Catatan Romantis Demonstran


CATATAN ROMANTIS DEMONSTRAN
Jakarta, 20 Mei 2011

Kawan, hari ini untuk kesekian kalinya aku putuskan untuk aksi di Jakarta. Sebuah pilihan, sebuah sikap, dan sebuah komitmen. Aku sudah lupa, berapa banyak aku telah menjadi bagian dari massa aksi. Terhitung sejak aku di SMA hingga kuliah sekarang, semester delapan. Awalnya aku tidak mengetahui apa esensi berpanas-panasan di jalan. Atau berkumpul di sebuah lapangan yang terik. Tapi justru ketidaktahuan itulah yang membuatku seperti keronco-keronco yang bodoh. Namun, semenjak di kuliah di kampus pembebasan ini, aku mengerti; aku paham, mengapa aku harus menjadi bagian mereka.

Mereka, yang membumi hanguskan kampus dengan propaganda yang meronta-ronta. Mereka, yang dengan sadar rela meninggalkan perkuliahan hanya untuk menyampaikan suara dari nurani rakyat. Mereka, yang hanya bermodalkan nekat, mau berlobi-lobi ketat dengan aparat keamanan untuk memaksa masuk ke gedung rakyat. Mereka, yang terlihat seperti para pahlawan berteriak tentang ketidakadilan para tiran dengan jaket almamater kebanggaan. Mereka, yang bukan ahli strategi perang, mampu mengatur scenario aksi dengan cukup apik. Mereka, yang bukan orator ulung mampu menggetarkan dunia dengan kata yang tegas, jelas, dan lantang. Mereka, yang tanpa malu mau menggambarkan kondisi pelik bangsa ini dengan panggung teatrikal yang menawan. Mereka, yang takkenal terik mentari, kucuran peluh, dan gesekan jalan aspal yang panas, namun terus bersemangat berkata “kami akan terus berjuang”

Mereka, yang kukenal sebagai demonstran. Mereka yang kutahu, reputasinya sangat buruk di mata media. Mereka, yang telah diwanti-wanti tetua untuk menghentikan sikap konyol berteriak-teriak di jalanan. Mereka, dan aku pun juga bagian dari mereka.

Kawan, ingin kukatakan pada kalian bahwa kami memang berbeda. Jika saat ini kalian hanya bisa bermodalkan ocehan utopis untuk mengkritik pemerintah, tapi kami punya 1001 solusi untuk memperbaiki bangsa. Kawan, jika kalian mencibir kami karena kami tidak rasional, kami juga ingin katakana bahwa kalian jauh tidak waras. Jika kalian bilang kami hanya menguras energi tanpa arti, kami ingin katakan energy kami tidak terbuang percuma. Jika kalian berteriak bahwa apa yang kami lakukan tidak akan mengubah nasib bangsa ini, kami ingin katakan lantang pada kalian, “apa yang telah kalian lakukan untuk perubahan bangsa ini, hah?”

Ayolah generasi intelektual, bangsa ini sudah terlalu lelah dengan ribuan pernyataan-pernyataan retoris tanpa ada aksi nyata, sebuah kontribusi kecil. Jalan kita memang beda, ada yang bergerak seperti kami, ada juga sahabat kami yang berjuang dengan senjatanya berupa pena. Mengarahkan opini public melalui media dengan tulisan yang tajam dan menohok. Lantas bagaimana dengan kalian? Tidak kalian tahu betapa tingginya harapan rakyat Indonesia pada kalian. Betapa banyaknya tugas yang harus kita selesaikan. Karena kita adalah duta pengemis, duta dari rakyat yang tertindas, dan duta dari perbaikan bangsa.

Kami ingin katakan juga bahwa kami bukanlah sekelompok demonstran yang anarkis. Supaya kau tahu kawan, kami berbeda, muda, dan berbahaya.
Kami ingin sampaikan pada semua orang bahwa ini adalah cerita romantis kami sebagai generasi intelektual. Kami mengerti sekali bahwa kami lelah, kami capek, kami kehilangan tenaga, dan kami kepayahan. Tapi dalam hati kami, ada semangat yang membara, ada kegelisahan takterhingga, ada emosi perubahan yang menggelora, dan ada kekuatan yang kami takpaham datang dari mana.
Terakhir, kami ingin katakan, hanya ini yang mungkin saat ini bisa kami lakukan untuk bangsa. Kami tidak memikirkan apakah tuntutan kami akan didengarkan oleh elit-elit di pemerintah dan pemangku kebijakan. Kami ingin sampaikan, ini kegelisah kami. Itu saja.
Terlepas kalian suka atau tidak suka, ini pilihan kami.

2 thoughts on “Catatan Romantis Demonstran

  1. mengutip sebuah pernyataan seorang yang saya kagumi, dia berkata
    Teriakan berantas kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh!

    Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan!

    Mahasiswa koruptor jam kuliah, tidak pantas berteriak anti-korupsi!

    semoga mahasiswa yang berteriak menyuarakan rakyat, bisa benar-benar merubah bangsa ini.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s