarang. Si oma mengatakan bahwa beliau pernah diajak kembali oleh salah satu anggota keluarganya untuk tinggal bersama kembali. Namun si oma menolaknya. Saya tidak tahu apa alasan si oma tersebut menolak tawaran keluarganya. Seingat saya, oma itu hanya berkata, Ndak apa-apa, saya lebih betah tinggal di sini.

Mungkinkah ada permasalahan pelik yang terjadi antara si oma dengan keluarganya. Saya pun tidak berani lancang untuk menanyakan lebih dalam lagi berkaitan kisah hidup si oma itu. Bukan karena apa-apa. Hanya saja saya khawatir membuka lembaran nostalgia yang tidak diharapkan untuk dikenang.

Setelah berdiskusi cukup panjang dengan si oma, kami pun diberi kesempatan untuk berkunjung ke kamar oma-oma lainnya sembari berpamitan. Tidak lupa kami selipkan doa serta memberikan senyuman terbaik kami. Semoga oma-oma di sini selalu dalam keadaan sehat.

Betapa tidak kawan, kondisi oma-oma di sini sangat memprihatinkan. Ada oma yang hanya bisa terbaring di kasur kapuk yang keras lantaran penyakit stroke yang dideritanya. Ada pula oma-oma yang tidak bisa lagi berbicara karena lidahnya yang sudah kelu dan kaku. Namun, tidak sedikit oma-oma yang masih bersemangat untuk mengisi waktu-waktu senggang dengan berbagai aktifitas penuh kebaikan.

Di antara oma-oma penghuni rumah itu, ada seorang oma yang masih terlihat enerjik. Secara kasat mata dapat diperkirakan bahwa usianya sudah lebih dari setengah abad. Tapi dibandingkan oma-oma yang lain, oma ini terlihat lebih bersemangat dan atraktif. Ingatannya terhadap moment-moment penting masih kuat. Terutama ingatan bahwa tahun kemarin, teman-teman saya pernah berkunjung dan berfoto bersama dengan oma ini. Hanya saja, si oma lupa nama-nama teman saya. Mungkin wajar, mengingat usia yang sudah menua, tentu ingatan pun kian melemah. Si oma pun pernah menanyakan hal yang sama berulang kali. Kami pun tidak berkebaratan untuk menjawabnya.

Begitulah kawan, bahwa hidup ini seperti planet-planet yang beredar di tata surya. Ada masa kita berada pada satu titik tertentu dan ada masa kita berada pada titik yang lain. Semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah.

Dulu, kita tidak pernah berpikiran akan lahir ke bumi. Hingga kemudian Allah menakdirkan kita untuk lahir, berkembang, dan pada akhirnya meninggal. Jikalaulah kita berpikir secara mendalam, kita akan paham bahwa hal tersebut merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Pun sama dengan si oma ini. Dulu, beberapa puluh tahun yang lalu ia adalah seorang bayi yang tidak tahu apa-apa, lalu tumbuh berkembang menjadi remaja, dan akhirnya menjadi seperti saat sekarang ini. Siapa yang bisa menebak bahwa di masa tuanya, ia harus menghabiskan waktu-waktu yang terasa singkat di rumah pasrah ini?

Dari garis wajahnya yang sudah lelah, si oma berusaha memberikan sambutan terbaik kepada kami. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang ikhlas. Sesekali tangannya yang sudah mulai gontai berusaha mengambil benda-benda penting untuk diperlihatkan kepada kami. Si oma ingin bercerita. Tentang masa dulu yang hanya bisa dikenang dan dibagi kepada kami. Ah, aku pun berpikir, kapan terakhir kali keluarga si oma mengunjunginya. Pasti si oma rindu teramat dalam kepada keluarganya. Tapi apalah daya. Si oma hanya bisa ikhlas. Seperti halnya oma-oma yang ada di rumah pasrah ini.

