KONTEMPLASI TAKBERUJUNG


Rumah Penuh Kehangatan,
April 10, 2011 11:13 pm.

Kawan, aku ingin bertanya sesuatu hal pada kalian. Tentang sebuah tanya yang mengusik ketenangan hati. Hanya satu tanya kawan, tapi bagiku ini sungguh sulit dijawab. Pernahkan kalian berada dalam kondisi begitu sulitnya menentukan sebuah pilihan. Bukan bicara pilihan hidup atau mati. Karena itu tentu sungguh sulit. Tapi tentang sebuah pilihan yang telah melibatkan dinding perasaan. Ah, nampaknya aku terlalu mendramatisir. Tapi begitulah kawan, kadang kita sulit menebak kemana rasa dalam hati bermuara. Hanya saja, jika kita menuntun hati itu dengan cara tepat, Allah pun dengan begitu tepat memberikan jawabannya. Dan lagi-lagi kita harus dihadapkan pada sebuah konsekuensi yang tidak pernah kita harapkan. Kawan, inilah kontemplasiku malam ini. Sebuah catatan kontemplasi takberujung. Aku hanya ingin berbagi melalui tulisan sederhana ini. Mudah-mudahkan kalian pun memahami maksudku. Itu saja.

Pada sebuah waktu yang takbiasa, akhirnya kucurahkan juga renungan yang berdasar pada pikiran dan perhatian penuh ini pada kalian. Ya, kalian orangnya. Terima atau tidak, kalianlah yang kupaksa terlibat dalam kontemplasi ini.

alone

Ini tentang sebuah konsepsi, ini tentang sebuah mimpi, ini tentang sebuah pengharapan, ini tentang sebuah kehangatan, ini tentang sebuah kebersahajaan, ini tentang cinta dan kasih sayang, serta ini tentang rasa kawan. Awalnya, mungkin aku malas untuk menanggapi rasa ini. Bagiku, ini terlalu melankolis. Pun akhirnya, aku pun mengambil sikap dengan mengusung logika di atas rasa. Namun, aku salah kawan. Logika takselalu menjadi raja dalam konstruksi alam sadar manusia. Rasa, rasalah yang kadang lebih jujur dan lebih bijaksana memandang segala ketidakkuasaan manusia. Maka takheran pada saat posisi sujud, posisi hati lebih tinggi dibandingkan logika. Dan berdoa dalam sujud adalah doa yang mustajab, kawan. Itulah yang ingin kubagi pada kalian. Yaitu tentang rasa, bukan tentang logika.

Cukup sulit ketika hal ini harus kupendam sendiri. Mungkin sudah menjadi sunatulloh bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia butuh sahabat, butuh saudara, atau bahkan butuh pendamping untuk melengkapi kekosongan hati dan ketidakseimbangan logika. Dan entah mengapa, Allah pun menganugrahi segala medium untuk berbagi kegelisahan, kawan. Aku tidak tahu bagaimana kalian menyisiati kondisi pelik ini. Aku sendiri takbunyak pilihan untuk bersiasat, kecuali berbagi pada Allah dan menulis. Itulah yang baru kubisa, kawan. Mungkin cara yang kutempuh tidak sehebat kalian, tapi bagiku ini cara yang cukup ampuh menghilangkan sejenak beban rasa yang mengendap dalam hati.

Ehm, aku bingung kawan. Harus dari sajak mana aku memulainya. Semuanya terlalu rumit untuk dinarasikan. Bahkan jari ini pun seakan kelu hanya untuk sekadar menakan tombol-tombol di bawah kedua telapak tangan ini. Baiklah, aku akan berusaha. Aku akan berusaha menuntaskan kontemplasi ini. Aku ingin sedikit tenang, itu saja.

Ini bermula sejak kisah kita dimulai kawan. Yang tanpa kita minta, Allah memberikan script scenario pada kita. Hingga kemudian, kita pun dibagi-bagi ke dalam beberapa tokoh, scene, dan kasus yang hingga detik ini pun masih berlanjut. Sampai kapan? Sampai Allah sudah tidak ingin lagi kita bermain di teater kehidupan ini. Pun demikian, Allah tidak semata-semata mematok kita harus berperan ini-itu. Atau pun memaksa kita harus terlibat dalam dramaturgi yang membuat kita bingung. Allah hanya memberikan scene-scena saja. Sisanya, kitalah yang mengisi scene itu. Apakah dengan kebaikan atau sebaliknya.

Dan aku pun mendapatkan peran saat ini sebagai mahasiswa tingkat akhir. Alhamdulillah, Allah sangat baik padaku, kawan. Bukan hanya aku, tapi kita semua. Ah sudahlah, lupakan kekecewaan, sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana mengisi scene-scene ini dengan alur terbaik dan peran terbaik. Itu sudah cukup.

Maaf, kurasa kau sudah jemu membaca keabstrakan pikiranku. Tapi begitulah, aku pun juga sulit menuangkan kegelisahan hati ke dalam tulisan ‘aneh’ ini. Maaf kawan, nampaknya untuk saat ini aku belum benar-benar bisa berbagi pada kalian. Ya, untuk saat ini. Aku janji, suatu saat aku akan utarakan bagaimana kejelasan kontemplasi takberujung ini. Intinya, kisah ini bermula dari ketidaksengajaan hingga menjadi ketidakberanian meninggalkan. Oh ya, terima kasih untuk waktu kalian. Salam selalu pada kebaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s