Di Balik Kesuksesan Film Tjoet Nja Dhien


Film Njoet Nja’ Dhien yang diproduksi oleh Kanta Film pada tahun 1988 menyabet delapan piala citra. Salah satunya yaitu pemeran wanita terbaik yang diperankan oleh Christine Hakim. Lantas, apa alasan dari juri piala citra menganugrahkan Christine Hakim sebagai pemeran wanita terbaik dalam film Njoet Nja’ Dhien tersebut?

Pada tulisan ini, penulis akan memaparkan mengapa Christine Hakim bisa menjadi pemeran wanita terbaik dalam film Njoet Nja’ Dhien. Analisis yang digunakan penulis berdasarkan perhatian penulis setelah menyaksikan film yang hingga saat ini masih populer di kalangan masyarakat Indonesia. Film tersebut merupakan film kolosal yang diangkat dari kisah seorang pahlawan wanita yang berasal dari Serambi Mekah, Aceh.

Tentunya, siapa yang tidak mengenal sosok wanita tersebut. Namanya sangat menyejarah dalam perjuangan masyarakat Indonesia dalam mengusir penjajah Belanda, terutama bagi masyarakat aceh. Jika menelisik sejarah, penjajah Belanda atas Indonesia berlangsung selama kurun waktu 350 tahun. Itu merupakan waktu yang terlama dibandingkan pendudukan pada masa Jepang atau masa Portugis. Lantas sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa mesti mengangkat napak tilas perjuangan Njoet Nja’ Dhien? Bukankah masih banyak tokoh pejuang wanita yang juga turut berperan andil dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Sebut saja Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan sebagainya. Namun sutradara dalam film ini nampaknya teliti untuk membuat sebuah film yang disukai oleh peminat film Indonesia.

Sutradara film ini tidak main-main untuk menentukan tema film dan siapa yang akan memainkan tokoh-tokoh dalam film ini. Aceh, diakui Belanda sebagai daerah yang cukup sulit untuk ditakluki. Pasalnya, masyarakat Aceh merupakan pejuang yang tangguh dan memiliki strategi perang yang rapi. Oleh sebab itu, dalam sejarah ditulis bagaimana kerepotannya Belanda untuk merebut daerah-daerah yang ada di Aceh. Salah satu pejuang yang tangguh yang ada di Aceh yaitu Teuku Umar. Beliau merupakan panglima perang Aceh yang memiliki prajurit perang yang handal dan tangguh. Selain itu, Teuku Umar dikenal sebagai pemimpin yang cerdik dalam mengatur strategi perang. Banyak serdadu-serdadu Belanda yang tewas karena pukulan pasukan Teuku Umar.

Pihak Belanda pun dibuat geram oleh Teuku Umar beserta pasukannya. Sehingga, Belanda dan sekutunya menyusun siasat bagaimana membunuh Teuku Umar dengan cara dan waktu yang tidak terduga. Saat itu, Teuku Umar dan pasukannya tengah bergerilya untuk menyusuri hutan untuk memerangi Belanda dan pengkhianat-pengkhianat bangsa. Namun, Belanda pun telah bersiap siaga untuk meluncurkan timah panas dan meluncur tepat ke dada Teuku Umar. Dengan beberapa kali tembakan, akhirnya Teuku Umar pun menjadi sasaran tembakan dan wafat sebagai syuhada dalam perang.

Kematian Teuku Umar sontan melucutkan semangat rakyat Aceh untuk mengusir Belanda dari tanah Aceh. Njoet Nja’ Dhien. Seorang wanita yang senatiasa mendampingi Teuku Umar dalam perjuangan mengusir kolonial Belanda. Setelah kepergian Teuku Umar, peran sebagai pemimpin pun digantikan oleh Njoet Nja’ Dhien. 

Kisah perjuangan Teuku Umar dan Njoet Nja’ Dhien sangat menginspirasi bagi masyarakat Indonesia yang tidak melupakan sejarah. Maka pantaslah, Eros Djarot sebagai sutradara yang bertangan dingin menangkap sinyal yang bagus.

Jika kisah perjuangan Teuku Umar dan Njoet Nja’ Dhien didokumentasikan berupa film, tentu akan mendapatkan sambutan yang baik oleh masyarakat Indonesia. Namun, untuk melahirkan sebuah karya fenomenal harus didukung oleh kru yang mumpuni dalam film. Mulai dari produser, penata artistik, sinamatografi, dan sebagainya. Salah satu yang paling mendukung sebuah film dikatakan bagus atau tidak yaitu terletak siapa yang memainkan tokoh Njoet Nja’ Dhien dan Teuku Umar.