Si oma tidak ingin terlihat lemah. Beliau pun berusaha menghibur kami semampu yang ia bisa. Beliau menyanyikan salah satu lagu favoritnya ketika masih muda, yaitu Teluk Bayur. Dengan suara terbata-bata, dengan nada yang takberirama, dengan tempo yang lirih, dan dengan artikulasi yang tidak jelas, si oma pun mendendangkan lagu tersebut untuk kami. Ya, hanya untuk kami.

Mendengar lantunan lagu yang mengalun dari bibir si oma, kami pun terdiam dalam balutan rasa yang mengharu biru. Ah, aku ingin menangis seketika itu. Terima kasih oma karena telah mengajarkan kami bagaimana cara mengeja kata tegar dan sabar.

Setelah bernostalgia dengan si oma ini, kami pun berpamitan untuk mengunjungi oma yang lainnya.

Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah ruangan yang sempit di sebelah kamar mandi. Aku pun mengira-ngira siapa yang menempati ruangan itu. Rasa penasaran pun mulai menguasaiku. Akhirnya langkahku bergegas menuju ruangan itu. Naudzubillah, betapa kagetnya aku saat membaca sebuah tulisan di depan ruangan itu. Tulisan yang membuatku terhenyak. Tulisan yang dicat dengan warna hitam dengan latar putih; Kamar Pasrah.

Kuberanikan membuka ruangan itu. Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing. Aku mencium aroma pesing yang sangat pekat. Dan kau tahu kawan, di dalam ruangan yang menyedihkan itu, ada seorang oma yang terbaring takberdaya. Oma itu terlihat sangat lemah. Rambutnya sudah memutih karena waktu dan badannya pun telah ringkih karena kepapahan. Ketika aku dan teman-teman menghampirinya, si oma pun menatap lekat kami. Dari sorot matanya, si oma ingin berkata sesuatu pada kami. Tapi entah mengapa, seolah klausa yang pikirkan oleh otaknya tertahan karena pita suara yang tidak bersahabat. Si oma terus berusaha berucap, namun taksatu katapun yang kami dengar.

Melihat kondisi yang menyedihkan seperti itu, siapa pun pasti akan terenyuh. Tanpa kami sadari, air mata pun menetes perlahan, menggenangi bagian bawah mata kami. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami pun tidak mengerti dengan isyarat yang ingin disampaikan si oma. Yang bisa kami lakukan hanyalah membalas tatapan sendu si oma dengan senyuman yang tulus. Kami berharap bisa mengirimkan energi positif untuk si oma, itu saja. Agar si oma tidak merasa sendiri. Dan maaf, hanya itu yang mampu kami perbuat.

Kamar pasrah, konon katanya kamar itu diperuntukan bagi penghuni panti jompo yang tinggal menunggu waktu. Mungkin hanya beberapa minggu berselang, kamar itu pun dihuni oleh penghuni lain. Begitulah siklus yang terjadi di kamar pasrah. Dan melihat potret yang memilukan itu, aku hanya bisa mengelus dada dan menyeka air mata. Astaghfirullah, semoga Allah membukakan pintu hati anak yang dengan angkuhnya menitipkan orang tuanya di rumah pasrah ini. Amin.

Dan pada akhirnya di penghujung tulisan ini aku memetik hikmah. Bahwa bukan karena kita muda bisa semena-mena merendahkan yang lansia, terlebih bila mereka orang tua kita. Sebab kita bisa memilih untuk berbuat baik, menyayangi dengan sepenuh hati orang-orang tua kita. Sebagaimana bila kita adalah orang tua, kita bisa memilih untuk hanya berdoa yang baik untuk anak-anak kita. Maka pada diri orang-orang di sekitar kita, seharusnya ada tempat kita menatap diri kita sendiri.

Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang. Dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dalam kematian yang akan tiba-tiba datang. (Ibnu Mas’ul ra).

Jatinangor, 20 Oktober 2011, pukul 23: 54 WIB

2 thoughts on “MEREKA, YANG MENUNGGU WAKTU DI RUMAH PASRAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s