My Destiny: Deutschland


Setiap manusia di dunia ini harus punya tujuan hidup! Itu yang kupahami hingga detik ini. Ya, semua manusia tanpa terkecuali. Jika kalau tidak, bersiap-siaplah hidup dalam ketidakjelasan. Kawan, aku ingin menceritakan satu dari sekian banyak mimpi-mimpiku padamu. Ini tentang sebuah doa, harapan, obsesi, dan yang terpenting ini mimpi kawan.

Bagiku, bermimpi itu sungguh menyenangkan. Dengan bermimpi, kita semakin bersemangat menjalani kehidupan ini. Itu menurutku. Bagaimana menurutmu? Kurasa tidak jauh beda. Setiap orang punya mimpi masing-masing. Dan setiap orang pun berhak menentukan mimpi-mimpinya. Dalam hidup ini, takjarang kita ketir menerima penyesalan. Seharusnya begini, begitu, dan bla-bla-bla. Tapi orang yang bijak tidak akan mengeluh, kawan! Harus tetap bersemangat menghadapi semua tantangan yang ada di depan mata. Sepakat?

Alhamdulillah, yuk kita banyak bersyukur supaya hati kita senantiasa lapang dan bahagia.

Oke, aku akan bercerita tentang mimpiku untuk menetap di sebuah Negara di Eropa. Dulu, aku tidak begitu tertarik dengan negara ini. Aku hanya mengenal pesonanya melalui atlas yang kubolak-balik semasa SD. Atau ketika belajar geografi di SMP. Namun, semenjak di SMA, aku sangat cinta dan tertarik dengan Negara ini. Siapa yang takkenal Jerman? Dalam istilah internasional, Jerman dipanggil Germany. Tapi bagi orang-orang Jerman atau Deutscher, Negara Jerman disebut Deutschland.

Germany-Wallpaper_0405201102
germany in my imagine (sumber: google.com

Lantas, apa alasan yang membuatku tertarik kepada Negara asal Hitler? Mimpi ini bermula sejak aku di SMA. Seorang guru bahasa Jerman hadir memberikan motivasi tentang mimpinya untuk berkunjung ke Jerman. Sederhana memang, tapi hal itu mengubah cara pandangku. Bahwa dunia ini sangat luas. Jangan sampai kita seperti katak dalam tempurung. Melihat yang itu-itu saja. Ayolah, buka mata dan cakrawala tentang luasnya hamparan bumi yang dibentangkan Allah. Ah, aku ingin mengunjungi setiap sudut negara ini. Belajar tentang peradaban dulu, saksi sejarah, dan pengalaman hidup.

Nama guru itu adalah Nela Kaswati. Tidak terlalu dekat. Namun yang jelas, kami saling mengenal. Itu jauh lebih penting. Kadang aku heran, mengapa aku menyukai pelajaran yang ia sampaikan. Ah, buat apa? Toh aku takakan mungkin ke Jerman! Itu hal mustahil. Oh tunggu, sejak bu Nela menceritakan pengalaman indahnya di negeri Mozart itu, aku pun berdecak kagum.

“Bahasa, paspor ke Jerman,” kata bu Nela.

Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini. Asal kita bersungguh-sungguh untuk menggapai semua. Dan kalian harus tahu bahwa dunia ini luas. Sayang kalau di sini-sini saja. Sejak masa itu, masa berbagi tentang kisah di Jerman, aku pun sangat tergiur untuk berkunjung ke sana. Ya, bebas mau apa. Mau jalan-jalan, mungkin; mau belajar S2; atau entahlah. Tapi yang jelas aku ingin ke sana. Aku yakin suatu saat aku pasti ke sana.

6 thoughts on “My Destiny: Deutschland

  1. the same dream achyar..
    I also dreaming like that..even i often whistle in my heart ” ich mochte nach deutschland fliegen”..
    ” Jangan Pernah Remehkan Mimpi Walau setinggi Apapun, Sungguh Allah Maha Mendengar ( N5M, Ahmad Fuadi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s