Sebagai seorang sutradara, kemampuan Eros Djarot tidak usah diragukan lagi. Karya-karyanya sudah diakui oleh banyak orang. Sama halnya dengan kemampuannya untuk menentukan siapa aktor dan aktris yang tepat untuk berperan dalam film Njoet Nja’ Dhien yang diproduksi oleh Kanta Film ini. Untuk tokoh Teuku Umar, Eros memercayai Slamat Rahardjo untuk memainkannya. Sementara itu, untuk tokoh utama yaitu Njoet Nja’ Dhien diperankan oleh seorang aktris yang hingga saat ini masih eksis di dunia perfilman Indonesia.

Dialah Christine Hakim yang sangat piawai berakting dalam film-film Indonesia. Bisa dikatakan, Christine Hakim merupakan ikon dalam dunia perfilman Indonesia. Namanya melambung sejak bermain dalam film ini. Maka tidak heran jika Christine Hakim mendapatkan banyak penghargaan dalam berbagai festival film yang ada di Indonesia dan di luar negeri. Salah satu prestasinya yang membanggakan Indonesia yaitu meraih penghargaan International Federation of Film Producers Association Award, yang berlangsung di Gold Coast, Queensland, Australia. Dan terakhir terlibat bersama Julia Roberts di film Eat Pray Love.

Selanjutnya, penulis akan membahas bagaimana kepiawaian Christine Hakim dalam film Njoet Nja’ Dhien. Menurut penulis, salah satu alasan mendasar mengapa Eros Djarot memilih Christine Hakim untuk memainkan peran Njoet Nja’ Dhien karena kemiripan fisiknya dengan tokoh Njoet Nja’ Dhien sebenarnya.

Kendati demikian, jika kita lihat secara detil dari scene-scene dalam di film, kita sebagai penonton mungkin akan berkata, Christine Hakim dan Njoet Nja’ Dhien tidak memiliki wajah yang mirip. Namun, jika kita cermati dalam scene saat Christine Hakim menggulung rambutnya seperti wanita-wanita Aceh, wajah Christine Hakim hampir tidak bisa kita bedakan dengan wajah Njoet Nja’ Dhien yang asli.

Pada dasarnya, penonton Indonesia mengatahui bagaimana ciri morfologis Njoet Nja’ Dhien hanya dari buku pelajaran Sejarah di bangku pendidikan. Hal tersebut bisa menguntungkan Eros Djarot untuk mengelabui penonton dengan menampilkan sosok Njoet Nja’ Dhien melalui tubuh Christine Hakim. Saya kira, penonton Indonesia juga tidak akan berpusing-pusing memikirkan kemiripan Christine Hakim dan Njoet Nja’ Dhien. Namun, penonton Indonesia jauh lebih memperhatikan bagaiman kepiawaian Christine Hakim dalam film tersebut.

Dari segi karakter, Christine Hakim rasanya pas didaulat sebagai pengganti Njoet Nja’ Dhien. Penulis tidak mengetahui persis bagaimana proses casting film ini sehingga Eros Djarot meminang Christine Hakim sehingga menjadi pemeran wanita terbaik dalam ajang penghargaan piala citra. Pasalnya, film ini digarap pada tahun 1988. Penulis akui, penulis menemukan kesulitan untuk mencari referensi yang banyak tentang detil film ini. Namun berdasarkan pengamatan penulis saat menonton film ini, semoga menjadi analisis yang cukup objektif.

Menurut penulis, Christine Hakim bermain sangat total dalam film Njoet Nja’ Dhien. Entahlah, apakah karena kesamaan karakter asli Christine Hakim dengan Njoet Nja’ Dhien atau seperti apa. Namun yang jelas, Christine Hakim sangat menghayati perannya sebagai Njoet Nja’ Dhien sesungguhnya. Hal ini terlihat dengan sangat dari penggunaan dialek Aceh yang cukup kental keluar dari mulut Christine Hakim. Nampaknya Christine Hakim sebelum proses syuting telah belajar bahasa Aceh dan juga idealeknya. Bagi penonton yang tidak mengetahui asal daerah Christine Hakim tentu akan akan beranggapan bahwa dia memang betul berasal dari Aceh.

