Surat Cinta untuk 2007


Jatinangor, 15 Januari 2010
Pukul 8:46 PM

Kepada teman-teman 2007
Di tempat,

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Apa kabar teman-teman 2007? Semoga selalu dalam lindungan Allah swt. Amiin. Bagi yang sedang sakit, semoga lekas sembuh ya! InsyaAllah, sakit yang sedang teman rasakan merupakan penggugur dosa, seperti daun kering yang hampir rapuh dipaksa gugur dari cabang yang kokoh. Bagi yang sedang gundah gulana, gelisah, sedih, dan sedang mendapatkan cobaan lainnya, saya berdoa semoga dilapangkan dadanya untuk menghadapi segala macam permasalahan yang dihadapi. Mudah-mudahan menjadi manusia yang derajatnya diangkat oleh Allah. Dan, melalui permasalahan-permasalahan tersebut, membuat kita menjadi lebih dewasa dan bijaksana dalam memandang hidup dan kehidupan ini.

Sebelumnya, saya agak heran mengapa menulis surat yang spesial ini untuk kalian. Terkesan aneh dan labil ya! Haha, mungkin saya lagi kurang kerjaan. Tapi tidak apa, mudah-mudahan—apa yang sedang saya pikirkan malam ini dapat saya transformasikan dengan baik kepada teman-teman semua. Jujur, ini surat spesial lo! Buktinya khusus saya tujukan untuk teman-teman 2007 di kampus kita tercinta, Universitas Padjadjaran. Oya lupa, alasan khusus lainnya, mengapa saya menulis surat ini adalah untuk mengenang semester paling krusial dalam masa studi kita di bangku perkuliahan. Betapa tidak, beberapa orang teman yang saya jumpai, berkata seperti ini kepada saya,

“Wah, gak nyangka ya?! Waktu begitu cepat bergulir. Perasaan baru kemaren ujian SPMB, trus lulus di Unpad. Eh, sekarang mesti bersiap-siap meninggalkan Unpad.”

esp for you

Beuh, saya pun tersentak dengan pernyataan salah satu teman saya itu. Benar juga, hampir empat tahun kita (baca: angkatan 2007) berkuliah, berorganisasi, dan menjalankan aktivitas lainnya dengan status sebagai mahasiswa Unpad. Teman-teman ingat tidak, ketika kita—mahasiswa baru angkatan 2007 memecahkan rekor Muri (Musium Rekor Indonesia) dengan bermain angklung yang dimainkan tidak kurang dari 10.000 mahasiswa?? Itu sangat keren, menurut saya. Atau, saat PAB di kampus Unpad Dipati Ukur dipecahkan dengan gelak tawa, saat salah seorang MC meminta perwakilan mahasiswa dari masing-masing daerah dari Aceh hingga Papua. Dan saat itu, ketika MC bertanya, siapa di antara kalian yang berasal dari Aceh? Tiba-tiba, salah seorang mahasiswa baru (Mm, semoga dia selalu tenang) maju ke depan panggung. Nah, si MC pun bertanya pada mahasiswa baru tersebut.

MC: “Anda berasal dari Aceh? Acehnya dimana?”
Maba: “Iya teh, dari Aceh. Saya tinggal di jalan Aceh, Bandung.”

Saat itulah, gelagar tawa pun riuh rendah memecah kesunyian Graha Sanusi dan halaman kampus. Bravo!! Maba itu sangat konyol dan jenius. (Saya pun bertanya-tanya, dimana SMA maba itu? Apakah SMA 3, 5, 1, 2, 20, 24, 8 atau SMA 1 Jatinangor?) Haha, saya sangat penasaran. Ingin sekali mewawancarai mahasiswa konyol itu dan berfoto bersama sebagai bukti ada kebodohan di awal perkenalan di Unpad.

Unpad Rekor MURI

CAUTION: Siapa pun dari teman-teman yang mengenal sosok beliau, berilah pengertian kepadanya agar bisa mendedikasikan dirinya sebagai ketua angkatan 2007 di Unpad. Salut!
Ya, selanjutnya saya yakin kita semua menyimpan banyak kisah yang berbeda-beda, baik di fakultas maupun jurusan masing-masing. Untuk hal itu, saya tidak akan mengusik cerita teman-teman. Cukuplah menjadi catatan yang kita simpan di benak kita masing-masing. Tapi saya tawarkan kepada teman-teman untuk menulis. Saya yakin, suatu saat akan sangat berguna untuk teman-teman. Mungkin bukan untuk saat ini atau waktu terdekat. Akan tetapi untuk waktu yang tidak dapat saya prediksi. Tulislah, apa pun itu.

Semester 8!

Adalah angka yang cukup memprihatinkan. Atau mungkin, angka yang cukup krusial bagi kita selaku mahasiswa tingkat akhir. Ya, bisa jadi karena semester 8 adalah semester terakhir kita berkuliah di kampus (walaupun sebenarnya ada jatah 10-12 semester untuk menjadi mahasiswa S1). Tapi walaupun bagaimanapun, angka itu tetap saja merisihkan. Entahlah bagaimana pandangan teman-teman, tapi bagi saya angka itu cukup menjadi sorotan.

Suasana kampus sudah agak berbeda. Dulu, pagi-siang-petang kita masih bisa bertemu intens dengan teman-teman kita di kampus atau di sekre tempat kita berorganisasi. Kini, lambat laun semuanya terlihat samar. Ada yang datang ke kampus hanya untuk mengunjungi perpustakaan, mencari bahan untuk penelitian alias SRIPSI. Atau, ada juga yang hanya waktu-waktu tertentu untuk bertemu dengan dosen pembimbing guna menyerahkan draft skripsi terbaru. Selain itu, mungkin ada juga yang masih mengisi KRS dan membuat daftar matakuliah yang diulang atau baru diambil lantara cuti dan sebagainya. Untuk urusan terakhir, maaf saya bukan bermaksud apa-apa. Hanya ingin mengidentifikasi rutinitas kita sebagai mahasiswa tingkat akhir.
Tapi yang jelas, tentu semuanya tidak akan sama seperti halnya semester 1, 2 hingga semester 7 yang masih bisa kita nikmati bersama-sama. Teman, tahukah apa yang merubah?

“Adalah waktu yang memaksa kita untuk segera bergegas melanjutkan perjalanan yang tanpa kita tahu ujungnya.”

Saya akui, kehidupan di kampus ini sangat singkat! Agaknya kurang adil karena saya sendiri merasa belum menjadi orang yang berguna dan memberikan kebaikan untuk Allah, orang tua, almamater, kampus, dan lingkungan saya. Tapi apa mau dikata, waktu kadang memang kurang bersahabat. Jujur, kadang muncul penyesalan bagi saya, “Mengapa dulu saya tidak ini atau itu, melakukan hal yang bermanfaat sehingga mampu mengoptimalkan potensi saya.” Tapi ya mau bagaimana lagi, sudah jadi keniscayaan bahwa penyesalan memang selalu datang di akhir dan waktu pun tidak bisa diulang. “Ya Rabb, saya termasuk orang-orang yang lalai.” Oya, ada pesan tausiyah menyentuh yang saya terima dari seorang saudara. Isi pesannya kurang lebih seperti ini,

“Masih banyak hal yang sudah kita ketahui, tapi tidak kita lakukan. Ambilah waktu untuk berfikir tentang ‘kenyataan’ masa depan yang kita inginkan, lakukanlah yang sudah seharusnya dikerjakan hari ini dengan diilhami ‘kenyataan’ itu. Hari ini harus lebih baik dari kemaren, saatnya memenangkan kehidupan ini.” (Hassan, 15 Januari 2011)

Subhanallah, so deep. Saya tidak mau lagi menyesal untuk kesekian kalinya. Tahukah teman, saya panik. Teringat sebuah syair yang berbunyi, “Bagaimana kita di hari esok, ditentukan oleh hari ini.” Ah, bagaimana dengan konstruksi impian untuk beberapa tahun ke depan atau di akhirat kelak? Tidak! Saya harus merekonstruksi mimpi-mimpi saya, menulisnya, dan kemudian mewujudkan melalui tindakan-tindakan nyata. Tidak hanya sebatas imajinasi saja, tapi harus diejawantahkan. Itulah despirasi yang saya alami, kawan! Saya tidak tahu dengan kondisi teman-teman, saya doakan teman-teman tidak mengalami despirasi seperti saya alami. Ini kondisi psikologis yang mengkhawatirkan.