Namun kelemahan dalam film ini dari segi bahasa adalah, ada beberapa scene yang menggunakan bahasa Aceh tapi terjemahan dalam bahasa Indonesia tidak ditampilkan. Hal ini membuat penonton tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Christine Hakim dan beberapa actor lainnya. Namun secara umum, menurut penulis Christine Hakim sudah mahir berbahasa Aceh dalam film ini.

Dari segi penokohan, Christine Hakim berperan sangat memuaskan. Ia mampu menggambarkan bagaimana watak perempuan aceh yang tegar, kuat, dan memiliki komitmen yang tinggi. Sebagai pemimpin perang, ia pun mampu mempertegas kharismatik kepemimpinannya kepada rakyatnya melalui penggunaan bahasa yang tegas dan bijaksana. Njoet Nja’ Dhien memang tegas, namun ia adalah seorang pemimpin yang mampu merasa dengan hati, mencermati situasi dengan intuisi, dan berpikir jauh ke depan. Rasanya, sikap kepemimpinan ini tidak bisa dibuat-buat. Karena jika dibuat-buat, akan terlihat aneh dan ganjil. Tapi beruntung, melalui karakter yang kuat dari Christine Hakim, sosok Njoet Nja’ Dhien pun bisa hadir ke tengah-tengah penonton Indonesia yang tidak mengenal dengan jelas siapa itu Njoet Nja’ Dhien sesungguhnya.

Tidak hanya bicara tentang ketegasan, kepemimpinan, dan kebijaksanaaa Njoet Nja’ Dhien. Christine Hakim juga mampu mengejahwantahkan dengan baik bagaimana kondisi pelik yang dihadapi oleh Njoet Nja’ Dhien saat tubuhnya sudah papah, wajahnya pias, dan raut mukanya menandakan keketiran hatinya. Semua itu dapat terlukis dengan baik melalui ekspresi wajah yang ditampilkan Christine Hakim dalam film ini. Sebagai penonton yang menyaksikan film 1988 pada zaman ini, penulis memberikan apresiasi yang penuh kepada Christine Hakim karena telah bermain dengan sangat baik dalam film Njoet Nja’ Dhien.

Oleh karena itu, tidak heran jika film Njoet Nja’ Dhien mendapatkan delapan piala citra sekaligus. Terutama seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, yaitu film ini mengantarkan Christine Hakim sebagai pemeran wanita terbaik. Penulis akui, Njoet Nja’ Dhien menyejarah bagi bangsa Indonesia. Hal tersebut dikarenakan perjuangannya yang luar biasa dalam mengusir kolonial Belanda dari bumi pertiwi, khususnya Aceh. Namun, jika boleh penulis katakan, menyejarahnya Njoet Nja’ Dhien juga diperkuat dengan peran Christine Hakim sebagai seorang aktris. Penulis berani beragumen, pada tahun 1988 itu, tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui bagaimana sejarah perjuangan Njoet Nja’ Dhien. Namun, setelah Eros Djarot menyuguhkan film dengan judul yang sama, penulis bisa memastikan sosok Njoet Nja’ Dhien semakin dikenang oleh hati masyarakat Indonesia.

Menurut penulis, film ini bagus terutama dari segi tokohnya. Mudah-mudahan ke depannya, dunia perfilman Indonesia lebih disemarakkan oleh tontonan napak tilas perjuangan pahlawan Indonesia yang telah berjuang merebut kemerdekaan.

4 thoughts on “Di Balik Kesuksesan Film Tjoet Nja Dhien

  1. Saya melihat ada sedikit kesalahan penyebutan, sebenarnya cut nyak dhien itu orang meulaboh bukan gayo, di scene perang daerah gayo, karena cut nyak dhien bertahan di wilayah beutong lhe sagoe, yg berbatas dengan gayo, dan bahasa yg digunakan adalah bahasa aceh bukan gayo..

    1. hahaha,, bek salah tengku,,
      tjut nyak dhin orng aceh besar, asli, lampisang,,,
      teuku umar yang dari meulaboh,,
      beliau juga ikot melaboh juga gara2 tekeu umar,, :3 begytu,,,
      baca lagi sejrah,,
      dimana2 cut nyak din itu aceh besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s