Sejak saat itu pun, saya pun re-create road map hidup saya untuk jangka pendek, khususnya di tahun 2011. Memang benar adanya, “Jika kita gagal merencanakan, berarti kita merencanakan kegagalan.” Astaghfirullah, semoga kita selalu menjadi orang-orang beruntung.
Teman, waktu yang sangat pendek ini hanya menyisakan sedikit kesempatan untuk kita berbenah atas apa yang perlu kita benahi. Dan setiap kita, berhak untuk mendapatkan kesuksesan. Saya paham, setiap orang berhak menentukan standar kesuksesannya masing-masing. Mungkin tidak sama keberpihakan takdir kepada kita. Ada beberapa skenario yang disiapkan Allah untuk kita hambanya yang mesti kita perankan dengan baik. insyaAllah, dengan mengucap bismillah kita terima peran itu dengan hati lapang, niscaya akan ada selalu ganjaran untuk setiap kebaikan itu.

Di penghujung surat ini, saya sampaikan kepada teman-teman semua, bahwa saya salut kepada kalian. Tidak butuh rasionalisasi yang logis bukan, untuk menjelaskan pendapat saya tadi. Ya, saya bangga kepada kalian.

Untuk kalian, yang sedang menjalankan PKL, co-ASS, profesi, jobtraining, magang, dan sejenisnya. Saya berharap mudah-mudahan pengalaman teman-teman selama menjalankan proses tersebut akan membantu teman-teman pasca kuliah di kampus kita tercinta ini.
Untuk kalian, yang mungkin pada semester 8 (masih ada kuliah atau baru mengambil matakuliah, dsb) karena beberapa alasan, saya suguhi semangat eksplosif!

Untuk kalian yang sedang menjalani proses mengerjakan tugas akhir. Apakah itu; baru BAB niat, mau UP, sedang mendraft, atau bahkan yang akan sidang, saya ucapkan tetap bersemangat dan selamat menikmati proses indah tersebut. InsyaAllah, akan menjadi kenangan yang selalu melekat.

Terakhir, untuk kalian yang paling saya banggakan—memilih menghabiskan masa studi di kampus dengan berkontribusi di berbagai lembaga kemahasiswaan. Saya tahu alasan kalian, yaitu memberikan kontribusi sebanyak-banyaknya. Suatu ketika, saya pernah mendengar penuturan teman saya,

“Achyar, kadang kita selalu menuntut ini-itu untuk Unpad. Tapi pernahkah kita berpikiran, apa yang masih bisa saya lakukan untuk Unpad. Saya tahu konsekuensi jika saya memutuskan untuk masih aktif di organisasi. Ya, lulus saya akan tertunda. Tapi mungkin itulah yang saya bisa lakukan saat ini. Ketika banyak teman satu angkatan kita hanya focus di skripsi, saya coba untuk menjalankan amanah ini. insyaAllah, melalui amanah ini, Allah menjaga saya dari kelalaian dan sifat bermalas-malasan. Karena jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka kita akan disibukkan dengan keburukan atau kemaksiatan. Ya, mudah-mudahan saja dengan amanah yang saya jalankan sekarang akan mempermudah saya ketika sidang atau melalui berbagai pelik persoalan dalam hidup saya. Saya sudah memikirkan ini matang-matang. Dan bismillah, saya tahu konsekuensi dan saya terima itu. Bukankah setiap orang berhak menentukan standar kesuksesannya? Ya, untuk saat ini mungkin saya bisa merasa sukses dengan peran saya lakoni.”

Saya terdiam mendengar penjelasan panjang teman saya tersebut. Saya pikir benar apa yang ia sampaikan. “Ah, luar biasa. Ternyata teman-teman saya (2007) kadang menipis kebutuhan privatnya dan mengutamakan kebutuhan publik. Ya Rabb, saya yakin apa yang mereka kerjakan itu tidak akan sia-sia.”
Terakhir teman, saya ingin sampaikan sesuatu yang selama ini saya takuti ketika telah beranjak dari kampus, yaitu tergerusnya idealisme kita sebagai mahasiswa. Semoga, nilai-nilai kebaikan dan semangat positif yang kita raup di miniatur kehidupan ini mampu kita transformasikan di kehidupan pada fase selanjutnya. Semoga semua impian teman-teman terwujud. Bagi yang jadi dokter, jadilah dokter yang baik. Bagi yang menjadi ahli hukum, ekonom, linguis, politikus, perawat, apoteker, pustakawan, psikolog, pejabat pemerintah, saintis, dan profesi lainnya—maka jadilah orang-orang yang selalu berkeyakinan, bahwa di atas langit masih ada langit.

Cukup sekian teman-teman surat cinta dari saya. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih untuk kehangatan persahabatan yang telah kalian tawarkan. Tetap bersemangat menerbar kebaikan dan sukses selalu ^O^

Wasalam,

Mahfud Achyar

2 thoughts on “Surat Cinta untuk 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s